"Wanita itu sudah pergi?" Tanya Mama Risma kepada Melisa yang terlihat sudah rapi. Dia sudah siap menggoda Wildan.
"Sudah, tadi habis subuh dia sudah pergi," sahut Melisa.
"Berarti, sudah waktunya kamu beraksi," ujar Mama Risma dan Melisa menganggukkan kepalanya.
Obrolan mereka harus terhenti, karena Wildan sudah menuruni tangga. Hendak sarapan dan berangkat bekerja.
"Mengapa Mama sama Melisa justru terlihat akrab, sedangkan sama Jihan dia begitu jahat?" Wildan bertanya-tanya.
"Ayo Ma, kita sarapan!" Ajak Wildan. Wildan hanya mengajak sang Mama, dia tetap saja terlihat cuek dengan Melisa. Bahkan dia merasa risih, saat harus satu meja dengan Melisa.
Wildan menolak, saat Melisa hendak menyiapkan makanan untuknya. Baginya, sungguh tak etis Melisa menyiapkan makanan untuknya. Karena dia bukanlah pasangan suami istri.
"Kamu itu, Melisa niat baik malah di tolak," tegur sang Mama.
"Maaf Ma, Melisa bukan istri aku. Tak pantas dia melakukan hal itu. Lagi pula, aku bisa ambil sendiri kok. Tanpa harus di ambilkan," sahut Wildan tegas.
Suasana terasa hening. Melisa diam tak berkutik. Terlebih Wildan menunjukkan wajah tak bersahabat. Setelah selesai makan, dia langsung pamit berangkat bekerja. Setelah mencium tangan sang Mama, Wildan langsung pergi untuk berangkat bekerja.
"Ibu, lihat sendiri 'kan sikap Mas Wildan kepadaku? Bagaimana aku harus mendekati dia? Dia saja sudah langsung menolak tegas," ujar Melisa.
"Kau itu, baru seperti itu saja sudah ciut nyali kamu. Kalau kamu menginginkan Wildan, kamu harus bekerja keras untuk mendapatkannya! Cinta itu butuh perjuangan!" sahut Mama Risma.
"Lantas, aku harus seperti apa Bu?" Tanya Melisa.
"Lancarkan aksi yang semalam kita bicarakan. Ibu akan buat dia tak bisa menolak kamu. Mau tak mau, dia pasti menerima kamu di hidupnya," sahut Mama Risma.
Melisa akan mencobanya lagi. Dia akan berusaha keras, untuk mendapatkan Wildan. Benar juga, apa yang dikatakan Mama Risma. Bahwa cinta butuh perjuangan.
Bi Sumi tampak memperhatikan kedekatan Melisa dengan Mama Risma. Sejak kemarin, dia menaruh rasa curiga kepada mereka berdua. Dia yakin pasti ada yang tak beres.
Melisa pamit untuk bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Obrolan mereka terpaksa harus dihentikan. Karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB.
"Bu, Melisa berangkat dulu ya," pamit Melisa.
"Iya. Ingat, jangan lupa rencana nanti malam! Jangan sampai gagal!" Ujar Mama Risma dan Melisa mengiyakan.
Wildan baru saja sampai di kantor, dan langsung melihat jam tangan di tangannya. Dia berniat untuk menghubungi sang istri. Mendengar ponselnya berbunyi, Jihan langsung berjalan mengambil ponselnya. Saat ini, dia sudah sampai di hotel, dan bersiap untuk ke kantor tempat dia akan audit.
"Assalamualaikum," ucap Wildan, saat sang istri menerima panggilan darinya.
"Waalaikumsalam," sahut Jihan.
"Kamu kok enggak telepon aku si, untuk memberi kabar kalau kamu sudah sampai?" Ujar Wildan.
"Aku baru saja sampai di hotel. Baru mau telepon, eh kamu sudah telepon duluan," sahut Jihan.
Obrolan mereka tak lama, karena Jihan harus berangkat bekerja. Wildan pun harus bekerja.
"I love you. Miss you. Cepat pulang ya!" Ujar Wildan.
"Baru juga berangkat tadi. Sekarang sudah di tanyain saja," protes Jihan. Wildan terkekeh mendengar penuturan sang istri.
Mereka benar-benar harus mengakhiri panggilan telepon. Karena Jihan harus segera berangkat, dan Wildan harus segera bekerja.
Jihan hendak ingin minum. Namun, tiba-tiba saja gelas yang dia pegang terlepas. Hingga pecah berserakan. Jantungnya berpacu begitu cepat.
"Astaghfirullah. Ada apa ya? Semoga ini bukan sebuah firasat yang tak baik. Dari tadi aku sudah merasa seperti ini terus. Ya Allah, semoga semuanya baik-baik saja," ucap Jihan.
Jihan terpaksa menyuruh petugas cleaning service di hotel itu, dan dia menghubungi suaminya lagi.
"Assalamualaikum. Kenapa Yang?" Tanya sang suami. Dirinya merasa bingung, mengapa sang istri menghubungi dirinya lagi.
Jihan menceritakan perasaan hatinya sejak tadi di rumah, di jalan, dan sampai tadi dia memecahkan gelas. Dia mengatakan ketakutannya, kalau semua itu sebagai sebuah pertanda yang tak baik.
"Kamu itu. Aku kira kenapa? Sudah, tak usah dipikirkan! Itu hanya kebetulan saja. Berdoa saja, semuanya akan baik-baik saja! Lebih baik sekarang kamu kerja. Jangan pikir macam-macam!" Ucap sang suami, dan Jihan mengiyakan. Hingga akhirnya mereka mengakhiri panggilan telepon.
Berhubung sang istri tak ada di rumah, Wildan memutuskan untuk lembur, dan baru sampai rumah jam 21.00 WIB. Tubuhnya terasa lelah. Dia memutuskan untuk mandi dan tidur. Kebiasaan Wildan, dia selalu tidur dalam keadaan polos. Terbiasa jika ada sang istri, dan juga membuat dia tidur lebih nyaman.
Wildan membaringkan tubuhnya di ranjang, tak butuh waktu lama. Dia sudah terlelap. Dia pun lupa mengunci pintu kamarnya, karena terbiasa sang istri yang sering kali pulang kerja. Lagi pula, selama ini tak pernah ada yang berani masuk ke dalam kamarnya.
Melisa baru saja sampai di rumah, dan langsung disambut Mama Risma. Mendengar Melisa pulang, Mama Risma langsung keluar dari kamar. Sejak tadi dia menunggu Melisa pulang bekerja.
"Bagaimana? Apa sudah siap kamu? Sepertinya, Wildan sudah tidur. Jadi, kamu masuk pelan-pelan!" Ujar Mama Risma.
"Aku mandi dulu ya Bu. Lengket banget," ujar Melisa dan Mama Risma menganggukkan kepalanya.
Melisa sudah selesai mandi. Dia siap-siap untuk melancarkan aksinya, berjalan secara perlahan, dan masuk ke dalam.
Melisa terpanah melihat tubuh Wildan yang begitu menggoda. Melisa langsung melucuti semua pakaian yang dia kenakan. Kemudian naik ke ranjang secara perlahan.
Dengan beraninya, dia menyibak selimut yang Wildan gunakan untuk menutupi tubuhnya. Melisa langsung memegang milik Wildan dan memasukkan ke dalam mulutnya.
Awalnya, Wildan mende*sah. Menikmatinya, dia pikir kalau saat ini dia sedang bermimpi sang istri sedang melakukan hal itu. Perlahan Wildan tersadar, kalau hal ini bukan sebuah mimpi. Alangkah terkejutnya dia. Saat melihat sahabat istrinya sedang memanjakan miliknya.
"Pergi! Berani-beraninya kau masuk kamarku. Dasar sahabat pengkhianat, penggoda!" Umpat Wildan.
"Ayolah Mas, tak usah munafik! Kamu tadi begitu menikmatinya, dan bahkan kamu mende*sah. Kita sudah sama-sama dewasa. Aku yakin, saat ini kamu pasti kesepian 'kan? Selama Jihan tak ada, aku yang akan memuaskan kamu," ucap Melisa dengan tak tahu malunya.
"Dasar wanita murahan!" Umpat Wildan lagi.
Namun, Melisa tak gentar. Sudah kepalang tanggung. Dia akan tetap melancarkan aksinya, dan membuat Wildan masuk perangkapnya.
"Ayolah Mas, masa si kamu tak nap*su melihat aku sudah seperti ini. Aku pun sangat menginginkan kamu," goda Melisa.
Melisa langsung menarik selimut yang Wildan gunakan, dan dia langsung naik ke atas tubuh Wildan.
"Jangan bohong Mas, milik kamu sudah tegang! Aku langsung mulai saja ya," ucap Melisa.
Melisa langsung menancapkan milik Wildan ke miliknya. Perlahan pertahanan Wildan pun turun, membuat Melisa tersenyum. Dia berhasil menggoda suami sahabatnya. Dia berusaha membuat suami sahabatnya merasa puas. Melisa memang lebih agresif.
"Aku mohon, jangan sampai Jihan atau siapa pun tahu kita melakukan hal ini. Aku tak ingin kehilangan Jihan," ucap Wildan sambil menikmati permainan Melisa.
Wildan benar-benar bodoh, mana mungkin Melisa akan melepasnya begitu saja. Melisa benar-benar licin seperti ular, dia begitu pintar menggoda Wildan sampai Wildan menggila. Hingga rela mengkhianati cinta sang istri.
Wildan pun akhirnya merespon, saat Melisa mencium bibirnya. Ciuman mereka begitu bergairah. Mereka melewati malam itu berdua. Tanpa sadar, Wildan menembakkan cairan hangat ke rahim Melisa.
Mama Risma langsung membuka pintu kamar sang anak dan melihat Melisa yang masih di atas tubuh sang anak.
"Good! Kerja yang baik! Akhirnya, aku bisa merasa lega. Aku yakin, setelah ini pasti Wildan tak akan bisa terlepas dari Melisa. Selamat datang kehancuran kamu, Jihan. Aku yakin, Wildan akan menceraikan kamu," ucap Mama Risma.
Dia tak menyadari, kalau dia telah membuang sebuah berlian. Tentu saja Jihan lebih unggul dari segi apapun.
"Wildan, Melisa apa yang kalian lakukan? Ternyata, diam-diam kalian ada affair?" Mama Risma pura-pura akting.
"Ma, semua ini tak seperti yang mama kira. Melisa telah menggoda aku, hingga akhirnya aku tergoda. Aku mohon maaf, jangan sampai Jihan tahu apa yang kami lakukan ini. Aku enggak mau kehilangan Jihan," ungkap Wildan. Dia terlihat frustasi.
"Tapi kamu harus menikahi Melisa!" Titah sang mama. Membuat mata Wildan membulat sempurna.
"Ma, aku tak mungkin melakukan hal itu. Jihan pasti sangat marah padaku," ucap Wildan. Wildan tampak mengacak-acak rambutnya.
"Lantas, bagaimana kalau Melisa hamil anakmu? Kau 'kan bisa menikah secara siri, tanpa sepengetahuan Jihan. Dia pun tak akan tahu, karena dia selalu sibuk dengan pekerjaannya," sahut sang mama.
"Tidak mungkin hamil 'lah Ma. Jihan saja yang sering melakukan sama aku, dia tak hamil-hamil," protes Wildan.
"Karena istrimu itu mandul, sedangkan Melisa sudah terbukti memiliki anak. Mama ingin memiliki cucu. Istrimu itu tak mampu memberikan keturunan padamu," cerocos Mama Risma.
Wildan terdiam, sungguh situasi yang begitu sulit. Di satu sisi dia tak ingin menyakiti istrinya, di satu sisi lain benar juga apa yang dikatakan sang Mama. Bagaimana, kalau Melisa hamil anaknya. Nap*su sesaat, menghancurkan hidupnya.
"Baiklah, jika Melisa benar-benar hamil. Aku akan menikahi dia. Jika tidak, aku tak akan menikahi dia! Lagi pula, dia yang menggoda aku. Dia yang salah," ujar Wildan.
Melisa masih harus bekerja keras untuk menggoda Wildan. Membuat dirinya benar-benar hamil, agar Wildan menikahi dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
anonim
Wildan yang imannya tidak kuat ini namanya laki2 goblok malah dilanjutkan untuk kepuasannya.
Mana ngomong Jihan jangan sampai tahu lagi. Bakal hancur rumah tanggamu Wildan gara2 mamamu yang minim akhlak pula
2024-08-20
0
Endang Supriati
ibu durjana! anaknya dibiarkan zinah
2024-03-17
2
G** Bp
ya Allah ibu macam apa yg kamu miliki Wildan,kok bisa menjebak anak sendiri dan mghncurkan rumah tangganya...
2024-01-23
0