"Apa...?!" Dea terkejut saat pangeran mengatakan ia masih punya janji dengan pemilik cafe, untuk datang lagi mencuci piring.
"Seumur hidup aku tidak pernah mencuci piring untuk orang lain, apalagi di cafe? Dan kau bilang mencuci piring selama 7 jam? Nggak..! Nggak..! Aku tidak mau..!" tukas Dea menolak mentah-mentah permintaan pangeran.
"Badanku terasa panas karena tidak menepati janji, kekuatanku pun melemah. Lagipula aku sudah menggantikanmu ke kampus. Tolong selesaikan janjiku pada pemilik cafe itu." pangeran membawa tubuh Dea berlutut, jika begini terus bisa-bisa ia kehilangan kekuatannya.
"Lagipula itu gara-gara kau memesan makanan tanpa membayar." imbuh pangeran, lihatlah ia bahkan masih tak tau diri padahal sedang memohon.
"Apa salah kalau aku marah karena mengetahui fakta bahwa kau membunuh keluargaku? Menurutmu raksiku harusnya membayari semua makanan disana dan menguburmu hidup-hidup di tumpukan pasta?! Apa salahku juga tubuh kita jadi tertukar sekarang..!! HHHAAAHH...! Aku akan gila jika begini terus."
Dea melemparkan tubuh pangeran ke atas sofa, ia benar-benar depresi dengan keadaan ini.
"Salahmu juga karena tidak membunuhku dari awal." ucap pangeran, semakin memantik emosi Dea.
Gadis itu melirik tajam dengan kedua telinga panas. Mungkin nanti juga berasap. "Benar..! Kenapa aku tidak membunuhmu saja waktu itu. Sekarang keluarkan busurnya, aku akan membunuh tubuh sial mu ini."
"Aku tidak bisa mengeluarkan itu, kita harus memunggu bulan purnama. Jika besok busur itu bisa keluar, langsung saja bunuh aku."
"hahhh...! Terserah kau saja! Aku muak..! Muak sekali." Dea menendang sandaran sofa bertubi tubi untuk melampiaskan kekesalannya.
.
.
Mau tak mau, suka tidak suka. Kini Dea yang berada didalam tubuh pangeran, berdiri kaku di dapur cafe saat melihat banyaknya cucian piring.
"Ku kira kau akan kabur." celetuk kepala pelayan, mengantarkan lagi satu ember penuh gelas dan piring.
"Kita harus mencuci semua ini?" Dea ternganga, ini piring atau ketombe? Banyak amat.
"Karena cafe agak ramai, kau kerjakan dulu sendiri. Aku akan membantu kalau di depan sudah sepi." ucap kepala pelayan itu, lantas meninggalkan Dea seorang diri.
"Tunggu, tidak bisakah ku bayar saja? Aku akan bayar dua kali liat.. tidak, tiga kali lipat dari harga kemarin." Dea mencoba merayu kepala pelayan itu.
"Kau sungguh punya uang?" Kepala pelayan tersebut menaikkan satu alisnya.
Dea mengeluarkan kartu ATM berwarna hitam dari sakunya. Pelayan tersebut lantas tercengang.
"wahh.. kalau kau punya uang kenapa tidak bayar saja kemarin?" Kepala pelayan itu menyambar kartu ATM Dea, untuk di bawa ke meja kasir.
"Segampang ini..? chh.. tau begitu aku tidak perlu pusing-pusing." Dengan sombongnya Dea melangkahkan kakinya dari sana, sambil menepuk-nepuk tangan pelan.
Namun entah datang dari mana, tiba-tiba seekor induk tikus seukuran betis lewat di depan kaki Dea. Gadis itu sontak berjingkat kaget sambil berteriak sangat kencang.
"Tolong...! Tolong...! TOLONG....!" pekiknya bergeliat jijik, ia bahkan naik ke meja wastafel untuk menghindari tikus yang berputar-putar itu.
"Ada apa..?" Beberapa pelayan tergopoh-gopoh mendatangi dapur, termasuk juga kepala pelayan yang langsung berbalik arah.
Mereka geleng-geleng kepala, karena tubuh gagah itu kemarin dengan santainya memenggal kepala tikus, tapi kini ketakutan?
"Kenapa tidak kau penggal saja seperti kemarin?" celetuk kepala pelayan, ia bahkan mengandalkan Dea untuk membasmi tikus itu, persis seperti yang dilakukan pangeran.
"Tidak.. singkirkan itu..! Singkirkan cepat..!" Tubuh Pangeran bergeliat seperti banci yang sedang goyang inul. Melihat tikus sekecil jari saja ia merinding, apalagi sebesar itu.
...~~...
Keesokan harinya...
Pangeran dan Dea datang ke kampus bersamaan. Pangeran mengaku sama sekali tidak paham dengan pelajaran di kelas Dea, itu sebabnya ia akan melakukan telepati debgan Dea asli, saat kelas berlangsung nanti. Dea juga tak mau nilainya anjlok gara-gara Pangeran sial yang bersemayam di tubuhnya itu.
"Hai, De.. Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?" sapa Clara, dan ikuti Vaness yang menunggu jawaban.
"Lumayan..." sahut Dea KW sambil meringis kecil. Ia sungguh geli karena dekat-dekat dengan dua mahkluk aneh itu.
"Permisi.., ada apa ramai-ramai disana?" tanya pangeran alias Dea asli, ia penasaran dengan kerumunan orang di salah satu majalah dinding utama.
Sebelum menjawab, Vaness lebih dulu melirik sinis pada sosok pangeran. Agak sebel saja dia, karena menurutnya pria itu sangat aneh.
"Ada orang hilang..."
"Apa..? Siapa..?" tambah Dea dengan ekpresi kepo setengah mati. Tentu saja Vaness bertambah sinis melihat ekpresi itu.
"Memangnya kalau ku jawab, kau kenal orangnya?" sahut Vaness sinis.
"Memangnya siapa yang hilang?" tanya Pangeran dari tubuh Dea, ia seperti ingin menuntaskan rasa penasaran Dea asli.
"Hana, dari kelas Sains. Orang tuanya melaporkan ia sudah dua hari tidak pulang."
Merasa penasaran dengan sosok Hana, Dea asli pun melangkah mendekati kerumunan, diikuti Dea KW yang tampak tak perduli.
Di paling depan kerumunan itu, Dea bersebelahan dengan Bara. Pria itu tampak sangat merasa bersalah, sebab ia menurunkan Hana hanya sampai depan jalan, seharusnya ia mengantarkan Hana sampai ke depan rumahnya.
"Hana..." Dea kembali teringat akan kasus orang hilang 6 bulan silam. Namun sampai sekarang, gadis bernama Elea itu tak pernah ditemukan.
Tak hanya itu, tahun lalu juga tiga orang mahasiswi hilang dalam waktu yang berdekatan. Awalnya polisi menduga mereka hanya kabur dari rumah, karena lelah dan tertekan dengan kehidupan pribadi. Namun sampai sekarang pun belum ada titik terang, tentang orang-orang hilang tersebut.
"Kau mengenalnya?" tanya Bara kepada tubuh Dea, yang terisi pangeran.
"Tidak." jawab pangeran, ya memang ia tak mengenal satu manusia pun disana, selain Dea.
Bara tampak menghela nafas berat. "Padahal kami cukup akrab kemarin."
"Jadi kau mengenalnya?" serobot Dea dari dalam tubuh Pangeran.
"Kau...siapa..?" Bara mengerutkan alisnya, memandangi tubuh pria berpenampilan serba hitam itu.
"Dia supirku, tampaknya dia sangat penasaran...hehe.." jawab Dea KW.
Bara tak menjawab pertanyaan Dea, ia menyematkan satu tali ranselnya ke bahu, lalu beranjak dari sana dengan wajah lesu. Sore ini ia akan mendatangi kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Karena terlihat dari CCTV jalan, Bara lah orang terakhir yang bersama dengan Hana.
.
.
Di sebuah ruangan bawah tanah yang gelap. Terdapat banyak ruangan berpagar besi seperti penjara. Didalamnya terdapat ranjang ranjang, yang masing-masing ditiduri oleh wanita dengan kaki dan tangan terikat.
Mereka adalah gadis-gadis dari berbagai kalangan. Para korban penculikan itu dijadikan budak *3** oleh seorang pria tak berakal.
Dari salah satu ruangan, terdengar raungan kencang seorang gadis muda yang tubuhnya tengah digagahi. Ia tak bisa berbuat apa-apa, matanya tertutup dan tangan serta kakinya di rantai pasa sisi ranjang besi.
Pria bej4d itu tampak sangat menikmati hasil buruannya. Itu adalah gadis ke 23 yang ia jadikan pemuas n4fsu.
Tak jauh dari sana, Hana terbangun saat mendengar raungan itu. Ia masih duduk dengan posisi tangan di borgol ke pagar besi. Dengan jelas kedua bola matanya menyaksikan aksi bej4d pria itu. Ia sangat ketakutan. Keberadaanya disana sudah pasti akan menjadi korban selanjutnya dari pria bej4d itu. Ia menangis sesenggukan sambil berusaha melepaskan tangannya, namun sia-sia, karena bukannya lepas, pergelangan tangannya malah lecet dan berdarah.
"TOLONG....!!!" teriaknya dengan sekuat tenaga. Berharap ada yang datang untuk membebaskan mereka semua.
...************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
$uRa
kenapa gak bayar aja .kan banyak uang
2023-06-30
1