Ternyata Wildan tak tahan untuk menunggu sang istri selesai memasak. Tanpa rasa malu di berjalan mendekati sang istri, berniat menggodanya. Padahal, di sana ada sang ART yang sedang membantu sang istri memasak.
"Ya ampun Mas, bikin kaget saja!" Ungkap Jihan, saat tangan suaminya sudah melingkar dari belakang.
Wildan langsung meletakkan dagunya di pundak istrinya. Wildan tak malu menunjukkan kemesraannya di depan sang ART.
"Mas ..., aku susah masaknya kalau Mas seperti ini! Mas tunggu dulu ya di meja makan, ini aku sebentar lagi! Biar cepat selesai," protes Jihan.
"Ya sudah, Bi Sumi saja yang menyelesaikan masaknya. Kamu temani mas saja menonton televisi," sahut Wildan.
Hingga akhirnya Jihan menghentikan memasaknya, dan meminta Bi Sumi untuk melanjutkannya.
"Kamu itu, selalu saja tak mau kalah. Padahal, sebentar lagi juga selesai," gerutu Jihan sambil melepas celemek yang dia kenakan. Kemudian berjalan mengikuti suaminya menuju ruang keluarga, menemani sang suami.
"Mas, geli!" protes Jihan, saat sang suami mendusel ketiaknya. Bukannya menghentikannya, Wildan justru menaikkan Jihan ke pangkuannya. Mereka bercanda, Jihan pun cekikikan.
Becanda mereka harus terhenti, saat Bi Sumi menghampiri mereka, dan mengatakan kalau makanan sudah tersedia di meja makan. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk makan. Mereka berjalan ke meja makan. Wildan langsung duduk di kursi meja makan, sedangkan Jihan tampak sedang mengambilkan makanan untuk suaminya.
Mereka tampak menikmati sarapan pagi mereka. Jihan juga sudah menyiapkan minuman air putih untuk suaminya. Kelak, Melisa akan melihat kebersamaan sahabatnya dengan suaminya. Mereka kini sudah selesai makan, dan memutuskan untuk bersantai lagi.
"Yang, satu ronde dulu yuk sebelum mandi dan berangkat. Mumpung baru jam 08.00 WIB," bisik Wildan di telinga Jihan. Jihan sangat tahu, kalau nap*su suaminya itu sangat besar. Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Wildan langsung menggendong sang istri ke kamarnya. Wildan langsung membaringkan tubuh istrinya ke ranjang.
Pergulatan panas di pagi hari pun terjadi. Keduanya sudah sama-sama dalam keadaan polos. Suara-suara indah pun terdengar dari kamarnya. Bi Sumi sang pembantu, sudah merasa tak aneh dengan apa yang terjadi dengan majikannya itu. Akankah hal ini tetap terjadi, saat sang sahabat tinggal di rumah mereka?
Jihan tampak terkulai lemas tak berdaya di ranjang, akibat ulah suaminya itu. Sedangkan Wildan justru tersenyum puas.
"Kalau masih lemas, tiduran saja dulu! Aku mandi duluan ya," ucap Wildan dan Jihan tampak menganggukkan kepalanya. Wildan langsung beranjak turun dari ranjang, dan menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi, mereka tampak sudah bersiap-siap. Rencananya, Wildan ingin mengajak sang istri main dulu ke Mall. Wildan turun lebih dulu, untuk memanasi mesin mobilnya. Tak lama kemudian, Jihan pun turun dari kamarnya menghampiri sang ART yang sedang membersihkan ruang tamu.
"Bi, Ibu sama bapak berangkat dulu ya! Oh ya, nanti teman ibu mau datang, dan sementara mau menginap dulu di sini selama satu bulan. Tolong bibi bersihkan ya kamar tamu, untuk kamarnya!" Jelas Jihan kepada sang ART.
Setelah selesai bicara dengan sang ART, Jihan langsung berjalan menghampiri suaminya yang saat itu membersihkan debu di mobilnya dengan kemoceng.
"Sudah? Mau jalan sekarang?" Tanya Wildan kepada sang istri, dan Jihan mengiyakan. Jihan pun akhirnya naik ke dalam mobil, dan mereka pun akhirnya pergi meninggalkan rumah. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju Mall.
"Memangnya sahabat kamu itu mau kerja dimana?" Tanya Wildan.
"Aku sih belum tahu pasti. Yang aku tahu dia mau bekerja menjadi SPG kosmetik," sahut Jihan.
"Penampilannya seksi dong? Tolong sampaikan ke dia, kalau di rumah tolong jangan berpakaian seksi! Aku risih, kecuali istri aku. Menjaga juga! Aku 'kan laki-laki, dia wanita bukan mahram aku," ucap Wildan tegas dan Jihan mengiyakan.
Wildan memang memperbolehkan sahabat istrinya tinggal di rumahnya, tetapi dia ingin sahabat istrinya itu tahu aturan, dan tak mengganggu privasinya bersama sang istri.
Mereka baru saja sampai di Mall. Wildan memarkirkan mobilnya di parkiran Mall, setelah itu mereka masuk ke Mall. Langkah mereka terhenti, karena ponsel Wildan berbunyi.
"Sebentar aku angkat telepon dulu," ucap Wildan. Wildan langsung melepaskan genggaman tangan istrinya untuk menerima panggilan telepon. Ternyata sang mama yang menghubungi dirinya. Wildan langsung menerima panggilan telepon dari sang mama.
"Assalamualaikum. Iya, Ma. Ada apa?" Tanya Wildan mengawali pembicaraan dengan sang mama.
"Waalaikumsalam. Kamu lagi dimana, Wil?" sahut sang mama.
Wildan mengatakan kalau dirinya, saat ini sedang di Mall bersama Jihan. Mendengar nama menantunya itu, Mama Risma langsung tak suka. Entah mengapa, dia menjadi tak suka dengan menantunya itu. Dia mengecap sang menantu wanita mandul, bahkan dia secara terang-terangan menyuruh Wildan untuk menikah kembali, dan meninggalkan Jihan. Namun, Wildan tetap bersikukuh mempertahankan rumah tangganya dengan Jihan.
"Masih saja belain istri mandul kamu itu," sindir Mama Risma. Tentu saja hal itu membuat Wildan merasa kesal, dia tak suka mendengar sang mama menyebut Jihan wanita mandul. Karena di luaran sana banyak yang seperti dirinya. Lagi pula Wildan yakin, kalau suatu saat nanti cepat atau lambat dirinya dan Jihan akan diberikan keturunan.
"Kalau mama menghubungi aku hanya untuk berdebat yang tak jelas. Lebih baik kita akhiri. Assalamualaikum," ucap Wildan. Wildan memilih langsung mengakhiri panggilan telepon dengan sang mama.
Sudah satu tahun belakangan ini, hubungan Wildan dengan sang mama menjadi renggang. Karena dia tak ingin sang mama terlalu mencampuri urusan rumah tangganya dengan Jihan. Yang menjalani rumah tangganya, dia dan Jihan. Pahit dan manis kehidupan, mereka yang akan merasakan. Wildan pun sangat mencintai Jihan.
Jihan memperhatikan raut wajah suaminya yang berubah. Dia yakin, suaminya pasti seperti itu karena berdebat kembali dengan sang mama. Jihan menjadi tak enak hati, karena semua ini terjadi karena sang suami membela dirinya.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Wildan kepada sang istri. Wildan tampak merangkul tubuh Jihan, dia tak ingin membahas tentang ucapan sang mama. Wildan memilih menutupinya dari sang istri, meskipun sang istri sudah mengetahuinya.
Wildan berusaha untuk bersikap biasa kepada istrinya, meskipun hatinya masih merasa kesal dengan sang mama.
"Aku ingin makan ramen. Kayanya segar makan yang pedes-pedes," ujar Jihan dan Wildan mengiyakan. Tentu saja Wildan menuruti keinginan istrinya, mereka langsung berjalan ke restoran itu.
Kini mereka sudah berada di restoran go*kana tepan. Jihan langsung memesan makanan yang dia inginkan dan juga jus strawberry. Sedangkan Wildan memilih memesan paket bento dengan tambahan beef teriyaki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
yah aemoga saja tdk ada permasalahan dirumahtangga jihan nantinya
2023-07-04
0