🌹🌹🌹🌹🌹🌹
...HAPPY READING......
.
.
"Aku ingin kita putus sekarang juga," ulang Alvian tidak ingin menoleh kearah Ayara. Dari suara Aya, dia tahu jika gadis itu sedang menangis.
"Alvin, kau lagi bercanda, kan? Ayolah jangan seperti ini. Ini tidak lucu, kau tahu kan bahwa aku sangat mencintaimu," jawab Ayara dengan suara bergetar.
"Aya, aku serius dan tidak lagi bercanda. Aku ingin mengakhiri hubungan kita," pemuda itu kembali mengulangi perkataannya.
"Tapi kenapa? Apa aku sudah melakukan kesalahan? Tolong katakan padaku, agar aku bisa memperbaikinya?" seru Aya berdiri dari tempat duduknya dan menarik lengan Alvian agar menatap padanya. Namun, setelah melihat muka datar sang kekasih, Aya baru sadar jika apa yang dikatakan oleh Alvian adalah benar dan tidak bercanda.
Tadinya gadis tersebut masih berharap bahwa semua itu hanya karena Alvian sedang mengerjainya. Akan tetapi dari wajah serius sang kekasih, Aya langsung melorot dan duduk bersimpuh dibawa kaki pemuda itu. Tatapan matanya seakan kosong tidak ada daya dan upaya.
"Aya, jangan seperti ini, ayo berdiri," kata Alvian membantu Aya berdiri lalu ia bawa duduk dibelakang tempat mereka saat ini. Ayara tidak menolak ketika dipapah oleh kekasihnya.
"Ayara, maafkan aku. Kau tidak ada punya salah apapun. Hanya saja... aku yang tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Tapi percayalah, semua ini aku lakukan karena karier ku, untuk masa depanku, jadi aku harap kau---"
"Jadi aku bukanlah masa depan mu, berarti semua yang kau ucapkan selama ini bohong? Iya, kau membohongi ku? Ayo katakan, katakan padaku," sela Ayara benar-benar kecewa pada ucapan Alvian yang mengatakan bahwa demi karier dan masa depan.
"Aya, aku tidak berbohong, tentu saja kau juga masa depan ku, tapi aku harus mengejar mimpi ku lebih dulu," jawab Alvian tidak terima dikatakan pembohong.
"Lalu kenapa kita harus putus? Aku tidak akan menghalagi kau meraih cita-cita mu. Aku akan menunggu sampai kau berhasil," ucapnya terus menangis tersedu-sedu.
"Aya, masalahnya Agensi ku melarang kami untuk memiliki kekasih, karena takut ada berita miring tentang kami. Ini adalah peraturan bagi semua penyanyi seperti kami," tutur pemuda tersebut agar Aya mengerti.
"Tidak apa-apa, kau cukup berbohong dan katakan pada Agensi mu, bahwa kita sudah putus. Aku berjanji tidak akan menghubungimu. Tapi aku mohon, jangan akhiri hubungan kita," pinta Ayara yang mengira Alvian akan setuju dengan idenya.
"Tidak, kita tetap harus putus. Aku tidak bisa melakukannya. Sebab bila ketahuan teman-temanku juga akan terkena dampaknya. Lagian bukan hanya aku yang mengorbankan hubungan bersamamu. Bara dan Sandy juga sama." tolak Alvian terap pada pendiriannya.
"Kita tidak akan ketahuan bila tidak saling bertemu dan berhubungan melalui ponsel, 'kan? Kenapa kau harus takut? Ini demi hubungan kita, aku mohon jangan lakukan ini," Aya menyentuh tangan Alvian. Namun, langsung dilepaskan oleh pemuda itu dan dia kembali berdiri seperti tadi.
"Maaf, Aya, aku tidak bisa,"
"Alvin, aku mohon jangan lakukan ini. Aku benar-benar mencintaimu. Aku sudah menyerahkan mahkota ku padamu. Apakah itu semua tidak cukup sebagai bukti," ucap Ayara juga ikut berdiri lalu memeluk tubuh Alvian dari belakang. Dia menumpahkan kesedihannya dipunggung laki-laki yang dia cintai.
"Aya, itu bukan bukti. Tapi kita melakukannya karena sama-sama mau dan menikmatinya, kan. Jadi jangan kau bawa-bawa hal itu," mendengar perkataan kekasihnya. Dengan perlahan Aya melepaskan pelukan tangannya dan berkata.
"Jika menurutmu semua itu bukan bukti cintaku padamu dan tidak ada artinya. Maka pergilah, aku kira selama ini kau berbeda dari papa ku. Namun, kalian sama saja," lirihnya melangkah mundur.
"Aya, jangan kau samakan aku dengan papa mu, kami berbeda." Alvian kembali membalikan tubuhnya dan melihat Aya sudah mundur jarak diantara mereka sudah lebih dari satu meter.
"Iya, kau berbeda. papa membuangku karena mamaku sudah meninggal. Sedangkan kau, karena karier dan dunia barumu," jawab Ayara tersenyum getir. Air matanya terus menetes seakan tidak bisa berhenti lagi.
"Raihlah cita-cita mu Al, jika kau ingin mengakhiri semuanya, maka aku bisa apa," ucap gadis itu berhenti sesaat lalu kembali bicara lagi. "Apa kau tahu, aku kira kau adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menggantikan mamaku yang sudah diambilnya, sejak aku masih kecil," karena terlalu sakit hati dan sesak, Ayara berhenti lagi untuk menguatkan dirinya. "Namun, ternyata kita ditakdirkan bertemu dan saling mencintai. Hanya untuk berpisah. Terima kasih, Alvian, terima kasih atas semua perhatian yang kau berikan padaku selama ini. Aku sangat bahagia meskipun akhirnya tersakiti lagi," Ayara menyeka air matanya kasar dan tersenyum yang dia paksakan. Hidupnya harus berlanjut, dia tidak boleh seperti ini. Itulah yang Aya pikirkan untuk menguatkan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.
"Aya," lirih Alvian.
"Aku tidak apa-apa, pergilah! Aku baik-baik saja," ucap Ayara kembali tersenyum. Dia juga tahu walaupun hanya sedikit, pasti Alvian juga merasakan sakit sepertinya. Mereka sudah bersama selama bertahun-tahun, melewati susah dan senang bersama.
"Huem, Ayo aku antar pulang, ini mau hujan. Sekali lagi tolong maafkan aku, aku benar-benar ti---"
"Aku belum mau pulang, sekarang kau pergilah duluan. Aku juga sudah memaafkan mu. Tapi ini, maaf aku tidak bisa menerimanya, karena aku tidak ingin mengigat mu hanya karena hadiah ini," sebelum pemuda itu menjawab, Ayara sudah berjalan maju dan meletakan kotak tersebut pada tangan Alvian.
"Ini, terima kasih," Aya tersenyum dan berjalan mundur lalu pergi dari sana. Meninggalkan Alvian yang hanya bisa mematung melihat Aya pergi dengan hati yang terluka.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 241 Episodes
Comments
Ibu Suminar
tetap kuat Aya, kau pasti bisa. perjalan mu masih panjang. semangat Aya.
2024-07-30
1
Ahsin
ttp kuat ayara... kamu pasti bisa.... laki2 bangke jgn kau tangiskn biarkan dia pergi suatu saat dia pasti menyesal
2024-03-24
1
imas rohah
/Cry//Cry//Cry//Cry/
2023-12-19
1