Jihan dan Wildan sudah berangkat bekerja. Bi Sumi pamit untuk belanja ke pasar. Kini hanya tinggal Mama Risma dan juga Melisa di rumah. Kesempatan emas bagi Melisa untuk mendekati Mama Risma, sebelum dia berangkat bekerja.
"Ibu, mamanya Mas Wildan ya? Soalnya mirip. Cantik, Mas Wildan tampan. Perkenalkan saya Melisa, teman Jihan dari kampung." Melisa berniat mengambil hati Mama Risma, dengan memujinya. Mereka saling berjabat tangan. Padahal, sama Jihan dia selalu menolak. Seakan jijik kepada sang menantu.
"Ah, kamu bisa saja Mel. Ibu sudah tua, Mel. Sudah mau 60 tahun," sahut Mama Risma tersipu-sipu.
Mama Risma mulai mengajak ngobrol Melisa, mereka terlihat akrab. Melisa pandai mendekati Mama Risma.
"Kalian sudah berteman lama sama Jihan?" Tanya Mama Risma.
"Sudah Bu, kami sudah bersahabat sejak masih sekolah. Jarak rumah orang tua Jihan sama rumah saya dekat. Tapi gitu deh, Jihan orangnya ambisius, sama kerasa kepala. Dia kerap menentang ucapan orang tuanya, membuat orang tuanya kecewa padanya. Karena merasa tak dihargai sebagai orang tua. Ya, seperti sekarang saja. Ibu lihat 'kan, Mas Wildan nurut banget sama Jihan. Kelihatannya saja alim, lembut. Aslinya mah, sama suami berkuasa. Dia juga pernah cerita sama saya. Uang Mas Wildan uang dia juga, dan uang dia ya hanya untuk dia. Buat dia berfoya-foya. Ibu lihat 'kan? Bajunya saja bagus-bagus. Makanya, gimana mau dikasih anak. Kalau perilakunya seperti itu. Allah juga enggak akan percaya sama dia. Dia itu lebih mementingkan kariernya, dia itu gila harta Bu." Melisa memanas-manasi Mama Risma dengan menjelekkan Jihan.
Tentu saja Mama Risma terpancing. Dia menjadi bertambah semangat ikut menjelekkan menantunya. Entah terpikir dari mana, Tiba-tiba saja dia menanyakan kepada Melisa tentang sang anak.
"Ayo, coba cerita saja sama ibu! Pasti kamu suka 'kan sama Mas Wildan?" Goda Mama Risma. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu kepada wanita lain.
"Em, gimana ya Bu? Melisa jadi malu. Iya, sejak pertama kali Melisa bertemu, Melisa sudah jatuh cinta sama Mas Wildan. Sayangnya, Mas Wildan cuek banget sama saya. Bahkan dia tak menyukai kehadiran saya di sini. Dia selalu menunjukkan wajah tak suka. Asal ibu tahu saja. Mas Wildan pernah mendorong saya, sampai aku terjatuh di lantai. Saat saya mencoba menawarkan parfum kepadanya. Saat itu Mas Wildan ada pertemuan dengan kliennya, terus bertemu dengan saya di sana. Kebetulan, saya kerja di Mall tempat dia kunjungi," ungkap Melisa dengan tak tahu malu.
"Iya. Apa si Jihan pakai pelet ya? Agar Wildan nurut sama dia. Satu-satunya caranya, yaitu dengan cara kamu mencoba menggoda dia. Kalau bisa, buat dia bertekuk lutut sama kamu, dan tak bisa terlepas dari kamu. Apalagi kalau sampai kamu hamil anak dia, pasti dia akan memilih kamu daripada istri mandulnya. Nanti, kamu minta dia menceraikan Jihan, dan jadikan kamu istri satu-satunya. Dengan begitu, kamu bisa menikmati fasilitas mewah dari Wildan. Tapi ingat, kalau sudah menjadi menantu Ibu. Jangan lupa sama Ibu! Jangan pelit! Biar tahu rasa tuh si Jihan. Memangnya, wanita hanya perlu cantik saja. Zaman sekarang, banyak wanita cantik. Apalagi Wildan tampan dan memiliki segalanya, pastinya akan banyak wanita yang ingin memiliki dirinya. Tapi, kalau kamu bisa ikuti aturan Ibu. Okelah, Ibu akan terima kamu. Yang penting Wildan tak pelit lagi, gara-gara punya istri berkuasa," ujar Mama Risma.
Hingga akhirnya mereka sepakat untuk mengatur sebuah rencana, untuk melancarkan aksi mereka. Menjebak Wildan, dengan menggoda Wildan. Ibu mertua yang kejam, menghalalkan segala cara untuk memisahkan anaknya dari wanita yang selama ini menopang hidupnya.
Obrolan mereka harus terhenti, saat mendengar Bi Sumi mengucap salam. Baru pulang dari pasar, habis berbelanja. Melihat Bi Sumi datang, Melisa langsung pamit untuk mandi. Karena dia ingin bersiap-siap bekerja.
"Mengapa mereka terlihat akrab? Aku merasa, ada sesuatu yang mereka rencanakan. Kasihan Ibu Jihan, dia wanita yang baik. Semoga Pak Wildan tak mengkhianati Ibu Jihan. Aku yakin, pasti mereka akan menyesal. Jika sampai menyakiti hati Ibu Jihan. Allah tak tidur, Allah akan tahu apa yang mereka lakukan," ucap Bi Sumi dalam hati.
Mama Risma mengikuti Bi Sumi ke dapur. Dia meminta Bi Sumi membuatkan ayam goreng. Tentu saja Bi Sumi menurutinya, meskipun dia tak suka dengan sikap Mama Risma yang bagi Bi Sumi sungguh keterlaluan. Melisa sudah bersiap-siap untuk berangkat, dia pamit kepada Mama Risma untuk bekerja.
Berbeda halnya dengan Melisa dengan Mama Risma. Jihan justru lagi sibuk dengan meeting yang diadakan secara dadakan. Bukan itu saja, besok pagi dia harus berangkat ke Yogyakarta. Kemungkinan tiga hari dia di Yogyakarta. Sebenarnya, Jihan merasa berat meninggalkan suaminya lagi. Tapi, ini sudah menjadi konsekuensi pekerjaannya.
Jihan langsung mengabari sang suami, kalau dirinya besok harus berangkat ke Yogyakarta. Mendengar istrinya akan meninggalkan dirinya lagi. Tentu saja dia merasa kecewa. Ini salah satu alasan, dia meminta Jihan berhenti bekerja.
Tapi, Jihan selalu bilang. Jika dia tak membantu bekerja, mereka tak akan berada di titik ini. Jihan ingin, rumahnya lunas, dia memiliki tabungan yang banyak, dan mobil suaminya juga lunas. Terbebas dari hutang, dan hanya fokus terhadap anak. Makanya, sebelum mereka memiliki anak. Jihan ingin mewujudkan hal itu. Jihan selalu meminta pengertian suaminya, karena semua dia lakukan demi kebahagiaan bersama.
"Berarti kamu pulang cepat 'kan? Aku ingin berduaan dulu sama kamu, sebelum kamu meninggalkan aku." Wildan membalas pesan dari istrinya.
Jihan mengiyakan, dia akan berusaha untuk pulang cepat. Mereka berjanji akan makan di luar.
"Semoga secepatnya, Melisa bisa menggoda Wildan. Biar wanita sombong itu tahu rasa. Tak kepedean, kalau hanya dia yang Wildan cinta," ucap Mama Risma.
Ayam goreng pesanan Mama Risma sudah jadi, dia langsung makan.
"Giliran pakai ayam, baru dia mau makan. Padahal, masakan ibu Jihan enak. Meskipun bukan ayam," ucap Bi Sumi dalam hati.
Jihan dan Wildan sudah bersiap-siap untuk pulang dari kantornya masing-masing. Mereka akan bertemu di sebuah kafe, untuk menikmati waktu bersama, meskipun hanya sekadar makan bersama.
Keduanya kini sudah dalam perjalanan menuju tempat mereka berjanji akan bertemu. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam. Jihan sudah sampai di kafe tersebut. Dia yang sampai lebih dulu. Jihan langsung memarkirkan mobilnya, setelah itu dia langsung masuk ke dalam kafe. Jihan langsung mencari tempat duduk yang berada di pojok. Tak lama kemudian, Wildan pun datang. Setelah memarkirkan mobilnya, dia langsung mencari keberadaan istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Isna Vania
mertua salah kaprah, membuang istri berlian, hanya untuk mendapatkan kerikil /CoolGuy/
2025-01-15
0
Pia Palinrungi
yah semoga saja kalian berhasil dn kalian diusir semua krn yg punya rumah jihan dn kamu mamah akan menyesal krn wildan tdk ada apa2 yg menopang adalah jihan🤣🤣🤣🤣🤣
2023-07-04
3
Nanik Badriatul 'Aini
ya ma cepat jadikan Melisa menantu. kalian ber2 kan klop banget. sama" parasit
2023-03-22
2