Rima memegang segelas minuman sembari berdiri memandangi laut malam dari teras belakang villa. Suasanya terasa sunyi, hanya suara deburan ombak yang begitu menenangkan ditelinga.
Ia mengelus perutnya. Bayi yang ada di dalam perutnya merupakan manifestasi dosa yang ia lakukan bersama sang ayah mertua. Terdengar bodoh setiap kali ia berharap bisa bahagia dengan keberadaan anak itu.
"Sayang ...."
Arjun datang dari arah belakang memeluk dirinya. Rima merasakan kehangatan. Ciuman yang lelaki itu berikan membuat dia merasa dicintai sepenuhnya.
"Kamu belum mengantuk?" tanya Arjun sembari menciumi ceruk leher istrinya.
"Belum," jawab Rima singkat.
"Kamu tidak boleh berlama-lama di luar. Kalau malam udaranya dingin, takutnya nanti kamu masuk angin." Arjun melepaskan sweater yang dikenakan lalu memakaikan ke tubuh istrinya.
"Aku baru sebentar, kok. Menikmati suasana laut saat malam, sepi begini bisa mendamaikan perasaan."
"Hm, laut memang selalu menjadi tempat favorit untuk refreshing."
Arjun kembali memeluk Rima. Kali ini pelukannya terkesan berbeda seolah ia sedang merajuk. "Masuk ke kamar, yuk! Kita saling menghangatkan tubuh masing-masing," godanya.
Rima selalu senang saat suaminya memberi kode. Tanpa menunggu lagi, ia menyambut ajakan yang diberikan oleh suaminya. Arjun menggendong istri hamilnya ala bridal style dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Tak jauh dari mereka, Sandi ternyata sejak tadi terus memperhatikan Rima. Melihat kemesraan antara Arjun dan Rima benar-benar menyulut api cemburu di hatinya. Kaleng bir yang baru saja diminum sampai peyot karena rem asan tangannya.
"Rima, kamu milikku ... Anak itu juga milikku ...," lirihnya.
Sandi kesal atas penolakan yang selama ini Rima lakukan padanya. Ia sangat ingin mengulang hubungan yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Sandi tak pernah melupakannya. Tubuh Rima masih terngiang-ngiang dalam ingatannya.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu menurut padaku? Kamu tidak bisa mengabaikanku terus - menerus. Aku bisa mati, Rima!" Minuman yang direguknya sedikit membuat mabuk sehingga ucapannya juga kacau.
Saat ia kembali masuk, ia melihat Rima baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Sandi menyeringai. Kamar mandi di bagian atas memang sedang rusak dan yang berfungsi hanya kamar mandi bawah. Ia lihat sekeliling sepi, didekatinya pintu kamar mandi itu. Sandi menunggu Rima keluar dari sana.
Klek!
Rima membuka pintu kamar mandi setelah buang air. Ia terkejut melihat ayah mertuanya ada di sana dengan wajah yang serius dan tatapan tajam.
"Maaf, Papa, aku mau kembali ke atas."
Rima berusaha menerobos Sandi, namun lelaki itu justru kembali mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu itu kembali.
"Pa, please ...." Nada bicara Rima sedikit bergetar. Ia berjalan mundur sampai punggungnya mentok ke dinding. Rima ketakutan.
Sandi mengungkung Rima dengan kedua tangannya yang kekar. "Memangnya kamu takut apa, Rima? Kita sudah pernah melakukan hal yang tidak bermoral."
Ia mencoba mengingatkan kemesraan sesaat yang pernah mereka lewati tujuh bulan lalu.
"Kamu lupa ya, siapa yang membantumu sampai bisa bertahan di keluarga ini? Kamu disayang oleh banyak orang karena benih yang aku tanamkan di rahimmu, Rima."
Sandi mengelus perut Rima yang terasa kencang dan padat itu. Selama ini ia tak bisa melakukannya di hadapan orang lain. Padahal, ia juga ingin menyentuh perut itu. Perut yang berisi calon anaknya.
Rima terisak. Ia gemetar ketakutan terhadap perbuatan ayah mertuanya. "Papa sudah janji kan, hanya mau membantuku hamil. Tapi kenapa Papa terus menggangguku? Hiks! Hiks!"
"Siapa yang mau mengganggumu, Rima? Papa hanya ingin menunjukkan perhatian padamu. Tapi, kenapa kamu selalu menghindar? Kamu tega ya, membuat Papa merasa diabaikan dan kesepian?" Sandi merapikan helaian rambut Rima yang berantakan ke belakang telinga.
Sandi mulai mendekatkan wajahnya. Ia memaksa menciumi wajah Rima meskipun wanita itu berusaha memberontak. Aroma wangi wanita muda itu membuatnya terlena dan mengingat kembali hari itu.
Tok tok tok
Sandi menghentikan perbuatannya saat mendengar suara pintu kamar mandi diketuk dari luar.
"Sayang, kamu masih di dalam? Kenapa lama sekali?"
Terdengar suara Arjun dari balik pintu.
Rima memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Ia mendorong tubuh Sandi menjauh darinya dan berlari ke arah pintu. Buru-buru ia membuka kunci pintu dan akhirnya bisa keluar.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arju heran melihat istrinya keluar dari dalam kamar mandi seperti orang yang ketakutan.
Rima memeluk Arjun sembari menangis. "Ayo ke kamar, aku takut," rengeknya.
Arjun menggendong istrinya dan membawanya kembali ke kamar atas villa. Ia biarkan Rima menangis dalam pelukannya sampai kondisinya sedikit tenang.
"Aku sangat khawatir karena kamu tidak balik-balik ke kamar. Aku kira kamu pingsan. Tadi kamu kenapa sampai menangis ketakutan seperti ini?" tanya Arjun sembari membelai rambut Rima.
Rima mencoba menenangkan hatinya dalam pelukan Arjun. Ia masih sangat ketakutan membayangkan ayah mertuanya yang hendak berbuat macam-macam kepada dirinya.
"Mas, aku ingin pulang ke rumah sekarang," rengek Rima.
"Permintaanmu ini aneh-aneh, Rima. Ini sudah larut malam, rumah kita juga sedang direnovasi makanya kita menginap di sini. Aku kan sudah bilang kalau Mama mau memindahkan kamar kita ke lantai bawah supaya kamu tidak perlu susah-susah naik turun tangga."
Arjun begitu penasaran dengan istrinya. Setelah menangis karena ketakutan di kamar mandi, Rima ingin pulang.
"Kalau begitu, kita menginap di hotel saja. Aku tidak mau di sini." Rima yang diliputi ketakutan masih menginginkan pergi sejauh mungkin dari ayah mertuanya yang bejat itu. Ia rasanya ingin menjerit sekencang mungkin memikirkan betapa kotor dirinya membiarkan lelaki semacam itu menjamah tubuhnya dengan mudah sampai ia hamil.
Arjun mengeratkan pelukannya dan mencoba menenangkan istrinya. "Sudahlah, kalau memang yang kamu takutkan hantu, aku sudah ada di sini, jangan takut lagi. Kalau nanti kamu perlu ke kamar mandi, aku akan menemanimu sampai ke dalam. Sekarang, tidur. Besok baru kita pulang."
Rima tahu bahwa Arjun tak akan mengerti apa yang sebenarnya ia takuti. Dia berada di dalam posisi yang serba salah karena ia juga tak sepenuhnya benar. Sekalipun ia berkata jujur, Arjun tidak akan membelanya. Karena dia pernah tidur dengan ayah mertuanya sendiri.
Rima hanya berharap kebohongan tentang anaknya akan menjadi satu-satunya kebohongan yang akan ia lakukan terhadap Arjun. Kenyataannya, ia mulai harus melakukan kebohongan-kebohongan kecil demi menutupi kebobongan pertamanya.
"Bagaimana kalau kita tinggal di apartemen saja? Kita latihan hidup mandiri," usul Rima.
"Mama tidak akan setuju, Sayang. Dia sudah sangat menantikan kelahiran bayi kita."
"Tapi ...."
"Rima, sebenarnya ada apa?" Arjun memotong perkataan sebelum sang istri menyelesaikannya. "Kenapa kamu terkesan ingin menjauhi Mama? Bukankah Mama yang sekarang sangat menyayangimu?" tanya Arjun heran.
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya ingin merasakan hidup mandiri saja," ucap Rima. Ia merasa Arjun mulai curiga kepadanya.
🤎🤎🤎
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 88 Episodes
Comments
Amilia Indriyanti
goblogke renoreno
2025-01-11
0
🍁ɳιℓα❣️💋🄽🄸🄻🄰-🄰🅁🄰👻ᴸᴷ
sumpah rima ketakutan sendiri kan jadinya coba dri awal jujur aja kalo arjun mandul pasti ga ketakutan gini skrg , dia disayang tp hasil sama mertua 🤧
2023-06-01
1
Yatima Mauluddin
lama² jadi merinding mo lanjut baca...
takut ketauan
2023-04-11
0