Sejenak Dea mematung dengan wajah heran, lelucon macam apa yang ia dengar barusan? Namun segera Dea mengubah ekspresi wajahnya, sudut bibirnya tersenyum jengah sambil menatap kesal kearah Pangeran.
"Jangan bicara, kau membuat selera makanku hilang."
"Saat kau menerima perlakuan tidak adil dari keluargamu, kau menangis sampai ingin mati. Kau bahkan mengucapkan agar mereka semua lenyap dari muka bumi. Jadi aku membunuh mereka. Aku merasa punya tanggung jawab untuk membuatmu aman." Pangeran itu tetap menceritakan perbuatannya, tak memperdulikan gadis dihadapannya kini memasang wajah marah.
"Ku bilang hentikan! Kau membuat lelucon yang memuakkan!" ketus Dea, ia mengusap bibirnya, pertanda makan sudah selesai. Padahal masih banyak yang tersisa di atas piring.
"Aku tidak sedang melucu. Papamu kecelakaan saat hujan, mama mu meninggal akibat ledakan di tempat bahan bakar. Paman mu meninggal di dalam lift karena kehabisan oksigen. Adik lelakimu tenggelam, dan baru-baru ini kekasih yang mengkhianatimu. Dulu aku membuatmu menderita, aku membunuhmu. Dan di kehidupan ini, aku berjanji akan melindungimu dari apapun itu."
Mendengar itu kedua kaki Dea lemas rasanya. Ia kembali terduduk di atas kursi, saat sebelumnya sudah hendak beranjak. Kedua matanya berkaca, haruskah ia mempercayai omong kosong itu?
"Jadi selama ini...." Dea mengingat setiap hari sejak kematian beruntun itu tiba. Semua orang mengatakan ia gadis sial, pembawa petaka. Ternyata itu bukan hanya cerita sirik belaka, melainkan memang kutukan yang dibuat pangeran psikopat itu.
Air matanya terurai kala ia mengecap kembali rasa pahit akibat cecaran orang-orang.
"Taukah kau betapa hancurnya hidupku?" lirih Dea, suaranya terdengar gemetar.
"Aku tau, oleh karena itu aku menyingkirkan mereka.."
"Bukan mereka sumber kehancuran ku..! Tapi kau..!" pekik Dea menggebrak meja dengan satu tangan. Membuat semua mata yang ada disana terarah kepadanya.
"Aku kehilangan keluargaku, dan karena tindakan gila mu, aku dicecar semua orang sebagai gadis pembawa sial. Kau lah yang menghancurkan kehidupanku! Kenapa kau begitu jauh ikut campur dengan masalah pribadiku?"
"Belakangan ini aku baru menyadari, bahwa bagimu keluarga itu penting sekalipun mereka menyakitimu. Aku memang salah dalam hal ini." pangeran berusaha membuat Dea mengerti, bahwa dirinya yang tak memiliki belas kasih itu hanya ingin Dea bahagia, tanpa orang-orang yang terus menyakitinya.
Dea tak tau harus mengatakan apa untuk menyampaikan rasa amarahnya. Ia hanya menangis, sampai dasa terasa sesak. Ia tak bisa melakukan itu disana.
Gadis itu menekan kuat rahangnya untuk menahan tangis, ia bangkit dari sana. "Jangan ikuti aku..!" langkah jenjang membawanya cepat keluar dari tempat itu. Hingga ia tak tersadar, kalung dengan liontin berwarna biru tua itu terjatuh disana. Ia berlari menuju mobil, dengan pandangan mata buram terbanjiri air mata.
Melihat Dea sangat putus asa seperti itu, tak membuat raut wajah Pangeran berubah simpati. Pria angkuh itu tetap memasang wajah datar, tak sadar bahwa ia telah membuat robekan baru dihati Dea. Ia bangkit berniat menyusul Dea, ia akan menjelaskan dan menerima hukuman apapun sebagai ganjaran.
"Maaf, Pak. Makanannya belum dibayar." ucap seorang pelayan menghentikan langkah pangeran. Pelayan itu menghadang dengan struk daftar makanan yang dipesan.
"eh..?" Pangeran kikuk ditempat, bagaimana ini? Ia tak punya uang sama sekali.
"Silahkan..." Pelayan itu menyodorkan bill berjumlah 6,7 juta rupiah, hanya untuk dua porsi pasta trufel Itali, dan dua gelas jus alpukat.
"se.. sebentar, Aku mau ke toilet." ucap Pangeran gugup, ia berjalan menuju arah toilet untuk memakai jurus menghilang. Mau bagaimana lagi? Ia harus melakukan ini, agar bisa menemui Dea. Bertambah hukuman sedikit tidak masalah.
Pangeran pun masuk ke dalam bilik toilet. Ia duduk di atas kloset dan memejamkan matanya. Cahaya putih muncul dari kedua telapak tangan, ia menyatukan keduanya dan memejamkan mata. Dalam sekejap sosoknya menghilang, namun baru beberapa detik, ia kembali lagi kesana.
"Kenapa ini..?" ia terheran, dan mencoba lagi. Namun hal yang sama tetap terjadi. Ia kembali ke tempat itu lagi, setelah berhasil melayang sejauh beberapa meter.
"Kenapa begini? Kenapa aku jadi terikat dengan tempat ini?"
Berulang kali pangeran mencoba, hasilnya tetap sama. Hingga pelayan restauran mengetuk pintu toilet, karena ia tak kunjung keluar. Sepertinya pelayan itu mencium bau-bau mencurigakan.
"Permisi... Apa yang anda lakukan disana?" panggil pelayan pria bertubuh jangkung itu.
"Permisi...?" panggilnya lagi, saat tak mendengar jawaban.
"Kemana dia..? Apa dia kabur?" Pelayan itu memutuskan untuk mengintip lewat bawah pintu, namun tak ia lihat kaki disana. Tentu saja, karena pangeran sedang duduk bersila di atas klosed, mencoba terus untuk bisa menghilang.
"Sial.. apa dia kabur?!" Pelayan itu memanjat pintu toilet, dan saat melihat kedalamnya ia terkejut karena pangeran sedang berperilaku aneh.
"AAGH..!" Pangeran juga terkejut, saat melihat wajah pelayan itu nongol dari balik dinding toilet.
"Apa yang anda lakukan..?" Selidik si pelayan dengan tatapan curiga.
Merasa gagal dengan rencananya, Pangeran pun keluar dari toilet dengan wajah pucat. Ia tak mungkin mengelabui orang tak bersalah ini, karena itu termasuk kecurangan. Dan hukumannya bisa bertambah.
"Anda tidak mencoba kabur, kan?" pelayan itu berkacak pinggang.
"Begini..." pangeran mengecap ludah, memalukan sekali rasanya. "Aku tidak membawa uang, bisakah aku pulang dulu. Aku akan kembali nanti."
Pelayan itu tertawa masam, ternyata benar dugaannya tadi. "Bisa, tapi tinggalkan KTP anda disini."
"KTP..?" Pangeran mengingat kembali apa itu KTP. Ternyata itu kartu identitas. Dia kan tidak punya.
"Aku tidak punya KTP..." jawab pangeran pelan.
Pelayan itu mengulum lidahnya geram. Kenapa selalu ada penipu seperti ini? Kalau niat mau makan di luar seharusnya sudah sedia uang.
"Barang ini tampaknya mahal, anda mau membayar dengan ini?" Pelayan tersebut mengeluarkan kalung Dea dari sakunya.
"Kekasih anda menjatuhkan ini tadi, bagaimana? Mau dibayar dengan ini... atau..."
"Atau apa..?!" Pangeran terlihat panik, ternyata itu alasannya tak bisa menghilang dari sana. Karena selain lukisan bunga telang, raganya terikat dengan liontin itu. Mampuslah ia sekarang. Kemungkinan Dea kembali lagi kesana bahkan tak bisa di andalkan.
"Berikan padaku, aku akan membayarnya nanti." Ia akan membawa liontin itu menemui Dea, dan mengambil uang.
Jangan salah, walau jadul dan terkutuk Pangeran juga punya banyak simpanan, berupa koin emas yang ia sembunyikan di tempat rahasia.
Saat hendak merebut kalung tersebut, Pelayan menariknya dengan sangat cepat. "Jangan pikir aku akan tertipu! Bayar dengan apapun, atau tinggallah untuk mencuci piring disini."
Pelayan itu tersenyum puas. Kali ini ia takkan membiarkan penipu lolos. Sudah sering ia ditipu seperti ini. Bahkan ia hampir kehilangan pekerjaan kemarin, karena membiarkan seseorang pergi dengan alasan mengambil uang.
"Mencuci piring..?" Pangeran tampak jijik mendengar itu.
"Kenapa..? Kalau tidak mau anda bisa menjadikan ini sebagai alat pembayaran." ucap pelayan itu memamerkan liontin milik Dea.
"Aku akan melakukannya..!" ucap pangeran mantap, bak prajurit yang siap melakukan perintah tuannya.
...*********...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments