Jam alarm di ponsel Jihan sudah berbunyi, tanda Jihan harus membuka matanya. Saat itu jam menunjukkan pukul 03.30 WIB. Jihan berniat untuk sholat tahajud dulu. Jihan tampak tersenyum, kala melihat sang suami yang masih memejamkan matanya. Dia sangat mencintai suami, sudah hampir lima tahun mereka menikah tak pernah sekalipun mereka bertengkar.
Setelah sholat tahajud, Jihan memutuskan untuk mandi, dan bersiap-siap. Setelah selesai sholat subuh, dia akan berangkat ke bandara. Jihan sudah selesai mandi. Sebelum bersiap-siap, Jihan berniat untuk membangunkan ART-nya untuk memberikan uang untuk berjaga-jaga jika ada yang perlu dibeli selama dia tak ada.
Saat itu Wildan masih tidur. Jihan turun ke bawah untuk menemui ART. Saat menuruni anak tangga, dia melihat sang sahabat yang sedang tertidur di sofa depan TV.
"Kenapa perasaan aku enggak enak ya? Ah, enggak mungkin! Aku sangat mengenal Mas Wildan, dan Melisa pun tak mungkin mengkhianati aku. Jangan mikir yang aneh-aneh!" Jihan bermonolog dengan perasaan hatinya.
Dia langsung meninggalkan Melisa, dan fokus pada tujuan awalnya yaitu ke kamar sang ART untuk membangunkannya.
"Bi ... bi!" Jihan mengutuk pintu kamar sang ART sambil memanggil sang ART. Mendengar suara ketukan pintu dan suara majikannya memanggil dirinya. Bi Sumi akhirnya langsung terbangun dari tidurnya, dan beranjak bangkit dari dipan kecil yang berada di kamarnya. Dia langsung membuka pintu kamar.
"Ya bu, maaf saya baru bangun. Ibu dari tadi ya sudah bangunin saya?" Tanya Bi Sumi.
"Iya, tak apa-apa. Justru saya yang minta maaf. Gara-gara saya, bibi tidurnya jadi terganggu. Jadi begini Bi, pagi ini saya harus ke Yogyakarta. Saya enggak tahu di sana sampai berapa hari. Saya minta tolong sama bibi, tolong urus rumah! Selama saya tak ada di rumah. Tolong bibi perhatikan makannya ibu mertua saya dan juga Pak Wildan. Ini saya kasih uang, jika ada yang perlu dibeli. Tadi pagi Bibi sudah belanja 'kan? Berarti hanya tinggal belanja yang kurangnya saja ya," ujar Jihan dan Bi Sumi mengiyakan. Jihan memberikan tiga lembar uang berwarna merah kepada Bi Sumi.
"Oh ya, ibu harus siap-siap berangkat. Nanti, tolong kamu siapkan sarapan pagi ya untuk Ibunya Mas Wildan, Melisa, dan juga Pak Wildan. Ibu soalnya habis sholat subuh berangkat. Nanti supir kantor Ibu tolong suruh tunggu dulu ya, Bi!" Ujar Jihan.
Setelah berbincang dengan Bi Sumi, Jihan berniat kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya yang masih tidur. Jihan melirik ke arah Melisa kembali saat melintas di depannya. Melisa masih tertidur nyenyak.
Jihan sudah berada di kamarnya kembali, kemudian dia membangunkan sang suami untuk sholat bersama. Perlahan, Wildan pun membuka matanya.
"Ayo mas bangun! Mandi dulu, habis itu kita sholat bersama. Aku habis sholat subuh berangkat," ujar Jihan dan Wildan mengiyakan. Dia langsung bangkit turun dari ranjang, untuk segera mandi, dan sholat berjamaah.
Mereka sudah selesai sholat berjamaah, Jihan langsung mencium tangan sang suami. Wildan pun mencium kening sang istri.
"Jaga diri kamu baik-baik! Jangan lupa makan ya! Kalau sempat, jangan lupa telepon Mas ya! I love you," ucap Wildan.
Jihan langsung memeluk tubuh suaminya, dia merasa begitu sangat berat meninggalkan suaminya.
"Aku kok jadi melow begini ya? Rasanya aku berat sekali meninggalkan Mas. Selama aku tak ada di rumah, Mas jangan nakal ya! Tolong jaga kepercayaan aku, jika Mas tak ingin kehilangan aku," ucap Jihan.
Wildan langsung merenggangkan pelukannya, dan kini netra mereka saling bertemu.
"Sudah ya, jangan mikir macam-macam! Memangnya Mas rela kehilangan kamu? Mas tak akan mengkhianati kepercayaan kamu! Mas cinta banget sama kamu," ucap Wildan sambil mencubit hidung sang istri dengan mesra.
"Ya sudah, aku siap-siap dulu ya. Untuk urusan rumah, aku sudah percayakan semuanya sama bibi. Aku sudah memberikan uang belanja ke bibi untuk mengaturnya. Aku juga sudah pesan ke bibi untuk memperhatikan makan kamu, Mama, dan Melisa," ujar Jihan.
"Kamu itu memang seperti malaikat ya? Hati kamu begitu tulus. Bahkan, saat mau berangkat saja. Kamu masih memikirkan sahabatmu itu dan juga mama. Padahal, mama selalu menyakiti hati kamu," ucap Wildan.
"Iya, semoga saja mama bisa berubah seperti dulu lagi ke aku. Jujur, aku sedih banget. Memangnya salah aku ini apa?" Ungkap Jihan.
Obrolan mereka harus terhenti, karena sang ART sudah mengetuk pintu, dan mengatakan kalau supir kantor sudah menunggunya.
"Sudah, enggak usah dipikirkan ya! Lebih baik kamu fokus sama pekerjaan kamu, biar kamu cepat pulang. Jangan tinggalkan Mas lama-lama ya!" Ucap Wildan dan Jihan menganggukkan kepalanya.
Jihan langsung bersiap-siap untuk berangkat. Setelah itu dia turun dengan di dampingi sang suami. Wildan tampak menarik koper sang istri dan menggandeng sang istri dengan mesra.
Mendengar suara Jihan dan Wildan berbicara, dan juga sang ART. Tidur Melisa menjadi terusik, dia mengintip. Membuka matanya sedikit, ingin tahu apa yang terjadi.
"Bagus deh Jihan mau berangkat. Itu tandanya, aku sudah bisa mendekati Mas Wildan," ucap Melisa dalam hati.
Wildan mengantarkan sang istri hingga depan.
"Mas, aku berangkat ya! Assalamualaikum," ucap Jihan kepada sang suami. Jihan mencium tangan suaminya.
"Iya, hati-hati ya sayang. Kabarin Mas ya, kalau sudah sampai," ucap Wildan. Wildan melabuhkan kecupan di kening sang istri.
Jihan naik ke mobil, kemudian melambaikan tangannya dari dalam mobil. Wildan pun melakukan hal yanga sama, melambaikan tangannya sampai mobil yang membawa Jihan pergi meninggalkan rumah.
Setelah itu, Wildan langsung masuk ke dalam rumah. Alangkah terkejutnya Wildan, saat diberikan pemandangan yang membuat dirinya terkejut. Melisa berpura-pura tidur, dengan posisi daster yang tersingkap sampai atas. Menunjukkan paha dan area sensitif Melisa yang di tutupi kain segitiga. Sampai-sampai Wildan istighfar. Wildan langsung pergi begitu saja, dia langsung ke kamarnya.
"Gila itu cewek, tidur kok begitu," ucap Wildan.
Melisa tersenyum. Dia pikir, rencananya berhasil. Pasti Wildan tergoda. Dia menjadi tak sabar untuk menunggu malam datang. Melisa sudah menghayal, bercinta dengan Wildan. Terlebih dia sudah sangat merindukan sentuhan seorang laki-laki.
Melisa bangun, dan langsung ke kamar mandi. Untuk mandi dan berdandan cantik. Dia berniat untuk menggoda Wildan.
"Mengapa perasaan aku tak enak ya? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku seperti ini ya?" Jihan bermonolog. Dia merasa seperti sebuah firasat, yang menunjukkan sesuatu kepadanya.
"Sudah Bi, biar saya saja yang menyiapkannya," ucap Melisa kepada Bi Sumi. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk Wildan dan Mama Risma. Wildan sudah terlihat rapi, dan akan berangkat ke kantor.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
tenagkan saja pikiran kamu jihan kalau jodoh nggak kemn, kalau memang kalau ada terjadi sm wildan selama nggak dijebak wildan bs dipercaya
2023-07-05
1