🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
Degan langkah berat Ayara mulai melangkahkan kakinya keluar dari rumah yang selama kurang lebih hampir sembilan belas tahun ia tempati. Gadis itu mengenakan masker yang sengaja tadi dia bawa untuk menutupi wajahnya yang memar. Ayara yang lemah tidak menagis meskipun dihatinya ingin menjerit sekuat-kuatnya.
"Nona, Nona Muda akan kemana?" tanya si Pak Satpam yang tahu bahwa nona mudanya sedang sakit. Sebab dia mengetahuinya dari asisten rumah tangga.
"Ayara, mau pergi, Pak," jawab gadis itu tidak mau menatap secara langsung kearah penjaga keamanan rumah ayahnya.
"Nona mau pergi kemana? Bukannya Nona lagi sakit?"
"Eum... entahlah! Iya, Pak boleh Saya minta tolong untuk yang terakhir kalinya?" Ayara berhenti sejenak di depan pagar rumah tersebut. Sebelum dia benar-benar pergi dari sana.
"Tolong apa, Nona? Katakan saja, mungkin Saya bisa membantu," jawab penjaga tersebut.
"Jika ada yang mencari Saya, tolong bapak katakan bahwa Saya kuliah di luar negeri,"
"Memangnya Nona mau kuliah di luar negerinya di mana?"
"Bapak cukup katakan itu saja dan bilang jika ada yang bertanya bahwa bapak tidak tahu luar negerinya dimana," kata Aya masih mengira mungkin Alvian akan datang untuk mencari dirinya. Aya tidak mau Tuan Edward sampai mengetahui hal tersebut dan akan mempersulit mantan kekasihnya. Beban berat itu biarlah ia tangung sendiri dan bawa pergi kemana kakinya akan melangkah.
"Tapi Nona, itu---"
"Tolong lah Pak, Saya mohon!" demi Alvian, gadis itu masih memohon meskipun dia sudah disakiti.
"Huh! Iya, Baiklah!" akhirnya si bapak Satpam mengalah.
"Terima kasih, Pak. Maafkan Saya selama ini selalu menyusahkan bapak. Terima kasih, Saya pergi dulu," sebelum pria itu kembali bertanya Ayara sudah pergi keluar dari pagar yang pintunya sudah dibuka sejak tadi.
"Aku akan pergi kemana?" lirihnya sambil melihat isi dompet yang ada uang seratus lima Dolar. Uang tersebut adalah tabungan yang dia punya dari hasil menyisihkan uang jajan disetiap.
Aya dan Arianti adiknya selalu diperlakukan berbeda. Jika adiknya diberi kartu kredit tanpa batas. Sedangkan Aya hanya diberikan uang tiga ratus Dolar dalam satu bulannya. Itu berikut dengan ongkos dia naik kendaraan untuk pergi sekolah.
Untung saja Aya tidak pernah shopping dan lebih sering berangkat dan pulang bersama Alvian kekasihnya. Jadi dia masih bisa ngirit dengan uang segitu.
"Mama, iya! Aku harus menemui mama," gumam Aya sambil menyetop mobil bus yang akan mengarah ke pemakaman Almarhumah ibunya.
Begitu naik ke bus dan duduk di dalamnya. Ayara hanya termenung sambil mengelus perutnya sendiri. Sebab dia tidak percaya jika saat ini tengah mengandung anak mantan kekasihnya.
"Alvian," lirihnya terisak kecil, karena takut bila ada yang mendengar dia sedang menangis. "Apa yang harus aku lakukan?" lanjutnya lagi karena Aya sudah terbiasa mengadu dan menjadikan mantan kekasihnya sebagai sandaran dikala sedang susah. Namun, sekarang dia harus memikul beban itu sendirian, tanpa ada tempat untuk mengadu.
Saat dia masih melamun. Si kernet bus pun sudah memangilnya karena sesuai yang Aya katakan. Minta diturunkan di tempat pemakaman umum yang ada di kota tersebut.
"Terima kasih," ucapnya sopan sambil berjalan turun untuk mengunjungi makam mamanya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya berjalan beberapa menit saja dari jalan raya. Gadis itu sudah tiba di depan tumpukan batu, yaitu tempat peristirahatan terakhir wanita yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan.
"Mama... maafkan Ayara, Ma. Sudah membuat mama kecewa," lirihnya bersimpuh di hadapan nisan sang ibu.
"Aya sudah membuat mama kecewa dan juga papa. Sekarang Aya harus kemana, Ma. Aya tidak punya siapa-siapa lagi," tadi mungkin Ayara boleh kuat menahan agar tidak menangis. Akan tetapi tidak untuk saat ini, Aya memeluk batu nisan mamanya. Dia menagis tersedu-sedu dan menceritakan apa yang sudah terjadi. Tidak ada cerita yang dia lewatkan.
"Ma--mama, mungkin Aya akan pergi jauh dari kota ini. Aya tidak mungkin tinggal di sini lagi, karena begitu banyak kenangan yang harus Aya lupakan. Tapi Aya berjanji akan sering-sering mengunjungi makam mama," ucapnya sambil menyeka air matanya sendiri. Melihat matahari semakin terik dan kepalanya terasa pusing. Gadis itupun pergi meninggalkan makam sang ibu. Sebelum benar-benar keluar dari area makam, berulangkali Ayara menoleh kearah belakang. Berharap sosok ibunya akan berdiri untuk memanggil dirinya. Saat ini Ayara butuh pelukan dari sang ibu.
Sebab menurut Aya hanya Almarhum ibunya lah yang menyanyangi nya dengan tulus. Terbukti begitu Aya lahir, Jasmeen sang ibu menyematkan namanya pada putrinya itu.
"Mari kita pergi, Nak. Kota ini begitu kejam untuk kita tinggali,"
Gumam Aya memasang kembali masker penutup wajahnya.
*BERSAMBUNG*...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Antina🥰🥰
bawang merahnya kebanyakan di episode ini thor😭😭😭😭😭
yang kuat syarat💪🥺🥺🥺
2024-02-21
3
Sifa Dini Eka Rizkiana
lanjut kk... sedih banget kk... kamu yg kuat ya ayara 💪💪
2023-03-15
1
fahhilah
Nangis huhuhu
2023-03-15
2