Wildan menuruni anak tangga, wajahnya sudah terlihat segar. Dia berjalan menghampiri sang istri yang sudah menunggunya di meja makan. Jihan langsung mengambilkan nasi, cumi, ayam, dan juga sayur capcay untuk suaminya.
"Rencananya kamu mau pergi berapa hari ke Surabaya?" Tanya Wildan sambil memasukkan makanannya ke mulutnya.
"Tiga atau empat hari Mas rencananya. Tapi, aku akan usahakan pulang secepatnya Mas. Aku akan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat," jelas Jihan dan Wildan hanya menganggukkan kepalanya.
"Mas ...," ucap Jihan membuat sang suami kini menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Wildan.
Sebenarnya Jihan berat untuk mengatakan ini kepada sang suami, tetapi dia sudah terlanjur janji kepada Melisa. Dia juga merasa tak tega dengan Melisa. Ini pertama kalinya Jihan membawa orang lain untuk tinggal di rumahnya.
Ibunya pernah mengingatkan dirinya. Tak baik membawa wanita lain untuk tinggal bersamanya, karena hal itu bisa memicu perselingkuhan dengan sang suami. Di luaran pun banyak terjadi hal seperti itu. Suami selingkuh dengan adik kandung, sepupu, pembantu, ataupun sahabat.
Namun, Jihan berusaha menepisnya. Dia sangat mengenal sahabatnya itu dan juga suaminya. Rasanya tak mungkin hal itu terjadi. Suaminya tak akan pernah selingkuh dengan sahabatnya. Melisa pun tak akan tega menusuknya dari belakang.
"Boleh enggak aku mengajak sahabat aku di kampung untuk tinggal di rumah ini? Enggak lama kok Mas, hanya satu bulan. Sampai dia memiliki gaji untuk mengontrak Mas. Setelah itu dia akan mengontrak," ungkap Jihan.
"Terserah kamu saja! Aku sih bebas saja, tak masalah," sahut Wildan.
"Benar Mas? Makasih ya Mas. Mas memang suami yang pengertian banget. Maaf ya Mas! Soalnya aku enggak tega Mas, aku berniat menolong sahabat aku. Dia butuh pekerjaan itu untuk bisa menyekolahkan anaknya. Dia sekarang single parent, sudah bercerai dari suaminya enam bulan yang lalu," Jelas Jihan. Lagi-lagi Wildan hanya menganggukkan kepalanya. Dia sudah menyerahkan urusan rumah tangga kepada sang istri.
Setelah selesai makan bersama, mereka memutuskan untuk duduk bersantai menonton TV bersama. Meskipun hal yang sangat sederhana, mereka tetap merasa bahagia. Jihan tampak menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Wildan pun selalu bersikap romantis, memperlakukan sang istri dengan manis.
"Sebenarnya, aku ingin sekali kamu berhenti bekerja. Biar kita fokus agar kamu hamil. Mas kadang-kadang iri melihat teman-teman Mas yang sudah memiliki dua orang anak dan bahkan ada yang tiga anak. Padahal usianya lebih muda dari Mas," ungkap Wildan.
"Tapi Mas ...," ucap Jihan lirih, bahkan dia tak sanggup untuk mengatakannya.
"Iya, Mas sudah tahu jawaban kamu. Ya sudah, mau bagaimana lagi. Kita hanya bisa menunggu, kapan Allah akan memberikan anak untuk kita," sahut Wildan.
"Amin. Maafkan aku ya Mas. Bagaimana kalau kita konsultasi ke dokter dulu? Lagi pula program hamil 'kan enggak harus aku berhenti bekerja," ujar Jihan yang kini menatap lekat wajah suaminya.
Wildan tetap pada pendiriannya, bersikeras hanya ingin memiliki anak secara alami. Makanya dia ingin istrinya berhenti bekerja. Dia tak ingin memiliki anak, melalui program kehamilan apapun. Meskipun dia mampu untuk membayarnya. Baginya, hal itu sama saja merendahkannya.
"Ayo kita coba lagi saja, sekaligus bekal untuk Mas selama kamu tinggal," ujar Wildan dan Jihan menganggukkan kepalanya. Jihan ingin membahagiakan suaminya.
Wildan langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar. Jihan tampak melingkarkan tangannya di leher suaminya, dan memberikan senyum termanisnya.
Setelah itu, Wildan langsung merebahkan tubuh istrinya di ranjang secara perlahan. Dia langsung melucuti pakaian yang dikenakan istrinya. Membuat tubuh istrinya kini sudah dalam keadaan polos, dia pun melakukan hal yang sama. Keduanya kini sudah dalam keadaan polos.
Hari ini, Jihan yang memimpin permainan. Dia ingin membahagiakan suaminya. Setelah kurang lebih 20 menit memadu kasih, akhirnya mereka mengerang bersama.
"Terima kasih Sayang," ucap Wildan sambil memberikan kecupan di kening sang istri, dan Jihan membalasnya dengan senyuman.
Setelah selesai bercinta, Jihan langsung menyiapkan semua keperluan yang akan dia bawa ke Surabaya ke dalam koper.
"Kamu besok berangkat jam berapa? Maaf, aku tak bisa mengantarkan kamu ke bandara. Soalnya jam 08.00 pagi, aku ada meeting dengan tim marketing," ucap Wildan.
Dia saat ini sedang duduk di tepi ranjang, memperhatikan sang istri yang sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
"Iya Mas, tak apa-apa. Aku juga di jemput sama supir kantor kok. Besok aku berangkat jam 04.00 pagi Mas," sahut Jihan lembut.
"Oh ya sudah. Hati-hati ya selama di sana! Jangan lupa hubungi aku, kalau kamu pas sempat!"
Jihan berjalan menghampiri sang suami dan ikut duduk di sebelah sang suami.
"Aku pasti merindukan Mas. Andai saja ada yang bisa menggantikan aku, aku pasti bisa menolaknya," ungkap Jihan sambil menciumi tangan suaminya.
"Ya sudah jalani saja! Ini sudah menjadi konsekuensi pekerjaan kamu. Kamu harus siap! Ya sudah, tidur yuk! Besok kamu 'kan berangkat pagi, sekarang lebih baik kamu istirahat," ujar Wildan.
Kini keduanya sudah tidur saling berpelukan. Rumah tangga mereka selalu terlihat harmonis. Keduanya sama-sama saling mencintai. Jihan terlihat terus memeluk tubuh suaminya, seakan dia terasa berat meninggalkan suaminya.
Jam alarm di ponsel Jihan berbunyi. Saat itu jam menunjukkan pukul 03.00 WIB. Jihan perlahan membuka matanya, dan dia tampak tersenyum kala melihat wajah suaminya yang pertama kali dia lihat.
"I Love You, Mas. Maaf, aku harus meninggalkan kamu lagi," ucap Jihan sambil memberikan kecupan di kening suaminya.
Membuat Wildan pun akhirnya membuka matanya, dan melihat wajah cantik istrinya. Wildan menarik tangan istrinya dan membawanya dalam dekapan hangat tubuhnya. Jihan pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mencintaimu. Jaga diri dan hatimu untuk aku," ucap Wildan di sertai kecupan mesra di pucuk kepala istrinya.
"Iya, Mas juga ya! Jaga hati dan diri Mas untuk aku," ungkap Jihan sambil memegang dada suaminya.
"Ya sudah, aku siap-siap dulu ya. Soalnya sudah jam 03.00, jam 04.00 supir kantor jemput aku," ujar Jihan dan Wildan menganggukkan kepalanya.
Jihan bergegas untuk bangkit turun untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat. Wildan pun akhirnya ikut bangun. Untuk bisa bersama sang istri dan melepas kepergian sang istri.
Jihan keluar dari kamarnya, untuk menemui ART yang bekerja padanya. Jihan berniat membangunkan sang ART yang masih tidur. Mendengar suara ketukan pintu kamarnya dan suara majikannya memanggil dia, Bi Sumi langsung bangun dan membuka pintu kamarnya.
"Bi, ibu ingin bicara dulu sama Bibi," ujar Jihan.
"Iya Bu, sebentar ya Bu. Bibi cuci muka dulu," sahut Bi Sumi.
Jihan akhirnya memilih membuatkan teh hangat untuk suaminya dan dirinya. Dia ingin minum bersama. Setelah selesai mencuci muka, Bi Sumi menghampiri Jihan yang saat ini sedang duduk bersama sang suami di ruang TV.
"Bi, Ibu hari ini mau berangkat ke Surabaya. Ibu titip bapak ya! Tolong perhatikan makannya! Oh ya, kalau ada supir kantor Ibu datang. Tolong suruh tunggu dulu ya! Ibu mau sholat subuh dulu soalnya. Ini uang untuk keperluan selama ibu enggak ada. Kemungkinan ibu pergi sekitar 3 atau 4 hari," Jelas Jihan.
"Sudah tak usah masak Bi! Bibi beli untuk Bibi saja. Tak usah pikirkan bapak! Nanti bapak makan di jalan saja. Paling, bibi siapkan untuk sarapan pagi saja," ucap Wildan ikut bicara.
Setelah adzan berkumandang, mereka melakukan sholat subuh berjamaah. Mereka selalu menyempatkan waktu untuk sholat bersama.
Supir yang menjemput Jihan telah datang dan menunggu dirinya sejak tadi. Jihan harus segera berangkat.
"Mas, aku berangkat dulu ya! Doakan semoga pekerjaan aku segera selesai, jadi aku bisa pulang cepat," ucap Jihan sambil mencium tangan suaminya.
"Iya. Mas doakan. Hati-hati ya! I miss you. Jangan lupa kabari Mas, kalau kamu sudah sampai ya," sahut Wildan dan Jihan mengiyakan.
Wildan mengantarkan sang istri sampai sang istri naik ke mobil.
"Assalamualaikum," ucap Jihan.
"Waalaikumsalam," jawab Wildan.
Wildan dan Jihan sama-sama melambaikan tangannya, sampai pandangan mereka terpisah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
Isna Vania
ipar adalah maut, apalgi sahabat atau orang lain 😏
2025-01-15
0
Samsia Chia Bahir
Jgnkan org lain, adik sendiri sj klo sermh tak akan aman 😫😫😫
2024-01-04
1
YouTube: hofi_03
semangat kak 🥰
2023-09-03
0