Istri orang

Gibran berjalan melewati halaman belakang, sengaja memutar dan pergi ke rumah ibunya.

Kehadiran Raka membuatnya tidak tenang jika hanya mengintip dari rumahnya, ia memilih datang ke rumah ibunya menemani dan menjaga Bunga. Dia cemburu, takut kehilangan istrinya tercinta.

Di depan sana, Raka masih setia menunggu di rumah Dudung sekalian minum kopi dan mengobrol, lalu sesekali menoleh rumah ibu mertua Bunga, menunggu istri orang keluar dari rumah itu.

Dan di dalam rumah tersebut, malah Bunga tak berani keluar padahal Tiara putrinya sudah merengek ingin pulang.

"Ibu, aku ingin jalan-jalan bersama Ayah." ungkapnya memeluk Bunga dan mendongak agar segera pulang.

"Iya, sebentar ya Sayang, Ayah sedang ada pekerjaan." Bunga membuat alasan.

Gibran baru saja masuk dari pintu belakang itu tersenyum mendengar alasan yang di buat istrinya. Hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan yang tujuannya sudah jelas bahwa Bunga menghindari pertemuan lagi dengan Raka.

"Ada apa anak Ayah?" tanya Gibran tersenyum mendekati anak dan istrinya.

"Mas?" Bunga tersenyum juga heran melihat suaminya datang dari belakang.

"Apa, hem?" Gibran berjongkok memeluk Tiara, tapi menatap wajah istrinya yang tersenyum senang karena kedatangan Iyan.

"Tumben lewat belakang?" tanya Bunga ingin tahu. Hanya menduga jika sebenarnya Gibran tahu kedatangan Raka di depan sana.

"Tidak apa-apa, tadi Mas lihat Ayam-ayam di belakang. Ada jago satu yang sakit, terus di potong sama Mang Tarmo." jawab Gibran memang benar semuanya, tapi dugaan istrinya lebih benar lagi.

"Tiara ingin jalan-jalan." rengek gadis kecil itu lagi, kali ini memeluk leher Ayahnya dengan manja.

"Jalan-jalan kemana Sayang?" tanya Gibran masih mengulur waktu.

"Ke mini market Ayah, Tiara mau beli sikat gigi yang ada mobilnya." jawab anak perempuan itu dengan polos sekali.

"Mobil?" tanya Gibran menggoda putrinya.

"Ya." jawabnya menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, bersama Ibu juga ya?" Gibran melirik Bunga.

"Iya Mas." Bunga beranjak dari duduknya, menguncir ulang rambutnya dan berpamitan kepada ibu mertuanya.

"Ayah ambil uang dulu ya." Gibran meminta Tiara menunggu, duduk di sofa ruang tamu ibunya.

Keluar dari rumah ibunya, Gibran masih melihat Raka duduk di depan rumah Dudung dan menoleh Gibran, tentu saja maksudnya menunggu Bunga keluar, tapi malah melihat suaminya.

"Mas Raka." sapa Gibran tersenyum, juga kepada Dudung tetangganya.

Raka hanya tersenyum sedikit, ya itu sudah lebih baik mengingat dia bukanlah orang yang ramah.

"Ngopi dulu Mas." tawar Dudung kepada Gibran.

"Terimakasih, lain kali saja soalnya mau ke rumah Ibu, Tiara minta jalan-jalan." jawab Gibran.

"Oh mau pergi to Mas." ucap Dudung lagi hanya basa-basi agar tidak terlalu canggung kedua orang tersebut.

"Iya, mari Mas." Gibran sedikit mengangguk berpamitan.

Gibran membelokkan mobilnya menuju rumah Ibu, tak lama kemudian anak dan istrinya keluar dengan tawa dan kebahagiaan yang membuat iri siapa saja, termasuk Raka.

Pria itu memandangi ketiga orang yang terlihat mesra dan serasi, terlebih lagi perlakuan Iyan yang selalu saja mengistimewakan anak juga istrinya. Raka tak bahagia melihat itu.

"Aku pulang ya." ucap Raka tiba-tiba meninggalkan Dudung tanpa butuh jawaban.

"Eh, kok langsung pulang?" tanya Dudung melihat temannya itu sudah melangkah jauh menuju mobilnya.

Raka melaju kencang menuju jalanan luas, lalu berlalu ke ujung desa hanya mencari pemandangan dan suasana untuk meredakan kekesalannya terhadap kebahagiaan mantan kekasih tersebut.

"Dia sangat bahagia memiliki Bunga, dia pasti senang dan bangga sekali menjadi suami Bunga. Sedangkan aku?" Raka mengusap wajahnya berkali-kali, namun sesak dan cemburu itu masih saja tak berkurang.

"Harusnya aku yang menyenangkan dan memanjakan Bunga saat ini, harusnya aku yang sudah memiliki seorang anak dari Bunga. Bukan dia." Raka semakin gusar, mengepalkan tangannya.

"Raka!"

Suara Dudung terdengar memanggil di belakang mobil.

Raka menoleh, dan ternyata benar teman lama itu menyusul dengan sepeda motor.

Raka keluar dari mobilnya menghampiri Dudung yang sudah berhenti mengunci sepeda motor Honda miliknya, duduk di atas motor tersebut.

"Lain kali, jangan menyaksikan kebahagiaan orang, akan lebih baik menjaga kebahagiaan sendiri. Kan kamu juga punya istri, ngapain melihat istri orang?" nasehat Dudung melihat wajah sendu Raka.

Laki-laki itu diam saja, tentu dia tahu apa yang di katakan Dudung ada benarnya. Tapi sungguh rindu dan cemburu itu masih begitu besar, hingga rasanya ingin merebut kembali mantan kekasihnya.

"Dia istri orang." sambung Dudung lagi.

"Aku masih mencintainya Dung." jawab Raka tak merahasiakan apapun.

"Aku tahu, tapi itu dosa Raka, kita sudah tua ini. Sudah tiga puluhan lho! Kalau matinya enam puluhan, artinya umur kita sudah bagi dua."

Raka menoleh temannya yang polos tersebut. "Kalau di kota tiga puluhan itu masih bujangan Dung." jawab Raka tersenyum sedikit.

"Iya... Tau. Hanya mengingatkan untuk berusaha hidup bahagia dengan jalan masing-masing." tambah Dudung lagi.

"Aku sudah mencobanya, bahkan istriku tidak kalah dengan Bunga, tapi cintaku ini tak pernah bisa mati. Semakin aku berusaha mencintai Dewi, semakin tinggi pula khayalan indah itu menguasai kepalaku." jelas Raka sedikit bercerita tentang kebingungannya.

"Itu karena kamu sudah pacaran terlalu jauh sama Bunga, kau sudah terbiasa dengan kebahagiaan yang tidak benar, alias belum halal. Dan ketika kamu dapat yang halal maka rasanya akan hambar!"

Raka menatap tajam Dudung. "Kamu pandai ceramah sekarang."

"Enggak, aku cuma jiplak obrolan orang tua." jawab Dudung sedikit ngeri melihat tatapan Raka.

Raka menggeleng, kemudian menarik nafas berat lalu tersenyum tipis.

"Kamu benar Dung, rasanya cuma Bunga yang paling menyenangkan."

"Lha!" Dudung menggeleng kali ini.

Sulit rasanya membandingkan Dewi dengan Bunga, bahkan di setiap bercinta dengannya bayangan Bunga-lah yang menemani Raka hingga mencapai puncaknya.

Jika di pikir, kasihan Dewi. Wanita muda itu begitu menikmati kebersamaan mereka karena dia tidak tahu isi kepala Raka ketika bercinta dengannya, atau mungkin pura-pura tidak tahu. Raka tak begitu peduli.

"Pulanglah Dung, aku mau melihat rumah teman lamaku di ujung sana." pinta kepada sahabatnya tersebut.

"Ngapain?" tanya Dudung lagi.

"Hanya melihat-lihat, rindu saat dulu dia selalu setia menemani ku." jelas Raka lagi.

"Yo wes lah. Istriku juga sedang repot ini." laki-laki itu menaiki sepeda motornya setelah Raka menyingkir. "Jangan lupa pulang." mengingatkan Raka.

"Istriku saja tidak pusing!" kesal Raka.

"Dia pusing, cuma takut sama kamu." jelas Dudung segera melaju meninggalkan Raka yang menatap tajam padanya.

Sementara Raka juga kembali melaju menuju jalan yang sepi, ia akan mengunjungi rumah teman atau gurunya yang sudah meninggal tujuh tahun lalu saat bertarung dengan Gibran ketika itu.

Terpopuler

Comments

💞

💞

move on dong arka, dari pada makan hati terus wkwkwwk

2023-03-07

8

Deliyu

Deliyu

Belum bisa move on si arka,

tapi aku penasaran ya, emang bener thor orang yang udah pengalaman ama mantan pacar terus pas nikahnya seperti itu,? tidak bahagia. Ah tor, jangan bikin aku mikir!

2023-03-07

6

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!