Sudah satu minggu Melisa di rumah Jihan, tetapi tak sedikitpun dia bisa menaklukkan hati Wildan. Wildan masih saja bersikap dingin, bahkan dia semakin bertambah membuat Melisa merasa kesal. Wildan yakin, kalau sahabat istrinya telah menaruh hatinya padanya. Sungguh godaan besar di rumah tangganya. Hingga dia selalu berusaha untuk menjaga jarak.
Wildan tak tahu, kalau mamanya saat ini sudah dalam perjalanan menuju rumahnya. Wildan dan Jihan sama-sama berjuang dari bawah. Namun, Jihan yang lebih berpotensi dalam berkarier.
Hari ini hari Sabtu, Jihan ingin menghabiskan waktunya bersama sang suami. Dia tampak sibuk berkutat di dapur, untuk membuatkan kue bolu untuk suami. Seperti biasa, dia juga memasak untuk sang suami.
Wildan sudah tak memiliki papa. Papanya sudah meninggal dua tahun lalu. Wildan anak kedua dari dua bersaudara. Sang kakak sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Tinggal bersama Sang mama.
Mamanya Wildan memiliki pemikiran yang kolot, masih memakai tradisi daerah. Dia juga selalu mengira kalau anaknya 'lah yang memiliki penghasilan yang banyak. Padahal, sang menantu yang selalu memberikan uang setiap bulannya.
Selama ini, Jihan memang tak pernah memberikan langsung kepada sang ibu mertua. Karena, yang berkewajiban memberikan uang adalah sang anak yaitu Wildan. Setiap Wildan memberikan uang kepadanya, Jihan langsung menyisihkan uang sang ibu mertua. Begitu juga uang yang diberikan kepada orang tua Jihan setiap bulannya. Uang itu berasal dari Jihan, tetapi Wildan yang memberikan kepada ibunya Jihan. Agar ibunya Jihan mengira, kalau Wildan adalah menantu yang baik.
"Bi, coba lihat ke luar, ada tamu siapa yang datang!" Ujar Jihan.
Sang ART langsung bergegas untuk segera melihat, tamu siapa yang datang. Enak sekali jadi Wildan, sang istri sibuk di dapur, dia justru sedang tidur kembali di kamarnya.
Sang ART terkejut saat melihat Mama Risma datang. Dia merasa kasihan dengan Jihan Sang majikan. Mertua kejamnya itu hanya bisa menindasnya.
"Wildan ada?" Tanya Mama Risma dengan sombongnya.
Padahal dia berasal dari pedalaman, desa terpencil yang berada di daerah Jawa Tengah. Tapi, sombongnya minta ampun. Bahkan melebihi seorang ningrat.
"Ada Nyonya besar di kamar. Kalau Ibu Jihan sedang memasak dan membuat kue di dapur," ujar sang ART.
"Saya enggak nanya wanita itu! Tak peduli dia mau ngapain. Kedatangan saya ke sini, ingin bertemu anak saya. Oh ya, ini kamu bawa koper saya ke kamar tamu! Saya akan menginap di sini beberapa hari," ujar Mama Risma.
Hal itu membuat Bi Sumi terdiam, dan bengong.
"Heh, mengapa kau diam? Apa telingamu tuli tak mendengar ucapan saya! Cepat bawa ke kamar tamu!. Tunggu apalagi?" Cerocos Mama Risma.
Mendengar suara sang ibu mertua. Jihan langsung mematikan kompor, dan berjalan ke depan. Dia penasaran, apakah benar sang ibu mertua yang datang atau hanya perasaan dia saja.
"Mama? Mama sama siapa kesininya? Ayo masuk Ma ke dalam!" Ajak Jihan kepada sang ini mertua.
"Sudah tak perlu berbasa-basi! Aku tak butuh kau! Kedatangan aku ke sini, hanya ingin bertemu anakku Wildan. Satu lagi, mengapa kau ini tak memecat pembantumu yang bodoh itu? Masa iya, dia hanya diam, saat aku menyuruh membawa koper ini ke kamar," Ujar Mama Risma.
Jihan langsung menjelaskan, kalau saat ini sedang ada sahabatnya dari kampung yang tinggal di rumahnya, sampai sang sahabat mendapatkan gaji pertama.
"Kau ini gila ya? Rumah ini, bukan milik kamu sendiri! Pikirkan juga suamimu! Kasihan anakku, sudah kau tak bisa memberikan keturunan buat dia, sekarang kau tambah lagi dengan ketidaknyamanan di rumah. Dasar orang kampung, meskipun sudah lama hidup di kota, tetap saja kampungan!" Umpat Mama Risma, dia tak menyadari. Kalau ucapannya itu menyakiti hati menantunya. Apa dia tak menyadari, kalau dia pun berasal dari kampung. Bahkan pedalaman banget, lebih terpencil dari kampung halaman Jihan. Dengan sombongnya, dia menolak Jihan saat Jihan ingin mencium tangan Ibu mertuanya
"Maaf, Bu. Tapi, Mas Wildan sudah setuju. Sebelum dia ke sini, aku izin dulu kepada Mas Wildan," ungkap Jihan di iringi isak tangis.
Mendengar keributan di bawah, Wildan terbangun dari tidurnya.
"Mama? Kok suaranya seperti Mama. Tapi, mengapa mama tak bilang mau ke sini?" Wildan bermonolog.
Wildan langsung beranjak turun dari ranjang, dan bergegas untuk melihatnya. Benar saja, yang datang sang mama. Dia melihat sang istri yang sedang bertengkar dengan sang mama.
"Ma, mama ini apa-apaan si? Datang-datang kok langsung bikin ribut si? Memangnya Jihan salah apa si sama mama?" Ucap Wildan cukup keras. Wildan langsung memeluk tubuh sang istri yang sedang menangis, bahkan Jihan sampai menangis sesenggukan. Melihat perlakuan Wildan seperti itu, Mama Risma merasa semakin tak suka dengan Jihan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Isna Vania
mertua kolot, kl ngomong langsung ceplos, Gk mw tw orang tersinggung apa gk nya, padahal dr Sm dr kampung, tp sombong nya selangit 😏
2025-01-15
0
Cuy
Hadee...dapet mertua paket komplit. Kasian Jihan.
2024-02-20
2
Pia Palinrungi
sabar jihan, kamu akan memdapat kebahaviaan yg tiada tara dn bikin nanti mertua kamu menyesal
2023-07-04
0