🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Auh," seru Ayara meringis menahan sakit ketika saputangan kecil yang sudah direndam ke air hangat menempel pada kulitnya yang memar. Ternyata di pinggir bibir Ayara pecah dan membengkak. Bukti bahwa tamparan dari papanya sangat keras.
"Tahanlah, Nak. Manusia seperti apa yang tega melakukan ini padamu?" ucap Bibi Atika ikut meringis. Seolah-olah dia juga merasakan sakit. Padahal hanya mengompres saja. Lalu bagaimana dengan Ayara. Gadis itu sedang demam dan juga pipi kiri-kanannya memar semua.
"Sakit, Bibi," lirih gadis itu kembali merasa sakit.
"Tahanlah! Jika tidak segera diobati ini akan bertambah sakit dan tidak akan sembuh dalam waktu dekat," wanita paruh baya itu terus saja mengompres dengan pelan. Bukannya dia ingin menyakiti Aya, tapi dia justru lagi bantu mengobati sebisa dirinya.
"Lula, cepat kau ambil salep bekas luka. Biar Bibi obati lukanya, kasihan sekali. Wajah secantik ini menjadi rusak," oceh Bibi Atika mulai mengelap kering pipi Ayara, karena dia sudah selesai mengompresnya.
"Terima kasih," ucapnya lagi menerima salep yang diberikan oleh Lula. Gadis yang masih sebaya dengan Ayara.
"Auh, pe--perih, Bibi. Saya tidak kuat," ucap Aya kembali mengaduh kesakitan.
"Sedikit lagi, salep ini memang sangat perih. Tapi bila mengobati luka akan cepat sembuh," kata si Bibi selesai mengobati bagian pinggir bibir Ayara. "Sudah selesai, sekarang habiskan Teh nya," titah beliau yang diangguki oleh Ayara.
"Terima kasih, Bibi, terima kasih, Lula!" ucap Ayara dengan tulus.
"Sama-sama, tapi siapa yang tega melakukan ini, Nak. Maaf Bibi bukan bermaksud apa-apa. Tapi Bibi hanya---"
"Tidak apa-apa, Bi. Se--sebenarnya... yang melakukannya adalah papa Saya sendiri," jawab Aya jujur.
"Astaga! Apa yang terjadi? Kenapa ayahmu tega melakukannya?" seru Bibi Atika dan Lula secara bersamaan. Lalu Ayara yang tidak memiliki siapapun di kota tersebut akhirnya menceritakan semuanya.
Termasuk dia yang hamil di luar nikah. Namun, Aya tidak mengatakan jika dia anak seorang pengusaha kaya dan ayah bayi yang dia kandung adalah artis yang sedang naik daun bersama Gruop boyband nya.
Meskipun merasa malu, Aya harus jujur. Dia bisa berbohong hal lainnya, tapi jika hamilnya mana mungkin Aya bisa menyembunyikan hal tersebut. Semakin hari, tentu perutnya akan bertambah besar.
Ayara tidak mau jika nanti dikira tukang bohong. Lebih baik dia dihina sekarang, daripada nanti. Apalagi bila anaknya sudah lahir.
"Begitulah Bibi, ceritanya. Saya pantas menerimanya karena Saya memang bersalah sudah mengecewakan ayah, " saat bercerita gadis itu kembali menangis. Sejahat apapun perlakuan keluarganya. Tetap saja Ayara merasa bersalah sudah membuat sang ayah kecewa memiliki anak seperti dirinya.
Di luar dugaan Ayara, gadis tersebut mengira Bibi Atika akan mengusirnya. Namun, justru malah sebaliknya. Perempuan paruh baya itu menarik Aya untuk dia peluk.
"Sudahlah, jangan menangis! Tidak baik untuk calon bayimu. Bukannya tadi kau bila tidak mau mengugurkan nya. Jika begitu rawatlah dia. Anggap semua ini ujian dari Tuhan untukmu yang telah berbuat dosa," ucap Bibi Atika tidak bisa menghakimi gadis dihadapannya yang sudah sengsara gara-gara diusir dari rumah.
"Bibi tidak benci dan jijik kepadaku?" Ayara merenggangkan pelukan mereka dan menatap muka si Bibi Atika.
"Buat apa Bibi harus marah dan jijik, Nak. Semua orang memilki dosa dan masa lalunya masing-masing," jawab wanita itu tersenyum kecil. Bibi Atika memang tua dan boleh dikatakan sudah sesepuh. Namun, karena pekerjaannya menjual berbagai macam bunga segar yang dirangkai menjadi sangat indah. Membuat dia terlihat masih muda daripada wanita seumuran dirinya.
"Hanya pesan Bibi, jika kau ingin hidup tenang. Jangan memiliki dendam pada keluargamu maupun pada mantan kekasihmu itu. Cukup kau jauhi mereka, lupakan semuanya. Kau berhak bahagia bersama calon anakmu. Dia adalah malaikat kecil yang tidak berdosa," sambung Bibi Atika kembali duduk seperti semula.
"Jadi jagalah dia dengan baik. Kau paham kan maksud Bibi?"
"I--iya Bibi, Saya paham. Terima kasih. Setelah mendengar nasehat Bibi, hati Saya merasa sedikit tenang. Setidaknya ada satu orang yang tidak menghakiminya dan menjauhi Saya," jawab Ayara memaksakan tersenyum kecil.
Benar kata Bibi Atika, anggap saja ini semua sebagai ujian bagi dirinya. Mulai saat ini Aya harus kuat demi si buah hati. Ayara akan melupakan semua kenangan masa lalunya termasuk bersama Alvian. Pemuda yang tega membuangnya setelah memberikan beribu janji manis.
"Hujannya sudah reda, Saya harus pergi sekarang Bibi, Lula. Sekali lagi terima kasih banyak," gadis itu pun memasang kembali maskernya dan hendak pergi kemana kakinya akan melangkah.
"Ayara, tunggu dulu! Kau mau pergi kemana?" cegah Bibi Atika. Sedangkan Lula hanya terdiam saja sejak tadi.
Lula sedang membandingkan nasib dirinya dan Ayara. Ternyata lebih mending kehidupan dia. Meskipun Lula datang ke ibukota B untuk bekerja mencari uang agar bisa membantu keluarganya. Akan tetapi gadis itu memiliki ayah dan ibu yang begitu sayang padanya.
Tidak seperti ayah Ayara, yang tega mengusir putrinya sendiri hanya karena hamil di luar nikah. Padahal kedua pipi Aya sudah memar akibat kena pukul. Seharusnya cukup berikan hukuman itu saja. Tidak perlu di usir dan tidak diakui anak lagi.
"Saya... juga tidak tahu, Bibi. Mungkin nanti Saya akan mencari penginapan dulu,"
"Apakah kau memiliki uang untuk membayar nya? Dan kau akan bekerja apa dengan keadaan mu yang sedang hamil muda?" wanita paruh baya tersebut kembali bertanya. Sebab setelah mendengar cerita Ayara dia semakin kasihan pada gadis malang itu.
"Saya juga tidak tahu, Bibi. Jujur saja Saya tidak bisa bekerja apapun termasuk memasak," ungkap Ayara sedikit menundukkan kepalanya.
"Ya Tuhan Ayara! Memangnya selain sekolah kau kerja apa saja? Kenapa masak kau juga tidak tahu," seru Lula yang suka asal ceplos. Sebab dirinya saja disela sekolah dan mencari uang masih pandai memasak. Walaupun hanya untuk dirinya sendiri.
"Lula!" Bibi Atika mengelengkan kepalanya agar gadis itu bisa diam dan tidak menyinggung perasaan Ayara.
"Maaf Ayara, maaf Bibi. Aku hanya merasa kaget," ucap Lula meyegir kuda.
"Iya, tidak apa-apa. Aku memang tidak berguna," jawab Ayara menyesal tidak pernah bekerja apapun. Sebab di rumah mewah papanya memiliki puluhan pembantu.
"Ayara jika kau mau tidur di sini saja. Gratis, Bibi tidak meminta biaya. Setidaknya menjelang dapat pekerjaan yang bisa kau kerjakan dengan kemampuan mu," tawar perempuan itu. "Tapi... tempatnya hanya seperti ini. Bibi tidak memaksa, jika kau---"
"Bibi maaf aku menyela! Eum... bagaimana jika Ayara tinggal di tempatku saja. Tapi ya rumahku sangat kecil," kata Lula menawarkan untuk membantu Ayara.
"Bagus sekali, Nak. Tadi Bibi juga mau menyuruhnya tingal bersama mu dulu. Tapi Bibi tidak enak dan takut malah merepotkan mu,"
"Agh, Bibi bicara apa. Tentu saja aku tidak apa-apa bila Ayara tinggal bersama ku," jawab Lula tersenyum.
*BERSAMBUNG*...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments