Melisa sudah bersiap-siap untuk berangkat. Jam 08.30 dia sudah harus sampai di Mall itu. Karena, sebelum dia akan mulai bekerja. Melisa harus mendapatkan pengarahan terlebih dahulu, sehingga harus datang lebih awal.
Penampilan Melisa tentu saja sangat berbeda dengan Jihan. Jika Jihan memakai pakaian yang tertutup dan juga memakai hijab. Melisa justru berpenampilan sangat seksi. Dia memakai rok di atas dengkul, di juga memakai kemeja super ketat yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Terlebih tubuh dia padat dan berisi, dia juga memiliki payudara yang dan bokong yang besar. Riasan wajahnya pun sangat berani. Dia berdandan sangat menor. Seperti seorang wanita penggoda.
"Bi, saya berangkat dulu ya!" Pamit Melisa kepada Bi Sumi.
"Ibu mau bawa lauk untuk makan enggak? Kalau mau bawa, bawa saja Bu! Tadi Ibu Jihan masak banyak, saya untuk di rumah tinggalin sedikit saja." Bi Sumi menawarkan kepada Melisa, tetapi Melisa langsung menolaknya, dan mengatakan kalau dia nanti beli makan di kantor saja. Jihan saja yang memiliki uang yang banyak, tak gengsi membawa makanan dari rumah. Justru dia lebih senang, karena makanan dari rumah lebih terjamin higienisnya.
Melisa pergi dengan menggunakan ojek online meninggalkan rumah Jihan, menuju Mall tempat dia bekerja.
"Penampilannya seksi banget, menor banget lagi dandanannya. Model cewek penggoda. Semoga saja dia tak akan menggoda Pak Wildan," ucap Bi Sumi.
Bi Sumi bekerja dengan Jihan, sejak pertama kali Jihan pindah ke rumah itu. Dia sudah sangat mengenal kedua majikannya itu. Bagi Bi Sumi, Jihan itu sosok majikan yang lembut. Tak pernah sekalipun dia bersikap ataupun berkata kasar kepadanya.
Bi Sumi merasa kasihan dengan majikannya itu, karena Jihan tak kunjung hamil. Membuat ibu mertua Jihan sering kali berkata ketus kepada Jihan.
"Semoga Ibu Jihan bisa segera hamil, untuk memperkuat rumah tangganya," ucap Bi Sumi.
Pukul 14.00 WIB, Wildan harus pergi bertemu kliennya. Rencananya, kliennya itu akan mengadakan sebuah event di Mall itu, dan kliennya berniat menggunakan jasa perusahaan Wildan.
Saat ini jam menunjukkan pukul 12.00 siang. Sudah saatnya di beristirahat. Wildan sengaja makan lebih awal, dan harus segera sholat. Karena dia harus segera berangkat ke Mall tersebut.
"Rom, nanti kita jalan habis sholat ya! Paling enggak jam 12.30, kita harus berangkat dari perusahaan," ujar Wildan kepada bawahannya yang kelak akan mengurus kegiatan itu.
Wildan mencoba menghubungi sang istri, sebelum dirinya berangkat. Mendengar ponselnya berdering, Jihan pun segera mengambilnya, dan langsung mengangkat panggilan telepon dari suaminya. Jihan terpaksa menghentikan pekerjaannya untuk sementara.
"Assalamualaikum," ucap Jihan mengawali pembicaraan dengan sang suami melalui panggilan video.
"Waalaikumsalam," sahut Wildan.
"Kok wajahnya lesu si? Pusing ya? Sudah makan belum? Ayo makan dulu! Aku tak mau kalau kamu sampai sakit. Ini juga aku baru mau makan siang. Habis ini mau langsung sholat zuhur, terus berangkat. Mau ada pertemuan sama klien di Mall xxx. Rencananya, klien aku mau mengadakan event di Mall itu. Klien aku berniat untuk menggunakan jasa perusahaan aku," jelas Wildan.
"Oh iya, nanti kamu pulang jam berapa? Kalau aku nanti langsung pulang ke rumah dari pertemuan, enggak balik lagi ke perusahaan," ujar Wildan.
"Aku belum tahu Mas, nanti pulang jam berapa. Ini saja belum beres. Lagi pusing. Belum sempat makan juga, belum nap*su makan," sahut Jihan lesu.
"Ya dipaksain dong! Nanti kalau sakit gimana? Tinggal dulu pekerjaan kamu! Nanti, setelah makan baru kamu lanjut lagi kerjanya! Ingat, kesehatan juga penting! Kalau bisa, kamu pulangnya cepat. Kamu 'kan hari Sabtu baru pulang dari Surabaya, perlu istirahat. Ini malah langsung sibuk sama pekerjaan. Pusing pastinya. Pokoknya aku enggak mau tahu! Setelah aku menutup telepon ini. Aku mau, kamu makan ya!" Cerocos Wildan kepada sang istri, dan akhirnya Jihan mengiyakan.
"Ya sudah, Mas makan dulu ya! Soalnya jam 12.30 harus berangkat. Pertemuannya jam 14.00, jalur ke sana cukup padat. Takut terlambat," ujar Wildan dan Jihan mengiyakan. Dia pun ingin makan dan juga sholat zuhur dulu. Dia mau break dulu kerjanya.
Wildan dan Jihan mengakhiri panggilan video mereka. Kemudian Wildan langsung membuka bekel yang dibawakan istri tercintanya.
Wildan memposting foto makanan yang dibawakan istrinya, dengan caption "Menu makan siang buatan istrinya tercinta, yang dibuat dengan penuh cinta." Jihan tersenyum membaca story whatsapp suaminya, dan dia mengirimkan emoticon love dan wajah senyum kepada sang suami.
Jihan pun melakukan hal yang sama. Dia pun langsung mengambil bekal yang dia bawa, dan memakannya. Tak butuh waktu lama, Wildan sudah selesai makan, dia selalu makan dengan lahap semua makanan yang di masak oleh istrinya.
"Terima kasih, sayang. Bekal yang kamu bawa, sudah habis aku makan. Mantab rasanya. Besok bawain aku makanan lagi ya! Aku sholat dulu, terus berangkat ya! I love you," tulis Wildan di pesa chat. Dia juga menunjukkan foto kota makan yang sudah kosong.
Wildan sudah selesai sholat, dan akan berangkat sekarang. Dia berangkat berdua dengan Romi. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dia harus merasakan macet untuk menuju Mall tersebut.
Setelah menempuh waktu selama satu jam lebih, akhirnya Wildan sampai di Mall tempat dirinya akan mengadakan pertemuan dengan kliennya. Wildan langsung memarkirkan mobilnya, dan langsung bergegas menuju tempat pertemuan.
Wildan tak memperhatikan sekitar, dia tampak berjalan sambil memainkan ponselnya. Tak tahu, kalau sejak tadi ada yang memperhatikan dirinya. Ya, dia adalah Melisa. Sejak Wildan dan Romi melintas di hadapan Melisa. Dengan keberanian yang dia miliki, Melisa memanggil Wildan. Berniat mencari perhatian kepada Wildan. Dia mulai merasakan hal yang berbeda dengan suami sahabatnya itu.
"Mas Wildan," panggil Melisa. Bukan hanya memanggil, Melisa pun berlari kecil berniat menghampiri Wildan. Mendengar namanya di panggil, Wildan dan Romi pun menghentikan langkahnya, dan menengok ke arah sumber suara.
Wildan sempat terkejut, saat tahu yang memanggil dirinya adalah Melisa sahabat dari istrinya. Wildan tampak cool.
"Iya, Mel. Ada apa?" Tanya Wildan, bersikap biasa. Dia melakukan ini, hanya karena Melisa adalah sahabat istrinya itu. Tak lebih. Terlebih saat ini Melisa tinggal di rumahnya, dia tak ingin nantinya Melisa mengecap dirinya sombong.
"Mas, beli parfum dong! Lakuin dagangan aku! Wanginya enak-enak deh! Cocok banget untuk Mas Wildan. Ini coba yang ini deh! Wanginya seger banget," rayu Melisa dengan genitnya. Melisa langsung menyemprotkan parfum itu ke kemeja Wildan, dan dengan tak tahu malunya dia mengendus mencium tubuh Wildan. Membuat Wildan merasa tak suka.
"Kamu ini apa-apaan si? Maaf, saya risih!" Wildan langsung mendorong tubuh Melisa sedikit kasar, membuat Melisa hampir saja terjatuh.
Wildan spontan melakukan hal itu. Karena bagi Wildan, Melisa bersikap kurang ajar. Tak sepantasnya dia bersikap seperti itu, meskipun dia suami sahabatnya. Lagi pula, dari dulu Wildan tak dekat dengan Melisa. Baru sekarang ini, karena Melisa menumpang di rumahnya.
"Kalau kamu berniat menjual parfum, coba kamu tawarkan saja ke istri saya! Karena, semua kebutuhan saya di urus istri saya. Saya permisi dulu, karena klien saya sudah menunggu saya," ucap Wildan tegas. Wildan langsung pergi meninggalkan Melisa begitu saja. Membuat wajah Melisa memerah menahan perasaan kesal, atas penolakan Wildan.
"Ok, sekarang kamu boleh menolak aku, dan bersikap sombong kepadaku. Kita lihat nanti! Aku akan buat kamu, jatuh ke pelukanku," ucap Melisa. Dirinya merasa tak terima di perlakukan Wildan seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Alanna Th
wildan bnr" bodoh kalo mngkhianati istri yg baik mana pnghslnny lbh bsr. melisa pasti kecewa stlh tahu pnghsln wildan ga sbsr jihan
2025-01-06
0
anonim
Melisa tidak tahu diri ini pelakor sejati yang tidak punya malu
2024-08-20
1
Tiasni Nellu
melisa ini manusia apa ulut bulu ya....
2024-07-05
0