Akhirnya, Jihan menuruti keinginan sang suami. Karena Jihan tak ingin bertengkar dengan sang suami. Mereka kini hanya makan berdua. Tak lama kemudian, Melisa keluar dari kamar berniat untuk ke kamar mandiri, dan ternyata sang sahabat sedang makan bersama suaminya.
Melisa sempat melirik ke arah Wildan yang terlihat cuek kepadanya. Bahkan Wildan tak mempedulikan dirinya. Tak sedikitpun Wildan menengok ke arahnya, dia hanya fokus pada makanannya.
"Mel, sini makan bareng!" Ajak Jihan.
"Iya, aku ke kamar mandi dulu ya," ujar Melisa dan Jihan mengiyakan.
Melisa langsung menuju kamar mandi, untuk mencuci muka dan juga menggosok gigi. Wildan segera menghabiskan makanannya, agar dia segera pergi. Semenjak kejadian kemarin, Wildan merasa tak suka dengan sahabat istrinya itu.
Benar saja, saat Melisa keluar dari kamar mandi. Wildan langsung pamit untuk berangkat duluan. Membuat Melisa merasa kesal, karena Wildan bersikap cuek padanya. Dia merasa Wildan menghindar darinya.
"Aku berangkat duluan ya sayang. I love you. Nanti kabarin ya kalau kamu sudah sampai di kantor," ucap Wildan sambil memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya. Melisa hanya menatap Wildan yang begitu mesra kepada Jihan.
Wildan hanya pamit kepada Jihan, membuat hati Melisa merasa panas.
"Ok, sekarang kamu bisa seperti ini kepadaku. Aku terima, meskipun aku kesal dengan sikap kamu ke aku. Namun, suatu saat nanti. Aku akan membuat kamu tak akan pernah bisa berpaling dariku lagi," ucap Melisa.
Jihan mengantarkan sang suami sampai depan, sampai mobil sang suami pergi meninggalkan rumah. Setelah sang suami sudah pergi meninggalkan rumah, Jihan masuk kembali ke dalam rumah. Berjalan menghampiri Melisa yang sedang makan di meja. makan.
Dia sempat melihat jam di dinding ruang keluarga. Masih ada 15 menit untuk bisa mengobrol dengan sahabatnya. Jihan duduk kembali di sebrang sahabatnya.
"Gimana hari pertama kerja di situ? Betah?" Tanya Jihan sekadar basa-basi. Dia tak ingin sahabatnya merasa tersinggung dengan sikap suaminya tadi.
"Alhamdulillah, betah. Oh ya, Ta. Aku jualan parfum untuk cewek dan cowok. Lakuin dagangan aku dong! Sekalian beli untuk Mas Wildan juga," ujar Melisa dengan tak tahu malunya.
"Boleh, kamu pilihkan yang wanginya enak ya untuk aku dan Mas Wildan! Harga berapa? Nanti aku transfer ya! Soalnya aku jarang pegang uang cash banyak," ujar Jihan dan Melisa mengiyakan.
Tak lama kemudian Jihan pamit untuk siap-siap dan berangkat kerja. Dia kini sudah terlihat cantik, tanpa riasan. Karena Jihan dasarnya memang sudah cantik, dan memiliki kulit putih bersih.
"Mel, aku berangkat dulu ya! Nanti kabarin saja ya. Kamu kalau mau bawa makanan dari rumah bawa saja ya," ujar Jihan dan Melisa mengiyakan. Dia mengantarkan Jihan sampai ke mobil. Setelah mobil Jihan keluar dari rumah, dia langsung menutup pagar rumah. Setelah itu, Melisa masuk ke kamarnya.
Melisa langsung membaringkan tubuhnya di ranjang, masih ada waktu untuk bersantai di ranjang.
"Kalau aku jadi istri Mas Wildan, aku tak perlu lagi bekerja. Aku juga bisa shopping, bisa dibelikan rumah, dan dibelikan mobil. Enak jadi Jihan," Melisa bermonolog sambil berkhayal, dia berharap kalau suatu hari nanti keinginannya bisa terwujud.
Jika Wildan cerita ke Jihan apa yang dilakukan Melisa kepadanya. Pasti hal ini tak akan berlanjut. Bisa saja Jihan langsung mengusir Melisa dari rumahnya. Sayangnya, Wildan memilih menutupinya dari Jihan. Sehingga, Jihan tak tahu kelakuan Melisa terhadap suaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Cuy
Wildan harusnya cerita.
2024-02-20
2
Ila Lee
cerita Wildan sahabat isteri kamu itu bagaimana org nya biar Jihan tahu
2024-01-11
0
Pia Palinrungi
koq ada sahabat kayak gitu yah, apa nggak ada rasa gimana gitu sm jihan yg adh baik kasih tumpangan, makan gratis lagi
2023-07-04
0