🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Auh... kepalaku kenapa pusing sekali?" lirih Ayara membuka matanya pelan. Setelah tidak sadarkan diri kurang lebih satu jam. Akhirnya gadis itu sudah siuman. Namun, sayangnya dia berada dalam masalah besar. Tuan Edward yang sejak tadi menunggu di sana langsung berdiri dari sofa dan bejalan mendekati ranjang putrinya.
"Papa," seru Aya menatap mata ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Berharap bisa berbagi kesedihan yang ia rasakan dengan sang ayah. Akan tetapi malah sebaliknya, Tuan Edward ada di sana bukan untuk merangkul sang putri.
"Ayara cepat duduk!" suara bariton Tuan Edward membuat Ayara langsung berusaha untuk duduk. Sebab dia tahu bahwa papanya lagi marah.
"Ne--nek, Mama!" ucap gadis itu melihat bukan hanya ada ayahnya saja di sana. Seumur-umur sepertinya baru kali ini Marlin sang nenek masuk kedalam kamarnya.
"Akhirnya kau siuman juga," seru Marlin menatap Ayara penuh kebencian. Rasa tidak suka itu memang sudah ada sejak Ayara belum dilahirkan. Jadi kejadian ini hanya sebagai perantara untuk meluapkan rasa bencinya saja.
"A--ada apa? Aya---"
"Katakan siapa ayah bayi itu Ayara," bentak Tuan Edward tidak bisa lagi menahan emosinya.
"A--anak siapa, Pa? Aya tidak tahu apa yang Pap---"
Plaaak!
Plaaak!
Sebelum Ayara menyelesaikan ucapannya. Dua buah tamparan dari Tuan Edward sudah membekas pada kedua pipinya. Wajah pucat Aya langsung berubah memar di bagian kiri dan kanannya. Sehingga Aya kesulitan bernafas merasakan sakitnya bekas telapak tangan papanya.
"Aakkkk! Sakit, Pa." teriak Ayara karena belum hilang rasa sakit pada ke-dua pipinya. Namun, Tuan Edward menjambak rambut panjang Ayara tanpa rasa belas kasih pada darah daging nya sendiri.
"Sakit? Sakit katamu? Jadi selama ini kau menjadi wanita murahan sehingga hamil diluar nikah seperti ini," seru pria paruh baya itu ingin mencekik leher Ayara. Akan tetapi Marlin dan Rose istrinya memegangi tangannya agar berhenti menyiksa Ayara. Meskipun mereka berdua begitu menikmati hal tersebut. Mereka mencegah bukan karena kasihan, tapi karena takut Tuan Edward membunuh Ayara dan masuk penjara.
"Papa, hentikan!" ucap Rose menjelma seperti bidadari dari neraka. Seakan dia perduli pada Ayara.
"Edward, hentikan, Nak. Kau tidak perlu mengotori tanganmu karena anak tidak berguna ini," ucap Marlin memeluk lengan putra sulungnya.
"Mami, Ayara sudah membuat malu keluarga kita," jawab Tuan Edward melepaskan juga cengkraman tangannya pada leher Ayara.
Untuk saat ini Ayara tidak bisa berpikir dengan benar. Sebab tamparan dari ayahnya benar-benar sangat sakit. Namun, dibalik itu semua Ayara juga masih terpaku mendengar papanya berkata kalau dia sedang hamil.
"Iya, Mami tahu kamu malu. Kita semua sudah dibuat malu olehnya. Tapi dengan kau membunuhnya, masalah ini tidak akan selesai," Marlin menarik Tuan Edward agak menjauh dari Ayara yang hanya bisa menagis tersedu-sedu. Merasakan sakit karena di tampar dan sakit karena hamil anak laki-laki yang kemarin siang juga sudah membuang dirinya.
"Lalu sekarang kita harus bagaimana, Mam?" tanya Rose pada ibu mertuanya. Wanita itu sudah tidak sabar melihat penderitaan Ayara yang selanjutnya. Bila Ayara sudah tidak ada, maka sudah pasti kekayaan Tuan Edward akan menjadi milik ke-dua anaknya.
"Ayara, ayo cepat katakan siapa laki-laki yang sudah menghamili mu? Dia harus bertanggung jawab. Jika dia berani menolak, maka aku bersumpah akan menghancurkan keluarganya sampai tidak tersisa.
Deg!
"A--apa yang harus aku lakukan? Mana mungkin Alvian akan bertanggung jawab. Jangankan untuk menikahi ku, berpacaran saja dia sudah tidak mau,"
Gumam Ayara menelan Saliva nya sendiri. Ayara sedang berpikir keras, apa yang harus dia lakukan agar ayahnya tidak memaksa untuk berkata jujur.
"Ayara!" Tuan Edward kembali mendekati Ayara dan mencengkeram lagi kerah switer yang anaknya pakai. "Ayo cepat katakan! Kita berangkat ke rumahnya sekarang juga," bentak lelaki itu yang tidak bisa disapih oleh siapapun.
"Pa--papa, tolong maafkan Aya, Pa." jawab Ayara semakin menagis. Dia menyesal telah mengecewakan sang ayah. Meskipun raut muka Tuan Edward memerah karena besarnya amarah yang dia tahan. Namun, Ayara tahu bahwa dibalik itu semua papanya sangat kecewa.
"Aku tidak membutuhkan maaf darimu. Sekarang capat katakan siapa ayah bayi ini, biar Sekertaris Ricardo mencari dan menyeretnya datang kemari," tidak ada kata embel-embel papa lagi yang beliau ucapkan, karena besarnya rasa kecewa pada sang putri.
"Ayara, ayo cepat katakan! Kenapa kau hanya diam saja," bentak Marlin geram pada cucunya yang hanya menangis.
"Nenek, tolong maafkan Ayara, Nek," lirih gadis itu terus meminta maaf. Dia tahu betapa keluarga mereka menjaga kehormatan. Namun, Aya malah hamil diluar nikah. Sudah pasti dia seakan mengali kuburannya sendiri.
"Aya, cepat katakan siapa laki-laki yang sudah melakukannya. Jagan menguji kesabaran ku. Atau kau---"
"Pa, sudahlah! Kalian tidak perlu memaksanya. Ayara pasti bingung lelaki mana yang sudah menghamilinya." sela Rose sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kalau dia tidak mau mengakui siapa ayah bayi itu. Maka bawa dia ke dokter aborsi. Anak itu tidak boleh lahir di keluarga kita," ucap Marlin seperti dia bukanlah seorang ibu.
"Ti--tidak, Aya tidak mau mengugurkan anak ini," jawab Ayara sambil menyeka air matanya.
"Jika kau juga tidak mau, maka tinggalkan rumah ini. Mulai sekarang kau bukan lagi anakku," kata Tuan Edward yang membuat Marlin dan Rose tersenyum kecil.
"Tapi Aya mau tinggal dimana, Pa. Papa kan tahu Ayara tidak memiliki siapapun selain Papa," jawab Ayara berharap sang ayah tidak mengusirnya. Namun, dia kembali salah, nyatanya Tuan Edward menarik kasar tangannya untuk turun dari atas ranjang tempat tidur.
"Papa, sakit," rintih Aya karena tangannya ditarik paksa.
"Cepat, kau ambil semua barang-barang mu dan tinggalkan rumah ku sekarang juga," titah beliau tidak ada rasa iba sedikitpun. "Cepat! Ayara. Jika kau masih berada di sini juga. Maka aku tidak hanya membunuh bayi itu, tapi juga menghabisi nyawa mu," ancamannya lagi. Sehingga membuat Ayara langsung memutuskan untuk pergi.
"Ba--baiklah! A--aku akan pe--pergi," jawab Aya terbata-bata. Dia berjalan kearah lemari dan mengambil tas ransel yang sering dia bawa pergi sekolah. Aya mengeluarkan buku-bukunya yang masih tersimpan di dalamnya. Lalu Aya mengambil dua lembar baju beserta ijazahnya.
"Kenapa kau hanya membawa tas kecil? Bukannya itu ada koper, kau bawa semua barang-barang mu pergi dari sini," ujar Marlin melihat cucunya hanya mengambil dua lembar pakaian.
"Tidak, Nek. Cukup ini saja. Itu semua papa yang membelinya," jawab Ayara memaksakan senyum. Satu hal yang ia sadari hari ini. Bahwa tidak ada yang tulus menyayanginya.
"Aya, mulai hari ini kau jangan pernah mengaku sabagai keturunan Willson. Pantas saja Jasmeen memberi nama belakang mu mengunakan namanya sendiri. Mungkin dia sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi," pesan Tuan Edward karena takut Ayara akan membuat malu keluarga mereka.
"Papa tenang saja, mati sekalipun Aya tidak akan mengunakan nama keluarga Wilson. Tapi apakah boleh sebelum pergi aku memeluk Papa untuk terakhir kalinya?" tanya gadis itu memaksa dirinya untuk tersenyum.
"Pergilah sekarang! Selagi masih pagi dan jangan pernah kembali lagi," dari jawaban Tuan Edward. Gadis itu sudah tahu jawabannya.
"Baiklah! Saya pergi. Terima kasih karena Anda sudah membesarkan Saya selama ini. Maaf sudah mengecewakan kalian," jawab Ayara melangkah pergi meninggalkan kamarnya. Dia tidak lagi menyebutkan kata papa karena orang tuanya sendiri sudah tidak mengakui dia sebagai anaknya.
...BERSAMBUNG......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
ayu_indrian
aduhh ikut nangis Thor bacanya 😭😭
2023-12-09
0
Anne Siregar
tidak bisa berkata apa apa 😭😭😭😭😭
2023-10-06
1
Hana Fitria
ya Allah Aya mau peluk untuk terakhir kali sja di tolak semoga kamu bahagia setelah ini 😭😭😭
2023-06-26
0