🌹🌹🌹🌹🌹🌹
.
.
Dua Minggu kemudian.
Hari ini adalah hari kelulusan Ayara maupun Alvian. Namun, pada tempat yang berbeda. Rencananya setelah acara tersebut Aya akan pergi jalan-jalan bersama kekasihnya. Alvian sendiri yang ingin membawa dia pergi untuk menghibur dirinya. Sebab dihari kelulusannya Ayara hanya datang seorang diri tidak ditemani oleh siapa-siapa.
Tuan Edward papanya sedang berada diluar negeri. Sedangkan Rose sang ibu tiri tentu mencari seribu cara dan alasan karena tidak mau datang. Semua itu karena Rose ingin membuat malu Ayara yang tidak didampingi oleh orang tuanya.
Namun, sayang hal tersebut tidak membuat seorang Ayara berkecil hati. Sebab sudah sejak dulu dia selalu sendirian tanpa didampingi oleh sang ayah yang lebih mementingkan pekerjaan daripada pada putrinya dengan wanita yang ia pilih untuk dijadikan pendamping hidupnya puluhan tahun lalu.
"Aya, selamat ya, aku salut padamu," ucap salah satu teman sekolah Ayara memberikan selamat karena gadis tersebut kembali menjadi juara umum di sekolahnya.
"Terima kasih, kau juga hebat masih menjadi juara dari dua tahun terakhir," balas Aya tidak pernah sombong dengan kepintaran yang ia miliki.
"Iya, kalau begitu sama-sama selamat. Oya, kau lagi menunggu kekasihmu ya?" tanya gadis tersebut melihat di sekeliling Ayara tidak ada siapa-siapa.
"Huem, iya benar sekali," jawab Aya tersenyum bahagia. Meskipun keluarganya tidak perduli pada dirinya. Akan tetapi Ayara masih memiliki kekasih yang sangat baik dan menjadi dia ratu.
"Kalau begitu selamat bersenang-senang. Oya kau akan melanjutkan kuliahnya di Universitas mana?" karena sedang menunggu jemputan. Teman sekelas Ayara pun kembali bertanya.
"Soal itu aku juga belum tahu. Nanti jika aku melanjutkan kuliah, maka aku akan menghubungimu," saat menjawab terdengar suara Ayara begitu berat. Sebab ia pernah mendengar pembicaraan papa dan juga neneknya yang melarang Ayara untuk kuliah. Makanya gadis itu belum bisa memberikan jawaban, bahwa dia akan melanjutkan cita-citanya atau hanya sebatas sekolah menengah atas saja.
"Oke, jangan lupa hubungi aku, ya. Kalau begitu sampai berjumpa lagi. Aku duluan karena kedua orang tuaku sudah datang," pamit gadis tersebut pada Ayara yang masih duduk menunggu kedatangan kekasihnya.
"Mama... andai saja mama masih ada, pasti sekarang Aya tidak sendirian. Tapi sayangnya Tuhan lebih menyayangi mama," lirih Ayara menggigit bibirnya sendiri agar jangan menangis di tempat umum.
Hari ini semua murid yang lulus maupun tidak lulus. Mereka ditemani oleh orang tuanya. Sedangkan Ayara hanya seorang diri. Tidak ada pidato yang ia persembahkan karena papanya tidak ada. Setiap kali menerima penghargaan sebagai juara umum. Aya hanya mengucapkan mohon doa buat ibunya yang sudah meninggal dunia. Agar di tempatkan di tempat yang paling baik. Sehingga para orang tua yang mendengarnya selalu meneteskan air mata.
Sejauh ini, selain kepala sekolah dan guru. Orang-orang memang tidak ada yang mengetahui bahwa Ayara putri dari pengusaha terkenal di kota tersebut. Sebab gadis itu memakai nama belakang ibunya. Bukan keluarga besar sang ayah yang bisa membuat masyarakat langsung mengenal dirinya.
Tiiin!
Tiiin!
"Alvin, aku kira kau tidak datang,"
Gumam Ayara langsung berdiri dari kursi taman dan berjalan mendekati mobil Alvian dengan tersenyum bahagia. Dia memang lebih sering memanggil Alvin daripada Alvian. Apabila pemuda itu protes karena Aya menyebutkan sebagian namanya saja. Ayara akan menjawab. Aku tidak ingin memangil dirimu seperti orang lain, karena aku hanya ingin menjadi satu-satunya bagi dirimu.
Itulah kata-kata yang sering diucapkan oleh Ayara. Sehingga membuat Alvian membiarkan saja namanya dipanggil singkat.
"Silahkan masuk Ayara ku," ucap pemuda itu membuka pintu mobil dari dalam, karena jika harus turun akan memperlambat waktu kebersamaan mereka.
"Thanks, aku kira kau tidak datang karena akan berkumpul bersama teman-teman mu," ucap Ayara tersenyum dan memasang salt belt pada tubuhnya.
"Tentu saja aku akan datang, karena jika bersama mereka masih ada dilain waktu," jawab Alvian karena ada hal penting juga yang akan dia sampaikan pada kekasihnya.
Cup!
"Selamat ya, aku benar-benar bangga padamu," satu kecupan langsung diberikan pemuda itu pada pipi Ayara. Hari ini gadis tersebut memang memoles sedikit riasan pada wajahnya. Sebab ini adalah hari dimana mereka mengenakan pakaian bebas.
"Alvin... aku---"
"Aku lebih mencintaimu," sela Alvian tahu apa yang akan diucapkan oleh Ayara. Lalu sebelum menjalankan kendaraannya. Alvian menarik tubuh Ayara untuk dia peluk.
"Jangan menangis, ada aku yang akan bersama mu," ucapnya menenangkan sang kekasih.
"Tidak, aku tidak akan mengisi hal yang sama. Kehadiran mu sudah lebih dari cukup," jawab Ayara ikut memeluk tubuh atletis Alvian. Dia memang sudah berjanji pada makam ibunya, tidak akan menagis lagi karena hal serupa.
"Baguslah! Kau memang tidak boleh menagis lagi. Jika kau berharga bagi mereka, maka keluarga mu tidak akan pernah menyakitimu," ucap Alvian merenggangkan pelukannya.
"Kau harus menjadi gadis yang kuat. Agar bisa melindungi dirimu sendiri," nasehat Alvian dan setelah itu dia mulai menjalankan kendaraan mewahnya membelah jalanan ibukota. Pemuda itu akan membawa Ayara ke Villa milik keluarganya.
Sebelum mama dan papanya pulang tadi. Alvian sudah meminta izin akan datang ke sana bersama temannya. Dia sengaja berbohong karena tidak mungkin berkata jujur akan membawa Ayara.
"Alvin, kita mau kemana?"
"Nanti kau juga akan tahu, jadi tidur saja karena kita akan menempuh perjalanan cukup jauh dari pusat ibukota," jawab pemuda itu tersenyum. Dia ingin sebelum mulai mengadakan konser pertamanya bisa menghabiskan waktu berdua saja bersama Aya. Sebab jika di Apartemen, terkadang keempat sahabatnya akan datang secara tiba-tiba.
"Baiklah, aku sangat mengantuk, karena semalaman tidak bisa tidur gara-gara memikirkan papa yang tidak bisa datang. Padahal hari ini adalah hari terakhirku sekolah,"
"Mungkin dia memang benar-benar sibuk, jangan berburuk sangka pada ayahmu sendiri," walaupun Alvian belum pernah bertemu keluarga Ayara secara langsung. Akan tetapi dia tidak pernah mengajarkan Aya untuk membenci ataupun marah pada orang tuanya.
"Huem, mungkin iya dia sangat sibuk," Aya hanya mengiyakan saja, karena malas untuk mengigat ayahnya. "Oya, apakah ada berita baru dari Agensi kemarin?" tanya Aya merubah topik pembicaraan.
"Ada, nanti aku akan menceritakan semuanya. Boyband kami sudah resmi di pakai oleh Agensi yang kita datangi. Namun, belum membentuk kontrak, karena kami harus mencoba konser di ruang terbuka untuk melihat layak atau tidak sebelum melakukan penandatanganan," papar Alvian akhirnya bercerita sedikit agar sang kekasih tidak penasaran.
"Wah, bagus sekali. Selamat berjuang kekasih hatiku," ucap Ayara memberikan dukungan pada karier yang dipilih oleh Alvian.
BERSAMBUNG..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments