Episode 3 : Ledakan

2 Tahun yang lalu....

Di dalam perjalanan menuju kampus, Dea dan mama nya bertengkar. Wanita berusia 40 tahun itu terkejut dan marah saat mendengar putri sulungnya mengambil jurusan Kesenian. Padahal ia sudah menyuruh Dea mengambil jurusan kedokteran, atau Hukum. Dan Dea sendiri mengiyakan.

Tapi ternyata gadis itu membohongi sang ibu, dan malah mengambil jurusan yang jauh berbeda.

"Dea..?! Mau jadi apa kamu? Mendiang papa mu menginginkan kamu jadi seorang Dokter atau pengacara. Kamu malah ambil jurusan nggak berguna itu? Kamu pikir ada faedahnya mengambil jurusan nggak menjanjikan begitu?"

"Seni itu bermanfaat, Ma. Dea ingin menjadi pelukis terkenal. Mama pikir yang membanggakan cuma Dokter dan pengacara saja?!" Bantah Dea tak kalah ketus. Ia sudah muak sedari kecil dengan kehidupannya yang selalu di kekang. Tak boleh ini dan itu. Semuanya harus sekehendak mama dan papanya.

"Papa mu ingin punya anak Dokter, atau pengacara. Kamu harus mewujudkannya! Mama akan memindahkan mu ke fakultas kesehatan!"

"Ma..! Dea nggak mau! Kan masih ada Dewa." Ia menyebut nama sang adik, yang saat itu masih duduk di bangku SMA.

"Dewa itu laki-laki, dia yang akan jadi penerus perusahaan papa. Kamu yang seharusnya mewujudkan keinginan mendiang papamu. Apa susahnya sih menuruti perkataan kami? Dokter itu lebih menjamin masa depan kamu Dea!"

"Kenapa sih mama pilih kasih? Selalu Dea yang dituntut! Harus kesini, kesana..! Dea juga punya cita-cita,Ma! Dea juga punya impian!"

"Kamu pilih, mau pindah kemana? Hukum atau Kesehatan? Mama akan urus formulirnya."

"Ma..!"

"Jangan bantah Mama, atau mama akan memblokir semua akses pendidikan mu!" Potong wanita paruh baya itu. Ia sangat terobsesi dengan mimpinya. Yakni menjadikan Dea seorang Dokter, ataupun pengacara.

Dea tak menjawab lagi, hanya titik bening disudut kelopak mata yang mampu mengutarakan isi hatinya saat ini. Kedua tangannya terkepal, untuk yang kesekian kali batinnya remuk tak karuan. Apa keinginannya tak begitu penting bagi mereka? Sejak dulu Dea selalu diperlakukan seperti boneka. Tak jarang ia bahkan berharap, suatu hari terbebas dari kegilaan orang tuanya.

Mobil berhenti ke sebuah SPBU, untuk mengisi bahan bakar. Di saat yang bersamaan, ponsel Dea berdering. Dea pun keluar untuk mengangkat telepon, sekaligus menghirup udara segar sembari menunggu antrian.

Dea berdiri disisi kiri SPBU, tepatnya didekat toilet.

"Hallo..?" Ucapnya masih dengan mata berkaca-kaca.

Tak mendapat jawaban, Dea melihat kembali layar ponselnya. Nomor baru itu membuat Dea mengerutkan alis.

"Hallo..?" Dea mengulangi ucapannya, namun hanya hening yang ia dapat.

plaakk...

Ponsel digenggaman Dea terjatuh ke tanah, saat ia melihat mobil sang ibu tersambar api yang cukup dahsyat. Beruntung petugas SPBU segera memadamkan kobaran tersebut, hingga tak membuat ledakan lanjutan, yang bisa saja menewaskan semua orang disana.

Namun sayang, ibunya Dea tak selamat. Wanita paruh baya itu tewas mengenaskan didalam mobilnya.

ting..tung...

ting..tung...

Bel rumah Dea berbunyi, gadis yang baru saja hendak keluar rumah itupun langsung membukakan pintu.

"Selamat pagi nona, Dea." Sapa seorang pria berusia 37 tahun. Namanya Gala. Ia adalah orang kepercayaan keluarga Dea, yang mengurus bisnis ED'S Corporation.

Pria itu datang membawa sebuah tas hitam berisi dokumen dokumen penting yang memerlukan tanda tangan Dea, sebagai pemilik langsung Perusahaan.

"Maaf Dea buru-buru,Pak." Ucapnya tergesa, sambil menutup kembali pintu dan keluar. Ia bahkan tak mempersilahkan Gala masuk.

"Saya perlu beberapa persetujuan nona, penting." Ujar pria berwajah dingin itu.

"Saya juga ada kepentingan mendesak. Bapak urus saja sendiri, saya percaya." Dea berlari kecil menuruni anak tangga di teras rumahnya. Ia tergesa hendak menemui psikiater.

Pria berwajah datar itu hendak membuka mulutnya, namun Dea sudah memasuki mobil dan melesat cepat meninggalkan pekarangan rumah.

"Mau kemana dia dengan baju terbalik itu." gumam Gala lalu beranjak meninggalkan rumah besar itu.

.

.

Ditemani Vaness dan Clara, Dea sampai ke tempat Psikiater langganannya. Dea sampai menjalani hipnoterapi, untuk menjajahi alam bawah sadarnya.

Tetap saja hasilnya nihil, apa yang dirasakan Dea saat di alam mimpi, tak terbaca lewat sesi hipnotis.

"Apa yang paling membuatmu takut?" Tanya Psikiater wanita, yang sudah sangat hapal dengan keluhan Dea.

"Pangeran kejam itu..." Lirih Dea dengan mata tertutup.

"Memangnya apa yang dia lakukan padamu?" Lanjut Psikiater bernama Alia itu.

"Aku melihatnya membunuh orang-orang tak berdaya." Dahi Dea kembali mengeluarkan bintik-bintik keringat, kala mengingat betapa kejam Pangeran itu.

"Lalu kenapa kau takut? Apa kau pernah bertemu dengannya?"

Beberapa saat Dea terdiam. "Tidak pernah." ucapnya pelan.

"Lalu apa yang kau takutkan?" Selidik Alia, sedari tadi jawaban Dea hanya berputar. Membuatnya kesulitan menemukan titik terang, tentang apa yang Dea alami.

"Entahlah, aku hanya takut di rumahku ada hantu." Jawaban Dea terdengar ngawur. Hampir saja Clara dan Vaness tertawa.

Psikiater berkacamata bulat itu pun menghela nafas panjang, sebelum akhirnya membangunkan Dea dari sesi hipnotis.

Seperti biasa, tak ada yang bisa Dea dapatkan dari hasil pemeriksaan. Ia sendiri sampai bingung, apakah meninggalnya keluarga dalam waktu beruntun yang membuat Dea begitu stress?

Tapi Dea sudah berdamai dengan kepergian semua keluarganya. Walau sulit akhirnya ia bisa bangkit, dan merasakan hidup bebas. Lalu kenapa ia seakan terkurung oleh kelamnya mimpi mengerikan itu? Belum lagi kejadian aneh yang selalu membuat otaknya hampir tidak waras.

.

.

Sesudah dari Psikiater, Dea dan dua sahabatnya mampir ke sebuah Mall untuk menyegarkan pikiran.

Mereka mencoba seluruh jajan kekinian. Restaurant all you cant eat menjadi akhir plesiran mereka. Pajangan cup cake, manisan, eskrim dan camilan lezat lainnya menyapa mereka di etalase.

Clara dan Vaness menuju meja dengan sangat antusias. Namun Dea malah mematung di ambang pintu restaurant, kala melihat pemandangan pahit di salah satu meja.

Hancur dan sesak rasanya, melihat Bryan tengah menyuap mesra seorang wanita muda, yang tak lain adalah teman seangkatannya.

Dea berjalan cepat melewati meja Clara dan Vaness, menuju meja Bryan. Dua sahabatnya itu membidik penuh tanda tanya.

"Kemana dia..?" gumam Vaness dengan ekor mata mengikuti langkah Dea.

"Bryan..?!" Suara legam Dea membuat dua sejoli itu menoleh terkejut.

Bryan langsung meletakkan garpu di atas meja. Ia berdiri dan menatap panik ke arah Dea.

"Dea..? Kamu...ngapain kesini?" gugup Bryan berusaha tenang.

"Nemenin mama belanja?" Dea melempar tatapan penuh selidik. Dirinya sendiri masih tak percaya, pria yang selama dua tahun ini menemaninya kini bermesraan dengan wanita lain.

"Dea, kami kebetulan kok ketemu disini. Serius..." sanggah wanita berambut ikal itu.

Dea mengangguk pelan, seraya berusaha menyembunyikan air mata yang sudah hendak terjun keluar.

"Jadi kamu menemani mama belanja, lalu secara kebetulan kalian bertemu, begitu? Apa jam tangan kalian juga kebetulan sepasang?" Lirikan tajam Dea berpindah pada kedua lengan mereka.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!