Sepersekian detik pangeran mematung menatap langit-langit. Baru kali ini ia merasakan harga dirinya terbang terbuang. Di suruh mencuci piring, dan sekarang di tendang.
"Sakit..." ucapnya lirih, dengan tatapan penuh keputusasaan. Rasa sakitnya bukan hanya dikepala, melainkan juga didada.
"Ini kamar ku..?" Dea mengerjap cepat, bukankah beberapa saat yang lalu ia berada disebuah cafe bar.
"Kau...?" Dea baru sadar, bahwa orang yang barusan ia tendang adalah pangeran.
"Sakit sekali..." lirih Pangeran dengan nada putus asa. Masih ia mematung menatap langit langit kamar itu.
"Jadi aku menendangmu? Ya ampun.. maafkan aku." Dea terburu-buru membangunkan pangeran. Sebagai orang yang gemar olahraga sepak takraw, tak diragukan seberapa kuat tendangannya.
Dea membawa sang pangeran duduk ditepi kasur. "Maafkan aku." ucapnya lagi.
"Kejadian sebelumnya... bukan mimpi kan? Apa kau yang menyelamatkanku?" Dea sangat jelas merasakan, bahwa dirinya sedang disekap tadi.
"Benar, kau tau seberapa keras usahaku untuk menghampiri mu?" ucap pangeran berwajah ketus itu. Pengorbanannya mencuci piring selama 7 jam tak bisa dianggap sepele.
Dea mendapati bercak darah dipipi pangeran. Itu milik para preman yang sebelumnya membentur kaca dengan sangat dahsyat.
"Kau melawan mereka semua..?" Dea terharu, pasti membutuhkan banyak tenaga untuk bisa melawan gangster itu.
"Apa yang kau lakukan hingga bisa sampai kesana? Kenapa kau bodoh sekali?" hardik pangeran membelalak.
"Aku kesana untuk menghampiri teman-teman ku. Tapi sepertinya aku masuk keruangan yang salah. Aku juga bingung kenapa mereka malah melakukan itu padaku." Dea membalas dengan nada ketus. Jika tau akan seperti ini, mana mungkin ia mau ke ruangan itu.
"Jika aku terlambat sedikit saja, maka kau akan hancur." tekan pangeran, bukan hanya soal perusahaan. Dea hampir saja kehilangan kesuciannya ditangan para gangster itu.
Dea terpaku dalam pandangan tajam sang pangeran. Jika dia mati-matian melindunginya, kenapa harus menghancurkan hidupnya dengan dalih memberi perlindungan?
"Apa seperti ini kekhawatiran mu saat aku disakiti keluargaku?"
"Aku hanya ingin menepati janji, bahwa aku akan melindungimu sampai ajalku tiba."
"Dengan membunuh semua keluargaku?" perlindungan harusnya diberikan tanpa menyakiti, tanpa melukai. Jika memberi perlindungan dengan menorehkan luka tak terobati, maka itu sama saja seperti kutukan.
Pangeran menatap dingin wajah Dea yang terlihat pias. "Jika kau ingin meluapkan amarah, bunuh saja aku."
Senyum pahit tersemat di ujung bibir Dea. "Lihatlah, betapa licik dirimu. Setelah kau membuatku hidup sebatang kara, kau ingin melarikan diri ke akhirat? Membunuhmu malah akan membuatmu sangat bahagia bukan? Aku tidak akan melakukannya. Aku malah ingin kau hidup abadi hingga menyaksikan kiamat."
"Tidak, kau harus membunuhku. Kau sudah berjanji untuk itu." sergah pangeran tak terima.
"Jika aku ingkar janji kau akan membunuhku? Silahkan saja." Dea mendongakkan wajahnya menantang.
"Hei, aku sudah lama menunggu kelahiranmu."
"Keluarlah.., aku mau tidur." usir Dea berkacak pinggang.
"Dea...."
"Keluar..! Ku bilang keluar...!" pekik Dea melengking. Membuat telinga pangeran berdengung kecil.
Mau tak mau pangeran segera menghilang dari sana. Ia berharap Dea hanya sedang emosi. Suatu saat nanti pasti Dea akan berubah pikiran.
...~...
Pukul 09:30....
Dea terbangun kala merasakan vibrasi ponsel dari sebelah bantalnya. Dengan terpaksa gadis itu menggerakkan kelopak mata, lalu meraih benda pipih tersebut.
"hallo..." lirihnya tanpa melihat siapa si penelpon.
📞"Kalau kau tidak datang dalam 10 menit, carilah kelompok lain..!" ketus si penelpon yang tak lain adalah Bara. Wajahnya sudah merah padam diseberang sana.
"Apa...?!" Dea langsung bangkit dari tidurnya, dengan rambut ngembang seperti singa jantan.
Tanpa ba.bi.bu, Dea langsung mengemasi peralatan kampus lalu menyambar gelas air minum untuk mencuci muka. Secepat kilat ia membasuh wajah. Kemudian menuruni anak tangga sambil menyisir rambut dengan jari-jari.
Bajunya? Tentu saja masih baju semalam, karena ia langsung tertidur pulas tanpa mengganti pakaiannya.
Di pos penjaga, Pangeran langsung terbangun saat mendengar mobil Dea melaju meninggalkan pekarangan rumah.
Dea melajukan mobil dengan kecepatan 80 km/jam. Meninggalkan jalan komplek, kini Dea memasuki jalan raya.
"Kau mau kemana??" pangeran tiba-tiba nongol di kursi depan, membuat Dea yang gugup lantas terkejut dan hilang arah.
"AAAAA...!" pekiknya saat menyadari mobil yang ia kemudikan menabrak sebuah truk yang tengah terhenti.
Karena mendadak, pangeran pun tak bisa berbuat banyak. Alhasil ia dan Dea terbujur lemas dengan posisi kepala tersandar pada airbag.
Bagaimanapun pangeran juga manusia, ia bisa terluka dan bahkan terbunuh, namun jika yang membunuhnya bukan Dea, ia akan tetap hidup kembali. Lalu bagaimana kali ini?
Ya, pangeran tetap terbangun dalam kondisi sehat, saat dirinya tengah dibawa oleh petugas medis menuju ambulance. Dalam pandangan remang ia mencari sosok Dea. Gadis itu juga tengah dibawa menuju ambulance yang berbeda.
.
.
Satu jam kemudian....
Dea dan Pangeran terbangun bersamaan. Mereka dirawat bersebelahan. Tak seperti pangeran yang tampak merintih kesakitan, Dea malah menguap lebar seperti habis bangun tidur.
Saat tersadar sepenuhnya, pangeran merasakan sesuatu yang aneh. Ia meraba tubuhnya, melihat kakinya, dan memandangi kedua tangannya.
"Tidak.. bagaimana bisa...." Satu hal tidak masuk akal terjadi lagi, kini ia terbangun di tubuh Dea.
"Dea.., kau dengar aku?"
Dea menoleh dan terkejut saat melihat dirinya ada di ranjang sebelah. "Kenapa aku.." ucapan Dea terhenti saat ia menyadari suaranya berbeda. Sangat berat dan manly.
"Sepertinya tubuh kita tertukar." ucap pangeran yang kini berada dalam tubuh Dea.
"Apaa...??" Dea terduduk, tak memperdulikan lehernya yang tengah dipasangi alat penyangga.
Dea mengangkat kedua tangannya, memperhatikan sekujur tubuhnya sendiri. Ia benar-benar terbangun di tubuh pangeran terkutuk itu.
"TIDAAKK....!" jeritnya histeris, membuat para perawat berlarian menghampirinya.
...**************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments