Dea yang kini berada di tubuh pangeran menangis histeris. Bagaimana bisa hal tidak masuk akal ini terjadi?
"Kembalikan tubuhku...! Kau benar-benar pembawa sial..!" pekik Dea dengan suaranya yang kini menjadi perkasa.
"Aku juga tidak tau..! Suster tenangkan dia cepat!" titah pangeran dengan suara melengking.
Saat suasana ricuh itu berlangsung, telepon Dea tak henti-hentinya berdering. Mungkin itu adalah Bara, yang sedang menunggu kedatangan Dea di kelas.
"Jangan sentuh teleponku!" sergah Dea, namun pangeran malah mengangkat telepon tersebut.
📞 "Kau tidak berniat datang?"
Pangeran kembali melihat layar ponselnya, lalu menempelkan kembali henda pipih itu ke telinga.
"Dea dirumah sakit, dia mengalami kecelakaan." jawab pangeran juga bernada kesal.
Bara tentu saja terheran, bukankah ini suara Dea? Mengapa Dea berbicara seolah menjadi orang lain.
📞 "Apa..?"
Sambungan telepon segera di akhiri oleh pangeran. Membuat Bara berdesis kesal. Alasan konyol macam apa itu? Ia berpikir Dea sengaja menghindari kelas dengan membuat alasan tak masuk akal.
Perseteruan antara pangeran dan Dea terus berlangsung di rumah sakit. Suster yang menangani Dea sampai kewalahan. Dokter di bangsal itu pun sampai merekomendasikan Dea di rujuk ke rumah sakit jiwa, karena ciri-cirinya persis seperti pasien RSJ.
Dea terus menuding pangeran, ia berkata semua ini karena ulahnya. Coba kalau dia tidak muncul tiba-tiba, kecelakaan itu pasti takkan terjadi. Dan hal gila ini takkan mungkin terjadi juga.
Didalam tubuh Dea, pangeran sendiri pun kebingungan. Ia menutup mata dan berdoa kepada Dea untuk segera mengembalikan jiwa mereka yang tertukar.
"Apa....?!" gretak Dea saat pangeran melirik tipis kearahnya.
Posisi mereka hanya berjarak satu tirai, itupun tirainya di buka setengah.
"Sampai kapan kita disini?" bisik pangeran, ia sudah tidak betah berlama-lama dengan selang infus merambat di lengan.
"Tidak usah bicara padaku, sebelum kau dapat solusinya!" ketus Dea berbalik badan, memunggungi pangeran.
Pangeran pun murung kembali, ia berbaring sambil menatap kosong langit-langit rumah sakit.
Tiba-tiba Dea merasakan sesuatu yang aneh, yaitu kebelet pipis. Selama ini tubuh pangeran tak pernah mendapat panggilan alam, karena pangeran sendiri hidup sebagai jiwa setengah manusia. Namun karena saat ini yang mengisi raganya adalah Dea, reaksi manusiawi pun terjadi.
"Sial.. bagaimana aku mengeluarkan ini?" rutuk Dea seraya mengapit kedua pahanya.
"Dokter..! Tolong aku..!" panggilnya kepada para perawat, dan mereka langsung menhampiri Dea.
"Ada apa..? Anda merasa tidak nyaman?" tanya kepala perawat.
"Aku.., ingin buang air kecil. Tolong aku." bisik Dea dengan wajah ditekuk, ia menahan keras hasrat ingin pipis itu.
"Kami sudah memeriksa organ vital anda, dan tidak ada yang bermasalah. Apa anda merasakan sakit di bagian itu sampai tak bisa ke kamar mandi sendiri?"
Kepala perawat itu yakin betul, hasil tes organ vital tubuh pangeran baik-baik saja.
"Tidak bisakah kalian membantuku? Aku enggan membuka celanaku, bagaimana ini...." rengek Dea meringkuk kesal.
Kelakuannya tentu saja membuat para perawat kebingungan. Apakah pasien mereka ini benar-benar tidak waras.
"Bagaimana kalau aku yang membantumu membuka celana?" celetuk pangeran.
Usul itu membuat syok para perawat yang mendengarnya. Seorang gadis menawarkan hal tak masuk akal itu dengan suka rela? Siapa yang tidak terkejut.
"Kau sudah gila? Aku tidak mau bola mataku ternodai..!" ketus Dea membelalak.
"Tapi itu kan tubuhku." balas pangeran menatap tajam.
"Dan itu tubuhku..!"
"Ya memang, tapi ini jiwaku. Kau jangan coba-coba melihat tubuhku dengan alasan konyol itu ya..!" ucap Pangeran tak terima, padahal ia sendiri belum punya cara bagaimana jika situasi yang sama terjadi padanya.
"Kau pikir aku psikopat mesum seperti mu?! Sebaiknya kau ikat tanganmu dan jangan menyentuh tubuhku!"
"Kau yang harus mengikat tanganmu..!"
Dokter dan para perawat disana hanya bisa menggerakkan kepala, mengikuti perdebatan gila itu. Mereka bingung harus mengambil tindakan apa. Sampai akhirnya salah satu perawat memberi usul agar mereka di rujuk ke rumah sakit jiwa.
.
.
Sore harinya, Dea dan Pangeran pulang kerumah. Mereka dinyatakan normal, tidak mengalami gegar otak atau trauma. Dokter menyimpulkan mereka hanya syok sementara.
Sejak siang, Dea yang berada ditubuh pangeran sama sekali tak menyentuh air minum, padahal ia sangat kehausan. Saat dirumah sakit saja, ia meminta perawat membantunya buang air kecil, sementara ia menutup mata.
Bebeda dengan pangeran yang kini berada ditubuh Dea. Ia sama sekali tak merasa lapar, haus atau reaksi lainnya.
"Kapan bulan purnama akan tiba?" tanya Pangeran sambil mondar-mandir mencari cara. Hanya pada saat bulan purnama ia bisa berkomunikasi langsung dengan para Dewa.
"Tanggal 17 april, berarti lima belas hari lagi. Kenapa? Apa kita bisa betukar kembali saat itu?" Dea tampak antusias, berpikir semuanya akan kembali seperti semula saat bulan purnama.
"Tidak tau, aku akan menanyakan langsung kepada Dewa, kenapa ini bisa terjadi."
Tak mendapat pencerahan, Dea kembali menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa, tubuh pangeran lebih tepatnya. Kerongkongannya benar-benar kering saat ini. Tidak mungkin ia bisa terus menahan lapar dan haus sampai tubuh mereka kembali bertukar.
Di tengah kebingungan mereka, bel rumah berbunyi. Saat mendengar kabar Dea kecelakaan, Gala langsung membatalkan semua jadwalnya. Ia bahkan sempat ke rumah sakit tadi, namun ternyata Dea sudah pulang.
"Ada apa..?" tanya Dea sesaat setelah membuka pintu.
Melihat sosok pangeran yang membuka pintu, Gala pun terheran. Bukannya kemarin Dea mengatakan kalau supirnya sudah dipecat.
"Dimana nona Dea?" Gala benar-benar curiga, pasti ada yang disembunyikan oleh Dea mengenai hubungannya dengan pria misterius itu.
Dea terdiam sejenak, ia lupa bahwa seharusnya pangeran lah yang membukakan pintu. "Di dalam..."
Gala langsung menerobos masuk, untuk memeriksa keadaan Dea. Namun langkahnya terhenti, kala ia menyaksikan Dea sedang mondar-mandir sambil memegangi kepalanya.
"Nona, anda baik-baik saja? Kenapa anda sudah pulang dari rumah sakit? Apa anda merasa sakit kepala atau yang lainnya?"
Rentetan pertanyaan itu tak di gubris, ya karena pangeran belum beradaptasi dengan tubuh barunya. Ia malah asik mondar mandir membuat Gala mengerutkan dahi.
"Nona..? Anda tidak apa-apa?" lirih Gala seraya membalikkan bahu Dea, agar menghadap padanya.
Pangeran sempat ngelag sebentar, namun Dea memberi kode dengan gerakan mulut. Bahwa ia harus berakting layaknya Dea.
"Iya... baik.." jawab pangeran menepis tangan Gala. Berani sekali dia menyentuh tubuh Dea.
"Anda yakin tidak perlu dirawat?" tanya Gala lagi, ia sangat khawatir. Ia bahkan menduga kecelakaan ini disebabkan oleh orang-orang yang menentang keputusan Dea kemarin. Soal menjabat sebagai Direktur Utama.
"Tidak perlu." jawab pangeran terdengar ketus. Perubahan itu ternyata disadari oleh Gala. Entah kenapa kata yang keluar dari mulut Dea itu terdengar sangat gagah perkasa.
"Tapi.., kenapa dia ada disini. Bukankah kemarin dia sudah berhenti?" Gala melirik pada tubuh pangeran yang asli.
...*************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
$uRa
runyam nehhh..😁😁😁😁😆😆
2023-06-30
0