🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Wah tempatnya indah sekali, Vin, aku benar-benar betah bila tinggal di sini?" seru Aya berjalan ke pinggir balkon Villa tersebut. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Setelah melakukan ciuman panas tadi siang. Alvian mengajak Ayara untuk tidur hingga sampai jam lima sore. Sebab pemuda tampan yang saat ini sudah menjadi artis itu, kelelahan karena membawa mobilnya seorang diri. Tanpa ada sopir seperti biasanya.
Setelah itu mereka pergi jalan-jalan di daerah sekitar Villa dengan berjalan kaki. Mereka berdua sangat menikmati kebersamaan bersama kekasih yang dicintai. Ternyata Alvin sangat pandai untuk menghibur kekasihnya yang lagi bersedih, karena Tuan Edward tidak pernah mau perduli pada Ayara. Anak pertama bersama istri pertamanya.
"Tapi menurutku, kau jauh lebih indah dari apapun itu," ucap Alvian memeluk tubuh Aya dari belakang. Sedangkan tangannya ia lingkarkan pada pinggang ramping sang kekasih.
"Kau mulai lagi, jangan selalu memuji ku, aku takut nanti---"
"Jangan berkata takut, karena aku akan ada bersamamu, kapanpun itu," sela Alvian membalikkan badan Ayara agar menghadap kearah dirinya.
"Aya ku... apa kau tidak percaya pada diriku?" tanya Alvian menatap minta jawaban pada saat itu juga.
"Tidak, aku percaya padamu, Vin. Kau tahu sendiri saking aku percayanya padamu, aku sudah memberikan harta apa yang aku punya. Aku sangat mencintaimu, hanya saja... aku tidak bisa menghilangkan rasa takutku," jujur Aya apa adanya.
Dia memang tidak tahu kenapa bisa memiliki perasaan seperti itu. Padahal mereka sudah berpacaran selama kurang lebih dua tahun. Aya sangat tahu jika Alvian adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan jujur disetiap perkataannya. Brengseknya pemuda itu hanya telah merenggut kesucian Ayara saja. Padahal mereka berdua masih duduk di bangku SMA.
Namun, Alvian berjanji akan menikahi Ayara apabila sudah tiba waktunya. Bukan hanya itu saja, Alvian juga berjanji, bila dia sudah berhasil dan mempunyai uang dari jerih payahnya sendiri. Pemuda tersebut akan membiayai untuk kuliah kekasihnya. Sebab Alvian tahu jika keluarga besar Ayara tidak boleh gadis itu kuliah. Hal itu pula lah yang membuat Alvian semangat untuk meraih cita-citanya. Agar bisa menikahi Ayara dan membahagiakan sang kekasih.
"Aku mengerti, kau takut karena melihat cinta paman pada ibumu, kan? Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan seperti itu. Sebab kau bagaikan lentera bagi kehidupan ku. Aku bisa sampai berhasil di titik ini karena support darimu, Aya. Jadi berhentilah untuk berpikiran buruk. Tidak semua laki-laki itu sama seperti ayahmu," jelas Alvian yang mengerti ketakutan yang dirasakan Ayara.
"Vin, terima kasih!" seru gadis itu langsung memeluk Alvian. Sebab bagi Ayara kekasihnya itu bagaikan malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menolongnya.
"Tidak perlu berterima kasih, karena kita adalah pasangan kekasih," jawab Alvian tersenyum yang terlihat begitu tampan meskipun penerangan tidak seberapa.
Lalu pemuda itu menarik pinggang kekasihnya sehingga tubuh mereka saling menempel. Dikarenakan refleksi Aya pun meletakan kedua tangannya pada dada Alvian dan berakhir memeluk pinggang. Meskipun umur pacarnya baru mau sembilan belas tahun, tapi memiliki tubuh kekar dan berotot seperti pria dewasa pada umumnya.
"Alvin," ucap Aya merasa gugup dalam seketika, karena Alvian menatap wajahnya dengan jarak hanya beberapa senti saja.
"Huem, kenapa? Apa kau gugup?" melihat Ayara menundukkan kepalanya membuat pemuda itu gemas.
"A--aku, aku---"
Cup!
Satu kecupan pada bibir ranum Aya sudah mendarat. Alvian benar-benar sangat pintar mengambil kesempatan dalam kegelapan. Lalu tangan pemuda itu terangkat keatas dan menahan tengkuk Ayara. Guna memperdalam ciuman atau silaturahmi bibir mereka.
Ayara yang sudah mahir karena mereka selalu melakukannya bila lagi berdua. Mulai membalas ciuman dari laki-laki yang ia cintai. Malaikat yang selalu ada untuk dirinya.
Bagaimana Ayara tidak bergantung pada Alvian. Hanya kekasihnya itulah satu-satunya orang yang perduli pada Ayara. Menanyakan keadaan. Sudah makan atau belum? Lagi berada di mana? Apakah kau baik-baik saja? Seperti itulah perhatian Alvian pada kekasihnya yang sering ia sebut Ayara ku. Ya, itulah nama kesayangan Alvian pada sang kekasih.
Augh!
Satu ******* sudah keluar dari mulut Ayara, karena salah satu tangan Alvian sudah merayap masuk kedalam bajunya.
Cup!
"Aya... aku ingin, bisakah kita melakukannya lagi? Anggap saja sebagai bekal untuk ku sebelum kita berpisah," tanya Alvian mengecup bibir Aya setelah melepaskan pangutan mereka.
"Tapi jika kau mau, bila tidak jug---"
Cup!
"Aku mau," sela Ayar balas mengecup bibir Alvian lebih dulu dan melingkarkan tangannya pada leher sang kekasih.
"Thanks you my dear. I love you so much forever," ungkap pemuda tersebut sebelum kembali memberikan serangan bibir seperti tadi. Namun, kali ini lebih panas dari sebelumnya.
"Augh! Vin, jangan di sini," ucap Ayara menahan tangan Alvian yang menjelajahi salah satu gunung kembarnya.
"Baiklah!" jawab pemuda itu langsung menggendong Ayara ala bridal style, masuk kedalam kamar mereka. Lalu setibanya di dalam, Alvian membaringkan tubuh Aya pada ranjang yang mereka gunakan untuk istirahat tadi siang.
"Aya, aku mencintaimu," Alvian kembali mengungkapkan perasaannya. Setelah itu dia mulai meneruskan apa yang tadi sempat tertunda. Sambil kembali berciuman dengan durasi cukup lama, tangan pemuda itu membuka pakaian mereka. Sampai tidak tersisa sehelai benangpun. Ini bukanlah untuk pertama bagi keduanya, jadi Ayara sudah biasa saja.
"Aah! Vin..." seru Ayara disaat satu tangan Alvian mulai bermain-main di area terlarang bagi anak kecil. Sebab ada lembah mematikan yang tersimpan dibalik semak-semak belukar, rumput yang baru tumbuh.
Cup, cup, Muaach!
"Mau sekarang saja?" tanya Alvian sebelum memulai berpetualang naik-naik ke puncak gunung kembar dan bermain di sawah yang nanti pastinya akan kebanjiran.
Ayara yang sama sudah berkabut gairah tidak menjawab. Namun, dia hanya mengangguk mengiyakan. Alvian yang sama tidak tahan karena selama satu Minggu ini mereka tidak pernah lagi melakukannya. Alasannya tentu saja karena kesibukan Alvian yang mulai latihan bersama grup boyband nya.
Aaaakkh!
Ayara dan Alvian sama-sama mendesah nikmat, ketika senjata Alvian menembus terowongan yang sudah sering dilaluinya.
"Ayara, I love you," ucap Alvian sebelum mulai berpacu dari durasi sedang. Sampai dengan kecepatan seratus kilometer perjam. Sehingga suasana kamar yang tadinya sunyi menjadi terdengar ******* dari keduanya. Mereka terus saling memuaskan satu sama lain.
Dua anak manusia yang hanya memikirkan kenikmatan sesaat. Tanpa memikirkan masa depan mereka untuk selanjutnya. Sebab mati, hidup, jodoh dan maut tidak ada yang tahu.
"Aku juga mencintaimu," jawab Aya di sela desahannya. Hampir dua jam kemudian, Aya yang sudah mendapatkan pelepasan kembali lagi mengerang panjang. Lalu di susul oleh Alvian.
Aaaaghkk!
"Aah! Aah! Ayara, ini nikmat sekali," Alvian tumbang di atas tubuh kekasihnya. Badan Ayara masih bergetar menahan sensasi yang mereka rasakan.
"Vin, aku mengantuk, mau tidur," ucap Ayara langsung memejamkan matanya dan tidur dengan lelap. Padahal Alvian belum menarik senjatanya keluar, karena dia membuang bibit kecebong nya pada tempat yang tepat.
Takut membuat Ayara kesakitan. Alvian pun menarik si adik kecil yang sudah basah oleh lahar mereka yang telah menjadi satu.
Aaagh!
Pada saat sudah selesai saja Alvian masih mengerang nikmat. Lalu bagaimana mungkin dia tidak akan ketagihan pada tubuh kekasihnya.
Setelah itu, Alvian memakai piyama tidurnya, karena cuaca di Villa sangatlah dingin. Meskipun AC tidak dinyalakan.
Cup!
"Kamu kenapa cantik sekali, Aya. Aku semakin mencintaimu," gumam Alvian memberikan kecupan pada kening sang kekasih. Sambil ia pandangi wajah damai Ayara. Tidak lupa dia juga menutupi tubuh polos pacarnya mengunakan selimut.
...BERSAMBUNG......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Yanty thabitha
mataku ternodai baca ini🤭🤭🤣🤣🤣
2023-03-08
1