Entahlah, hanya sekedar perasaan atau karena beberapa waktu ini terlewati dengan suasana mencekam sehingga membuat Gibran berpikiran yang tidak-tidak.
Tapi, terlepas dari itu semua Gibran tidak bisa mengelak atau mundur untuk ikut berkelahi malam ini.
Ya, perkelahian tak akan terelakkan jika mereka muncul. Iyan menoleh Raka yang tampak datar dan dingin, dia benar-benar bersemangat menantikan perkelahian ini.
"Aku merasa mereka semua akan datang dan mengamuk." ucap Gibran merasa tidak bersemangat.
"Jika kau tidak siap maka pulanglah, biar aku yang menghadapi mereka." jawab Raka tetap memperlihatkan sisi baiknya.
"Tentu aku akan bersamamu Mas Raka." jawab Gibran. tersenyum menatap Raka yang menatap tajam padanya.
Entahlah, perasaan apa yang sedang mengganggu dirinya hingga merasa tak yakin dengan keberhasilan yang biasanya dia tak pernah ragu. Tapi kembali lagi pada hati yang bersih, dia berdoa semoga Allah melindungi mereka, dan menyerahkan semuanya kepada Allah saja.
"Mereka datang." ucap Raka belum beranjak dari persembunyian mereka di balik pohon pisang tersebut.
Gibran mengangguk. "Bismillahirrahmanirrahim." ucap Gibran pelan.
Perkelahian di mulai ketika lima orang datang mendekat, membawa senjata dan berdiri menantang seolah sudah tahu akan keberadaan Raka dan Gibran.
Raka keluar lebih dulu dengan lincahnya ia bergerak membawa senjata yang tak kalah berkilat dari ke lima orang tersebut.
"Kita mulai saja." ucap Raka sangat bersemangat, Gibran sampai tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Bagaimana bisa Raka sangat tenang dan bahagia akan berhadapan dengan beberapa orang misterius tersebut, bahkan sudah jelas beberapa orang kemarin hampir membuat keduanya mati.
"Perkelahian di mulai dengan gerakan memutar Raka l, senjata dan jaket mirip jubah itu berayun seiringan terlihat begitu mengagumkan. Sepertinya dia sudah menyempurnakan ilmunya.
Gibran menyusul membantu Raka dengan tak kalah menakjubkan. Menyerang dan memukul tepat pada sasaran, satu orang sudah terpelanting sebab tendangan yang terlihat biasa saja dari Gibran.
"Kau hebat juga." puji Raka di sela serangan lawan yang tak sengaja malah mendekatkan mereka.
"Mas Raka lebih hebat." balas Gibran senang dengan suasana itu. Ternyata perubahan Raka membuat hubungan mereka membaik, tentu Gibran menyukainya.
Namun detik-detik berikutnya keadaan berbalik seperti sebelumnya, semakin malam kekuatan mereka semakin bertambah. Dua lawan lima terulang lagi, tak ada yang membantu bahkan tak ada seorangpun bersama mereka padahal sebelumnya ada banyak orang yang ikut dalam misi malam itu.
Gibran dan Raka mulai kewalahan, hingga terdesak dan terancam nyawa. Raka tersudut dengan senjata tajam dan berkilau milik seorang yang terlihat sangat beringas, dia memilih diam sejenak, mengatur nafas, tak bisa sembarangan melawan.
Begitu pula Gibran yang tersudut di keroyok tiga orang sekaligus, laki-laki muda itu mulai lelah bahkan sendinya tak bisa bergerak sempurna. Keringat mulai basah di seluruh tubuhnya, nafasnya pun sambung menyambung tak seirama dengan jantungnya.
"Kau akan mati." ucap seorang yang sepertinya paling muda.
"Mati itu urusan Allah." jawab Gibran ditengah usahanya menghindari serangan mereka yang semakin deras.
Dan akhirnya salah satu pukulan mengenai perut Gibran, menyusul seorang lagi menendang punggungnya, juga pemuda yang paling jangkung menendang kepala Gibranhingga jatuh tersungkur di tanah tubuhnya lemah terbatuk mengeluarkan darah.
Pemuda bertopeng itu bersiap dengan tenaga dalam penuh, menghantam dada Gibran.
"Grrrrrhhh...." sosok mengerikan menghalangi serangan tersebut, tentu membuat Gibran sangat terkejut.
"Joko! Apa yang kau lakukan?" bentak Raka kepada teman makhluk halus yang tersebut.
Joko tak mendengarkan Raka, malah berkelahi dengan ketiga orang tersebut melindungi Gibran.
"Joko hentikan!" Raka berusaha menghentikan makhluk tersebut.
Gibran menoleh Raka yang sama sekali tak melawan orang yang mengacungkan senjata padanya, sungguh Gibran tahu Raka tidak selemah itu.
Gibran baru sadar jika saat ini, dia sedang masuk dalam jebakan Raka. Mereka memang sedang mengincar nyawa Gibran, ini adalah bagian dari dendam Raka padanya.
Gibran hanya bisa memegangi dadanya, takut dan khawatir akan Bunga dan Tiara setelah ini. Namun untuk mengelak dan pergi dia sudah tak punya tenaga lagi.
Pemuda itu lagi, lolos dari serangan makhluk halus itu lalu menyerang Gibran dengan sekuat tenaga.
Bugh
"Ahh.." Gibran terjatuh dan tergeletak di tanah dengan mata terus menatap Raka.
Ya dia tersenyum...
Kelima orang tersebut mengarah kepada Raka yang mulai bergerak, mereka menyerang bersama-sama setelah memukul Joko.
Raka memulai gerakan andalannya, mengeluarkan ilmu yang pasti akan menghabisi semuanya. Dan terulang pula ia hanya menyerang 4 orang saja.
Pertempuran usai, menyisakan Gibran yang tergeletak tak bisa bergerak bahkan bicara.
Joko mendekati Gibran dengan iba, wujud menyeramkan itu meraih dan menggendong Gibran namun tak terduga Raka menghentikan, menendang Joko sekuat tenaga.
"Biarkan dia mati." ucapnya dengan kilatan mata merah menakutkan.
"Tapi dia adalah ayah dari kekasihku!" jawab Joko menantang tatapan Raka.
Raka tertawa terbahak-bahak dengan jawaban Joko, tak terkecuali Gibran menatap keduanya dengan bingung dan menahan sakit.
"Kau pikir dia akan mengizinkanmu untuk mendekati anaknya?" Raka kembali tertawa keras.
"Tapi Tiara akan menangis." jawab Joko lagi mendekati Gibran.
"Hem, akan lebih baik bagimu dia segera mati, agar kau bisa leluasa mendekati putrinya."
Raka mendekati Iyan dan menginjak tangan kanannya. "Tangan ini yang sudah mengalahkan aku tujuh tahun yang lalu." ucapnya sinis.
Joko berusaha melepaskan kaki Raka dari tangan Gibran, dia masih berusaha menolongnya. walau percuma.
"Terimakasih, sudah membantuku menghabisi mereka semua."
Tiba-tiba pula seorang pemuda itu berbicara kepada Raka, merasa keadaan sudah aman salah satu pencuri itu membuka seluruh pakaiannya.
"Kau?" ucap Gibran tak bisa bicara banyak.
"Ya, dia pencuri yang menginginkan harta yang banyak, tapi tak mau berbagi. Dia lebih suka saudara seperguruannya mati." jawab Arka merasa puas dengan perkelahian malam ini, akhirnya delapan saudara seperguruan pemuda itu mati ditangannya.
"Ya, dan kau juga akan menyusul. Sesuai perjanjian kami." pemuda itu tersenyum kepada Gibran yang sudah enggan membuka mata.
"Kau tidak akan pernah mendapatkan Bunga." ucap Gibran lirih, namun terdengar jelas di telinga Raka, heningnya malam membuat sebuah bisikan pun jelas masuk ke gendang telinganya.
"Aku akan mendapatkannya Gibran Dwiyanto." ucap Arka dingin. "Dia pikir aku adalah temanmu."
Membiarkan Gibran tergeletak di tanah dengan keadaan menyedihkan.
"Bertahanlah." ucap Joko kemudian menggendong tubuh Gibran.
"Berhentilah Joko, kau tidak bisa dilihat orang biasa. Kau tak akan dihargai." ucap Raka kepada temannya tersebut.
Joko menoleh. "Makhluk sepertiku saja masih punya rasa kasihan Raka." jawabnya membawa Gibran.
"Itu bukan kasihan Joko, tapi budak cinta." Raka tertawa mengejek.
Joko mengangkat tubuh Gibran ke pundaknya, dan kata terakhir yang di dengar Joko di dalam hati Gibran. "Mas Angga."
*
*
*
makasih masih setia membaca novel receh ini... 🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
MasWan
si joko berubah haluan
2023-03-21
1
MasWan
akan semakin rumit
2023-03-21
0
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
semangat thor 💪💪😍😍
2023-03-15
3