Tak bisa melihatmu

"Raka, bangun."

Raka yang enggan membuka mata tetap melanjutkan tidurnya, menutup telinganya dengan bantal.

"Raka, bangun!"

Teriakan Joko malah semakin keras, seolah memenuhi gendang telinga Raka.

"Apa?" teriak Raka kesal dan melempar bantalnya kepada Joko.

"Mas!" Dewi yang tidur di samping Raka ikut terkejut, bangun dan beringsut ketakutan.

"Dewi." ucap Raka menyesali perbuatannya melempar Joko dengan bantal, dia baru sadar jika Dewi ada di kamar itu, dan tidak bisa melihat Joko.

"Kamu kenapa Mas?" ucapnya memeluk bantal ketakutan.

Raka mendekati Dewi dan meraih tangannya. "Maaf Mas tidak sengaja." Raka memeluk Dewi, menenangkan ibu hamil itu.

"Dewi kaget Mas." ucapnya lagi membalas pelukan Raka.

"Maaf Sayang, Mas tidak bermaksud membentak atau membuat kamu terkejut. Tadi Mas merasa ada yang memanggil dan mengganggu tidurku." Raka mendelik tajam kepada Joko.

"Mampus." Joko malah terkekeh melihat Raka semakin kesal.

"Apa?" tanya Raka membuka mulutnya tanpa suara.

Joko mendekati Raka. "Ayo kita ke rumah temanmu." ajak Joko di pagi itu.

Raka menautkan alisnya, sedang memeluk Dewi membuatnya tak bisa berbicara leluasa kepada Joko.

"Aku ingin bertemu Tiara." ucapnya dengan wajah murung, kemudian menyandar di tiang ranjang dengan meluruskan kakinya.

"Kamu itu Bukan manusia, percuma tiap hari menemuinya. Dia tidak akan bisa melihatmu, mau kamu berubah menjadi tampan, mau kamu berubah menjadi jelek, mau kamu berubah menjadi monyet, semuanya percuma." Raka berbicara di dalam hatinya, ia baru ingat jika Joko bisa mendengar suara hati Raka.

"Aku tahu dia tidak bisa melihatku, tapi dia bisa merasakan keberadaan ku, terlebih lagi aku mencintainya. Dia akan merasa jika ada seseorang yang mencintainya juga menyayanginya." Joko tersenyum-senyum sendiri.

"Mas, aku mau di temani berkeliling desa hari ini. Apakah Mas Raka bersedia." ucap Dewi lembut sekali, cara satu-satunya membuat Raka baik dan luluh adalah berbicara pelan dan sedikit merayu. Atau dia akan mengabaikan Dewi.

Raka melirik Joko.

"Kamu bakal rugi tidak bisa bertemu Bunga." bujuk Joko tidak mau pergi sendiri.

"Mas." rengek Dewi meraih tangan Raka dan menempelkan ke perut besarnya, agar laki-laki pemarah itu tidak menolak.

"Baiklah, kita jalan-jalan setelah sarapan." jawab Raka senang. "Mau pakai mobil atau jalan kaki?" tanya Raka lagi.

"Pakai mobil saja Mas, kalau jalan kaki paling hanya muter di sekitar sini." Dewi menunjuk sekeliling rumah mereka.

Raka tersenyum, tak masalah dengan permintaan istrinya. Pagi ini moodnya sedang bagus, hatinya sedang senang. Tak masalah dengan apa permintaan Dewi, dia akan menurutinya.

"Yo wes ah, aku pergi sendiri saja." Joko kesal dan merajuk. Dalam sekejap mata ia sudah menghilang, langsung berada di depan rumah Gibran.

Tampak gadis kecil itu keluar dengan rambut di kuncir dua, tersenyum dengan gigi besar menyapa seorang teman anak tetangganya.

"Tiara." panggil Joko dengan suara merdu dan penuh perasaan.

Gadis itu tak mendengar, tapi menoleh karena merasa ada orang di belakangnya.

Joko tersenyum senang, walaupun mata dan telinganya tidak mendengar, tapi perasaannya bisa merasakan kehadiran Joko.

Jin tampan itu mengikuti Tiara pergi ke sekolah, wajahnya berseri-seri ketika berjalan sejajar dengan tiara, tersenyum malu-malu dan sangat salah tingkah. Terlebih lagi ketika gadis kecil itu menoleh padanya, walau tak melihat tapi Joko tetap saja sangat senang.

"Aku masuk dulu ya." suara halusnya terdengar berpamitan kepada teman laki-lakinya yang bernama Arya.

Suaranya yang halus membuat Joko lemas terperosok di lantai, dia merasa jika Tiara sedang berpamitan dengannya.

"Nanti istirahat jangan kemana-mana ya, tunggu aku." ucap Arya anak laki-laki kelas tiga teman sekaligus tetangga Tiara.

"Iya." jawab Tiara kemudian masuk meninggalkan Arya terlebih dahulu.

"Sepertinya bocah laki-laki ini menyukai Tiara." Joko menatap tajam Arya, di tidak suka ada orang lain yang menyukai Tiara, apalagi sepertinya Tiara juga menyukai Arya.

Joko menjadi kesal, ingin meninggalkan Tiara tapi hal yang menyebalkan kembali menarik perhatiannya.

Seorang anak laki-laki mendekati Tiara di dalam kelasnya. Parahnya lagi anak laki-laki tersebut malah meminta uang kepada Tiara.

"Jangan Boni, ini uang jajan ku untuk hari ini." Tiara menghindar hingga keluar dari tempat ia duduk.

"Aku tidak mau tahu! Cepat kau berikan uang di itu padaku." anak laki-laki bernama Boni tersebut malah marah dan terus memaksa.

"Tidak mau." teriak Tiara berharap ada yang mau membantu. Tapi seperti pada umumnya, teman-teman yang lain tak mau ikut campur apalagi berurusan dengan Boni yang terkenal gemar berkelahi.

Joko semakin emosi melihat Tiara ketakutan, ingin sekali dia memukul dan membunuh anak laki-laki jahat tersebut. Dan dia mendapatkan ide yang bagus.

"Cepat Tiara!" bentak Doni menarik tangan Tiara dan meraih saku baju seragam Tiara.

Mata Joko menjadi merah dan mengeluarkan taring. Tangannya mengepal dengan kuku-kuku memanjang, Joko menarik kerah baju anak nakal tersebut hingga tercekik lehernya, semakin kencang hingga anak yang bernama Boni tersebut melepaskan Tiara dan memegangi lehernya.

"Akh.." Boni kesakitan dengan wajahnya memucat.

"Boni kenapa?" anak-anak yang lain menjadi heran dengan kelakuan Boni.

Tiara mundur dengan wajah ketakutan, terlebih lagi ketika Boni jatuh pingsan tepat di hadapannya. "Ibu..." teriak Tiara ketakutan.

Riuh dan heboh di kelas dua tersebut, Boni di bawa ke ruang UKS dan tentu para guru menjadi heran dengan jatuh pingsannya Boni yang merupakan anak dari salah satu guru yang mengajar di sekolah tersebut.

"Jangan-jangan kamu punya ilmu Tiara?" seorang anak perempuan berkata kepada Tiara yang belum habis ketakutan.

"Ilmu apa?" Tiara benar-benar tidak mengerti.

Sehingga bisik-bisik diantara anakpun menjadi tekanan tersendiri untuk Tiara.

Sementara Raka dan Dewi sedang berkeliling, seperti rencana mereka akan jalan-jalan berkeliling kampung.

"Itu ada puskesmas, apa kamu mau periksa Wi?" tanya Raka melihat bangunan berwarna putih tersebut.

"Iya Mas, lagi pula vitamin ku sudah habis." ucap Dewi senang mendapat perhatian dari Raka.

"Baiklah." Raka membelokkan mobil mereka ke halaman puskesmas tersebut.

Lama menunggu, banyak ibu hamil juga ternyata sedang melakukan pemeriksaan, terlebih lagi puskesmas tersebut baru saja kedatangan dokter baru.

"Mas, tunggu di sini saja, soalnya ramai sekali." ucap Dewi kepada Raka.

"Tapi Mas mau lihat anak kita." jawab Raka melihat ruangan ibu hamil tersebut benar-benar ramai orang mengantri di luar.

"Sepertinya bakalan lama Mas, Dewi mau minta Vitamin saja sama Bidan yang lain. USG-nya lain kali saja." jelas Dewi kepada Raka.

"Ya sudah." Raka kembali duduk.

Namun ada seorang laki-laki yang membuat mata Raka teralih fokus.

Seorang pria berjalan keluar dari ruangan yang berbeda dengan sedikit pincang, dan memegang tangannya yang baru saja di perban.

"Tunggu!" Raka berdiri dan menahan pria tersebut.

Terpopuler

Comments

MasWan

MasWan

wah maling nya habis berobat

2023-03-20

1

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

ini si maling yg lolos

2023-03-11

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!