"Ma, maaf aku enggak bisa beliin semua yang mama mau. Aku harus ada tabungan untuk cadangan, takut ada kebutuhan darurat. Lagian, aku 'kan sudah kasih mama 5 juta. Itu saja Jihan tak tahu. Selama ini, aku hanya memberi gaji pokok saja. Untuk bonus, aku simpan untuk keperluan aku pribadi," ungkap Wildan.
"Ya, bagus dong kalau seperti itu! Bagus, kalau otak kamu bisa berpikir seperti itu. Lagian, istri kamu itu 'kan kerja. Sering keluar kota juga, pasti uang sakunya besar. Suruh bantu kamu juga 'lah! Masa iya, kamu semua yang nanggung," sahut sang mama.
Bukannya, sang mama mengajarkan sang anak berbuat jujur kepada istri. Dia justru, mendukung perbuatan tak baik anaknya.
"Ya, sudah! Tapi nanti, kalau kamu dapat bonus lagi. Kamu belanjakan mama lagi ya! Mama juga 'kan ingin punya barang-barang yang bagus. Masa iya, anaknya manager mamanya seperti orang susah. Ingat, mama dulu mengeluarkan biaya tak sedikit untuk menguliahkan kamu. Sekarang, sudah saatnya kamu membayarnya," ucap sang mama dengan tak tahu malunya, dan Wildan menganggukkan kepalanya.
"Wil, mama ingin makan steak," pinta sang mama.
"Ya sudah ayo! Aku mau coba hubungi Jihan dulu ya, dia ada di mana," sahut Wildan.
"Kita berdua saja! Palingan si Jihan juga sudah makan duluan," ujar sang mama.
Namun, Wildan tetap menghubungi sang istri untuk mengajak makan steak. Untungnya, Jihan sudah selesai facial dan creambath. Dia berjanji akan menyusul sang suami. Mama Risma terlihat tak suka, karena sang anak tetap mengajak sang istri.
Padahal dulu Mama Risma menyetujui Wildan menikah dengan Jihan. Namun, sekarang-sekarang ini dia menjadi tak suka dan merasa iri dengan Jihan. Semenjak Wildan diangkat jabatannya menjadi manager, mereka bisa membeli rumah, mobil, Jihan juga menyetir mobil sendiri, ditambah Jihan belum juga hamil sampai sekarang. Mama Risma, merasa kalau Wildan lebih menyayangi Jihan, dan lebih memperhatikan Jihan. Dia juga merasa, sikap anaknya kepadanya berubah, yang lebih berat kepada istrinya. Padahal, Mama Risma salah. Dia seperti itu, karena sekarang dia memiliki pikiran buruk tentang Jihan.
Wildan sudah sampai di restoran lebih dulu. Dia langsung memesan tiga porsi steak. Tiga botol air mineral untuk mereka. Jus strawberry untuk sang istri. Jihan sangat suka jus strawberry, Wildan sangat tahu itu.
Tak lama kemudian Jihan pun datang, dia langsung mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan sang suami. Karena sang ibu mertua duduk di sebelah sang suami. Sang mertua terlihat memperhatikan dirinya sejak datang yang tak membeli apapun. Meskipun dia memiliki uang berlebih, Jihan selalu mengatur keuangannya dengan baik. Dia sengaja menyimpan uang, untuk tabungan anaknya nanti. Dia tak pernah menghambur-hamburkan uang.
"Kamu tadi dari mana, Yang?" Tanya Wildan kepada sang istri. Jihan berusaha bersikap biasa, dia tahu kalau sang ibu mertua memperhatikan dia.
Jihan memang cantik alami, meskipun tak dandan dia akan terlihat cantik. Dia pun pintar memilih pakaian, berpenampilan modis. Sang ibu mertua merasa iri, dengan menantunya. Sedangkan Mama Risma dari segi kulit saja sudah berbanding terbalik sama Jihan. Mau dandan seperti apa, tetap saja tak biasa saja. Mau pakai baju mahal apapun, terlihat biasa saja. Makanya, dia merasa bangga memiliki anak yang tampan. Wildan memang tampan dan postur tubuhnya juga bagus.
"Aku tadi ke salon, habis facial sama creambath. Biar agak rileks. Wajah sama otak rasanya tegang banget mikirin pekerjaan," sahut Jihan. Jihan berusaha untuk tak peduli, meskipun wajah mertuanya sejak tadi sudah seperti singa. Karena bagi Jihan, dia seperti itu pun dengan uang sendiri. Tanpa harus meminta kepada suaminya.
Jika Jihan mau pisah dengan Wildan pun, dia tak akan bingung. Karena rumah pun kalau Jihan tak bayar, mereka tak akan memiliki rumah. Apa yang Jihan lakukan saat ini, hanya semata-mata masih menghargai suaminya, dan dia mencintai suaminya. Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Jihan dan Wildan berada di kamar, setelah sholat magrib mereka memutuskan untuk berduaan di kamar.
"Oh iya, aku lupa belum ngabarin Melisa. Mau ngasih tahu ada mama kamu. Apa dia tidur di atas saja ya pakai kasur lipat?" Ujar Jihan.
"Jangan di atas deh! Aku risih, kalau nanti kamu lagi enggak ada atau belum pulang. Sudah suruh tidur di depan TV saja. Mama juga pasti enggak akan lama kok. Hanya beberapa hari, pulang paling," jelas Wildan dan Jihan mengiyakan.
Jihan akhirnya mengirimkan pesan chat kepada Melisa.
"Assalamualaikum. Mel, sebelumnya aku ingin meminta maaf sama kamu. Di rumah lagi ada mamanya Mas Wildan. Dia tidur di kamar yang selama ini kamu tempati. Jadi untuk sementara waktu, kamu tidur di depan TV dulu ya! Sampai mamanya Mas Wildan pulang. Enggak lama kok Mel, hanya beberapa hari saja. Maaf ya Mel, soalnya dia enggak mau tidur bareng orang." Pesan Jihan untuk Melisa.
Melisa belum membalasnya, karena selama bekerja. Dia tak diperbolehkan bermain ponsel. Mama Risma sudah tidur di kamar bawah. Jihan dan Wildan pun sudah mau tidur.
Jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, Melisa baru saja selesai bekerja, dan berjalan ke loker. Dia langsung mengambil tasnya, dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dia membaca pesan dari Jihan.
"Huhft, gini deh kalau numpang. Harus siap tidur di mana saja. Makanya, aku harus segera memiliki tumpuan hidup. Agar aku bisa ada tempat tinggal. Eh, tunggu-tunggu! Jihan bilang, lagi ada mamanya Mas Wildan. Wah, kesempatan dong untuk ngedeketin calon ibu mertua. Sambil menyelam minum air. Mengejar anaknya, mendekati ibunya juga. Ya, ide bagus ini," ucap Melisa menyeringai licik.
Melisa memutuskan untuk pulang. Dia langsung memesan ojek online. Melisa akan mencari celah untuk bisa mendekati keduanya. Dia berniat merebut Wildan dari sahabatnya. Jalan pintas untuk hidup senang, memiliki segalanya. Dia tak peduli meski harus menyakiti hati sahabat yang telah menolongnya. Padahal, jika bukan Jihan yang menolongnya. Dia tak akan bisa seperti ini. Bahkan untuk biaya kerja pertama saja, Jihan yang memberikan dia modal. Sungguh keterlaluan.
Melisa baru saja sampai di rumah. Seperti biasa, rumah selalu sudah sepi. Matanya kini mengarah ke tas yang berisi barang-barang miliknya yang berada di dekat sofa ruang TV.
"Sabar Mel, semua akan indah pada waktunya. Jihan enak bisa tidur nyaman di kamarnya," ucap Melisa dalam hati. Padahal dari dulu juga sudah seperti itu. Dia hidup di kampung hidup sangat sederhana, dan Jihan merasakan saat ini berkat kerja kerasnya selama ini. Melisa pikir, memangnya Jihan tak pusing bekerja menjadi seorang auditor. Pikiran dan waktunya terkuras, dia juga harus mengorbankan belum memiliki anak dan harus meninggalkan suami jika ada tugas keluar kota. Jihan pun harus terpisah dari kedua orang tuanya, sejak dia kuliah dan bekerja. Ada harga untuk pencapaian yang Jihan miliki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Isna Vania
kl mamah nya Wildan tw , gaji nya besaran istrinya Wildan , Jihan , mungkin mama Wildan bakalan malu, secara dya sering menghina nd merendahkan mantu nya 🙄
2025-01-15
0
Alanna Th
wildan bnr" tega tdk mmberitahu ibunya kbaikn jihan pd mrk, agar ma"nya malu ngritik gs pd tmptnya. smoga jihan tdk lemah krn cintanya dkhianati
2025-01-06
0
Pia Palinrungi
aduhh mamah, kalau kamu tahu rumah sm biaya sehari2 jihan yg tanggung
meliaa bener2 nggak punya hati, kalau terjadi apa yg melisa inginkan kamu tdk akan bahagia kamu akan menderita nantinya krn apa yg kamu saoatkan nanti dgn cara merebut taka akan bahagia
2023-07-04
2