Suara azan subuh di ponselnya sudah berbunyi, tanda dirinya harus membuka matanya. Jihan bergegas untuk bangun dan menunaikan ibadah sholat subuh. Jihan tampak membangunkan sang suami untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Perlahan, Wildan pun membuka matanya. Seutas senyuman terbit di sudut bibirnya, saat dirinya melihat wajah cantik istrinya.
"Ayo kita sholat berjamaah yuk!" Ajak Jihan. Jihan sudah mandi dan hanya tinggal sholat subuh. Setelah itu, dia berencana untuk langsung masak makanan untuk sarapan pagi.
Setelah Wildan selesai mandi, mereka langsung sholat berjamaah.
"Mas, aku masak dulu ya untuk sarapan," ujar Jihan dan Wildan mengiyakan. Jihan langsung meninggalkan sang suami untuk memasak, sedangkan Wildan memilih menonton TV di kamarnya. Sebenernya, Wildan merasa risih ada wanita lain di rumahnya. Namun, dia tak mungkin mengecewakan istrinya. Hingga akhirnya mau tak mau dia menerima sahabat istrinya itu di rumahnya.
Melisa baru saja membuka matanya, sedangkan sang sahabat justru baru saja selesai memasak untuk sarapan mereka. Sahabat yang tak tahu diri. Menumpang hidup, dan ingin hidup enak. Harumnya wangi masakan membuat perut Melisa terasa lapar.
Dia keluar dari kamarnya, dan melihat sang sahabat yang sedang menyusun makanan. Jihan sengaja masak pagi-pagi, karena dia ingin membawa bekal untuk makan siang di kantor. Suaminya juga meminta dibawakan bekal olehnya untuk makan siang di kantor. Wildan selalu ingin makan masakan istrinya.
"Ta, maaf ya aku enggak bantuin kamu masak. Kamu sudah selesai masak, aku malah baru bangun tidur. Badan aku rasanya remuk banget, lelah banget. Ini saja aku sampai belum ganti pakaian, kemarin langsung tidur," ucap Melisa.
"Iya, enggak apa-apa Mel. Aku sudah terbiasa seperti ini. Kalau aku di rumah, Mas Wildan selalu meminta aku masak. Membuatkan makanan untuknya. Ya sudah cuci muka sana! Kita makan bersama, aku mau panggil Mas Wildan dulu untuk makan. Aku ke atas dulu ya," ujar Jihan dan Melisa menganggukkan kepalanya.
Jihan langsung masuk ke kamarnya, dan ternyata sang suami sudah bersiap-siap untuk berangkat. Wildan sudah terlihat keren dan mempesona.
"Wah, mas sudah rapi. Aku siap-siap dulu deh. Habis ini kita makan sarapan pagi bersama. Oh iya, aku sudah menyiapkan bekal untuk kamu makan siang nanti," ujar Jihan dan Wildan mengiyakan.
Wildan terlihat memakai dasi yang warnanya senada dengan kemeja tangan panjangnya. Dia menggulung sedikit kemeja, membuat penampilannya terlihat keren. Dia juga menggunakan jam tangan Rolex untuk menunjang penampilannya.
Jihan pun sudah terlihat cantik, meskipun hanya menggunakan lipstik berwarna peach dan juga bedak. Mereka turun bersama menuju meja makan.
Melisa begitu terpesona melihat penampilan suami sahabatnya itu. Terlebih Wildan terlihat dingin, membuat dia semakin tergoda untuk menggoda suami sahabatnya itu.
"Ayo Mel, kita makan!" Ajak Jihan.
Pagi ini Jihan membuat balado kentang di tambah udang, tumis kacang panjang di tambah dengan tempe. Melisa mencuri-curi pandang melihat Wilda yang makan begitu lahap. Tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir Wildan. Wildan seperti ini bukan karena dia sombong, tetapi karena dia mencoba menjaga jarak dengan sahabat istrinya itu.
"Oh iya, Mel. Nanti kamu masuk jam berapa? Nanti kamu pesan ojek online saja ya! Soalnya aku sama Mas Wildan mau berangkat kerja. Kemungkinan aku pulang malam, soalnya aku harus buat laporan hasil audit kemarin di Surabaya. Kamu kalau mau makan, nonton TV, atau apapun silahkan saja! Tak perlu sungkan!" Ujar Jihan kepada Melisa, Melisa menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai makan, Jihan pamit berangkat. Jihan dan Wildan pergi menggunakan mobil masing-masing. Melisa tampak memperhatikan kemesraan sahabatnya itu dengan suaminya. Saat Wildan memberikan kecupan di pucuk kepala dan kening Jihan. Jihan pergi lebih dulu, setelah itu barulah Wildan.
Mobil Jihan dan Wildan sudah keluar dari parkiran rumahnya. Mereka langsung melajukan kendaraannya menuju kantor masing-masing
"Enak banget ya jadi Jihan. Bisa nyetir mobil sendiri, punya rumah yang bagus, punya suami yang tampan dan keren, punya uang banyak. Andai aku jadi istrinya Mas Wildan, pasti aku bisa merasakan seperti Jihan," ucap Melisa dalam hati. Saat ini dia sedang duduk di teras depan rumah Jihan. Bisa-bisanya dia terpikir untuk menjadi istrinya Wildan.
Melisa baru teringat, kalau dia belum menghubungi sang anak. Dia langsung melihat jam di jam dinding yang terpasang di dinding ruang tamu Jihan.
"Masih ada waktu. Aku hubungi Mawar dulu deh, sebelum Mawar berangkat ke sekolah. Pasti dia sudah menunggu telepon dari aku," ucap Melisa.
Melisa langsung masuk ke kamarnya, untuk mengambil ponselnya. Kemudian langsung menghubungi nomor telepon ibunya, untuk berbicara dengan sang anak.
"Assalamualaikum, Bu. Aku sudah sampai di Jakarta. Mawar ada, Bu? Aku ingin bicara sama Mawar," ucap Melisa di panggilan telepon dengan sang ibu.
Sang ibu langsung memanggil Mawar, dan mengatakan kalau sang mama menghubungi dirinya. Saat itu Mawar sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Dia sedang memakai sepatu.
Mawar terlihat senang, saat melakukan panggilan video dengan sang mama.
"Mana lagi di mana? Rumahnya bagus Ma," ucap Mawar.
"Mama lagi di rumah Tante Jihan. Kamu mau, punya rumah seperti ini?" Ujar Melisa kepada sang anak.
Tentu saja Mawar tak akan menolaknya, dia pasti sangat senang. Jika nantinya sang mama bisa membeli rumah yang bagus seperti rumah Tante Jihan.
"Doakan mama ya sayang! Semoga, mama bisa mewujudkan keinginan kamu memiliki rumah yang bagus," ucap Melisa kepada sang anak.
"Sebenarnya, tanpa doa dan kerja keras. Aku bisa memiliki semua ini. Cukup menjadi istri Mas Wildan," ucap Melisa tersenyum licik.
Melisa tak tahu, kalau semua ini bukan hanya harta kekayaan Wildan saja. Semua ini karena ada andilnya sang sahabat. Penghasilan Jihan sebagai seorang auditor, tentu saja cukup besar. Lagi pula, tempat Jihan bekerja adalah kantor akuntan publik besar. Berbeda halnya dengan Wildan yang hanya bekerja di perusahaan biasa, meskipun posisinya saat ini adalah seorang Manager marketing.
Tujuannya Melisa ke kota Jakarta, adalah untuk mengubah nasibnya menjadi lebih baik lagi. Tentu saja dia tak akan melewati kesempatan ini. Dia ingin memiliki segalanya.
Setelah mengakhiri panggilan telepon dari sang anak. Melisa memutuskan untuk bersantai menonton TV. Gayanya seperti Nyonya besar saja di rumah itu, dengan kaki diletakkan di atas meja. Bahkan tingkahnya melebihi sang sahabat. Hal itu membuat sang ART geleng-geleng kepala. Sang ART melihat gelagat yang tak baik pada Melisa.
"Semoga saja, ini semua hanya perasaan aku saja. Kasihan kalau benar sahabatnya itu jahat, Ibu Jihan wanita yang baik. Dia sangat baik kepada sahabatnya itu," ucap Bi Sumi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
anonim
bener tuh bi Sumi teman majikanmu calon pelakor
2024-08-20
1
Samsia Chia Bahir
Smuax trgantung suami azzzz 😆😆😆😆😆
2024-01-04
0
Pia Palinrungi
aduhb melisa sadar nggak kalau kamu hanya menumpang, jgn sampai jihan mengusirmu
2023-07-04
0