🌹🌹🌹🌹🌹🌹
.
.
Setelah melihat pesawat yang membawa Alvian terbang mengudara. Ayara pun melangkah meninggalkan bandara dan langsung masuk ke dalam mobil taksi online yang sudah dipesankan oleh kekasihnya saat mereka dalam perjalanan menuju bandara. Saking perhatiannya Alvian sampai menyiapkan mobil untuk Ayara pulang.
"Pak, ke kompleks perumahan Gardenia resort ya," ucap gadis itu sambil menyeka air matanya yang terus menetes.
"Baik, Nona," jawab si sopir mulai menjalankan kendaraan tersebut menuju tempat yang dikatakan oleh penumpangnya.
Selama di dalam perjalanan menuju kediamannya. Aya hanya termenung sambil menggigit jari tangannya sendiri. Sudah dua hari dia pergi meninggalkan rumah. Namun, sang papa ataupun satu saja diantara keluarnya tidak ada yang menanyakan keberadaan Ayara. Miris Memang, tapi begitulah kehidupan gadis cantik itu.
"Nona, kita sudah memasuki area kompleks. Rumah Nona yang ada di sebelah mana?" tanya si sopir menyadarkan si Ayara dari lamunannya.
"Agh, ma--maafkan Saya, Pak," seru Aya kaget dengan suara si sopir.
"Tidak apa-apa, Saya mengerti Nona pasti merasa bersedih karena harus berpisah dengan suaminya," jawab di sopir entah mengapa bisa menebak jika Aya lagi bersedih karena memikirkan suami. Padahal Alvin hanyalah pacarnya.
"Rumah Saya yang itu, Pak. Pagar yang berwana keemasan dan hitam," tunjuk gadis itu tidak menghiraukan perkataan si sopir yang sok-sokan menebak yang dia tidak tahu. Begitulah perkiraan Aya.
"Baiklah, terima kasih, Nona. Jaga kesehatan adek nya jangan sampai gara-gara memikirkan ayahnya, si adek ikut sakit," pesan si bapak sopir itu lagi. Sehingga membuat Ayara bergidik ngeri. Dia mengira si Taksi online itu agak gila. Berbicara aneh yang membuat Ayara takut. Setelah membayar ongkosnya dan mengucapkan terima kasih. Gadis tersebut langsung masuk karena Pak Satpam sudah membuka gerbang untuknya.
"Selamat datang, Non," sapa Pak Satpam ramah seperti biasanya.
"Iya Pak, terima kasih. Oya, apakah Papa sudah pulang?" tanyanya dengan suara sendu.
"Sudah dari tadi malam, tapi sekarang beliau dan keluarga yang lain sedang pergi ke rumah utama," jawab Pak Satpam.
"Yasudah, kalau begitu Saya masuk dulu, Pak," Ayara pergi meninggalkan pos keamanan dan masuk kedalam rumah mewahnya. Benar saja, di dalam tidak ada siapa-siapa. Kecuali para pelayan.
"Ayara, jangan bersedih. Kau memang bukan siapa-siapa dirumah ini," ucapnya menguatkan diri agar tidak menangis atas perlakuan sang ayah yang tidak pernah perduli dia ada dimana dan pergi bersama siapa. Seakan-akan Ayara bukannlah anaknya.
Ceklek!
Suara Aya membuka pintu kamarnya. Setelah mengunci pintunya kembali gadis itu merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang tadi malam dia tinggal karena menginap di Villa bersama sang kekasih.
"Alvin sudah sampai apa belum, ya? Agh, belum juga satu jam, tapi aku sudah merindukannya.," kembali berbicara sendiri sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Bapak taksi tadi kenapa bisa bicara aneh, ya? Apakah dia salah minum obat?" bingung ingin melakukan apa. Akhirnya pikiran Aya kembali mengigat perkataan si tukang Taksi.
"Adek, suami? Aneh sekali, baru kali ini aku bertemu orang seperti itu," lanjutnya lagi sebelum matanya terpejam. Tadi malam gara-gara percintaannya bersama Alvian. Gadis itu sampai kurang tidur, belum lagi tadi subuh sudah digempur untuk kedua kalinya. Sehingga Ayara benar-benar merasa kelelahan. Dia sudah mendapatkan pelepasan berulangkali. Sedangkan Alvian begitu tangguh, sesuai seperti tubuhnya yang atletis dan berotot. Padahal umur pemuda itu baru menginjak sembilan belas tahun.
Sampai pada pukul setengah lima sore. Ayara baru membuka matanya karena mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk dari luar.
"Eum, siapa sih?" gumam Ayara sambil berjalan membuka pintu kamarnya.
Kleeek!
"Iya Bibi, ada apa?" tanya Aya setelah melihat siapa yang berada dibalik pintu.
"Maaf, sudah menganggu waktu istirahatnya, Nona Muda. Tapi Saya di suruh oleh Tuan Edward. Katanya Nona disuruh keruang kerjanya," jawab asisten rumah tangga dengan sopan.
"Apa! Benarkah? Aku tidak lagi salah dengarkan?" seru Ayara dengan hati berbunga-bunga. Ini adalah pertama kalinya sang ayah ingin berbicara dengannya. Apalagi sampai menyuruh pembantu memangil Ayara.
"Benar sekali, Non. Tapi lebih baik Nona mandi saja dulu, nanti Bibi yang akan sampaikan pada Tuan," kata si Bibi tersenyum karena dia ikut merasakan bahagia melihat Ayara bisa tersenyum. Mereka yang bekerja di rumah mewah itu mengetahui seperti apa Aya diperlakukan oleh ibu dan adik tirinya. Apalagi Tuan Edward, pria paruh baya itu seakan buta dan tuli pada keadaan putrinya sendiri.
"Baiklah, aku mandi sebentar. Bibi terima kasih, tolong katakan pada Papa, dalam waktu lima belas menit aku sudah akan ke sana," ucap Ayara sebelum menutup kembali pintu kamarnya.
Sebelum masuk ke dalam kamar mandi Ayah sempatkan dulu mendekati pigura almarhum ibunya. "Mama tolong doakan ya, semoga ini adalah pertanda baik. Aya sangat ingin bisa berkuliah dan semoga saja Papa tidak mendengarkan perkataan nenek yang melarang papa membiayai kuliahku," ucapnya pada foto sang ibu. Lalu setelah itu barulah dia mengambil handuk dan membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama, gadis itu begitu bahagia mendengar sang ayah Ingin bertemu dengannya. Jadi hanya kurang lebih sepuluh menit Ayara sudah selesai dan langsung mengganti pakaiannya menggunakan dress rumahan.
Dia tidak memakai bedak ataupun yang lainnya. Kecuali menyisir rambut saja. Jadi sesuai perkataannya tadi, kurang dari waktu lima belas menit Aya sudah mengetuk pintu ruang kerja papanya, yang berada di lantai bawah.
Tok!
Tok!
"Masuk!" terdengar suara bariton Tuan Edward menyuruh putrinya masuk. Sehingga mengunakan satu tangannya gadis itu pun membuka pintu dengan pelan. Takut-takut membuat kesalahan sehingga membuat papanya marah. Sedangkan satu tangannya membawa hasil nilai ujiannya yang mendapatkan peringkat pertama. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Papa," ucap Ayara berjalan mendekat papanya yang duduk di atas sofa.
"Duduklah! Ada yang ingin papa sampaikan padamu," titah beliau masih tetap dengan suara beratnya. Ayara hanya mengangguk dan duduk dihadapan sang ayah.
"Pa... ini raport dan hasil dari semester satu sampai akhir. Ayara kembali mendapatkan juara," dengan bangga Aya menyerahkan nilai sekolahnya.
Tuan Edward pun menerima dan mulai memeriksa hasil nilai dari putrinya menuntut ilmu dalam beberapa tahun terakhir sampai lulus sekolah.
"Bagus! Kau memang harus pintar, jangan menjadi gadis bodoh seperti kebanyakan anak-anak di luar sana," kata Tuan Edward menyimpan kembali setelah memeriksa satu persatu nilai sang putri.
Ayara yang mendengar hal tersebut tentu saja sangat merasa bahagia. Dia mengira hal itu adalah pertanda baik. Namun, setelah mendengar lagi perkataan sang ayah. Senyum Ayara langsung hilang dalam sekejap mata.
"Jika kau ingin kuliah, maka carilah pekerjaan. Nanti sisa biaya kuliah mu, baru Papa yang akan membayarnya,
Deg!
Jantung Ayara bagaikan ditikam oleh sembilu. Benar-benar sakit, bagaimana mungkin ayahnya bisa berkata demikian. Sedangkan kakak tirinya saja di kuliahkan diluar negeri dan biayanya ditanggung oleh Tuan Edward.
"Kenapa Aya harus bekerja terlebih dahulu, Pa. Aya mana bisa bekerja, lagian mau kerja apa juga?" seru Aya mencoba untuk protes.
"Justru karena kau tidak bisa bekerja makanya harus belajar dari sekarang. Kau bisa memulai mencari pekerjaan sebagai pegawai toko swalayan atau apalah yang bisa mendapatkan uang dan kekurangan biaya kuliahnya baru Papa yang tanggung,"
"Iya, tapi kenapa Aya harus bekerja, Pa. Sedangkan Kakak hanya kuliah saja, tidak bekerja dulu," keluh gadis itu sudah menangis. Ternyata apa yang diharapkan tadi semuanya hanyalah mimpi belaka. Nyatanya Tuan Edwar malah menyuruh putrinya bekerja jika ingin melanjutkan kuliah. Padahal beliau tidaklah kekurangan uang. Ayah seperti apa yang bisa dan tega memperlakukan putri kandungnya sendiri seperti itu.
"Ayara! Jangan pernah membandingkan dirimu dengannya. Kakakmu berbeda, dia tidak hanya pintar. Tapi dia juga sangat rajin membantu Papa dikala sedang libur sekolah," bentak Tuan Edward. Dia tidak ingin ada yang membantah keputusannya.
"Tapi Kakak laki-laki, Pa. Sedangkan Aya---"
"Terserah padamu, jika kau ingin melanjutkan kuliahmu. Maka carilah pekerjaan agar mendapatkan uang sendiri. Nanti sisanya baru Papa akan membantumu," sela pria paruh baya itu langsung keluar dari ruang kerjanya dan meninggalkan Ayara yang menangis.
"Mama, apa yang harus Aya lakukan? Harus melanjutkan kuliah, atau bagaimana?" lirihnya mengadu pada sang ibu yang sosok nyatanya saja Ayara tidak pernah melihatnya.
...BERSAMBUNG......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Dewi Purnomo
Ayah kandung kok kejam yaaa....mewek.
2023-03-10
0