"Mas , apa yang Mas lakukan di sini?" tanya Bunga sangat khawatir dengan posisi gelap-gelapan seperti ini, terlebih lagi status mereka yang pasti akan heboh jika di lihat orang.
"Aku khawatir denganmu, petir dan gelap seperti ini kau pasti takut." ucap Raka tersenyum mendekati Bunga yang terlihat sangat gugup.
"Tapi, aku lebih takut dengan posisi seperti ini." protes Bunga.
"Aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kau suka. Tapi jika kau suka aku akan melakukannya, dengan senang hati." ucapnya tersenyum nakal. Duduk di meja tempat Bunga meletakkan buku dan nota.
"Mas, aku tidak sedang bercanda." Bunga ingin sekali marah tapi rasanya tak mampu ketika berhadapan dengan Raka .
"Duduklah." perintah Raka memegang kursi Bunga.
Dan lagi-lagi Bunga menurut ketika mendengar perintah dari Raka.
"Aku hanya rindu dengan suasana seperti ini, ketika dulu kita masih pacaran. Rasanya tidak pernah bisa aku lupakan." ucap Raka kepada Bunga.
Bunga mendongak wajah Raka, dia bingung sendiri dengan posisi ini. Satu sisi hatinya menerima, tapi satu sisinya menolak, teringat kebersamaannya dengan Gibran ketika hujan, gelap dan mati lampu.
"Bunga." panggil Raka lebih mendekat, menatap wajah Bunga sangatlah dekat, hidungnya menyentuh keningnya.
"Mas, bisa tidak jangan terlalu dekat." Bunga berdiri, tapi bukannya jadi menghindar, posisinya membuat Raka semakin senang.
"Lebih dekat seperti ini Sayang." ucapnya tersenyum dengan posisi sejajar.
Raka meraih tangan Bunga meletakkan di tengkuknya dan satu tangan meraih pinggangnya agar lebih mendekat.
"Mas." Bunga mendorong Raka walau percuma. Laki-laki itu malah mencium Bunga kasar tapi pasti. Laki-laki seperti Raka akan hilang kesabaran jika sudah berhadapan dengan wanita bernama Bunga.
Tangan kokohnya menarik paksa baju bagian atas Bunga.
"Hemp." Bunga ingin protes atas kancingnya yang terlepas, rusak tak bisa di tutup lagi.
Raka tak perduli, matanya berbinar sambil menikmati ciuman pertama setelah beberapa tahun terpisah.
Bunga terus memberontak, sebisa mungkin menepis tangan Raka yang mulai bergerak. Kasar dan tak mau di halangi.
Derr...derr..derr...
Terdengar suara pintu toko di gedor dari luar. Tentu itu sangat membuat keduanya terkejut.
"Itu_"
"Bunga, apa kamu di dalam?" suara seorang laki-laki terdengar diantara derasnya hujan.
"Bapak Mas." ucap Bunga semakin takut.
"Sssst, enggak apa-apa." Raka memegang dan mengusap kepala Bunga.
"Tapi Mas, bapak pasti akan marah kalau tahu kita sedang bersama, dan..." Bunga menunduk melihat bajunya yang tak bisa di tutup lagi.
Raka melepas baju kemeja berwarna cokelat muda miliknya. "Pakai ini saja." Raka memberikannya kepada Bunga.
"Tidak Mas, semua orang akan tahu bahwa kau ada bersamaku jika seperti ini." Bunga menolaknya, mencoba mencari benda yang bisa membuat bajunya utuh lagi.
"Bunga, kamu tidur opo Nduk?" Ayah mertuanya kembali memanggil.
"Tidak ada waktu." ucap Raka lagi, memberikan lagi jaketnya dan segera memakaikan kepada Bunga.
Raka tersenyum senang, meskipun gagal bercinta tapi melihat jaketnya di pakai Bunga dia senang setengah mati.
"Lalu bagaimana?" tanya Bunga merapikan rambutnya.
"Pulanglah, biar aku yang mengunci toko ini." ucap Raka meminta satu kunci yang di pegang Bunga.
Bunga tampak ragu.
"Aku tidak akan mencuri." ucap Raka lagi tersenyum manis, dia ingat jika sikap Gibran yang lembut bisa merebut Bunga darinya, kini dia akan mencobanya untuk merebut hati Bunga kembali.
"Aku percaya Mas, hanya khawatir."
"Aku akan menyusul." ucapnya pasti, tentu dia tidak main-main jika sudah mengatakan akan menyusul. Bunga tahu persis seperti apa Raka Wijaya.
Bunga mengangguk, lalu keluar segera membuka pintu, karena bapak mertuanya sudah menunggu.
"Bapak." Bunga langsung mengunci toko.
"Kamu tidur Nduk?" tanya Yanto kepada Bunga.
"Iya Pak, menunggu hujan tak juga reda." jawabnya berbohong. Tentu Raka mendengar dan melihatnya.
"Tiara sakit Nduk, sepertinya demam karena kecapekan." ucap Yanto lagi.
"Demam Pak?" tanya Bunga khawatir.
"Iya, badannya panas sejak pulang sekolah tadi. Tidur susah di bangunkan, mengigau lagi." jelas Yanto.
"Kalau begitu kita harus cepat pulang Pak." Bunga segera membuka pintu mobil bersamaan dengan Yanto ayah mertuanya, mereka harus segera sampai.
"Sakit, demam?" Raka tampak berpikir, bukankah ada Joko bersama Tiara.
"Joko!" panggil Raka memusatkan pikirannya.
Beberapa saat masih tak ada tanda-tanda kedatangan Joko.
"Ada yang tidak beres." ucap Raka segera keluar dan menyusul Bunga.
Benar saja, di rumah Bunga Tiara tertidur seperti pingsan, sekalinya bangun mengigau dan menatap sembarangan seperti bukan sedang berada dirumahnya.
"Tiara Andini cucuku, kok kamu sakit seperti ini." Istri Yanto itu kebingungan.
Tentu dia sedang ketakutan, tak biasanya Tiara seperti itu. Pulang sekolah ia makan dan belajar, lalu tidur siang seperti anak rumahan pada umumnya. Tapi ada yang aneh di siang ini, setelah tidur siang ia tak bangun-bangun hingga beberapa jam.
"Tiara." Bunga langsung masuk menuju kamar Tiara.
"Bunga, ini Tiara seperti ini." Ibu mertuanya semakin khawatir.
"Tiara, Sayang." panggil Bunga tapi gadis kecil itu seperti tidak mendengar. Dia melihat tapi tidak tahu keberadaan Bunga.
"Gimana Bu?" tanya Bunga bingung.
"Ibu juga bingung." jawabnya.
"Bule, ini Mbah Surip, mana tahu bisa menyadarkan Tiara." seorang tetangga Bunga membawa kakek tua berpakaian hitam.
Bunga sedikit melongo, tapi kemudian pasrah, mana tahu benar bisa menyadarkan Tiara.
"Tolong Mbah, bangunkan cucuku." pinta ibu mertua Bunga.
Di luar Raka juga sudah menyusul, alasan melihat tetangga Bunga membawa Aki-aki tua itu membuatnya berani datang terang-terangan.
"Ada apa Pak, sepertinya terjadi sesuatu?" tanya Raka kepada Yanto.
"Tidak ada apa-apa, hanya Tiara sedang sakit." jawab Yanto tidak terlalu suka, tapi juga tidak memperlihatkan kepada Raka.
Dan di tengah ruang tamu yang gelap tanpa lampu menyala itu, tampak Joko sedang bertarung dengan makhluk menyeramkan, sejenis tapi beda rupa, mereka tampak saling menyerang dengan sekuat tenaga.
Raka maju mendekati pertarungan tak kasat mata itu, ikut membantu Joko dengan tenaga dalamnya.
Sementara di ruang keluarga, Aki-aki yang di bawa oleh tetangga Bunga sedang berkomat-Kamit merapalkan mantera yang tidak jelas apa yang dia baca.
"Tusuk matanya!" perintah Raka kepada Joko.
"Aku tahu, tapi dia terlalu kuat." kesal Joko.
Raka menginjak kaki makhluk jahat tersebut, dan Joko menyerang matanya.
"Huh, akhirnya." Joko berubah menjadi tampan kembali.
Lambat terdengar suara Tiara memanggil ibunya.
"Alhamdulillah." suara orang-orang di dalam terdengar gembira.
"Ya, jin yang mengganggunya sudah ku usir." ucap Aki tua itu dengan bangga.
Raka menoleh sahabatnya yang sedang melongo tak percaya dengan ucapan dukun palsu itu.
"Sialan, dasar Mbah sinting! Aku yang bertarung mati-matian malah dia yang punya nama." kesal Joko, geram sekali dengan dukun palsu tersebut.
Dia mendekati Aki tua itu, pas sekali ketika dia berdiri dan Joko menendang bokongnya.
Terlihat sangat lucu ketika aki-aki tua itu tersungkur di lantai, sehingga semua orang menahan tawa.
"Sukurin." kesal Joko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
heiii joko hati2 loh, nanti mbah surip minta digendong kemana2, repot...😁😁
2023-03-20
4
Indriyani Pkl
rasanya tdk rela klau melati jdi bekas arka lgi
2023-03-20
0
Indriyani Pkl
knp melati selemah itu, pdhal selama bersama iyan sudh dijarkan ibadah....cerita yg membangongkan
2023-03-20
0