Bab 19

Sejak kejadian siang tadi, Sofia dan Wisnu kini terlibat perang dingin. Sofia memisahkan diri tidur di kamar sebelah, tanpa dilarang Wisnu. Sepertinya Wisnu masih menyimpan marah yang besar pada Sofia. Terbukti, ketika Sofia menyiapkan makan malam, Wisnu malah pergi dan makan di rumah Bu Endah. Sofia kecewa dan sakit hati. Inginnya sih, walaupun Wisnu marah padanya, seenggaknya makanan buatannya dimakan.

Dua minggu kemudian, sikap Wisnu belum ada perubahan. Sofia semakin nelangsa. Hatinya bagai tercabik-cabik pisau tajam. Sofia juga menyadari dirinya salah sudah berniat ingin mengatakan ke Dara kakak iparnya mengenai siapa perempuan masa lalu Wisnu yang masih dicintai Wisnu.

"A, sudah dua minggu Aa tidak pernah lagi makan di rumah buatan Sofia. Apakah Sofia sejahat itu di mata Aa, hanya karena gara-gara Sofia berniat mengatakan hal yang sebenarnya pada Yuk Dara? Padahal Sofia belum sampai mengatakan. Kenapa tidak ada maaf di hati Aa pada Sofia, apakah Sofia tidak pantas dimaafkan?" tanya Sofia malam itu disela saat santainya Wisnu sepulang dari shalat Isya berjamaah di mesjid.

"Jangan pertanyakan lagi, kamu kan bisa membaca kalau aku sedang marah dan menghukummu, supaya jika kamu berniat ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Dara, kamu berpikir 1000 kali dan tidak gegabah. Apa gunanya sekolah tinggi tapi otak tidak dipakai?" cetus Wisnu masih menyimpan rasa marah. Nada bicaranya saja masih tegang.

Hati Sofia malah semakin sakit mendengar alasan Wisnu seperti itu. Rupanya Wisnu tidak memiliki rasa maaf seluas samudra. Hatinya keras bagai batu.

"Kenapa Aa tidak memaafkan Sofi, A? Padahal Sofi belum sempat mengatakan itu pada Yuk Dara. Dan sejak Aa marah itu, Sofi berjanji tidak akan pernah mengatakan itu pada Yuk Dara. Tapi kenapa hati Aa sekeras batu, tidak mau memaafkan Sofia? Sofia sudah menyesal A, sekali lagi Sofia minta maaf," ujar Sofia seraya menunduk dan menangis memohon maaf pada Wisnu. Namun Wisnu sepertinya masih belum tersentuh untuk memaafkan. Setelah itu dia pergi tanpa mempedulikan Sofia yang merana.

Sore itu di rumahnya Bu Endah, terjadi perdebatan kecil. Rupanya Wisnu datang ke rumah Ibu Endah. Sebelumnya dia makan dulu. Dan kebiasaan makan di rumah orang tuanya sudah berlangsung dua minggu. Bu Endah dan Pak Malik bukan tidak curiga terjadi sesuatu antara Wisnu dan Sofia. Mereka selalu menasehati Wisnu bahkan memarahinya dan mempertanyakan kenapa Wisnu selalu makan di rumah orangtuanya.

"A, Ibu rasa tidak baik lho Aa selalu makan di sini sementara Sofia di rumah masak. Apakah ini masih ada kaitannya dengan masalah yang kemarin? Ya ampun A, Aa itu keras kepala dan berhati batu. Kenapa Aa tidak lupakan dan maafkan Nak Sofia, toh dia tidak sempat mengatakan pada Neng Dara," ucap Bu Endah sembari menatap lurus ke arah Wisnu.

"Iya A, kenapa tidak dimaafkan saja Nak Sofi, toh kesalahan dia tidak fatal? Harusnya Aa punya hati seluas samudera dan bisa memaafkan," sambung Pak Malik ikut menasehati.

"Sudah lebih dari tiga hari lho A, kalian tidak saling sapa sebagai suami istri. Dosa lho. Allah marah," peringat Bu Endah berharap Wisnu mau mendengarkan ucapannya.

"Wisnu pulang dulu ya, Bu, Pak," pamit Wisnu seolah mengalihkan pembicaraan kedua orang tuanya. Wisnu berjalan tanpa menoleh lagi. Bu Endah dan Pak Malik hanya bisa saling tatap heran dengan kepergian Wisnu.

Tiba di depan rumah, Wisnu mendapati Sofia tengah menyetrika baju di ruang tengah. Wisnu masuk tanpa basa-basi, juga tanpa menoleh ke arah Sofia. Namun Sofia melihat semua pergerakan Wisnu dari sejak masuk rumah sampai menaiki tangga. Sofia menghentikan kegiatan menyetrikanya. Kemudian dia berdiri dan mengikuti Wisnu yang menaiki tangga.

Sofia mendekati pintu kamar, lalu sejenak berdiri dan berpikir hal apa yang akan dia sampaikan pertama kali pada Wisnu. Kali ini Sofia bertekad harus bisa mengutarakan maksudnya. Lagipula dirinya kini seolah sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan Wisnu masih tidak mau makan masakan Sofia yang tiap hari dihidangkan Sofia.

"Assalamualaikum! A, bolehkah Sofia masuk?" ucapnya ragu seraya mengangkat handle pintu kemudian membuka perlahan pintu itu. Saat pintu sudah terbuka, Sofia melihat Wisnu tengah rebahan di atas kasur dengan mata yang tertutup dan kedua tangan menjadi tumpuan kepala.

Sejenak Sofia mengagumi ketampanan Wisnu meskipun sedang terbaring di ranjang. Sosok yang bagi Sofia egois dan keras kepala itu, tetap tidak kehilangan pesona dan aura ketampanannya. "*Sayangnya Aa terlalu egois dan keras hati*," batin Sofia mengeluh.

Sofia menghampiri Wisnu dan duduk di tepi ranjang menghadap ke arah Wisnu. Lalu perlahan tangan Sofia mendekati tubuh Wisnu. Sofia memberanikan diri mengusap dada Wisnu, dia merasa punya hak penuh atas diri Wisnu sehingga saat ini dia merasa melakukan hal yang wajar.

"A, bolehkan Sofia bicara barang sepuluh menit saja. Sofia mohon, Aa dengarkan dulu Sofia dan jangan sela Sofia," pinta Sofia akhirnya memberanikan diri. Wisnu yang mendapatkan usapan lembut dari Sofia sontak terbangun dan bangkit. Dan tatapan mata itu tidak diduga saling bertemu. Dada Sofia seketika berdegup kencang dan bergemuruh.

Terpopuler

Comments

🤗🤗

🤗🤗

Ckck dasar

2023-04-16

1

mom mimu

mom mimu

tinggalin pulang aja sof... jangan jadi cewe lemah, lagian kamu itu cantik, masih banyak pria baik yang mau sama kamu...

2023-04-01

0

Ma Irsyad

Ma Irsyad

Sovia tinggalin aja laki kyk gitu🤭

2023-03-31

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!