Ingin rasanya Melisa menghampiri Wildan dan membaringkan tubuh di samping lelaki itu. Kemudian memeluknya tubuh lelaki itu dengan erat.
"Tidak! Aku tak boleh gegabah! Bisa-bisa aku justru tak bisa mendapatkan dia. Mas Wildan bukan tipe laki-laki yang mudah tergoda. Aku harus memikirkan cara untuk membuat dia jatuh ke pelukan aku. Kalau aku lakukan sekarang, yang ada dia akan menendang aku dari rumah ini. Jihan pun pasti akan sangat marah padaku. Sebelum hal itu terjadi, aku harus mempersiapkan terlebih dahulu. Aku harus mendapatkan Mas Wildan dulu, apapun alasannya," ucap Melisa.
Melisa langsung menutup pintu kamar itu dengan perlahan, dia tak ingin Wildan tahu. Kalau dia habis melihat dia di kamarnya.
Suara klakson mobil Jihan terdengar. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Melisa bergegas untuk membuka pintu pagar, dia ingin mencari simpatik Jihan.
"Sudah Ta, aku saja yang buka," teriak Melisa dari dalam.
"Ya, sudah! Makasih ya!" sahut Jihan. Jihan langsung naik ke dalam mobilnya lagi. Kemudian memarkirkan mobilnya di dalam rumah. Setelah itu baru turun dari mobil, menghampiri sahabatnya.
"Kamu baru pulang Mel?" Tanya Jihan karena melihat sang sahabat belum berganti pakaian. Mereka melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Iya, baru sampe rumah. Kamu pulangnya malam banget Ta?" sahut Melisa.
Jihan menjelaskan, kalau dia lagi banyak kerjaan. Karena harus buat laporan hasil audit kemarin di Surabaya. Jihan begitu perhatian kepada Melisa. Sampai-sampai dia menanyakan kepada Melisa, apakah Melisa sudah makan apa belum.
"Kalau lapar buat mie instant saja Mel, jangan di tahan! Anggap saja seperti di rumah sendiri, tak usah malu kalau kamu mau makan apa saja," ujar Jihan.
"Iya, Ta. Makasih ya! Kamu sudah baik banget sama aku. Iya, nanti aku masak mie instant. Ya sudah sana, istirahat! Besok pagi kamu 'kan kerja lagi. Mas Wildan juga sudah pulang tuh, sepertinya sudah tidur. Tadi aku pulang soalnya rumah sudah sepi. Bi Sumi juga sudah tidur," ucap Melisa.
Jihan pamit ke kamar, kepada sang sahabat. Jihan membuka pintu kamar secara perlahan, dia tak ingin mengganggu sang suami yang sudah tidur.
Dia pun berjalan secara perlahan memasuki kamar mandi. Dia berniat untuk mandi. Jihan langsung menghidupkan water heater, karena dia ingin mandi air hangat. Jihan sudah terbiasa seperti ini, dia selalu mandi dari pulang bekerja.
Tidur Wildan terusik, saat mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi. Perlahan Wildan membuka matanya. Tak lama kemudian Jihan keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk yang dililitkan menutupi dada sampai pahanya.
"Mas kok bangun?" Ujar Jihan, saat melihat sang suami yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Iya, dengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Kamu baru pulang?" Tanya Wildan dan Jihan mengiyakan.
"Iya," sahut Jihan. Kemudian Jihan berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian.
Baru saja dia hendak mengambil pakaian, tubuhnya langsung di gendong suaminya ke ranjang.
"Mas, aku ingin pakai baju," rengek Jihan.
"Mas enggak mengizinkan kamu memakai apapun. Ini hukuman kamu, karena kamu membuat Mas kedinginan. Sempat membiarkan mas tidur sendiri," ujar Wildan.
Sama-samar Melisa mendengar percakapan Jihan dan Wildan di kamar. Saat itu dia sedang makan mie instant di campur telor dan juga bakso yang berada di kulkas.
"Sepertinya mereka sedang bercinta di kamar," ucap Melisa dalam hati.
Suasana hening di malam hari, membuat terdengar sekali desa*han dari dalam kamar sahabatnya itu. Membuat Melisa yang sudah menjadi janda selama enam bulan, dan tak pernah melakukan hubungan suami istri dengan mantan suaminya selam satu tahun menjadi menginginkannya.
Jihan dan Wildan sedang memadu kasih. Padahal, Jihan sudah berusaha menolaknya. Tapi, Wildan tetap saja merengek. Hingga akhirnya, Jihan menurutinya. Meskipun dia merasa lelah, baru pulang bekerja.
Setelah selesai makan, Melisa memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Kemudian membuka semua pakaian yang dia kenakan. Setelah itu naik ke ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut.
Awalnya, Melisa hendak memejamkan matanya. Namun, dia jadi teringat saat Wildan sedang tertidur tadi. Tak sengaja dia melihat milik Wildan yang menonjol, karena posisi tidur Wildan yang terlentang.
Hal itu membuat Melisa berimajinasi kotor, sambil memainkan area sensitifnya.
"Aahh, Mas Wildan. Enak, Mas!" Dengan beraninya dia berimajinasi bermain dengan Wildan.
Sedangkan Jihan dan Wildan baru saja selesai bercinta. Seperti biasa. Wildan langsung memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya dan mengungkapkan kalau dia mencintai Jihan.
Jihan terlihat masih membaringkan tubuh di ranjang, tubuhnya terasa lemas akibat ulah suaminya. Sedangkan Wildan sudah beranjak turun untuk membersihkan miliknya.
"Kenapa? Lemes?" Tanya Wildan kepada sang istri saat keluar dari kamar mandi, dan melihat sang istri yang masih membaringkan tubuhnya di ranjang. Jihan menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah sana cuci dulu! Habis itu baru tidur, istirahat!" Titah Wildan.
Akhirnya, Melisa berhasil mendapatkan pelepasan. Setelah sekian lama. Dia merasa lemas.
"Baru mengingatnya saja, aku sudah seperti ini. Apalagi bercinta langsung sama mas Wildan. Bisa berkali-kali aku," ucap Melisa.
Jihan beranjak turun dari ranjang untuk ke kamar mandi membersihkan miliknya. Setelah itu, dia langsung keluar dan memakai daster. Baju dinasnya saat di rumah.
Wildan sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Jihan pun ikut menyusul sang suami. Membaringkan tubuhnya di sebelah sang suami.
"Selamat tidur istri aku yang cantik," ucap Wildan. Wildan tampak memeluk tubuh sang istri dan memberikan kecupan di kening istrinya.
Sepertinya Wildan lupa untuk menceritakan yang terjadi tadi di Mall dengan Melisa. Tak butuh waktu lama, mereka pun tertidur nyenyak. Melisa pun sudah tertidur.
Bunyi azan di ponsel, membuat Jihan membuka matanya. Padahal, dia masih merasa berat membuka matanya. Dia teringat akan tanggung jawabnya. Padahal semalam, dia baru tidur hampir jam 12.00 malam.
"Mas, bangun yuk! Mandi wajib dulu terus sholat subuh!" Jihan mencoba mengingatkan sang suami.
Wildan pun perlahan membuka matanya
"Kamu duluan saja! Aku nanti setelah kamu," sahut Wildan.
Jihan sudah selesai mandi, dan sudah berwudhu juga.
"Mas, ayo bangun! Jangan malas!" Panggil Jihan sambil dia memakai pakaian.
Dengan rasa malas, akhirnya Wildan membuka matanya dan beranjak turun dari ranjang. Untuk segera mandi. Setelah itu, mereka langsung sholat berjamaah.
Setelah itu, Jihan pamit turun untuk memasak. Semua dia lakukan demi menyenangkan hati suaminya, menghilangkan rasa malas yang dia rasa.
Jihan sudah selesai memasak, semua makanan sudah tersaji di meja makan. Setelah itu dia naik ke atas ke kamar untuk memanggil sang suami untuk sarapan. Sebenarnya, Wildan merasa malas harus bertemu dengan Melisa. Setelah kejadian kemarin, Wildan menjadi risih.
Ingin rasanya dia mengungkapkan apa yang terjadi dengannya dan Melisa. Tetapi dia takut akan membuat istrinya kecewa. Hingga akhirnya Wildan berusaha untuk menutupinya dari Jihan.
"Untung saja wanita itu tak ada. Tak merusak sarapan pagi aku sama Jihan," ucap Wildan dalam hati. Saat ini dia sudah di meja makan untuk sarapan pagi bersama Jihan.
"Kamu mau kemana?" Tegur Wildan, saat sang istri bangkit dari tempat duduknya.
"Mau bangunin Melisa," sahut Jihan.
"Sudah, biarkan saja! Tak usah dibangunkan! Nanti juga, kalau lapar dia bangun. Aku lagi ingin sarapan berdua sama kamu. Biar sahabatmu, nanti saja makannya. Lagian, dia 'kan kerjanya siang," cerocos Wildan membuat Jihan mengerutkan keningnya.
"Mengapa Mas Wildan bicara ketus dan seperti tak suka? Apa dia mulai tak suka, Melisa di rumah? Aku jadi serba salah sama Melisa, aku takut dia tersinggung kalau mengetahui sikap mas Wildan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
anonim
Jihan ini yang aneh2 memperbolehkan temannya sebulan numpang di rumahnya.
Mestinya peka kalau tahu suaminya sudah tidak nyaman ada temannya serumah janda pula.
2024-08-20
0
Cuy
Ular dipiara. Semoga Wildan tidak tergoda.
2024-02-20
1
Pia Palinrungi
kalau nanti ada apa2 wildan sm meliaa biarjihan pergi me inggalkan wildan
2023-07-04
0