🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Aya, apakah kau mau tinggal di rumahku untuk sementara waktu?" tanya Lula karena dia juga membutuhkan seorang teman.
"Tentu, tentu aku sangat mau! Tapi... aku jadi merepotkan mu," jawab Ayara sendu.
"Hei... jangan berpikir seperti itu. Aku senang jika kau mau. Tapi tempat tinggalku sangat kecil, lebih kecil dari toko bunga ini," jelas Lula tersenyum bahagia.
"Baiklah! Aku mau. Setidaknya menjelang aku memiliki tempat baru," Ayara pun akhirnya setuju karena dia juga tidak kenal daerah tersebut.
"Nah kalau begitu untuk sementara kau tinggal bersama Lula dan bekerjalah di sini jika kau mau. Namun, Bibi hanya bisa memberi upah sebanyak dua belas Dolar dalam satu Minggu," imbuh Bibi Atika. Sebab untuk tempat tinggal Aya akan numpang dirumah Lula anak buahnya yang sudah bekerja disana kurang lebih dua tahun.
Bibi Atika hanya memiliki satu orang anak buah, yaitu Lula. Selebihnya pekerjaan di sana dikerjakan oleh dia dan suaminya yang sudah sakit-sakitan.
"Benarkah? Tapi... Saya akan bekerja apa, Bi? Saya tidak bisa bekerja,"
"Untuk sementara kamu bisa belajar dari Lula. Pekerjaan kalian hanya merangkai bunga yang baru datang atau pesanan para pembeli. Hanya itu saja, jadi Bibi pikir cocok untuk dirimu yang tidak bisa juga bekerja berat," jawab wanita paruh baya itu tidak tega membiarkan Aya pergi tanpa arah dan tujuan. Apalagi beliau memiliki anak dan juga cucu.
"Bibi, Lula terima kasih! Kalian sangat baik padaku. Semoga Tuhan akan membalas kebaikan kalian berdua," Ayara kembali memeluk Bibi Atika dan juga Lula secara bergantian.
Gadis itu begitu bahagia karena masih ada yang peduli padanya. Meskipun di kota kelahirannya dia di benci dan sudah dibuang bagaikan sampah. Nyatanya di kota B Aya masih dipertemukan dengan orang-orang baik.
"Sama-sama Ayara! Semoga kebaikan akan menyertai kau dan calon baby mu," ucap Lula tersenyum. Setelah melepas pelukan mereka, tanpa diberi perintah oleh Bibi Atika. Lula mulai membereskan tokoh karena hari sudah sore sudah waktunya mereka pulang ke rumah masing-masing.
Ya, Bibi Atika memiliki tempat tinggal terpisah dengan warungnya. Tempat tersebut hanya untuk dia mengais rezeki saja. Sebab beliau bukanlah orang berada. Hanya saja cukup untuk biaya kebutuhan sehari-hari.
"Aku bantu ya, biar aku bisa sambil belajar," Ayara yang sadar siapa dia saat ini ikut membereskan toko bunga tersebut. Meskipun pelan-pelan dan sesekali dia diam sambil melihat apa yang dilakukan oleh Lula.
"Ayara, kau pasti lelah. Duduklah bersama Bibi Atika. Aku sudah biasa membereskan pekerjaan seperti ini," cegah Lula karena dia karena tahu jika Aya sedang mengandung dan tidak mau membuatnya kelelahan.
"Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya," jawab Ayara tetap bekerja. Sudah di berikan tempat tinggal walaupun hanya sementara dan diberikan pekerjaan, meskipun gajinya hanya dua belas Dolar. Itu sudah lebih dari cukup karena Aya tidak bisa bekerja.
Makanya meskipun sudah dilarang dia tetap membantu Lula menyusun bunga-bunga yang terpajang. Setelah beres semuanya barulah dia berdiri sambil melihat temannya menutup pintu kaca yang lumayan besar.
"Aya, kau pulang bersama Lula, ya. Besok pagi jam tujuh sudah harus sampai disini, karena jika pagi warung sangat ramai," pesan Bibi Atika juga sudah mau pulang.
Sudah empat hari ini suami Bibi Atika tidak datang, karena kesehatannya lagi menurun. Makanya juga dia mau memperkerjakan Aya yang memang sangat membutuhkan pekerjaan tersebut.
"Iya, Bibi tidak perlu khawatir. Besok pagi-pagi Saya akan datang kemari," jawab Ayara begitu bersemangat. Meskipun wajahnya sudah dia tutup lagi dengan masker seperti tadi. Namun, Bibi Atika tahu bahwa gadis itu sangat terlihat ingin bekerja.
"Huem, baiklah! Bibi pulang duluan. Kalian berdua hati-hati," kata wanita itu pulang mengunakan ojek motor. Sedangkan Aya mengikuti Lula berjalan kaki karena tempat tinggal gadis itu tidak terlalu jauh dari toko.
"Aya, apakah kau mau membeli sesuatu? Jika iya kita beli dulu sebelum pulang ke rumah,"
"Eum.. tidak Lula, kita langsung pulang saja," jawab Ayara tidak mau boros karena dia hanya memiliki sedikit uang.
"Hei, jika kau mau sesuatu aku ada sedikit uang sisa belanja buat makan selama satu Minggu. Jadi katakan saja, dan jangan khawatir aku tidak akan menjadikan hutang yang berbunga," Lula menyenggol lengan Aya karena dia tahu apa yang sedang temannya pikirkan.
"Tidak, tidak! Aku benar-benar tidak ingin membeli apapun," Ayara mengelengkan kepalanya cepat. Lula yang melihatnya hanya tersenyum dan kembali lagi berjalan menuju rumahnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya sepuluh menit berjalan kaki. Mereka sudah tiba di depan rumah kecil, sangat kecil. Dinding rumah tersebut juga berasal dari kayu.
"Nah inilah tempat tinggalku. Sangat sederhana dan kecil. Tapi aku hanya mampu menyewa yang ini," ucap Lula sebelum membuka kunci rumahnya.
"Tidak apa-apa, yang penting masih bisa berteduh. Daripada aku tidak punya sama sekali,"
"Jangan bersedih, sekarang tempat ini juga menjadi rumah mu. Ayo kita masuk dan kau bisa mandi. Aku memiliki banyak pakaian meskipun baju kaos biasa," ajak Lula menarik lembut tangan Ayara.
"Tapi Lula, apakah ayah dan ibumu tidak marah aku tinggal disini?"
"Kau tidak perlu khawatir, orang tuanku berada di pinggir kota ini. Di sini aku hanya menyewa dan tingal sendirian. Makanya aku mengajakmu tinggal bersamaku," jelas gadis itu yang lupa memberi tahu Aya bahwa dia tinggal terpisah dari orang tuanya.
"Lagian, meskipun ibuku tahu. Pasti dia akan senang karena aku tidak sendirian lagi. Soalnya setiap aku mau tidur, ibuku selalu menelepon karena takut aku lupa mengunci pintunya," sambil berjalan masuk Lula memuji sang ibu.
Beruntung sekali mereka yang masih memiliki ibu. Andai saja mama masih ada, pasti nasibku tidak akan seperti ini. Mama pasti akan sama seperti ibunya Lula,"
Gumam Ayara kembali merasakan sesak di dalam hatinya.
...BERSAMBUNG......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Indahnq Mci
Lanjut Thooooorrrr 😍😍
2023-03-17
1