"Ternyata, dia hanya mesra terhadap istrinya. Sedangkan sama wanita lain justru dingin," ucap Melisa dalam hati.
Terlihat sekali kalau Wildan mencoba menjaga jarak kepada Melisa. Namun, hal itu justru membuat Melisa merasa penasaran. Membuat dia berpikir untuk menggoda suami sahabatnya itu.
Melisa merasa tak suka melihat keromantisan Wildan kepada Jihan.
"Bisa-bisanya mereka bermesraan di depanku. Seperti dunia milik berdua saja, tak menganggap diriku ada di dekat mereka," gerutu Melisa dalam hati.
Melisa tampak memandang ke arah jalanan. Dia tak pernah menyangka, kalau akhirnya dia bisa menginjakkan kakinya di kota Jakarta.
"Semoga kehidupan aku bisa lebih baik lagi. Aku bisa mendapatkan suami yang mapan, agar kehidupan aku bisa berubah. Aku ingin seperti Jihan yang hidup berkecukupan dan memiliki suami yang begitu sempurna. Aku akan membuktikan, kalau keberuntungan bukan hanya di rasakan Jihan. Aku pun suatu saat nanti akan mendapatkannya seperti Jihan," ucap Melisa dalam hati.
Tak terasa mobil mereka telah sampai di sebuah rumah model minimalis yang cukup mewah. Memiliki sebuah taman yang indah. Garasi mobil itu cukup untuk dua mobil dan dua motor. Bagi Melisa yang berasal dari desa, tentu saja dia begitu terpesona.
"Ini rumah aku Mel, yuk kita turun!" Ajak Jihan.
Melisa berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti Jihan. Jihan menunjukkan kamar untuk Melisa, sedangkan Wildan memilih untuk langsung ke kamar. Bersikap cuek.
"Bi, ini sahabat ibu. Namanya Melisa. Nanti, kalau dia perlu apa-apa tolong di bantu ya!" Perintah Jihan kepada sang ART, dan sang ART mengiyakan.
"Wah, enak juga ya tinggal di sini. Mau apa ada yang melayani, tidurnya juga pakai AC. Tak seperti di kampung," ucap Melisa dalam hati.
"Mel ...," panggil Jihan. Selama Jihan berbicara, Melisa justru sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Jihan tampak bingung, sejak tadi sahabatnya itu lebih banyak bengong. Jihan pikir, sahabatnya itu sedang memikirkan anaknya yang di kampung.
"Eh, maaf. Tadi kamu ngomong apa ya?" Tanya Melisa kepada Jihan.
"Kamu kenapa Mel? Aku perhatikan kamu lebih banyak melamun. Apa kamu butuh uang untuk kamu kerja sehari-hari? Kalau kamu butuh, bicara saja! Tak perlu sungkan. Aku akan membantu kamu," ucap Jihan.
Sungguh kesempatan emas bagi Melisa. Tentu saja dia tak akan melewatkannya. Dia langsung mengatakan, kalau sebenarnya sejak tadi dia ingin bicara itu kepada Jihan. Tetapi, dia merasa tak enak hati. Dengan alasan tak mau banyak merepotkan Jihan.
"Dua juta cukup?" Tanya Jihan.
"Iya, insya Allah cukup. Makasih banyak ya Ta, kamu memang sahabat terbaik baik aku. Kamu sudah banyak menolong aku. Semoga aku bisa membalas semua kebaikan kamu kepadaku. Maaf ya, aku jadi merepotkan kamu terus," ucap Melisa dengan menunjukkan wajah sedih.
"Aku ikhlas menolong kamu. Alhamdulillah, aku rezeki lebih. Kamu bisa cicil uang itu semampu kamu," sahut Jihan. Melisa langsung memeluk sahabatnya itu.
Wildan tampak kesal, karena sang istri tak kunjung datang. Hingga akhirnya dia berteriak memanggil Jihan dari atas.
"Mel, Mas Wildan manggil aku. Aku ke kamar dulu ya. Nanti kamu kirim saja ya nomor rekening kamu, nanti aku transfer uangnya," ucap Jihan dan Melisa menganggukkan kepalanya.
Jihan langsung masuk ke kamarnya menemui sang suami.
"Lama banget si? Memangnya ngapain saja si? Mentang-mentang ada sahabatnya, lupa deh sama suaminya," sindir Wildan.
"Ya ampun, Mas. Kok bicara begitu? Aku enggak lupa, aku hanya memberitahu kamar Melisa, dan memperkenalkan Melisa sama bibi. Aku juga minta kepada bibi agar dia membantu Melisa, jika Melisa membutuhkan sesuatu," jelas Jihan.
Akhirnya, Wildan mengerti.
"Mas, aku mandi dulu ya," pamit Jihan dan Wildan mengiyakan.
Melisa tampak tersenyum bahagia, karena bisa menikmati ranjang dengan kasur yang empuk. Melisa tampak membaringkan tubuhnya di ranjang, sambil menikmati dinginnya AC.
"Nikmat banget hidup seperti ini. Bisa tidur di kasur yang empuk, bisa pakai AC. Makan tinggal makan. Nyuci dan setrika baju juga nanti aku titip saja sama ART si Jihan. Jadinya, aku bisa hidup santai. Uang juga ada dari Jihan, jadi aku tak perlu mikir capek-capek untuk transport hari-hari," ucap Melisa.
Tiba-tiba Melisa berpikir jorok, berpikir mengapa Jihan tak kunjung hamil.
"Apa barangnya Mas Wildan tak bangun, tak pernah bisa memuaskan Jihan? Tapi, masa iya sih. Penampilannya saja macho, masa barangnya layu. Apa jangan-jangan si Jihan saja yang payah, tak bisa memuaskan suaminya. Atau, bisa juga Jihan mandul. Aneh juga, masa punya suami tampan, keren, tubuhnya atletis enggak bisa-bisa buat istrinya hamil," Melisa bermonolog.
Suasana kamar yang nyaman, membuat mata dia mengantuk. Hingga akhirnya dia tertidur nyenyak. Karena terlalu sibuk memikirkan kehidupan sahabatnya, dia sampai lupa menghubungi anaknya di kampung.
Jihan sudah selesai mandi, dan wajahnya terlihat segar. Tubuhnya begitu harum, menjadi candu untuk sang suami. Jihan hanya menggunakan daster tanpa lengan dan panjangnya sedengkul, dia terlihat begitu seksi. Ditambah lagi dia memiliki kulit yang putih, dan tubuh yang begitu menggoda.
"Mas mau makan lagi enggak? Kalau mau, aku mau masak," ujar Jihan kepada sang suami.
"Aku mau makan kamu," sahut Wildan membuat sang istri langsung memberikan capitan di perutnya.
"Kamu itu, selalu saja enggak ada puasnya. Aku nanya serius Mas," protes Jihan.
"Enggak. Aku sudah kenyang, aku hanya ingin tidur sama kamu. Kita tidur saja yuk! Besok 'kan sudah mulai kerja lagi," ujar Wildan dan Jihan mengiyakan.
Mereka langsung naik ke ranjang, Wildan tampak memeluk tubuh istrinya erat.
"Mas ...," panggil Jihan kepada sang suami.
"Emmm, kenapa?" Tanya Wildan yang kini menatap wajah sang istri.
"Kalau mama kamu menyuruh kamu menikah lagi, apa kamu mau menuruti permintaannya? Aku takut, kalau akhirnya kita tak juga diberikan keturunan. Pasti mama kamu akan menyuruh kamu meninggalkan aku," ungkap Jihan.
"Aku janji, meskipun mama menyuruh aku untuk meninggalkan kamu. Aku tak akan pernah mau menikah lagi dengan wanita manapun. Meskipun, nantinya kita tak akan diberikan keturunan. Aku lebih baik mengangkat anak, daripada aku harus menyakiti hati kamu, dan berpisah dari kamu. Aku ingin selalu bersama kamu, sampai maut yang akan memisahkan kita. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mencintai kamu," sahut Wildan.
Tentu saja ucapan suaminya itu membuat Jihan merasa bahagia, dia begitu terharu dengan pernyataan suaminya.
"Makasih ya Mas, aku pun sangat mencintai kamu. Aku ingin selalu bersama kamu. Semoga saja, mama tak akan pernah memisahkan kita," ujar Jihan dan Wildan mengaminkan ucapan istrinya.
"Ya sudah, kita tidur yuk!" Ajak Wildan dan Jihan mengiyakan. Wildan langsung memberikan kecupan di kening istrinya, menunjukkan rasa cintanya kepada sang istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
anonim
Janji Wildan tidak meninggalkan Jihan bisa dipegang tidak...???
2024-08-20
0
Pia Palinrungi
semoga wildan nggak pernah tergoda sm melisa...melisa kamu harus sadar jgn macam2 sm wildan jihan sdh baik sm kamu
2023-07-04
1
rahmawati putri
pelakor masuk kedalam rumah thor heeehehe
2023-03-10
2