Di dapur luas restaurant, pangeran dengan sangat terpaksa mencuci banyak piring untuk membayar makanannya. Ia ditemani seorang pelayan yang bertugas saat itu. Jika saja ia sendiri, maka ia tak perlu susah-susah menyentuh piring piring kotor tersebut. Ia hanya tinggal menggunakan kekuatannya.
"Apa anak itu sengaja menghukumku dengan cara ini?" rutuknya kesal, walau memakai sarung tangan, ia masih sangat jijik menyentuh kotoran bekas makan orang-orang.
"Kau masih sangat muda, penampilanmu juga lumayan. Kenapa malah jadi penipu?" ucap seorang karyawan yang tengah mencuci piring bersama Pangeran.
Sontak pangeran menatap sinis pada karyawan itu. Beraninya mahkluk kemarin sore beropini seperti itu padanya. "Aku bukan penipu. Lagipula usiaku jauh lebih tua dari mu." sahutnya ketus pada karyawan berusia 40 tahun itu.
"Anak muda sekarang tidak memiliki sopan santun." ucap pria itu.
Mereka pun kembali disibukkan dengan kegiatan mencuci piring. Tanpa diduga, seekor tikus melewati sudut wastafel. Karyawan berusia 40 tahun itu berjingkat kaget ketakutan.
"Tikuss..! Hei singkirkan tikus itu..!" pekiknya jijik, ia bersembunyi dibalik rak piring.
Bukannya menyingkrikan tikus, pangeran malah mengambil sebuah pisau daging dan dengan brutal membelah tubuh tikus itu menjadi dua.
"Kenapa kau membunuhnya?!" Karyawan pria itu membelalak, cukup membuang tikus itu keluar, tak perlu sampai membunuh dan mengotori tempat itu.
"Kau bilang singkirkan tadi." Pangeran menenteng mayat tikus itu ke dalam kantong plastik, lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Kau seperti psikopat.." lirih karyawan bertubuh pendek itu.
"Apa itu.. psikopat?" istilah baru apalagi itu? Pangeran tak banyak mengetahui tentang kata-kata modern.
"Psikopat itu seseorang yang tak memiliki perasaan, tak punya belas kasih seperti yang kau lakukan barusan. ih.. anak-anak sekarang sangat aneh." gumam pria itu bergidik merinding.
Pangeran malah mengangguk bangga, ia pikir itu julukan bagus untuknya. Ia pun fokus kembali mencuci piring agar bisa segera terbebas darisana.
...~~...
Sudah hampir satu hari Dea mengurung diri dikamarnya. Yang ia lakukan sejak kemarin hanyalah terbaring diatas kasur sambil menangis.
Kedua matanya kini bengkak, wajahnya lusuh dan pucat. Ia bahkan tak memperdulikan kalau hari ini sedang ada kelas. Pikirannya benar-benar melayang tak tentu arah sejak kemarin. Semua hal tidak masuk akal yang terjadi, hampir membuatnya kehilangan kewarasan.
Lalu Dea menyadari, bahwa pangeran benar-benar tidak mengikutinya. "Apa dia sudah kembali ke akhirat?"
Dea duduk di atas kasur, kepalanya sungguh berat sekali. "Syukurlah kalau dia menghilang dari sini."
Saat hendak merebahkan diri kembali, bell pintu rumahnya berbunyi. Dengan langkah terpaksa, gadis itu pun turun untuk membukakan pintu.
"Nona sakit..?" tanya Gala sesaat melihat Dea dari balik pintu.
"Tidak, ada apa?" Dea menyandarkan wajah lusuhnya pada daun pintu.
Gala memperhatikan wajah gadis itu, benar-benar pucat. "Boleh saya bicara sebentar?"
Karena sepertinya penting, Dea pun membuka lebar pintu dan mempersilahkan Gala masuk. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, sementara Gala duduk di seberangnya.
"Apa ada masalah?" tanya Dea malas, sambil menggaruk-garuk telinga menggunakan jari kelingking.
"Ini tentang supir anda." Gala mengeluarkan laptopnya.
"Dipta? Ada apa dengannya?"
"Maaf karena sudah lancang, aku meminta seorang temanku yang bekerja di kepolisian untuk mencaritahu latar belakang Dipta. Tapi kami tidak menemukan apapun. Apa mungkin nona menyembunyikan sesuatu?" Gala menunjukkan laptopnya, tak ada satupun orang dengan identitas tersebut. Bahkan foto Dipta tak ditemukan di pencatatan sipil mana pun.
Gala khawatir, bisa saja pangeran adalah orang suruhan yang sengaja mendekati Dea untuk keuntungan pribadi. Apalagi keadaan kantor sedang panas sekarang. Keselamatan dan nama baik Dea harus dijaga dengan ketat.
Dari posisi setengah berbaring, Dea duduk tegak. Ia mengalihkan tatapan ke berbagai arah, untuk mengurangi rasa gugup.
"Anda bertemu dengannya dimana?" lanjut Gala menyelidiki. Ia akan memenuhi wasiat mendiang Pimpinan, untuk menjaga Dea.
"Dia yang mendatangi rumah ini." sahut Dea tak yakin. Akan tidak masuk akal bukan jika ia menceritakan yang sebenarnya.
"Apa nona tahu latar belakangnya?"
Tentu saja Dea tau, seorang pangeran terkutuk dengan sikap kejamnya. Bahkan kemarin pangeran itu mengaku bahwa dia membunuh semua keluarganya.
"Tidak.., kenapa?"
"Kenapa nona mempercayainya begitu saja? Data dirinya tak tercatat dimana pun. Bisa saja dia mantan narapidana atau gangster. Bagaimana jika dia mendekati anda untuk sesuatu yang terselubung?" Gala mencecar Dea selayaknya seorang Ayah yang mengkhawatirkan putrinya.
"Dimana dia sekarang? Saya perlu berbicara dengannya."
"Dia sudah ku berhentikan." Ya, Dea memang tidak mau berurusan lagi dengan pria psikopat itu.
"Kenapa? Apa dia melakukan sesuatu yang kurang ajar kepada nona?"
"Tidak.., tidak, kemampuan menyetirnya sangat payah." kilah Dea menutupi rasa canggung dengan senyum hambar.
Gala mendapati sesuatu yang janggal dari penjelasan Dea. Sepertinya memang ada yang disembunyikan. Ia harus mencaritahu ini.
...~~...
Di ruangannya, Maya tampak membentuk rencana untuk menghancurkan nama baik Dea. Bagaimana pun caranya, ia harus mengambil alih perusahaan sang kakak.
"Lakukan apapun, buat dia hancur sekalian. Gadis itu hanya menghalangi jalanku." tegas Maya kepada para anak buahnya.
"Baik nyonya, kami pastikan anda tidak akan kecewa." ucap pria bertubuh kekar, yang merupakan pimpinan gangster. Ia sudah sering menyingkirkan tikus-tikus besar. Jika hanya menyingkirkan seekor nyamuk, pekerjaan sepele baginya.
...~~...
Pukul sembilan malam, Dea tengah menonton acara televisi di kamarnya. Ponselnya berdering berulang kali, pesan beruntun pun memenuhi layar notifikasi.
"Ada apa malam-malam begini?" Dea melipat alis saat membaca pesan tersebut datang dari grub kelas.
Biasanya grub itu hanya akan ramai jika ada tugas tambahan. Lagipula semua teman sekelasnya tidak ada yang seakrab itu dengannya. Tapi kali ini semua kontak tertulis mengajak Dea ke sebuah bar club.
[*Dea, kau harus datang. Kami semua sudah disini.]
[Akan ada pemberitahuan penting dari ketua kita.]
[Kami menunggumu, karena jika ada satu orang saja yang tidak hadir, pemberitahuannya akan dibatalkan*.]
Dea membaca satu-persatu pesan teman sekelasnya itu. "Pemberitahuan apa?" gumamnya.
Memang kelasnya pernah mengadakan pertemuan di sebuah bar club. Mereka makan dan minum bersama setelah membahas materi kuliah. Walau diasingkan Dea cukup menikmati suasana itu.
Kali ini pun ia berangkat tanpa rasa curiga. Padahal grub chat tersebut sudah diretas oleh orang suruhan Maya. Mereka akan melaksanakan rencananya malam ini.
...**********...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments