Bab 10 Perdebatan

Besoknya sesuai yang diagendakan, Wisnu bersiap untuk bekerja. Kali ini Sofia harus ikut untuk mendampinginya. Selain tugas sebagai Ibu persit yang sesekali harus hadir, Sofia rencananya akan Wisnu perkenalkan pada Komandannya, yaitu Pak Akbar sebagaimana janjinya dulu.

Dulu beberapa bulan sebelum Wisnu menikah yang terbilang cepat dengan Sofia, Pak Akbar pernah berusaha menjodoh-jodohkan Wisnu dengan Jeny, anaknya. Pak Akbar selalu berusaha mendekatkan anaknya dengan Wisnu (**baca** \#**DijebakNikahPaksa**).

Diluar jam dinas, Pak Akbar selalu memerintahkan Wisnu untuk antar jemput anaknya ke kampus, padahal Jeny sebetulnya tidak sudi diantar jemput Wisnu. Bahkan Jeny menganggap Wisnu tidak lebih dari seorang kacung yang bisa disuruh-suruh Papanya. Wisnu sudah tidak sakit hati lagi dengan sikap kasar Jeny, Wisnu sudah menganggap Jeny seperti adiknya sendiri, bahkan usianya saja dua tahun lebih muda dibawah Dara adik sepupunya. Terlebih rasa hormatnya pada Pak Akbarlah yang membuat Wisnu masih kuat menghadapi Jeny yang sebetulnya menyebalkan.

Saat Pak Akbar ingin menjodohkannya dan mempercayakan Jeny padanya untuk dijadikan istri, Wisnu tidak menerima begitu saja meskipun itu keinginan sang Komandan. Terlebih Wisnu sudah tahu sepak terjang Jeny diluaran sana yang baginya sangat miris. Wisnu sebetulnya kasihan dengan Jeny, kenapa dia terjerumus pergaulan bebas anak muda? Pak Akbar dan istri, tidak tahu kelakuan anaknya diluaran sana.

Selain melihat Wisnu yang kalem dan rajin ibadah, Pak Akbar menilai Wisnu selama ini tidak pernah menggandeng seorang perempuan, jadi kesempatan ini dia gunakan dengan sebaik-baiknya untuk berusaha mendekatkan anaknya dengan Wisnu.

Namun ketika Pak Akbar menyampaikan niatnya yang ingin menjodohkan Wisnu dengan anaknya, serta merta Wisnu memberikan alasan yang mengagetkan bagi Pak Akbar dan istri, sebab Wisnu secara tidak langsung telah menolak keinginan Pak Akbar untuk menjadikannya menantu.

"Mohon maaf Pak, saya sebetulnya sebulan lagi akan menikah," alasan Wisnu kala itu yang tentunya bohong, sebab selama ini dia tidak punya gandengan. Walaupun Pak Akbar kecewa dengan keputusan Wisnu, namun dia berusaha berlapang dada.

Saat itu Wisnu sangat bingung dengan kebohongannya sendiri, dan ketika Ibunya dan Dara berusaha menjodoh-jodohkan dirinya dengan Sofia, hal ini menjadi pilihan terakhir bagi Wisnu sekaligus tersulit, sebab dia sama sekali tidak mencintai Sofia. Akhirnya sebulan kemudian dia benar-benar menikahi Sofia.

Sofia terlongo mendengar kronologis asal mula Wisnu bersedia mengajaknya menikah. Rupanya demi menghindari anak atasannya yang kala itu mau dijodohkan dengannya. Sofia membuang nafas kasar. Dia merasa sangat tidak beruntung menikah tapi tidak dicintai. Tapi tekad Sofia dalam hati adalah dia harus bisa meraih hati dan cinta Wisnu.

"Berdandanlah yang sesuai dan tidak mempermalukan aku, jangan menor-menor. Dan perlihatkan bahwa kamu sangat mencintai aku, dan kamu merasa bangga karena dicintai aku." Sejenak Sofia termenung dengan ucapan Wisnu barusan.

"Sofia memang mencintai Aa, jadi jangan khawatir, Sofia tidak akan sampai mempermalukan Aa di depan atasan Aa," ucap Sofia sambil berlalu dengan derai air mata.

Beberapa menit kemudian. "Sofi, cepatlah! Jangan biarkan aku nunggu lama!" teriak Wisnu kesal. Tidak berapa lama Sofia keluar dengan baju Persitnya. Wisnu menatapnya sekilas, dia tidak mau menatap Sofia lama-lama karena gengsi jika dia harus dituding mengagumi Sofia. "*Baguslah, tidak mencolok. Ternyata Sofia* *pintar berdandan. Tidak akan mempermalukan* *jika ku bawa jalan*," guman Wisnu dalam hati.

"Sofi baru selesai, A," ujar Sofia mengagetkan Wisnu yang tengah mengagumi Sofia secara diam-diam. "Bagaimana, apakah dandanan Sofi tidak mencolok? Atau ketuaan pakai baju ini?" tanya Sofia meminta penilaian dari Wisnu.

"Goodlooking," ujarnya pendek dan tetap datar meskipun kalimatnya memuji.

"Terimakasih A," balas Sofia seraya memakai sepatu pentopelnya yang lima senti. Sofia terlihat lebih tinggi dan semakin menarik.

Wisnu kini sudah siap beserta Sofia. Mobil Jeep milik Wisnu juga siap mengantar Wisnu ke kantornya. Tiba di kantor, Sofia dan Wisnu untuk sementara berpisah. Wisnu ke ruangannya sementara Sofia menuju aula kantor itu. Di sana para istri Tentara sudah banyak yang hadir.

Karena Sofia baru pertama kali menghadiri acara seperti ini, Sofia memperkenalkan dirinya pada Ibu-ibu Persit di sana. Semua menyambutnya ramah. Kebanyakan Ibu-ibu Persit yang hadir sudah berumur 30an ke atas. Sementara yang 30an kebawah hanya 25 persennya.

"Masih muda, ya, istrinya Sersan Wisnu, cantik pula," puji salah satu Ibu Persit yang ternyata istrinya Danton menyambut Sofia ramah. Yang lainnya juga sama ramah dan baik-baik. Suasana ini membuat hati Sofia bahagia.

"Bu Wisnu, apa pekerjaannya kalau boleh tahu?" tanya salah seorang Ibu Persit yang bernama Kartika mengajak ngobrol pada Sofia.

"Untuk sementara saya sedang tidak bekerja, Bu. Karena saya baru pindahan kesini dan ikut suami. Tapi sebelumnya pekerjaan saya adalah seorang Bidan. Dan jika nanti memungkinkan, saya akan buka praktek di rumah saja," jawab Sofia seadanya.

"Ohhhh, rupanya Bu Wisnu merupakan seorang Bidan. Wahhh kalau belum sibuk kita kapan-kapan ngumpul ya, biar saling kenal," ujarnya sambil berlenggak-lenggok kemayu.

"Insya Allah Bu Kartika, jika mendapat ijin suami dan tidak sibuk dengan urusan rumah tangga," jawab Sofia sembari melihat Hpnya yang tiba-tiba mendapat pesan WA dari Mamaknya.

Sofia membalas pesan WA dari Mamaknya yang menanyakan kabar dirinya dan juga kabar kehamilannya. Sofia hanya senyum saja membaca Mamaknya ingin segera mendapat cucu darinya. "Doakan saja, Mak," balas Sofia.

Akhirnya kegiatan di kantor Wisnu selesai. Sofia dihampiri Wisnu saat dirinya merasa lelah dan haus, kemudian secara kebetulan Wisnu membawa sebotol air mineral dan sekotak kue yang disodorkan untuknya.

"Terimaksih A," ucap Sofia sembari meneguk air mineral yang diberikan Wisnu.

"Ayo kita ke kantin dulu. Kamu pasti lapar," ajak Wisnu sembari menautkan jemarinya di jemari Sofia. Sofia mendadak merasa diperhatikan Wisnu. Tiba di kantin, Wisnu dengan sigap memesan makanan untuk Sofia dan mengambilkan minumannya. Perlakuan Wisnu tidak lepas dari perhatian teman-temannya juga para KOWAD yang dulu pernah naksir dan juga pernah ditaksirnya yang kemudian kini sudah menikah. Wisnu sengaja memperlakukan Sofia dengan sangat manis di depan mereka, sehingga semua yang kebetulan melihat merasa iri.

"Wahhhh, sungguh manis pasangan pengantin baru ini, sungguh serasi dan romantis. Sangat cocok kalian berdua ini," celetuk Bu Kartika memuji perhatian Wisnu pada Sofia, yang kebetulan berada di kantin juga. Karena ucapan Bu Kartika lumayan kencang, otomatis semua teman-teman Wisnu yang satu letting maupun senior dan yunior menoleh ke arah Wisnu dan Sofia. Akhirnya Sofia jadi pusat perhatian di kantin itu. Terlebih Sofia memang cantik dan masih muda dibanding yang lain.

Wisnu merasa risih, kemudian dia buru-buru menyudahi makannya dan membayar makannya ke ibu kantin. Setelah membayar, Wisnu segera mengajak Sofia menuju Jeepnya di parkiran. Ada satu agenda lagi yang harus Wisnu lalui hari ini. Yaitu menemui Pak Akbar di rumah dinas.

Jeep yang ditumpangi Wisnu keluar dari kantornya. Kini melaju menuju rumah dinas Pak Akbar. Padahal Pak Akbar tadi ada di kantor, namun hanya sebentar. Dan dari sejak kemarinpun Wisnu sudah ditugasi dan diwanti-wanti Pak Akbar supaya mendatangi rumah dinas setelah acara kantor selesai.

"Senang ya, jadi pusat perhatian teman-temanku?" Tiba-tiba Wisnu bersuara memulai obrolan yang sejak tadi senyap.

"Senang sekali A, terlebih jika perhatian itu datangnya dari Aa. Maka Sofia pasti akan lebih senang melebihi diperhatikan teman-teman Aa," ujar Sofia jujur. Wisnu mesem menanggapi ucapan Sofia yang menyindir dirinya.

"Terimakasih A, atas perhatian Aa tadi pada Sofia, walaupun itu hanya akting di depan teman-teman Aa," ucap Sofia datar. Wisnu sejenak diam, dia memang tersindir dengan ucapan Sofia.

"Sudah dong jangan kamu nyindir aku terus, yang jelas di depan teman-teman aku, kamu aku perlakukan dengan baik," tukas Wisnu membuat hati Sofia sakit. Padahal tidak usah diomongkan saja sudah jelas sikap Wisnu menyakitkan, hanya berpura-pura perhatian padanya.

"Oh iya, Mamak tadi menanyakan kabar kita, Sofia sudah jawab bahwa kabar kita baik," berita Sofia datar. "Sudah Sofia salamkan juga meskipun Aa sebenarnya tidak menyampaikan salam," lanjut Sofia masih datar membalas sikap datar Wisnu.

"Mamak bertanya apalagi?" tanya Wisnu lagi penasaran. Sofia menggeleng. Dia enggan menyampaikan satu hal lagi yang Mamaknya tanyakan yaitu tentang kehamilan Sofia.

"Hanya itu saja?" Wisnu terlihat tidak percaya bahwa mertuanya hanya menanyakan kabar saja.

"Ada satu hal lagi yang Mamak tanyakan, tapi Sofi rasa itu tidak penting buat Aa," ujar Sofia datar.

"Apa yang tidak penting itu, katakan? Kamu jangan main rahasia apa yang Mamak tanyakan?"

"Mamak ingin kita segera punya cucu, tapi Sofi rasa Aa justru yang tidak ingin punya anak dari Sofi," ujar Sofia ketus.

"Apa kamu bilang, siapa bilang aku tidak ingin punya anak dari kamu? Jangan gegabah menyimpulkan, kamu ini sembarangan." Wisnu terlihat sangat marah.

Terpopuler

Comments

Aurora

Aurora

Kak... Aku udah mampir, jangan lupa mampir juga di karya ku ya...

2023-04-14

1

mom mimu

mom mimu

lahh yang ngomong sembarangan terus itu kamu Wisnu... kamu gak pernah ngerasain gimana perasaannya Sofi yang kamu perlakuan seenaknya, cuman manfaatin Sofi aja... 😭😭

udahlah sof, tinggalin aja Wisnu... kamu berhak bahagia loh meski bukan sama tentara nyebelin itu... 😒

2023-03-18

2

Nesia

Nesia

Lawan Wisnu Sofi jangan mau ditindas mau ditindas

2023-03-18

6

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!