🌹🌹🌹🌹🌹🌹
HAPPY READING...
.
.
"Ayo, ayo! Kita sudah sampai di kota B. Siapa yang tidak akan turun, maka akan kembali ke kota S lagi." ucap si kernet begitu mobil bus mereka tiba di terminal ibukota B. Ayara yang tidur pun langsung bangun dan melihat disekitarnya.
"Apakah ini kota B? Ya Tuhan! Tolong bantu aku. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak punya siapa-siapa,"
Do'a Ayara sambil berjalan turun seperti para penumpang lainnya.
"Berapa, Paman?" tanya gadis itu seraya mengeluarkan dompet kecil miliknya. Namun, sebelum menjawab si kernet yang masih berumur sekitar empat puluh tahun kurang lebih itu berjalan kearah sopir dan berbisik di telinganya. Sehingga membuat Aya merasa ketakutan.
Akan tetapi tidak lama setelah berbincang beberapa saat. Si kernet kembali berjalan kebelakang dan menemui Ayara yang berdiri di dekat tangga keluar dari mobil tersebut.
"Be--berapa, Paman?" tanyanya terbata-bata karena merasa takut.
"Untuk Anda kami berikan gratis, Nona. Kebetulan bus kami sedang kosong juga. Jadi pergunakan saja uangnya untuk hal lain saja," jawab si kernet melihat sepanjang jalan Aya tidak ada ikut makan dan penampilannya tidak baik-baik saja. Jadi dia menebak bahwa Aya mungkin tidak punya uang atau lagi ada masalah. Kebetulan beliau juga mempunyai anak perempuan, jadi merasa tidak tega untuk menagis uang tumpangan mobil.
"Be--benarkah? Paman tidak berniat jahat pada Saya, 'kan?" tanya Ayara polos. Meskipun iya, lelaki tersebut berniat jahat, mana mungkin akan memberitahu dirinya.
Sebelum menjawabnya, si kernet tersenyum kecil dan berkata. "Saya serius, anggap saja Saya lagi menolong putri Saya sendiri. Nona turun saja dan berhati-hatilah. Dunia luar sangat kejam, Saya rasa Anda belum pernah datang ke kota ini," pesannya yang benar-benar ikhlas ingin membantu saja.
Tanpa aba-aba Ayara menarik tangan laki-laki itu dan ia cium takzim karena tidak menyangka masih ada orang baik yang mau menolong dirinya.
"Paman, terima kasih! Semoga Tuhan menganti rezeki kalian berdua yang sudah mau menolong ku,"
"Sama-sama, pergilah, Nak. Jangan percaya pada orang sembarangan. Semoga nasib baik juga menyertaimu," kata sopir tersebut yang juga menatap Aya kasihan. Sebetulnya sudah sejak dalam perjalanan mereka memperhatikan Aya yang berpuasa dan tidak makan apapun. Padahal penumpang lainnya makan dan menikmati jajanan disetiap mereka berhenti.
"Iya Paman, sekali lagi terima kasih," pamit Ayara tersenyum dibalik maskernya.
Sayang, ini mungkin karena kehadiran dirimu, Nak. Sehingga kita bisa bertemu orang baik,"
Gumam Aya sambil berjalan menjauh dari terminal yang kebetulan berada di pusat ibukota B. Dia terus berjalan sambil berpikir akan kemana dengan uang sembilan puluh delapan Dolar. Sebab yang sisanya tadi sudah dia gunakan untuk membayar bus saat ke makam mamanya dan juga membeli air mineral beserta dua potong roti.
Ketika dia sudah hampir kelelahan berjalan tanpa arah. Hujan tiba-tiba turun dan Aya pun terpaksa berteduh di emperan toko bunga. Bukan dalam waktu yang sebentar, tapi hampir dua jam hujan tak kunjung berhenti. Seakan sedang mewakili hatinya yang menagis tiada henti.
"Dingin sekali," ucapnya menahan dingin dan juga lapar. Namun, tidak lama setelah itu pintu toko bunga tempat Aya numpang berteduh terbuka dari dalam.
"Nak, ayo masuklah! Sepertinya kau kedinginan," ucap seorang wanita tua berumur lebih dari lima puluh tahun. Dia adalah pemilik toko sederhana tersebut.
"Te-te-- terima kasih, Bibi. Saya, Saya disini saja," tolak Aya ingat pesan si kernet jika dia tidak boleh percaya pada sembarangan orang.
"Jangan takut, Bibi bukan orang jahat. Ayo masuklah! Sekarang musim hujan, biasanya akan lama. Bisa jadi akan sampai malam," kata wanita itu yang tahu jika Aya takut padanya.
"Saya bukannya takut, Bibi. Tapi Saya hanya---"
"Justru jika kau diam diluar seperti ini, orang-orang jahat akan melihat dirimu. Ayo masuklah! Di dalam ada gadis seumuran denganmu juga," sela wanita paruh baya itu lagi. Sebetulnya dia melihat Aya dari dalam mulai kedinginan, makanya dia mengajaknya masuk.
"Tapi---"
"Sudah, ayo masuk! Bibi bukan orang jahat," sebelum Aya menyelesaikan ucapannya. Si pemilik toko menarik tangannya masuk. Sebab sekarang bukan hanya hujan saja, tapi juga angin kencang.
"Ayo duduklah!" titahnya membawa Aya ke sofa yang biasa digunakan oleh para pelanggan menunggu pesanan mereka.
"Bibi Atikah, dia siapa?" tanya seorang gadis yang sedang merangkai bunga Lili.
"Entahlah! Bibi juga tidak tahu, kau tanya saja. Dia sepertinya bukan orang sini,"
"Nak, kau tunggu di sini, biar Bibi bikin kan Teh hangat untuk menghangatkan tubuhmu," lanjut wanita paruh baya itu meninggalkan Ayara bersama gadis yang merupakan karyawan di toko tersebut.
"Hai, nama mu siapa? Apakah betul bukan orang sini? dan kenalkan namaku Lula," tanya gadis itu dan langsung memperkenalkan dirinya.
"Hai juga, aku, aku Ayara," Aya menerima uluran tangan Lula. Mereka berkenalan karena mereka seperti seumuran.
"Ayara, nama yang cantik!" puji Lula tersenyum. "Iya, apakah kau bukan orang sini?" kembali bertanya karena Ayara belum menjawab pertanyaan nya.
"Be-benar, aku dari kota A,"
"Wah, jauh sekali! Lalu kau mau pergi kemana?" tanya Bibi Atika datang membawa teh untuk Aya. "Ini minumlah! Agar perutmu tidak dingin," menaruh Teh dihadapan Aya.
"Te--terima kasih, Bibi. Maaf Saya jadi merepotkan Anda," ucap Ayara sungkan dan tidak menjawab dia akan pergi kemana. Sebab dia belum tahu arah dan tujuan.
"Sudah tidak apa-apa, jangan sungkan. Tapi kau belum menjawab akan pergi kemana? Apakah kau punya saudara di kota ini?" Bibi Atika kembali mengulangi pertanyaannya yang sama.
"Sa--saya, Saya belum tahu akan kemana Bibi," lirih Ayara menunduk sedih. Dia masih belum membuka maskernya karena takut Bibi Atika dan Lula kaget melihat wajahnya.
"Apa kau kabur dari rumah?" tebak si Bibi yang lebih berpengalaman pada pahitnya kehidupan. Lalu sebelum Ayara menjawab, dia pun berkata. "Eh, siapa namamu tadi, eum... Ayara, kau buka maskernya dan minum Teh ini selagi hangat,"
"Tapi... Saya," tidak melanjutkan lagi Ayara pun melepaskan maskernya. Sebab dia memang sangat dingin dan membutuhkan Teh hangat. Namun, alangkah terkejutnya Bibi Atika dan Lula. Seperti dugaan Ayara, sebab dia saja masih merasakan sakit pada wajahnya. Jadi sudah pasti mukanya memar.
"Astaga! Siapa yang tega melakukan ini padamu, Nak? Ayo cepat minum Teh nya, biar Bibi obati," seru wanita paruh baya itu langsung berpindah tempat duduk disamping Ayara. "Lula, cepat ambilkan kota obat dan rebus air hangat, biar Bibi mengobati muka Ayara," titahnya benar-benar merasa khawatir.
"Tidak banyak bertanya, Lalu pergi ke dapur kecil yang sering mereka gunakan untuk membuat Teh dan kopi. Namun jika untuk masak makanan lain tidak bisa, tempatnya sangatlah kecil.
...BERSAMBUNG......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Yora Fitriani86
murah rejeki Paman/Drool/
2023-11-10
0
Sifa Dini Eka Rizkiana
alhamdulillah... masih ada org baik yg menolong ayara... semoga bibi atikah dan lula baiknya tulus sama ayara ... lanjut thor 👍👍
2023-03-16
1