Jihan melihat jam di ponselnya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Menurut perhitungan berapa lama perjalanan. Melisa sampai sekitar jam 14.00. Itu pertanda, mereka harus segera menuju stasiun Pasar Senen.
Jihan sudah selesai makan, dan juga makan es krim. Kini mereka memutuskan ke mushola yang berada di Mall tersebut. Mereka harus terpisah tempat. Jihan ke tempat akhwat dan Wildan ke tempat ikhwan.
"Assalamualaikum. Ta, aku sudah sampai bekasi. Kurang lebih satu jam lagi aku sampai di stasiun Pasar Senen." Tulis Melisa di pesan whatsapp
Jihan baru saja selesai sholat, langsung merapikan jilbabnya. Jihan jarang sekali merias wajahnya, dan jika dia ingin meriasnya pun, hanya dengan riasan yang natural. Wildan pun suka melihat wajah cantik istrinya yang alami. Tanpa make-up, istrinya memang sudah terlihat cantik.
Jihan meraih ponselnya dari dalam tas, sambil dirinya berniat untuk keluar dari mushola. Agar bisa bergantian dengan yang lainnya. Ternyata sang sahabat mengirimkan pesan whatsapp.
"Waduh, satu jam lagi," ucap Jihan. Hingga akhirnya Jihan mencoba menghubungi sahabatnya.
"Assalamualaikum," sapa Melisa saat menerima panggilan telepon dari sahabatnya.
"Waalaikumsalam. Mel, kamu sudah sampai mana sekarang? Maaf, aku baru selesai sholat," sahut Jihan. Matanya sampai celingak-celinguk mencari suaminya. Dia ingin tahu, suaminya sudah keluar belum.
Melisa mengatakan kalau dirinya sudah sampai di stasiun Jatinegara. Mendengar sahabatnya sudah sampai di stasiun Jatinegara, Jihan menjadi kebingungan. Dia menyuruh sahabatnya menunggu dirinya, sampai dirinya sampai. Karena dia baru akan pulang dari Mall menuju stasiun Jatinegara. Kemungkinan besar, Melisa duluan yang akan sampai di stasiun Pasar Senen.
"Kamu nanti hati-hati ya Mel, kalau sudah sampai. Aku cari suamiku dulu, terus langsung jalan," ujar Jihan.
"Iya, Ta. Santai saja, enggak usah terburu-buru! Maaf ya, aku jadi merepotkan kamu sama suami kamu. Padahal, kalau kamu repot. Aku naik ojek online saja ke rumah kamu. Takutnya, kamu masih ingin main sama suami kamu. Gara-gara mau jemput aku, jadinya kamu malah terganggu," sahut Melisa.
"Enggak kok, tenang saja! Aku memang sudah bilang ke suami kok. Ya sudah, aku jalan dulu ya! Aku sudah ketemu Mas Wildan," ujar Jihan dan Melisa mengiyakan. Mereka akhirnya, mengakhiri panggilan telepon mereka.
Jihan langsung mengajak suaminya untuk pulang dari Mall, karena sang sahabat sudah sampai di stasiun Jatinegara. Wildan pun akhirnya menuruti keinginan istrinya. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju Stasiun Pasar Senen.
Melisa sudah sampai, dia langsung memberi kabar kepada sahabatnya itu.
"Sahabatku sudah sampai di stasiun Pasar Senen," ujar Jihan kepada sang suami. Untuk bisa sampai ke Stasiun Pasar Senen. Jihan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.
Traffic jalanan cukup padat, membuat Jihan tampak gelisah karena merasa kasihan dengan sahabatnya. Jika harus menunggu terlalu lama di stasiun.
"Kasihan Melisa, jadi harus menunggu kita terlalu lama. Kirain jam 14.00 baru sampai, ternyata Melisa datang lebih cepat," ucap Jihan.
"Ya sudah, kamu suruh tunggu saja dulu sahabat kamu! Nanti juga kita pasti datang," ujar Wildan dan Jihan mengiyakan.
Jihan mengirimkan pesan chat kepada Melisa, mengatakan kalau dirinya kini sudah dalam perjalanan menuju stasiun Pasar Senen. Melisa tampak lapar, sambil menunggu sahabatnya datang. Melisa memutuskan untuk makan pop mie sambil menunggu sahabatnya datang. Dia tak ingin merepotkan sahabatnya.
Mereka sudah sampai di parkiran mobil Stasiun Pasar Senen. Wildan ikut turun, menemani sang istri. Dia khawatir dengan sang istri. Wildan tampak menggandeng tangan Jihan dengan mesra.
Dari jauh Melisa sudah melihat kedatangan sahabatnya itu dengan suaminya. Pandangannya tak terlepas dari laki-laki yang menggandeng tangan sahabatnya. Melisa menyukai Wildan, sejak awal dia melihatnya.
Penampilan Wildan sekarang memang berubah. Tubuhnya lebih kekar, karena dia nge-gym. Wajahnya terlihat lebih mempesona, dan penampilannya sangat keren. Membuat Melisa terpesona dengan suami sahabatnya itu.
"Hei, Mel," sapa Jihan sambil melambaikan tangannya. Wildan tampak cool berdiri di sebelah sang istri. Dia memang selalu berusaha untuk menjaga jarak dengan seorang wanita.
"Mas Wildan sekarang beda banget. Jihan beruntung banget dapatkan dia," ucap Melisa dalam hati. Diam-diam dia memperhatikan Wildan dari samping. Melisa duduk di kursi penumpang barisan kedua, sehingga dia bisa mencuri-curi pandang. Melisa sangat pintar, dia bisa menutupinya dari sahabatnya itu.
"Mel, Mel!" Panggil Jihan kepada sahabatnya itu.
Melisa tampak melamun memikirkan suami sahabatnya itu, membuat dirinya tak dengar saat Jihan memanggil dirinya, dan mengajak bicara.
"Eh, maaf Ta. Ada apa? Aku tadi lagi kepikiran anakku," ucap Melisa bohong.
"Kangen ya Mel sama Mawar? Sabar ya! Semoga rezeki kamu berlimpah, jadi kamu bisa berkumpul kembali sama Mawar," ucap Jihan.
"Iya, tadi saja sewaktu aku pamit berangkat. Mawar nangis. Aku sebenarnya berat meninggalkan dia, tapi aku terpaksa. Karena aku harus mencari uang yang banyak. Sebentar lagi Mawar masuk SMP, dan aku ingin menyekolahkan anakku hingga ke bangku kuliah seperti kamu. Bisa kerja di kantoran, tak seperti aku yang hanya bisa menjadi SPG kosmetik," sahut Melisa membuat Jihan merasa iba dengan kehidupan sahabatnya itu.
"Amin. Semoga doa kamu bisa dikabulkan Allah," ucap Jihan tulus.
Jihan dan Melisa tampak asyik mengobrol. Sedangkan Wildan justru terlihat hanya diam. Karena dia memang berusaha untuk menjaga jarak dengan sahabat istrinya itu.
"Mas, kita mampir makan dulu ya! Ke restoran seafood saja," ujar Jihan dan Wildan pun menganggukkan kepalanya.
"Semoga saja aku bisa menemukan laki-laki seperti Mas Wildan. Sudah tampan, keren, gagah, baik, mapan lagi. Top banget," puji Melisa dalam hati.
Melisa merasa iri melihat keromantisan Wildan kepada Jihan. Wildan tampak menggandeng tangan Jihan dengan mesra, memasuki restoran. Jihan memesan cumi saus padang, udang saus tiram, cah kangkung, ikan bakar, dan juga sambal.
Jihan duduk di sebelah Wildan, dan Melisa duduk berhadapan dengan Jihan. Wildan tampak merangkul pundak Jihan. Menunjukkan kemesraannya di depan Melisa.
Makanan datang, Jihan tampak mengambilkan nasi, kangkung, ikan, cumi, dan juga udang untuk sang suami.
"Ayo Mel, makan! Jangan malu-malu! Tenang saja, Mas Wildan enggak gigit kok," ujar Jihan yang terkekeh menatap ke arah suaminya, sedangkan Wildan hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ya ampun, manis banget senyumnya. Bikin hati adem banget rasanya. Semoga saja masih ada stok mahluk ciptaan Tuhan yang sempurna sepertinya untuk aku," ucap Melisa dalam hati.
"Enak ya jadi Jihan, bisa makan makanan enak seperti ini. Hidupnya enak banget, tak kekurangan uang seperti aku. Hidupnya begitu sempurna," ucap Melisa dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Alanna Th
betoel, mbak. cuma yg nmny pelakor teh ga malu" mnggoda, shg yg imannya kuatpun bisa goyah
2025-01-05
0
Samsia Chia Bahir
Dlm RT i2 trgantung jg ma lalaki, klo si wanita gatel tpi si suami tak menanggapi yaaaa G akan trjdi prselingkuhn 😆😆😆😆😆
2024-01-04
2
Pia Palinrungi
mel sadar jihan udh baik sm kamu jgn kamu macam2
2023-07-04
0