"Mulai berani kurang ajar si Melisa," gerutu Wildan.
"Memangnya, wanita itu siapa Pak?" Tanya Romi, bawahan Wildan di perusahaan tempat mereka bekerja.
Wildan menjelaskan, kalau wanita itu adalah sahabat dari istrinya. Dia juga menceritakan, kalau Melisa saat ini tinggal di rumahnya sampai dia gajian.
"Sepertinya, bapak harus hati-hati sama dia! Dia kayanya berniat menggoda bapak. Janda kayanya ya pak?" Ujar Romi.
"Iya, janda anak satu. Anaknya sudah besar, kalau enggak salah sudah mau masuk SMP. Saya mah amit-amit tergoda sama cewek model begitu Romi. Rugi banget saya. Yanga ada, saya akan kehilangan istri saya yang sempurna. Sudah cantik, pintar, lembut, sederhana, di ranjang juga top. Pokoknya, Jihan itu sempurna banget. Semoga saja kami segera diberikan keturunan. Soalnya, mama saya sudah rewel banget. Kasihan Jihan, di tuduh mandul sama mama saya," sahut Wildan. Dia begitu bangga memiliki Jihan.
Obrolan mereka harus terhenti, karena mereka sudah sampai di restoran tempat pertemuan. Wildan dan Romi datang lebih dulu. Mereka berada di kafe yang menjual coffee. Wildan memesan dua cangkir kopi untuk dirinya dan juga Romi.
Tak lama kemudian, Pak Adrian sang klien datang. Wildan dan Romi bangkit dari tempat duduknya sambil berjabat tangan.
"Sudah lama ya? Maaf ya, saya baru datang. Traffic ke arah sini tadi macet banget," ujar Pak Adrian saat berjabat tangan.
"Oh, enggak kok Pak. Saya juga baru saja sampai kok di sini," sahut Wildan dengan ramah.
Jabatan Wildan adalah supervisor marketing. Dia hanya sesekali saja melakukan meeting dengan klien, lebih banyak hanya follow up saja. Bawahannya yang lebih banyak mencari customer. Namun, jika klien itu klien besar. Maka, Wildan terpaksa turun tangan seperti saat ini.
Mereka tampak berbincang-bincang membahas masalah proyek yang akan dijalankan. Untuk event ini, Pak Adrian tertarik memakai jasa dari perusahaan Wildan. Perusahaan Wildan akan membantu Pak Adrian dalam urusan periklanan.
Tentu saja hal itu membuat Wildan merasa senang. Usahanya tidak sia-sia, dan pastinya dia akan mendapatkan bonus dari perusahaan karena berhasil mendapatkan customer. Terlebih, Pak Adrian termasuk customer besar.
Setelah selesai berbincang, mereka sepakat mengakhiri pertemuan kali ini. Pak Adrian pergi lebih dulu meninggalkan kafe. Namun, sebelumnya. Dia memberikan satu buah amplop putih, saat berjabat tangan dengan Wildan.
"Wow, lumayan Rom. Kita bagi dua ya. Lumayan, bisa ngajak istriku makan malam di luar. Bagi-bagi rezeki," ujar Wildan. Ini bukan hal pertama kali yang dilakukan Wildan, jika mendapatkan rezeki lebih. Dia selalu melakukan hal ini kepada Jihan, jika mendapatkan bonus. Dia selalu ingin membahagiakan istrinya.
Setelah membayar, mereka memutuskan untuk pulang. Sebenarnya dia merasa malas melewati stand Melisa bekerja. Tetapi, tak ada jalan lain, mau tak mau Wildan harus melalui tempat Melisa.
Wildan berjalan lurus tanpa menengok sedikitpun, saat melalui tempat Melisa berada.
"Sombong sekali dia. Tak sedikitpun dia melirik ke arahku. Semakin kamu seperti itu, semakin membuat aku penasaran, dan menginginkan untuk menaklukkan kamu," ucap Melisa dalam hati.
Melisa tampak berpikir, cara untuk menaklukkan hati Wildan. Romi memilih naik ojek online, berpisah dengan Wildan. Sebelum melajukan kendaraannya, Wildan menyempatkan waktunya untuk menghubungi sang istri.
Ponsel Jihan berdering, dia langsung melihatnya. Ternyata sang suami yang menghubungi dirinya. Jihan langsung segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum," sapa Jihan, saat menerima panggilan telepon dari suaminya.
"Waalaikumsalam," jawab Wildan.
Wildan mengungkapkan keinginannya untuk mengajak sang istri untuk makan malam, karena dia mendapatkan uang dari customernya. Tapi sayangnya, malam ini Jihan harus lembur.
"Maaf banget Mas, aku enggak bisa pulang cepat! Aku harus lembur. Soalnya, harus malam ini juga aku menyelesaikannya," ungkap Jihan. Terlihat sekali, rasa kecewa di wajah Wildan. Padahal, dia ingin sekali makan malam bersama sang istri. Lagi-lagi sang istri selalu sibuk dengan pekerjaannya. Jihan yakin, kalau suaminya itu pasti sangat kecewa. Karena telah menolak dirinya.
"Ya sudah, kalau kamu enggak bisa enggak apa-apa. Kita bisa lakukan di hari lain. Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Pulangnya nanti kamu hati-hati ya di jalan," sahut Wildan dan Jihan mengiyakan. Dia mencoba mengerti pekerjaan sang istri, meskipun terbesit rasa kecewa. Jihan hanya mengiyakan, karena dia tak mampu berkata-kata lagi.
Setelah mengakhiri panggilan dengan sang istri, Wildan mulai melajukan kendaraannya. Dia
Keluar dari parkiran Mall menuju pulang. Wildan memutuskan untuk mencari tempat makan pinggir jalan, untuk makan dulu sebelum pulang.
Wildan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian dia langsung berjalan ke warung ayam bakar dan seafood yang berada di pinggir jalan. Dia memesan nasi ayam bakar dan cah kangkung, dan untuk minumnya dia memesan teh tawar hangat.
Wildan meraih ponselnya di dalam saku kemejanya, dan dia berniat mengingatkan sang istri untuk makan. Wildan menghubungi istrinya lagi.
"Assalammualaikum. Kamu mau aku beliin makanan enggak, buat nanti pulang kerja? Aku lagi mau makan nasi uduk ayam bakar," ujar Wildan mengawali pembicaraan.
"Waalaikumsalam. Enggak usah, Mas. Nanti aku makan di kantor. Mas beli untuk mas saja," sahut Jihan.
"Ya, sudah! Nanti pulang jam berapa? Mas nanti tidur siapa yang menemani dong?" Ujar Wildan.
"Kemungkinan dari sini jam 21.00 WIB, sampe rumah sekitar jam 22.30 WIB. Mas tidur duluan saja, enggak usah nungguin aku! Guling 'kan ada mas?" sahut Jihan.
"Enakkan guling hidup," ujar Wildan sambil terkekeh.
Obrolan mereka harus terhenti, karena pesanan Wildan datang. Wildan izin untuk makan. Dia langsung makan dengan lahap. Sedangkan Jihan melanjutkan pekerjaannya lagi. Agar cepat selesai, dia pun ingin segera pulang bertemu sang suami.
Setelah selesai makan, Wildan memutuskan untuk pulang ke rumah. Saat ini jam menunjukkan pukul 18.00 WIB, Wildan baru saja sampai di rumah. Dia langsung memarkirkan mobilnya, kemudian turun masuk ke dalam rumah. Wildan memilih untuk langsung ke kamarnya. Dia memutuskan untuk langsung mandi dan sholat magrib.
Setelah selesai, Wildan memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Sambil menonton TV. Wildan mengambil ponselnya, berniat menggoda sang istri lagi.
"Mas tidur sendiri ini. Sepi. Cepat pulang ya Sayang!" Tulis Wildan di pesan chat yang dikirimkan ke sang istri.
Namun, Jihan belum membalasnya. Karena dia sedang sholat, dan berniat untuk makan dulu beristirahat. Setelah itu barulah dia melanjutkan kembali pekerjaannya.
Setelah sholat isya, Wildan ketiduran. Dia terlihat sudah tertidur nyenyak. Jam menunjukkan pukul 22.30, Melisa baru saja sampai di rumah.
"Mas Wildan sudah pulang, sudah ada mobilnya. Jihan belum pulang," gumam Melisa dalam hati.
Melisa mengucap salam, tetapi tak ada yang menjawab. Karena Bi Sumi sudah masuk ke kamarnya, tidur. Melisa mengendap-endap masuk ke dalam rumah. Keadaan rumah tampak sepi. Dengan beraninya, Melisa terpikir untuk mengintip Wildan di kamarnya.
Dia membuka pintu kamar Wildan secara perlahan, dan Melisa melihat Wildan yang sudah tertidur nyenyak.
"Mas Wildan tampan banget, tubuhnya gagah banget. Aku jadi terpikir ingin memilikinya," ucap Melisa. Melisa memperhatikan kamar Wildan dan Jihan. Di dinding kamar mereka, banyak terpasang foto kemesraan Jihan dengan Wildan. Termasuk foto pernikahan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 374 Episodes
Comments
anonim
Melisa ini kurangajar urat malunya sudah putus kaliii
2024-08-20
0
Cuy
Waduuh...bahaya!
2024-02-20
0
Pia Palinrungi
yah mau diliat apakah wildan tergoda
2023-07-04
0