"Aa sudah menikah dengan Neng Sofi, jadi lupakan cinta masa lalu Aa. Neng Dara sudah bahagia dengan Nak Azlan, lagipula Nak Azlan kini telah menjadi bagian dari anggota keluarga kita. Aa jangan khawatirkan Neng Dara, dia sudah diberikan keturunan yang cantik. Dan Aa kini sudah menjadi seorang Uwak bagi baby Zla (Azlani Andara @**DijebakNikahPaksa**)," ucap Bu Endah memperingatkan Wisnu. Entah obrolan apa awalnya yang membuat mereka membahas cinta masa lalu Wisnu.
"Tapi Bu, setelah Wisnu menikah, rasa cinta Wisnu ke Dara malah kian bertambah. Kenapa ini terjadi justru saat Wisnu sudah menikah?"
"Lupakan si Eneng. Istighfar A, Neng Dara sudah bahagia dengan Nak Azlan. Sebaiknya kita doakan yang terbaik buat kehidupan rumah tangga Neng Dara dan suaminya," ujar Bu Endah lagi bijak. Wisnu nampak kecewa dan tentunya sedih. Namun mau apalagi, dirinya memang sudah tidak mungkin bisa memiliki Dara lagi.
Tidak lama dari itu, setelah perbincangan antara Wisnu dan Bu Endah selesai, Sofia muncul dari depan mengucap salam.
"Assalamualaikum!" ucapnya sembari menghampiri Bu Endah dan Wisnu. Bu Endah dan Wisnu terkejut, untuk beberapa saat merekan saling lempar mata. Keterkejutan ini sudah bisa ditebak Sofia. Mereka pasti merasa pembicaraannya telah didengar Sofia.
"Neng Sofi, kamu datang, Nak? Ya ampun, kenapa tidak bilang ke Aa kamu bahwa hari ini kamu pulang. Kalau ngasih tahu, si Aaj pasti jemput kamu," ujar Bu Endah menyambut Sofia yang baru datang dengan mengejutkan. Sofia menyalami Bu Endah terlebih dahulu dan merangkulnya lama sambil berkaca-kaca. Sofia merasa kasih sayang wanita paruh baya ini tidak pernah berkurang. Terlebih saat mendengar pembicaraan Bu Endah dengan Wisnu. Nampak Bu Endah berpihak padanya.
"Kamu ini Neng, jangan sekali-sekali begini. Ibu jadi takut kamu kenapa-kenapa di jalan. Duhhh, Alhamdulillah kamu selamat," ujar Bu Endah bahagia. Rasa terkejut tadi kini barganti bahagia karena melihat Sofia selamat setelah melewati perjalanan pesawat dan darat sendirian.
"Alhamdulillah Sofia selamat Bu, jadi Ibu tidak usah merasa takut lagi, karena Sofia selamat." Setelah menyalami Bu Endah, Sofia menghampiri Wisnu lelaki yang sangat ia rindukan, namun setelah mendengar perbincangan Wisnu dengan Bu Endah tadi rasa rindu yang membuncah tadi sedikit pudar terganti rasa kesal.
Sofia menyalami tangan Wisnu, Wisnu membalasnya dengan memeluk dan mencium kening Sofia. Sikap Wisnu menunjukkan rasa kasih sayang dan kerinduan yang dalam.
"Benar kata Ibu, kenapa kamu pulangnya tidak bilang, bukankah saat kepulanganku, aku sudah berpesan supaya kamu memberitahu aku jika surat pengunduran diri kamu sudah keluar?" Wisnu sedikit protes.
"Maafkan Sofia, A. Sofi hanya ingin memberi kejutan untuk Aa dan keluarga di sini," alasan Sofia menunduk. Perempuan lebih muda lima tahun dari Wisnu itu terlihat sendu meskipun wajah cantiknya tetap lebih menonjol ketimbang rasa sedihnya. Namun Wisnu bisa melihatnya dengan jelas. Wisnupun menduga kesenduan wajah Sofia, akibat dari perbincangannya tadi dengan Ibunya. Diapun kini sedikit merasa bersalah.
"Lain kali jangan begini dong , Sof! Kamu, kan sudah aku pesanin supaya ngasih tahu aku." Wisnu sedikit protes.
"Iya, A. Sofia minta maaf. Sofia tidak akan ulangi lagi," janji Sofia sungguh-sungguh.
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita pulang," ujar Wisnu sembari menarik tangan Sofia. Sofia sedikit heran, mau pulang? Pulang kemana, apakah ke rumah dinas atau rumah lain.
"Ayo, tidak usah bingung begitu. Aku sudah siapkan rumah untuk kita. Rumahnya tidak jauh dengan Ibu, masih satu RT," terang Wisnu menjawab keheranan Sofia.
"Iya, Neng. Kalian sudah punya rumah sendiri. Hasil jerih payah si Aa selama bujangan. Rumah kalian tidak jauh, masih dekat di sebelah sana. Kita hanya dipisahkan jarak halaman rumah dan jalan," tunjuk Bu Endah menuju salah satu rumah di sebrang jalan dari rumah Bu Endah. Saat Sofia melihat ke sebrang sana, nampak sebuah rumah dengan tipe 70, berlantai dua dengan garasi mobil dan halaman yang lumayan luas. Kalau nampak dari luar sepertinya rumahnya nyaman dan bikin betah.
"Iya, Bu. Dekat kita, ya? Kalau Sofi kangen Ibu, Sofi bisa jalan kaki saja ke sini. Oh, ya, Bu. Bapak kok belum kelihatan, kemana Bapak, Bu?" Sofia nampak heran dengan Pak Malik mertua lelakinya yang belum kelihatan.
"Bapak tiap pagi sampai jam dua ada di bengkel, kebetulan hari ini banyak pesenan dan sibuk. Sore juga pulang," ujar Bu Endah menjawab keheranan Sofia.
"Sof, ayo, sebaiknya kamu simpan dulu barang-barang kamu," ajak Wisnu. Sofia tidak membantah, dia segera mengikuti Wisnu yang sudah duluan berjalan kaki.
"Bu, kami pulang ya!" pamit Sofia sembari menyalami tangan mertuanya. Wisnu dan Sofiapun berjalan beriringan ke rumah baru mereka.
Cuma 7 menit Sofia dan Wisnu berjalan menuju rumahnya dari rumah Bu Endah. Rumah yang sederhana tipe 70, cukuplah buat hidup berdua dan dua anak. Lagipula bagi Sofia ini luas dan asri. Selain desain rumahnya yang menarik, halamannya juga luas. Pinggir-pinggirnya ditanami bunga-bunga Marigold juga Amarilis yang sedang berbunga. Rupanya Wisnu penyuka bunga juga, terlihat dari bunga-bunga yang tumbuh subur dan segar.
"Masuk!" ucap Wisnu membukakan pintu lebar-lebar. Benar saja, dalamnya lumayan luas dan penataannya sangat elegan, sepertinya Wisnu sudah mendesain dalam rumah sesempurna mungkin. Nuansa hijau digradasi warna biru lebih mendominasi rumah ini. Kesannya adem, berani dan jantan sesuai Wisnu sang penghuni rumah.
"Bawalah kopernya masuk kamar!" titah Wisnu menyadarkan Sofia yang mengagumi keadaan rumah yang baru saja dia masuki.
"Kamarnya yang mana, A?" Sofia bertanya karena Wisnu tidak menyebutkan kamar yang mana? Di atas atau di bawah.
"Karena kita masih berdua, kita tidur di atas saja," ujar Wisnu menunjuk ke atas loteng atau lantai dua. Tanpa berlama-lama Sofia manaiki tangga sambil menarik kopernya ke tangga.
Tiba di atas, rupanya ada dua kamar. Sofia bingung kamat mana yang Wisnu maksud. Apakah dirinya akan tidur terpisah mengingat perbincangan yang didengarnya tadi di rumah Bu Endah. Sofia jadi berprasangka jangan-jangan dia dan Wisnu akan tidur terpisah?
"Kenapa berdiri di sana? Masuklah ke kamar itu?" tunjuk Wisnu menuju kamar yang berada di sebelah kanan. Sofia masih berpikir, apakah ini hanya diperuntukkan untuknya saja.
"Sofia, ayo masuk!" ajak Wisnu sedikit kesal. Sofia tersentak saat Wisnu menyadarkannya dari lamunannya. Sofia masuk dengan was-was.
Di dalam kamar itu ada foto Wisnu terpampang dan juga foto pengantin mereka. Itu artinya ini adalah kamar miliknya dan Wisnu. Tiba-tiba tanpa Sofia sadari Wisnu sudah memeluk Sofia dari belakang, lalu mencium Sofia dengan perasaan rindu yang menggebu. Bahkan Wisnu kini telah mencium bibir Sofia tanpa Sofia sadari.
Sofia sedikit tersentak, bukankah saat di rumah Bu Endah, Wisnu berterus terang pada Bu Endah bahwa dia masih mencintai Dara kakak iparnya, tapi kini Wisnu seakan menyimpan rindu yang besar pada Sofia? Sofia jadi merasa bingung jadinya, apakah Wisnu mencintainya atau merindukannya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
Rini Antika
ternyata s Wisnu lain d mulut lain d hati
2023-04-09
0
Rini Antika
aduh, jd Wisnu cinta sama Dara
2023-04-09
0
🤗🤗
astagfirullah buanglah wisnu itu dosa
2023-04-08
1