Tahun 1650 Masehi.
Disebuah rumah kayu di tepi sungai, upacara merayakan kehamilan tengah digelar cukup meriah. Kendi kendi berisi teh bunga Telang berjajar rapi sebagai jamuan para tamu yang sebagian besar adalah petinggi kerajaan.
Bunga Telang dipercaya sebagai simbol wanita kuat nan berani. Warnanya biru keunguan, yang dimana biru sendiri memiliki makna teduh. Sedangkan ungu memiliki makna terhormat.
Argantara, pria berusia 38 tahun yang tak lain adalah menantu dari Panglima Abram. Ia berdiri menyambut Ayah mertuanya sambil memberikan salam hormat.
Namun sang Panglima bukan datang untuk mengantarkan anak perempuannya merayakan kehamilan, melainkan mengantarkan mayat sang putri yang sudah bersimbah darah.
"Dimana istriku, Ayahanda? Aku sudah menyediakan selimut sutra yang Ayah minta." Tanya Argantara sembari menggenggam selimut berbahan sutra yang ia pintal sendiri.
Sudah menjadi tradisi keluarga, saat kehamilan istri mencapai Enam bulan. Sang suami diwajibkan membuatkan selimut berbahan sutra, sebagai bentuk rasa terimakasih karena telah mengandung penerusnya.
Panglima Abram tak menjawab, kemudian orang-orang dibelakangnya menurunkan peti perlahan.
"Aku gagal mengantarkan putriku kesini."
Kedua mata Panglima Abram tertunduk sayu. Bukan untuk merayakan kehamilan, ia malah mengantar sang putri untuk upacara kematian.
Berita bahwa Pangeran membunuh seorang wanita, kini telah sampai ke telinga Sang Raja. Anak tetaplah anak, namun pembunuh tetaplah pembunuh. Sekalipun ia penerus kerajaan.
Dihadapan Sang Raja, Panglima berdiri tegap meminta keadilan sambil menggenggam anak panah yang berlumuran darah putrinya.
"Hamba meminta keadilan yang mulia!" Ucapnya dengan nada lantang bergetar.
Sang Raja ataupun Panglima sama-sama berat dalam posisi ini. Sebab ia sendiri pun sudah menganggap Pangeran sebagai anaknya. Namun tak disangka ia begitu keji membunuh putri semata wayangnya.
"Aku... Raja Lakeswara Gautama! Meminta maaf sebesar-besarnya kepadamu sebagai seorang Ayah. Dan sebagai Raja yang adil, aku akan menyerahkan hukuman Pangeran kepadamu sepenuhnya."
Sang Raja terduduk lemas di atas singgasananya. Walau hukuman mati, ia akan menerima. Sebagai Raja yang dihormati, ia merasa malu dan hancur. Tak berhak pula ia menghalangi kemarahan para rakyat yang menuntut, agar Pangeran dihukum seberat-beratnya.
.
.
kriiing....kring...kring....
Dea mendengar bunyi alarm yang sangat keras itu. Ia berusaha membuka mata, namun entah kenapa ia seperti sulit untuk bangun. Dadanya terasa sesak, punggungnya terasa tercabik-cabik, seperti nyawa sedang ditarik oleh malaikat maut. Lipatan leher dan dahinya bahkan basah oleh keringat.
"hhggg....!!"
Akhirnya Dea bisa membuka mata setelah bersusah payah melawan rasa sakit palsu itu. Sejak dulu, Dea sering sekali mengalami kejadian itu. Rasa sakitnya terasa nyata, namun ketika terbangun yang tersisa hanya nafas tersengal.
Rasa sakit yang ia dapat seperti hanya didalam mimpi. Bahkan tak jarang ia sampai kejang-kejang kala rasa sakit, dan mimpi buruk itu datang bersamaan.
Sudah seringkali Dea mendatangi Psikiater, Rumah Sakit, bahkan paranormal. Namun tak ada yang bisa membantunya.
Ketika mendatangi Psikiater, ia dinyatakan mengalami trauma otak yang disebabkan oleh rasa sedih terus-menerus. Memang, kepergian seluruh keluarganya membuat ia putus asa. Namun mimpi buruk itu lah, yang justru membuatnya kepikiran bahkan sampai terbawa stress. Kadang rasa sakit dan sedih yang ia dapat dari mimpi itu membuat mood nya berantakan seharian.
Saat mendatangi Rumah sakit, Dokter tidak menemukan adanya kelainan, seperti tumor atau yang lainnya. Dea dinyatakan sehat 100 persen. Rasa sakit yang Dea keluhkan hanya ilusi, akibat terlalu sering memimpikan insiden mengerikan itu.
Saat mendatangi paranormal, Dea dinyatakan diikuti roh jahat. Roh yang sudah beribu-ribu tahun menunggu kehadiran Dea di dunia. Sebagai bocah modern, tentu Dea tak mempercayai itu. Ia bahkan acuh saat disuruh berendam di sungai, saat tengah malam. Demi menghilangkan roh jahat itu.
Lalu kenapa ke paranormal jika tidak percaya? Entahlah... Dea hanya terlalu putus asa, dengan mimpi mengerikan itu.
.
Dea meraih jam beker yang masih berdering itu. Kemudian mematikan bunyi nyaring tersebut. Gadis itu menggeliat kesana kemari untuk menghilangkan rasa nyeri ilusi, yang barusan seperti hendak mencabut nyawanya.
"Bangun, Dea.. Hari ini ada kelas pagi." Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Dengan langkah tertatih, ia menuju kamar mandi, sambil menarik tirai besar yang menutupi setengah dinding kamar. Sinar matahari menyambutnya dengan hangat. Gadis itu pun membalas dengan senyum hangat pada sang mentari.
duk..!
Dea terkejut saat ujung kakinya menabrak robot pembersih.
"hai, poppy....kau lapar ya?" Sapa Dea pada benda bulat pipih itu, yang ia beri nama poppy. Ia meletakkan poppy ke atas meja, lalu mengisi dayanya.
"Tunggu..! Bukannya tadi malam...?" Dea terpaku menatap poppy, ingatannya kembali berputar, dimana ia mengalami kejadian aneh semalam.
Sekujur bulu halus Dea berdiri. Pori-porinya pun melebar, kala ia teringat bayangan hitam semalam. Dan yang lebih menakutkan... "Bukannya tadi malam aku... jatuh di sana..?"
Mata Dea membelalak ke titik, dimana ia terjatuh semalam. Jelas sekali ia terpeleset saat tak sengaja menginjak poppy, dan ia pingsan di atas lantai itu. Lalu kenapa ia terbangun di atas kasur?
"Tidak..! Tidak..! Jelas sekali aku pingsan disana. Apa iya aku bangun dan tanpa sadar berjalan ke kasur? Tidak! Mana mungkin...! Lalu...?"
Gadis itu meracau ketakutan sendiri. Kepalanya menoleh ke arah kasur dan lantai bergantian.
"Anjirr..! Masa iya aku diikuti roh jahat?" Gumam Dea bergidik merinding. Gadis itu cepat-cepat menuju kamar mandi. Sepertinya ia perlu mendatangi psikiater sekali lagi. Sepertinya ia hampir gila karena selalu berhalusinasi.
Sementara Dea memasuki kamar mandi. Bayangan hitam besar kembali muncul. Bayangan itu keluar dari lukisan bunga Telang, yang berada tepat disebelah meja rias Dea.
Perlahan bayangan itu berubah wujud, menjadi seorang pria tinggi nan gagah. Wajahnya arogan, serta sorot mata tajam menambah kental raut kelam tampangnya. Jubah hitam membalut tubuh besarnya. Kuku tangan yang berwarna putih bersih, sangat kontras dengan manusia pada umumnya.
Dia adalah Pangeran Vardhaman Dipta Tanggara Rakyan Shankara Gautama. Pewaris tunggal kerajaan Narasinga. Kerajaan yang punah silsilahnya, karena Putra mahkota, satu-satunya pewaris kerajaan harus hidup menjalani kutukannya.
Pada akhir masa kepemimpinan Raja Lakeswara, sempat terjadi percekcokan dan perebutan tahta. Perang saudara pun tak terelakkan. Hingga akhirnya kerajaan tersebut berakhir pada tahun 1820 Masehi.
Kerajaan Narasinga tercatat dalam sejarah, sebagai kerajaan yang masa kepemimpinannya paling pendek di dunia. Sejarah mencatat betapa dermawan nya sang Raja Lakeswara. Begitupula kekejaman sang putra mahkota, yang tercatat sebagai manusia paling kejam pada jamannya.
"Bryan, bisa temani aku ke psikiater? Aku mengalami halusinasi berlebih hari ini. Kamu tidak ada kelas pagi bukan?" Pinta Dea melalui sambungan telepon.
📞 "De, aku sudah janji mengantar mama belanja. Memangnya harus banget ke psikiater nya hari ini?" Sahut Bryan bernada malas. Bukan lagi khawatir kala sang kekasih bercerita dengan nada panik. Ia terlihat sudah bosan, dengan omong kosong Dea yang semakin hari semakin ngelantur.
"Bryan.., dengarkan aku..! Aku tadi malam kepeleset, dan pingsan di lantai kamar. Tapi begitu bangun aku sudah di atas kasur. Menurutmu itu masuk akal? Aku sama sekali nggak sadar, kenapa aku bisa jalan ke kasur? Dan kenapa aku nggak ingat apapun.."
📞 "Mungkin kamu ngigau Dea, jangan berlebihan deh. Dokter bilang kamu jangan terlalu memikirkan hal-hal itu kan?"
"Tapi..."
📞 "Aku tutup dulu ya, mama sudah siap."
Tanpa menunggu jawaban Dea, pria itu memutuskan sambungan teleponnya. Membuat Dea terdiam seribu bahasa. Akhir-akhir ini ia merasa Bryan sangat menjaga jarak. Semoga itu cuma perasaannya saja.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Yuk di follow, like, vote😘😘❤️ Biar otor remahan peyek ini semangat😘Tahun 1750 Masehi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments