Episode 17 : Memar

Dea yang berada di tubuh pangeran pun seketika kikuk dan bingung. Alasan apa lagi yang kira-kira bisa diterima oleh Gala? Ia tak mungkin dengan entengnya mengatakan bahwa Pangeran kembali lagi bekerja untuknya. Itu akan mengundang rasa curiga Gala semakin dalam.

"Sebenarnya apa mau mu? Kenapa kau datang dan pergi sesukamu di sekitar nona Dea?" ucap Gala berkacak pinggang, pada tubuh pangeran.

"Aku membuat kesalahan kecil kemarin, dan Dea langsung memecatku. Tadi aku datang kesini untuk memohon agar tidak di pecat, jadi Dea memberiku satu kesempatan. Tak kusangka aku malah membuat Dea dalam bahaya..." kilah Dea yang kini berpura-pura menjadi pangeran. Ia mendalami peran bahkan merangkai alasan dengan sangat rapi.

Akan tetapi, bukannya lega karena jawaban itu. Gala malah merasa semakin aneh saat pria misterius itu menjawab dengan panjang lebar. Biasanya ia akan berbicara ketus dan pendek. Tak ayal Gala merasa kepribadian supir itu dan Dea seperti tertukar.

.

.

Malam menjelang, di ruang kesenian Bara masih mengerjakan patung tanahnya seorang diri. Ia memoles detail demi detail, dengan sangat teliti. Ketidak hadiran Dea membuat patung mereka jadi tertinggal dua langkah, di banding teman-teman lain yang sudah hampir finishing.

Setelah lewat jam sepuluh malam, Bara pun mengemasi barangnya. Ia sudah tak tahan dengan kantuk yang sudah menghinggapi seluruh badan.

Saat melewati laboratorium, Bara berpapasan dengan seorang siswi yang juga baru selesai mengerjakan tugas.

"Astaga...!" siswi berkacamata bulat itu terkejut saat baru menutup pintu ruangan, karena Bara berdiri tegak di belakangnya.

"Siapa kau..?" tanya siswi itu sedikit takut. Suasana kampus sudah sangat sepi, dan gelap. Hanya tinggal segelintir siswa yang masih tertinggal, itupun di gedung olahrga saja, sebab bulan depan ada pertandingan memanah.

"Aku dari kelas seni." sahut Bara dengan senyum tipis di sudut bibirnya.

Gadis berkacamata bulat itu menaikkan bingkai lensanya. Mendapat sapaan dari pria tampan di ujung hari yang melelahkan, seperti menjadi angin segar untuknya.

"Kau baru mau pulang juga?" tanya gadis itu tertunduk, pipinya sudah bersemu merah. Tak dapat di pungkiri memang, dibalik keseharian Bara yang memasang wajah datar, ia memiliki senyum dan raut wajah yang amat menawan.

"Iya, hari ini sangat melelahkan. Rekan sekelompokku tidak datang, jadi aku harus lembur mengerjakan proyek kami."

"Aku sangat benci dengan rekan yang tidak kooperatif, mereka sangat menyusahkan." timpal gadis itu, mereka melangkah bersamaan menyusuri koridor. Menuju gerbang utama.

"Benar, mereka sangat menyusahkan." sahut Bara mengangguk pelan.

"Kau pulang sendiri?" imbuhnya.

"Aku naik bus." gadis itu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Apakah pria tampan itu akan memberinya tumpangan?

"Bahaya jika seorang gadis naik angkutan umum di malam hari. Bagaimana kalau ku antar?"

Tebakan gadis itu ternyata tepat sekali, Bara menawarinya tumpangan. Akankah ada kisah manis yang bersemi mulai dari sini?

"Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu." tolaknya sungkan, bukan wanita namanya kalau tidak malu-malu mau.

"Di mana rumahmu?"

"Di komplek Setia Guna... lumayan jauh." Gadis itu terkekeh pelan.

"Itu searah dengan rumahku, kalau begitu aku akan mengantarmu."

"Tapi..." masih gadis itu berusaha menolak.

"Sudahlah, lagipula itu cukup jauh, bagaimana kalau kau bertamu dengan orang jahat saat di bus? Juga ini sudah sangat larut untuk mahasiwa seperti kita."

Bara membujuk gadis itu untuk mau pulang bersamanya. Ternyata ia memiliki sikap yang sangat berbeda dengan apa yang di ketahui teman sekelasnya.

Akhirnya gadis itu menerima tawaran Bara. Tak di pungkiri ia menjadi besar hati, karena mengira Bara mungkin menyukainya di pandangan pertama tadi.

"Siapa nama mu?" tanya Bara sesaat sebelum gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Ia bahkan membukakan pintu, dan meletakkan tangannya di atas kepala gadis itu, agar tak terbentur oleh langit-langit pintu mobil.

"Hana.., kau..?"

"Namamu sangat indah, aku Bara." lagi, ia menyematkan senyum yang membuat pipi gadis itu semakin merona.

Mereka pun melanjutkan obrolan selagi mobil berjalan meninggalkan halaman kampus. Keduanya sudah tampak cocok dengan obrolan dan candaan ringan. Bagi Hana, Bara merupakan pria supel dan keren. Ia tak percaya bertemu dengan pria seperti itu, seperti kisah romantis di novel dan drama.

...~...

Keesokan paginya...

Karena keadaan, pangeran yang berada ditubuh Dea terpaksa masuk ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Dea tak bisa terus libur karena ini hampir mendekati masa UTS.

Saat pangeran tengah menidurkan kepala di atas meja, Bara datang menghampirinya dengan wajah geram.

"Kau tau aku pulang jam berapa karena mu?" ketusnya menatap tajam wajah Dea.

Pangeran lantas mengangkat wajah, menatap pria itu tak kalah tajam. Suasana sampai terasa horor seketika, karena adu pandang mereka berdua. Beberapa siswa yang memperhatikan meraka sampai merinding.

"Sudah ku bilang, aku kecelakaan." sahut pangeran dari dalam tubuh Dea. Ingin sekali dia menerbangkan pria itu ke langit-langit.

"Setidaknya kau mempunyai goresan akibat kecelakaan. Tapi kau tampak baik-baik saja." ucap Bara tak percaya, ia masih mengira Dea pasti hanya beralasan.

Pangeran lantas menyibakkan rambut Dea, menunjukkan luka memar di bagian bahunya. Kebetulan ia memakai baju dengan kerung leher yang cukup lebar. Lalu ia juga menggulung lengan baju itu untuk menunjukkan bekas luka akibat benturan.

"Puas..?" tekan pangeran semakin membulatkan matanya.

Raut wajah Bara yang tadinya sangat geram, berubah simpati. Dengan luka itu bukankah setidaknya Dea membutuhkan penyangga leher, atau gips untuk membalut lengannya.

"Ikut aku." Bara menarik paksa lengan kanan Dea.

"hei..! Mau kemana? Kelas sebentar lagi dimulai."

"Ikut saja..!" Bara membangunkan Dea secara paksa dari kursinya.

Karena tubuh kecil itu, pangeran jadi tak leluasa melawan. Jika memberontak terlalu keras ia takut malah akan melukai tubuh Dea. Akhirnya ia terpaksa mengikuti langkah kaki pria sinting itu.

Ternyata Bara membawa tubuh Dea menuju UKS.

"Permisi, punya salep memar?" tanya Bara kepada petugas UKS.

"Ada..." sahut petugas itu mengambilkan salep yang diminta. Kemudian ia memeriksa memar di bahu Dea, dan ia cukup terkejut melihat luka memar itu sangat lebar dan menghitam.

"Kenapa tidak memakai penyangga leher? Ini bisa menganggu otot leher dan tulang belikatmu." ucap petugas itu seraya mengoleskan salep.

"Apakah sudah Rontgen?" imbuhnya terlihat khawatir.

"Sudah, Dokter bilang tidak apa-apa." jawab Dea berwajah datar, sedikitpun ia tak merasakan sakit atau nyeri.

"Tetap saja, seharusnya kau memakai penyanggah." Petugas itu mengambilkan alat penyanggah, agar kerja otot leher Dea tidak terganggu. Mungkin jika yang di dalam tubuh Dea bukan pangeran, pasti untuk sekedar menoleh pun lehernya sakit bukan main.

"Bisa tolong pegang rambutnya?" pinta sang petugas kepada Bara, yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana.

"Baik.." Bara mengambil posisi di belakang tubuh Dea, mengikuti arahan petugas Bara mengenggam rambut Dea selagi alat penyangga di pasang.

"Tolong periksa tangannya juga, apakah perlu peyangga." ucap Bara sambil membuang muka dari tengkuknya Dea. Pria mana yang tak berkeringat dingin melihat tengkuk putih nan mulus itu.

"Sepertinya juga harus di pasang." sahut petugas itu, karena posisi memar berada diantara siku. Seharusnya Dea tak boleh menggerakkan sikunya, karena bisa saja malah mengalami bengkak otot.

"hei, jangan menariknya terlalu kuat. Kau mau melepaskan kulit kepalaku?" protes pangeran, saat merasakan perih di akar rambutnya.

"Diamlah..!" jawab Bara sambil tetap mengalihkan pandangan.

...*************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!