"Assalamualaikum, Mas. Aku sudah sampai di Surabaya. Mas sudah berangkat bekerja?" Tanya Jihan kepada sang suami.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah, sudah. Ini aku baru saja sampai di kantor. Syukurlah kalau kamu sudah sampai dengan selamat. Mas jadi tenang di sini. Selamat bekerja ya sayang. I miss you," sahut Wildan kepada sang istri.
"I miss you too. Rasanya aku jadi mau pulang. Baru beberapa jam berpisah, aku sudah merindukan mas," ujar Jihan sambil terkekeh.
Meskipun usia pernikahan mereka sudah berjalan hampir lima tahun, mereka selalu harmonis. Rasa cinta keduanya semakin lama, semakin besar. Meskipun sang buah hati tak kunjung hadir.
"Ya sudah, mas meeting dulu ya sayang. Kamu juga kerjanya semangat ya," ucap Wildan mengakhiri panggilan dengan sang istri. Jihan pun akan langsung ke kantor yang akan di audit, tadi dia sempat mampir ke hotel dulu untuk menaruh koper miliknya.
Mereka fokus dengan kesibukan masing-masing. Bersikap profesional dalam bekerja. Jihan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin. Agar dia bisa segera kembali ke Jakarta.
Melisa sahabat pun sudah mulai packing barang-barangnya yang akan dia bawa ke Jakarta. Dia berharap, kehidupannya akan membaik. Semua dia lakukan demi sang buah hati untuk tetap bisa bersekolah.
"Nanti, kalau mama sudah hidup enak. Mawar ikut ke Jakarta ya sama mama. Mawar ingin tahu kota Jakarta. Mawar ingin main ke Mall, makan-makanan yang enak, dan bisa ke obyek wisata di Jakarta," ujar Mawar sang anak.
"Iya, sayang. Doakan mama ya, semoga mama bisa dapat uang yang banyak! Bisa membahagiakan kamu. Sekarang, Mawar sama nenek dulu ya di sini. Jangan nakal, jangan buat nenek pusing! Hari Sabtu malam, mama berangkat ke Jakarta naik kereta," ucap Melisa sambil mengusap rambut sang anak dengan lembut.
Demi masa depan yang lebih cerah, Melisa terpaksa meninggalkan kampung halaman, dan putri semata wayangnya. Dia mencoba mengadu nasibnya di kota Jakarta.
"Bu, aku titip Mawar ya selama aku bekerja di Jakarta! Nanti, setiap bulan aku kirim uang untuk ibu dan juga Mawar. Doakan aku ya Bu, semoga cita-cita aku terkabul untuk membahagiakan Ibu dan Mawar," ucap Melisa.
"Bagus kalau gitu! Masa iya mau jadi orang susah terus! Tuh lihat si Jihan sahabat kamu, hidupnya beruntung. Sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus, suaminya juga mapan. Cari suami itu model suaminya si Jihan, jangan mau makan cinta saja. Jadinya begini 'kan, hidup kamu susah," cerocos sang ibu dan Melisa hanya menganggukkan kepalanya. Dia hanya bisa bersabar, saat sang ibu mulai membandingkan dirinya dengan sahabatnya itu.
Karena, apa yang diucapkan sang ibu memang benar. Hidup berumah tangga itu tak hanya butuh cinta, perut pun butuh makan. Belum lagi, kebutuhan hidup sekarang sangatlah banyak. Tak butuh uang sedikit. Dua tahun lagi sang anak pun harus masuk SMP, pastinya Melisa butuh uang yang banyak.
"Dari dulu ibu selalu saja membanggakan Jihan, dibandingkan aku anaknya sendiri. Padahal, hidup Jihan pun tak sempurna. Dalam urusan harta dunia memang dia memiliki segalanya, tetapi dalam urusan anak dia sulit memiliki anak. Tak seperti aku, tak lama menikah langsung diberikan keturunan," ucap Melisa lirih.
Hubungan Melisa dan Jihan memang sangat akrab. Jarak rumah mereka pun hanya beda empat rumah. Sejak dulu, Jihan memang selalu unggul darinya. Bukan hanya pintar, Jihan juga menjadi bunga desa di kampungnya. Bahkan sekarang, suaminya pun memiliki pekerjaan yang mapan. Wildan pun memiliki wajah yang tampan, sangat serasi dengan Jihan yang cantik.
Malam pun tiba, Jihan sudah berada di hotel, dan Wildan pun sudah sampai di rumah. Saat ini dia sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Mereka kini sedang melakukan panggilan video.
"Yang, mas kangen. Si otong kangen ini, sejak tadi bangun terus. Hanya mencium wangi tubuh kamu saja yang menempel di sprei, dia sudah merindukan kamu lagi," ungkap Wildan.
"Ya ampun, Mas. Semalam kita 'kan baru melakukannya," sahut Jihan, menampakkan senyuman di sudut bibirnya.
"Bagaimana mas bisa tahan, punya istri yang cantik dan seksi. Lagipula, memangnya mas salah kalau menginginkan sama istri sendiri. Kecuali, mas selingkuh. Melakukannya sama wanita lain," jelas Wildan dan Jihan hanya senyum-senyum. Dia percaya suaminya tak akan melakukan hal itu kepadanya. Meskipun saat ini dia belum memberikan keturunan untuk suaminya. Jihan dapat merasakan, kalau suaminya begitu mencintai dirinya.
Perbincangan mereka malam ini sangat panjang, seperti malam-malam sebelumnya. Saat mereka harus terpisah jarak. Perbincangan mereka harus berakhir, karena kedua mata mereka mulai meredup.
"Yang, kita tidur yuk! Mas ngantuk, besok pagi kita 'kan harus beraktivitas lagi. Selamat tidur istri aku yang cantik, have a nice dream. I love you. Semoga, esok hari lebih baik lagi," ucap Wildan.
"I love you, my husband. Assalamualaikum," ucap Jihan.
"Waalaikumsalam." Mereka mengakhiri panggilan video.
Hari yang di nanti telah tiba. Setelah berpisah selama tiga hari, hari ini Jihan akan kembali ke Jakarta. Dia sudah tak sabar, ingin segera bertemu suaminya. Jihan berangkat naik pesawat pukul 16.30 WIB. Penerbangan dari Surabaya ke Jakarta membutuhkan waktu satu jam 30 menit. Jihan pulang lebih awal dari rencananya. Hari Jumat sore dia sudah bisa pulang ke Jakarta.
Demi bisa menjemput istri tercintanya, Wildan rela meninggalkan pekerjaannya. Dia tak ingin lembur, dia pulang sesuai jam pulang kerja. Tepat pukul 17.00 WIB, Wildan bergegas untuk pulang dari tempatnya bekerja. Karena dia harus sampai di bandara pukul 18.00 WIB.
"Aku sudah sampai di bandara ya, Sayang," Tulis Wildan di pesan chat. Saat sang istri nanti mengaktifkan ponselnya, dia bisa membaca pesan chatnya.
Pesawat yang Jihan tumpangi, sudah mendarat sempurna di bandara soekarno-hatta. Setelah turun dari pesawat, Jihan langsung mengaktifkan ponselnya. Seutas senyuman terbit di sudut bibirnya, kala membaca pesan chat yang dikirim suaminya. Meskipun hanya sebuah pesan chat sederhana.
Jihan berjalan mencari keberadaan suami. Celingak-celinguk mencari keberadaan suaminya, dan suaminya justru mengumpet untuk memberi kejutan kepada sang istri. Dari jauh Wildan sudah tersenyum melihat istri cantiknya. Sebelum ke bandara, dia mampir ke toko bunga untuk membelikan buket bunga mawar untuk sang istri.
"Mas Wildan kemana ya? Katanya sudah sampai, sudah menunggu di dekat bagian informasi. Tetapi kok enggak ada ya? Aku coba hubungi ponselnya dulu deh," Jihan bermonolog.
Baru saja Jihan hendak menghubungi suaminya, Wildan datang dari arah berlawanan. Dia menghampiri sang istri secara diam-diam, dan menutup mata sang istri dengan tanganya dari belakang. Tentu saja Jihan sangat tahu, siapa yang melakukannya. Wangi parfum suaminya, sangat dia kenal.
"Mas Wildan? Ya ampun mas, pakai begini segala," ucap Jihan. Yang tampak melebarakan senyuman.
Wildan melepasakan tangannya, dan Jihan membalikkan tubuhnya. Kini posisi mereka saling berhadapan. Wildan langsung memberikan bucket bunga untuk sang istri.
"Ya ampun Mas, kamu itu so sweet banget si. Selalu tak bosan, memberikan aku surprise. Makasih ya Mas, aku suka. Membuat aku semakin cinta sama Mas," ungkap Jihan dan Wildan menganggukkan kepalanya. Keduanya terlihat begitu bahagia, Wildan selalu bersikap romantis kepada Jihan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Windarti08
cita-citanya sih mulia... ingin membahagiakan Ibu dan putrinya, tp kenyataannya ntar malah jadi pelakor dan nikung sahabat sendiri yg udah banyak bantu dia😏
2023-05-21
2
Pa'tam
wanita di uji saat lelaki tak punya apa apa. sedangkan lelaki di uji saat wanita tidak memakai apa apa. tapi kalau untuk lelaki yang setia, semakin dia di uji semakin besar pula kesetiaan nya.
2023-03-07
4