"Kamu itu, selalu saja membela istrimu itu! Ingat, kau itu lahir dari rahim mamamu! Apa ini balasan yang kau perbuat untuk mamamu?" Protes Mama Risma.
"Bukan seperti itu, Ma! Hanya saja, aku tak suka melihat mama menyakiti hati Jihan. Bagaimanapun, Jihan itu istri aku. Menantu mama. Tak sepantasnya Mama bersikap demikian kepadanya!" Jelas Wildan. Padahal, selama ini Jihan selalu bersikap baik kepada ibu mertuanya. Meskipun Mama Risma kerap menyakiti hatinya.
"Ya sudah, terserah kamu saja! Mama ingin menginap di sini. Mama ingin berbelanja ke Mall, sudah cukup lama mama tak main ke Mall. Karena kamu tak pernah memberikan mama uang lebih. Kau tau? Uang yang kau berikan itu, hanya cukup untuk biaya makan dan token saja. Itupun harus di irit-irit. Sama mamamu jangan pelit! Ingat, kau itu seperti ini karena doa dari mamamu. Giliran ke istrimu baik. Jangan terlalu memanjakan istri, nanti kamu sendiri yang akan repot," ujar Mama Risma.
Ingin rasanya Jihan mengatakan, kalau uang yang selama ini diberikan suaminya adalah uang darinya. Selama ini, yang mencukupi semuanya itu dia.
Baru saja dia hendak buka suara, Wildan memberi kode menggelengkan kepalanya dengan wajah yang mengiba. Sebagai tanda, dia memohon agar Jihan tak membongkar apa yang sebenarnya terjadi.
"Iya, nanti Wildan tambahkan lagi," rayu Wildan. Dia tak ingin berdebat dengan sang mama, karena berdebat dengan mamanya tak ada gunanya. Mamanya itu selalu ingin menang, tak mau dengar ucapan orang lain.
Wildan mengajak sang mama untuk duduk di sofa yang berada di depan TV, dia juga menyuruh Bi Sumi untuk membuatkan teh manis hangat untuk sang mama. Sedangkan Jihan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia mencoba untuk sabar menghadapi ibu mertuanya.
Wildan menjelaskan, kalau saat ini sedang ada sahabat dari Jihan yang menumpang tinggal di rumahnya. Sampai Melisa mendapat gaji, dan mampu untuk mengontrak. Sang mama tentu saja tak sudi satu kamar dengan sahabat dari Jihan. Saat itu, Melisa sudah berangkat bekerja.
Wildan memanggil sang istri dengan lembut, dia ingin membicarakan hal ini kepada sang istri. Jihan akhirnya menghampiri sang suami, dan duduk di sebelah sang suami.
"Jadi begini, Yang. Mama enggak mau satu ranjang dan satu kamar dengan Melisa. Untuk sementara waktu, Melisa tidur di depan TV saja ya? Tak apa-apa 'kan?" Tanya Wildan.
"Iya, Mas. Nanti aku coba bicarakan sama Melisa," ujar Jihan dan Wildan mengiyakan.
"Jihan, kapan kau memberikan Wildan anak? Ingat, wanita itu dikatakan sempurna itu. Jika sudah berhasil memberikan keturunan untuk suaminya. Dia bisa merasakan hamil, melahirkan, dan juga menyusui. Secantik dan sehebat apapun wanita, jika mandul sama saja tak ada gunanya. Kalian itu sudah mau lima tahun menikah. Pasti kandungan kamu bermasalah. Karena mama yakin, kalau anak mama itu laki-laki yang perkasa," cerocos Mama Risma.
"Cukup Ma! Tolong jangan menyudutkan Jihan. Mungkin, Allah memang masih memberikan kesempatan kami untuk berkarier dan menikmati waktu berdua," sahut Wildan.
"Selama ini, aku sudah mengajak Mas Wildan untuk tes kesuburan. Agar kita tahu tingkat kesuburan kita. Siapa yang bermasalah dalam hal ini? Apa memang aku yang bermasalah atas justru malah mas Wildan. Tolong mama jangan mengecap aku mandul, jika belum tahu kebenarannya!" jelas Jihan, dia merasa tak terima di perlakukan seperti ini.
Wildan tak ingin membahas masalah ini. Untuk mencairkan suasana yang terasa tegang. Wildan mengajak sang mama ke Mall untuk refresing. Padahal, niatnya hari ini dia tak ingin ke mana-mana. Dia hanya ingin menikmati waktu libur bersama istrinya. Jihan pun berniat menyenangi hati sang suami, dengan membuatkan kue, dan memasakkan makanan untuk sang suami.
"Mas, tapi aku sudah masak. Sayang kalau enggak di makan. Jadi mubazir. Bagaimana, kalau kita makan dulu saja. Baru setelah itu ke Mall," ujar Jihan kepada sang suami.
"Kau saja yang makan! Aku tak mau makan masakan kamu. Lagi pula, aku ingin makan makanan yang enak. Kau juga tak usaha geer! Siapa juga yang mau mengajak kamu ke Mall? Kau ini sudah terlalu sering berfoya-foya menghambur-hamburkan uang Wildan. Aku hanya ingin pergi berdua dengan anakku," ucap Mama Risma ketus.
"Ma, salah aku apa si sama Mama? Kenapa Mama selalu bersikap seperti ini padaku? Padahal, selama ini aku selalu bersikap baik sama mama?" Tanya Jihan.
Padahal dulu, saat mereka masih berpacaran. Mama Risma bersikap baik padanya. Hal ini mulai terjadi, saat Jihan tak kunjung memberikan keturunan untuk sang anak.
"Sabar, sayang! Aku yakin, semuanya akan berubah. Jika nanti kita memiliki anak," Wildan mencoba menenangkan sang istri.
"Tapi, Mas. Mama kamu itu begitu kejam padaku. Memangnya, salah aku ini apa padanya? Makanya, Mas itu mau. kalau aku mengajak tes kesuburan. Biar jelas, siapa yang bermasalah. Atau mungkin memang belum di kasih saja," ujar Jihan yang merasa tak terima.
Wildan tetap mengajak Jihan ke Mall, meskipun mamanya merasa tak suka. Jihan sudah terlihat cantik.
"Ayo kita berangkat sekarang!" Ajak Wildan.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju Mall. Sang mama meminta duduk di depan di sebelah Wildan, dan menyuruh Jihan untuk duduk di belakang.
Tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir Jihan. Dia memilih untuk diam selama perjalanan menuju Mall. Sedangkan Mama Risma justru terus saja mengoceh, dia tak sadar kalau anaknya seperti ini karena dukungan dari dirinya.
Setelah menikah dengan Jihan, karier Wildan semakin menanjak. Jihan pun yang banyak membantu perekonomian di dalam rumah tangganya. Setiap bulannya, Jihan yang membayar cicilan rumah itu. Dia juga yang memberikan uang kepadanya. Gaji Wildan hanya cukup untuk membayar cicilan mobil yang dipakai Wildan, dan juga kebutuhan sehari-hari. Jihan membeli mobil dengan menggunakan uangnya sendiri, bukan Wildan yang membelikan.
Kini mereka sudah sampai di Mall. Sang Mama terlihat begitu posesif, dia terlihat menggandeng tangan Wildan. Hingga akhirnya Jihan memilih untuk mengalah berjalan di belakang.
"Mas, kita pisah di sini saja! Mas jalan-jalan saja berdua sama mama. Nanti, kita berkabar saja ya!" Ujar Jihan. Jihan memilih untuk ke salon untuk facial dan juga creambath. Berharap bisa merilekskan pikirannya.
"Mau ke mana istrimu?" Tanya Mama Risma.
"Entahlah! Aku pun tak tahu, Ma. Mungkin, Jihan ingin refresing kali," sahut Wildan.
"Wil, sampai kapan kamu akan mempertahankan istri mandul kamu itu? Kamu sudah memiliki segalanya, Mama yakin kamu akan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik darinya," ucap sang mama.
"Sampai kapanpun, aku hanya ingin Jihan yang menjadi istriku. Meskipun nantinya aku tak bisa memiliki anak," ucap Wildan tegas. Tentu saja Wildan tak akan meninggalkan Jihan, karena selama ini yang menopang hidupnya adalah Jihan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
anonim
mama mertua mulutnya bau comberan wkwkwk
2024-08-20
0
Cuy
Kalo terpisah kayaknya seru, biar tau tuh si mertua, berapa penghasilan Si Wildan.
2024-02-20
2
Samsia Chia Bahir
I2lah knapa adam N hawa slama brRT tak pernah berantem, krn G ada ipar N mertua di antara mrk 😅😅😅😅😅😅😅😅😅😅
2024-01-04
0