Saat itu jam 01.00 pagi, Mama Risma terbangun karena ingin buang air kecil. Dia harus keluar dari kamar, karena di dalam kamar tak ada kamar mandi.
Dia melihat Melisa yang tertidur nyenyak, saat dia keluar dari kamar, dan melewati tempat Melisa tidur.
"Oh, jadi ini temannya si Jihan? Bisa ini dimanfaatin ini untuk menggoda Wildan, agar si Wildan akhirnya menceraikan si Jihan," ucap Mama Risma dalam hati.
Mertua laknat dan mama tak baik yang tega memisahkan anaknya dari istrinya. Padahal, dia tahu kalau sang anak sangat mencintai istrinya. Harusnya dia senang, melihat rumah tangga anaknya harmonis. Sedangkan dia justru berniat menghancurkannya.
Suara adzan sudah berkumandang, sudah saatnya Jihan membuka matanya untuk mandi, sholat, memasak, dan juga bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Meskipun mertuanya jahat, Jihan tak pernah membalas mertuanya dengan jahat. Bahkan pagi ini dia berniat untuk memasak makanan untuk mereka makan.
"Mas, bangun yuk! Kita sholat!" Jihan mencoba membangunkan suaminya, untuk mengajaknya sholat.
"Ya sudah, kamu dulu saja yang mandi! Nanti aku gantian habis kamu," sahut Wildan. Mata Wildan masih terasa berat. Dia masih ingin bermalas-malasan.
Jihan terlihat sedang membaca Al-Quran, sambil menunggu suaminya selesai mandi. Setelah itu mereka sholat subuh berjamaah. Seperti biasa, setelah sholat berjamaah. Jihan langsung turun ke bawah untuk memasak. Bi Sumi sudah setia untuk membantunya.
"Bu, itu teman ibu enggak pernah sholat ya?" Tanya Bi Sumi kepada Jihan.
"Iya, Bi sepertinya saya perhatikan. Tapi, saya mau menegurnya enggak enak. Takut tersinggung, urusan masing-masing saja," sahut Jihan.
Hari ini Jihan membuat capcay, mie goreng, dan balado telur. Makanan sudah matang, dan tersusun di meja makan. Jihan langsung naik ke atas lagi, menemui suaminya di kamar.
"Mas, mau makan sekarang?" Tanya Jihan kepada sang suami.
"Kita siap-siap dulu saja! Nanti sarapannya, sekalian kita berangkat saja," ujar Wildan dan Jihan setuju. Dia langsung berganti pakaian, memakai bedak dan lipgloss, kemudian memakai jilbab.
Mama Risma baru bangun, dan dia langsung ke luar kamar. Dia harusnya bersyukur memiliki menantu seperti Jihan. Sudah cantik, pintar cari uang, sholeha, pintar masak. Hanya saja, disuruh bersabar untuk memiliki anak.
"Ada mertua, masaknya begitu. Dasar pelit, punya uang banyak memperkaya diri sendiri. Giliran enggak ada mertua, makan-makanan enak. Semakin gemes saja aku sama si Jihan." Mama Risma mengumpat menantunya. Begitulah, kalau orang enggak bersyukur. Dia juga selalu berpikir buruk kepada sang menantu.
Jihan dan Wildan menuruni anak tangga, mereka sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Ma, sarapan bersama yuk! Jihan sudah masak," ujar Wildan.
"Sepertinya, istri kamu itu tak suka ada mamamu di sini. Dia sengaja memberikan makanan enggak enak, agar mamamu tak betah, dan segera pulang," ucap Mama Risma ketus membuat mata Jihan membulat sempurna.
"Aku tak habis pikir sama mama, kok bisa ya mama berpikir picik tentang aku? Mama tahu enggak? Aku sampai bela-belain bangun pagi dan memasak. Biar semua yang ada di rumah ini bisa makan. Padahal, aku bisa saja langsung berangkat bekerja tanpa memikirkan kalian. Oh, jadi makan makanan begini enggak enak ya? Hanya karena aku buat telor, enggak masak daging, dan juga ayam? Harusnya mama bersyukur, masih bisa makan. Banyak di luaran sana yang enggak bisa makan, mereka harus berjuang keras untuk bisa makan. Ini mie goreng bukan sekadar mie goreng ma, aku tambahkan telor, baso, dan juga udang. Capcay ini pun lengkap dengan macam-macam sayuran, aku juga menambahkan baso di dalamnya. Meskipun makanan ini hanya makanan sederhana, tetapi insya Allah rasanya nikmat. Makanya, jangan asal ngomong dulu! Mama saja belum mencicipinya. Aku tak akan memaksa, jika mau mau makanan aku alhamdulillah. Kalau tidak pun, tidak masalah! Aku tak akan memaksa. Niat aku baik, tapi kalau mama berpikir jelek. Silahkan saja!" Ungkap Jihan tegas.
Dia sudah tak mampu membendung perasaannya lagi. Hingga sampai meledak seperti ini. melisa jadi terbangun, karena mendengar pertengkaran Jihan dengan Mama Risma. Mama Risma langsung pergi meninggalkan Jihan ke kamar. Entah dia merasa malu, ataukah merasa tak terima.
Wildan langsung memeluk tubuh sang istri, mencoba menenangkan.
"Sabar ya, Sayang! Ya sudah, kita makan saja yuk! Nanti yang ada kita kesiangan berangkat bekerjanya. Nanti juga, kalau mama lapar. Pasti dia makan. Sudah, enggak usah dipusingkan Yang," ujar Wildan mencoba menenangkan.
Wildan tak ada sedikitpun peduli dengan kehadiran Melisa. Bahkan dia tak menawarkan Melisa makan.
"Wah ... wah ... wah. Bagus ini. Kesempatan emas bagiku untuk menggoyangkan pernikahan Jihan dengan Wildan. Sepertinya, mertuanya Jihan tak menyukai Jihan. Ini kesempatan buat aku, untuk mengambil hatinya," ucap Melisa tersenyum licik.
"Mel, ayo sini makan sama-sama!" Ajak Jihan.
"Iya, Ta. Nanti saja, aku belum lapar. Lagi pula, aku baru bangun tidur banget," sahut Melisa.
"Mas Wildan cuek banget sama aku. Lihat saja nanti! Aku akan buat kamu tak berkutik, hingga akhirnya kamu meninggalkan Jihan," ucap Melisa dalam hati.
Sebelum berangkat, Jihan memberikan sang ART sebesar tiga ratus ribu rupiah, untuk belanja bahan-bahan untuk memasak. Jihan tak peduli mertuanya merasa tak suka dengan menu makanan yang dia masak. Baginya yang terpenting, dia sudah menyiapkan makanan. Menjalankan tugasnya sebagai menantu yang baik, meskipun pada akhirnya dia selalu dianggap buruk oleh ibu mertuanya.
Jihan pamit kepada Melisa, sedangkan Wildan pamit kepada sang mama. Setelah itu mereka pergi bersama. Dengan sombongnya, Mama Risma menolak Jihan yang berniat mencium tangannya.
"Astaghfirullah. Ya Allah, aku mohon padamu! Tolong kuatkan aku dalam menghadapinya. Aku mohon, tolong sadarkan dia! Tunjukkan padanya, bahwa yang dia ucapkan itu, menyakiti hatiku," ucap Jihan dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
anonim
Mertua tidak layak dihargai ini
2024-08-20
1
Cuy
Huhh, dasar mertua tak tau diuntung.
2024-02-20
2
👸 Naf 👸
mertua lucknut mmg, smoga anak2 aku ga punya mertua kek gitu nantii
2024-01-14
0