"Kita makan dulu ya," ucap Wildan kepada sang istri.
"Iya, mas. Aku juga tadi belum sempat makan dulu. Takut ketinggalan pesawat. Aku sudah enggak sabar ingin bertemu mas," ungkap Jihan.
"Kangen ya?" Goda Wildan sambil memainkan alisnya dan Jihan menganggukkan kepalanya dengan malu-malu. Wajahnya sudah terlihat memerah. Meskipun rumah tangga mereka berjalan hampir lima tahun, mereka masih seperti orang yang pacaran.
Mobil Wildan sudah terparkir rapi di parkiran restoran. Wildan mengajak sang istri ke restoran sola*ria. Restoran favorit untuk mereka berdua, Wildan sangat tahu kesukaan sang istri sejak mereka berpacaran. Sebelum menikah, Jihan dan Wildan sempat berpacaran selama tiga bulan. Sampai akhirnya, Wildan memutuskan untuk melamar Jihan sebagai istrinya.
"Nasi ayam rica-rica, nasi goreng seafood, dan es teh manis dua," ucap Wildan kepada sang pelayan.
"Ih, sok tahu banget si kamu mas. Main pesan saja," sindir Jihan. Senyuman melengkung di sudut bibirnya.
"Taulah, apa si yang Mas enggak tahu tentang kamu," goda Wildan memainkan alisnya kembali.
Mereka tampak berbincang, sambil menunggu makanan datang. Membicarakan selama mereka tak bersama. Jihan berbagi cerita kepada sang suami, selama dia di Jakarta.
"Semoga saja dalam waktu dekat ini, kamu tak ada kunjungan keluar kota lagi," ujar Wildan.
"Iya, Mas. Aku juga inginnya begitu Mas. Aku enggak mau jauh-jauh dari kamu. Oh ya, besok sahabat aku datang untuk tinggal di rumah kita," ungkap Jihan, dan Wildan hanya menganggukkan kepalanya.
Makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Saatnya mereka menikmati makanannya.
Jihan dan Wildan terlihat saling bergantian menyuapi makanan. Tak malu menunjukkan keromantisan mereka di depan umum.
"Nanti, kalau kita punya anak. Kamu berhenti bekerja saja ya, biar fokus mengurus anak. Kasihan kalau anak kita nanti harus kamu tinggal ke luar kota terus berhari-hari. Nanti statusnya jadi berubah anak pembantu," ujar Wildan.
"Iya, mas. Aku janji, aku pasti berhenti. Aku enggak mau anak aku seperti itu. Makanya, sebelum anak kita lahir. Aku ingin puas-puasin dulu bekerja," sahut Jihan dan Wildan mengiyakan.
Makanan mereka sudah habis di lahap, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah untuk beristirahat. Jihan pun sudah tubuhnya sudah lelah, dia ingin secepatnya merasakan empuknya ranjang di rumahnya.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah. Wildan tampak tersenyum, kala melihat istrinya yang tertidur begitu nyenyak di mobil. Wajahnya begitu menggemaskan. Terlihat sekali di wajahnya, kalau Wildan begitu cinta kepada Jihan.
Mobil Wildan baru saja sampai di rumah. Dia langsung memarkirkan mobilnya. Kemudian dia langsung menggendong tubuh sang istri. Membuat tidur Jihan terusik, hingga akhirnya Jihan membuka matanya saat sang suami menggendong dirinya. Wildan hendak membawa dirinya ke kamar. Jihan tampak mengalungkan tangannya di leher suaminya. Senyuman terbit di sudut bibirnya. Suaminya selalu memperlakukan dirinya dengan manis.
Mereka sudah sampai di kamar.
"Turunin aku, Mas!" pinta Jihan. Karena dia ingin membuka sepatu yang dia kenakan terlebih dahulu. Dia juga ingin mandi dulu, sebelum tidur di ranjang. Akhirnya, Wildan menuruti permintaan sang istri. Menuruni sang istri.
Wildan tampak menelan salivanya, saat melihat sang istri menurunkan gamisnya di depannya. Menunjukkan tubuh seksinya. Setelah itu, Jihan langsung masuk ke kamar mandi. Ingin rasanya dia ikut masuk ke kamar mandi, untuk mandi bersama, dan melepas rindu. Tetapi dia merasa tak tega dengan sang istri yang baru saja pulang. Pastinya, sang istri merasa lelah.
"Mas, ayo gantian mandi! Kita sholat isya berjamaah!" Ajak Jihan dan Wildan mengiyakan. Dia pun langsung mandi, dan berwudhu untuk sholat isya berjamaah.
Setelah selesai sholat, mereka memutuskan untuk tidur. Wildan tampak mendekap hangat tubuh istrinya, dan memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya. Tak butuh waktu lama, mereka sudah tidur terlelap.
Jam menunjukkan pukul 04.30 pagi, Melisa pamit kepada sang ibu dan juga anaknya untuk berangkat ke Jakarta. Suasana penuh haru mengiringi keberangkatan Melisa ke Jakarta. Mawar sang anak tampak meneteskan air matanya, karena harus berpisah dengan sang mama. Rasanya dia begitu berat berpisah dari sang mama.
"Mawar anak mama yang pintar! Doakan mama ya, semoga mama cepat punya uang yang banyak, jadi kita bisa berkumpul kembali. Selama tak ada mama, Mawar jangan nakal ya sama nenek! Kamu harus nurut sama nenek! Belajar yang rajin, agar bisa jadi orang sukses!" pesan Melisa kepada anaknya.
"Tuh, dengerin ucapan mama kamu! Masih kecil jangan pacar-pacaran, jangan cepat-cepat nikah, kalau enggak mau hidup susah seperti mama kamu! Ikuti tuh jejak Tante Jihan. Sekolah yang pintar biar dapat beasiswa. Tante Jihan itu sekolah selalu dapat beasiswa, sampai kuliah. Makanya bisa jadi orang hebat, kerja di perusahaan besar di Jakarta. Punya suami pun cari yang sudah mapan, biar bisa membahagiakan kamu. Memangnya, cinta doang bikin perut kenyang," sindir sang nenek.
"Jihan lagi Jihan lagi! Selalu saja Jihan yang dia banggakan. Aku akan buktikan, kalau aku juga bisa sukses, dan mendapatkan suami yang kaya seperti Jihan," ucap Melisa dalam hati. Ucapan sang ibu begitu menyakitkan di hati, hingga dirinya berniat mencari suami kaya. Meskipun nantinya dia akan menjadi pelakor ataupun simpanan laki-laki yang tua. Yang terpenting, dia bisa mendapatkan uang yang banyak.
Melisa pergi dengan naik ojek ke stasiun. Dengan tekad yang bulat, dia pergi meninggalkan kota kelahirannya mengikuti jejak sahabatnya. Kini dia sudah dalam perjalanan menuju Jakarta, dengan menggunakan kereta api.
"Assalamualaikum. Ta, aku sudah berangkat dari Yogyakarta ya." Tulis Melisa di pesan chat untuk Jihan.
Jihan baru saja selesai sholat berjamaah, dan langsung mengambil ponselnya. Untuk melihat pesan chat yang masuk. Ternyata sahabatnya yang menghubungi dirinya.
"Siapa yang menghubungi kamu pagi-pagi?" Tanya Wildan sambil melipat sajadahnya. Dia baru saja selesai zikir.
"Melisa. Dia mengabari, kalau dirinya sudah berangkat dari Yogyakarta naik kereta," sahut Jihan dan Wildan hanya ber oh ria.
"Waalaikumsalam. Iya, Mel. Hati-hati ya di jalan! Nanti kalau sudah sampai stasiun Bekasi, kabarin aku ya! Nanti aku jemput di stasiun Pasar Senen," balas Jihan.
Jihan mengatakan kepada sang suami, kalau dirinya ingin menjemput sahabatnya itu di stasiun Pasar Senen.
"Ya sudah, nanti jemput sama mas saja. Jam 10.00 pagi kita berangkat, biar bisa main dulu berdua. Setelah itu, kita baru jemput sahabat kamu itu," ujar Wildan.
"Iya Mas, makasih ya. Maaf jadi merepotkan mas. Ya sudah, aku mau masak dulu untuk sarapan kita," ujar Jihan dan Wildan mengiyakan.
Jihan langsung ke dapur untuk memasak, sedangkan Wildan memilih bersantai menonton televisi. Menunggu sang istri selesai memasak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Pia Palinrungi
waduhh pelakor, asal jgn suami trman aja di embat
2023-07-03
2