🌹🌹🌹🌹🌹🌹
.
.
"Nah ini kamar mu!" ucap Lula membuka pintu kamar kosong yang berada disebelah kamarnya. "Jika ingin mandi bawalah handuk ke belakang, karena kamara mandinya ada di dapur," lanjutnya lagi.
"I--iya, terima kasih. Kau baik sekali, Lula," jawab Aya tersenyum kecil. Saat ini dia sudah melepas kembali maskernya. Sebab dirumah itu hanya ada dia dan Lula saja.
"Sudahlah, jangan berterima kasih terus. Kau mandi saja duluan, aku akan menyiapkan baju ganti untukmu," ujar Lula sambil menepuk pelan pundak Ayara, dan setelah itu dia pun keluar dari sana untuk mengambil bajunya agar Aya bisa berganti pakaian rumahan.
"Ayara... sepertinya dia bukan gadis biasa. Bukan karena dia tidak bekerja saja. Akan tetapi barang-barang yang ia pakai juga terlihat barang mewah. Namun, kasihan sekali nasibnya." gumam Lula sambil membuka pintu Lemari kayu nya.
"Mempunyai ayah kejam dan tega mengusir anaknya yang lagi hami," kembali bergumam. Soalnya ayah Lula dan ibunya sangat baik dan tidak pernah marah. Padahal mereka selalu kekurangan uang dan kebutuhan lainnya.
"Jika aku sampai bertemu dengan laki-laki yang sudah meninggalkan dia hanya karena pekerjaan. Maka aku bersumpah akan memukulnya mengunakan sepatuku," meskipun dia belum tahu masalah percintaan. Namun, Lula ikut merasakan sakit hati mendengar cerita Ayara.
Andai dia tahu bahwa laki-laki yang menyakiti Aya adalah seorang artis. Apakah Lula akan berani memukulnya atau tidak?
Lula belum pernah pacaran dan dia sama seperti Ayara yang baru lulus sekolah menengah atas. Sejak dia masuk SMA, gadis berambut pirang itu sudah mulai bekerja untuk biayanya sekolah dan juga buat membantu sang ayah,g yang hanya seorang kuli bangunan.
Sedangkan ibunya menjual kue di rumah mereka sambil mengasuh adiknya yang masih berumur tujuh tahun dan juga sembilan tahun. Lula adalah anak paling tua.
"Ayara, ini baju ganti buatmu dan kau pergilah mandi sekarang. Ibu hamil tidak boleh mandi terlalu sore," Lula sudah mendapatkan beberapa lembar baju yang menurutnya cocok untuk Lula.
"Huem, baiklah! Terima kas---"
"Cepatlah mandi sana, Ara," sela Lula memanggil Ayara dengan sebutan Ara. Sehingga membuat sang pemilik nama meyergit bingung.
"Aku tidak ingin memanggil mu Ayara. Agar kau bisa melupakan masa lalu mu, bagaimana kau mau kan aku panggil, Ara?" tanya Lula berniat baik.
"Iya, tidak apa-apa. Aku juga suka dengan panggilan itu," Ayara tersenyum karena dia tidak kepikiran untuk mengubah panggilan pada dirinya.
"Oke, Ara sekarang kau mandi sana. Aku akan memasak untuk makan malam kita," Ayara tidak menjawab dengan perkataan. Tapi gadis itu hanya memberikan senyuman.
"Eh, awas salah! Kamar mandinya ada disebelah kiri dapur," teriak Lula karena rumah tersebut begitu kecil. Jadi hanya memiliki satu bilik kamar mandi. Itupun menyatu dengan dapur tempat memasak.
"Iya, iya! Tenang saja, aku bukan anak kecil," sahut Aya yang tidak mungkin tidak menemukan letak kamar mandi.
"Ya Tuhan! Terima kasih, terima kasi! Karena aku masih dipertemukan dengan orang-orang baik," lirih Ayara tidak bisa menahan air mata yang sejak tadi ia tahan.
"Alvin... begitu besar harapanku untuk hidup bersamamu. Namun, semuanya hanyalah mimpiku yang tidak nyata. Dua tahun lebih kita bersama, bagaimana mungkin kau tega melakukan semua ini,"
Lirih Ayara menangis sambil menyiram tubuhnya dengan air mengunakan gayung, bukan shower seperti di rumah orang tuanya yang kini hanyalah sebuah kenangan pahit.
"Bagaikan tertusuk duri, hatiku kau sakiti. Kau tinggalkan aku yang menyanyangi mu. Sekarang aku harus lalui semuanya seorang diri. Tanpa kau, ataupun orang-orang yang aku kenal sebelumnya,"
Dada Ayara sampai terasa sesak karena terus menagis. Apalagi memikirkan nasib calon anaknya yang nanti lahir tanpa seorang ayah. Tidak mungkin Aya bisa menikah dengan orang lain. Sedangkan dia lagi mengandung anak mantan kekasihnya.
"Hatiku sudah kau hancurkan, Alvin. Padahal kau tahu bukan, jika aku sangat mencintaimu. Aku kira setelah apa yang kita lakukan dan lalui. Sudah bisa mengikat dirimu menjadi milikku,"
Ayara yang terlalu larut dengan kesedihannya. Sampai tidak sadar jika Lula sudah mengetuk pintu kamar mandi. Gadis itu mengkhawatirkan dirinya yang tidak kunjung keluar.
Padahal Ayara sudah mandi sejak tadi. Hanya saja dia malah duduk dilantai kamar mandi sambil menagis.
Tok!
Tok!
"Ara, kau baik-baik saja, 'kan?" panggil Lula sedikit berteriak. "Kau tidak boleh mandi terlalu lama. Cuaca diluar sangat dingin, nanti kau bisa masuk angin," teriak gadis itu lagi.
"Iya, tunggu sebentar!" jawab Ayara membasuh mukanya agar Lula tidak tahu bahwa dia menangis.
Ceklek!
"Kau menangis? Ara sudahlah! Jangan bersedih lagi," tanya Lula melihat mata temannya memerah begitu pula hidungnya.
"Aku---"
"Cepat ganti baju dan setelah itu kita makan. Kau tidak usah berbohong padaku, kita ini teman," sela Lula menyebutkan kata teman. Agar Ayara tahu bahwa dia tidak sendirian.
"Lula, terima---"
"Cepatlah!" Lula kembali memotong ucapan Aya yang mau berterima kasih.
"I--iya," jawab Ayara tidak akan menang bila bicara dengan Lula. Gadis itu terlihat keras dan tegas. Namun, semua yang dia lakukan adalah karena perduli pada Ayara.
*BERSAMBUNG*...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Sifa Dini Eka Rizkiana
lanjut thor
2023-03-18
0