Wanita itu

Satu Minggu kemudian, Raka sudah kembali ke kampung halaman ayahnya, tepatnya adalah rumah dimana ia dulu tinggal, dan sempat menjalin cinta dengan Bunga kekasihnya.

"Nanti malam aku akan mulai menyerang." Laki-laki, yang malam lalu menemuinya, kini datang lagi menemui Raka.

"Ya, ingatlah bahwa kita sedang bersandiwara." jawab Raka menjelang Maghrib itu mereka bertemu di jalan.

Hingga malampun tiba, kampung yang memang Ramai terjadi pencurian tersebut membuat semua warga waspada, terutama orang-orang berduit. Tak terkecuali rumah seorang pemuda yang bernama Gibran malam ini memang sudah di targetkan Raka dan temannya.

Belum lagi menyerang, baru melangkah masuk pemuda suruhan itu sudah ketahuan.

Gibran segera mengejar pria yang berlari keluar, tak kalah cepat ia bergerak dan berhasil menendang kaki laki-laki misterius itu hingga jatuh menekuk di tanah.

"Kau tak akan lolos!" namun salah.

Pria itu berdiri dan menyerang Gibran dengan jurus yang langka, dan yang membuat ia kewalahan. Dan lebih membingungkan ketika ada lagi seseorang yang datang berpakaian sama dengan pria tersebut. Mereka menyerang lagi hingga kemudian Gibran terjatuh dan mundur.

Kedua orang itu saling tatap dengan kuda-kuda mereka masih siaga, waspada dengan Gibran yang tak diragukan kekuatannya.

Satu orang melesat bagaikan hilang di kegelapan, tapi yang satunya tertangkap oleh Gibran lalu kembali berkelahi dan terjadi saling pukul memukul.

Pemuda misterius itu mundur, lalu mengerahkan telapak tangannya.

Beruntung ada seseorang yang berhasil menahan bahu pemuda misterius itu, mengurungkan pukulan dahsyatnya. Dia memukul lalu mengunci dua tangan pemuda aneh itu di belakang.

Tapi yang membuat Gibran terkejut adalah wajah pria itu, sosok itu tak asing baginya.

"Mas Raka!"

*

*

*

Di rumah Gibran, tentu kehadiran kembali Raka membuat ingatan masa lalu itu terlihat jelas, seolah baru saja kemarin terjadi.

Baik Gibran ataupun Raka keduanya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, malam yang gelap itu pernah menjadi saksi bagaimana mereka mati-matian memperebutkan Bunga ketika itu.

Di seberang jalan, Raka tersenyum sinis mengingat kekalahan lalu.

"Sesuai kesepakatan, aku sudah datang."

Seorang pemuda mengikuti langkah Raka di tengah jalan sepi menuju rumahnya.

Sedikit melambatkan langkahnya dan menoleh pemuda yang baru saja berbicara kepadanya.

"Aku datang bersama sekelompok perampok, sambil menyelam minum air." jawab pemuda misterius itu.

"Bukankah kau sengaja membawa saudara seperguruanmu agar mereka semua cepat mati." jawab Raka tersenyum sinis, melanjutkan langkahnya.

"Yang penting anak perempuan yang kau minta selalu tersedia." jawabnya lalu pergi.

Raka datang untuk membalaskan kekalahannya, tapi dengan cara yang berbeda.

"Rasanya, kali ini kau tak akan bisa selamat." berhenti sejenak dengan dada kembali menyesak. Sungguh luka di hatinya tak pernah sembuh, walau sesekali ia sadar jika kehilangan Bunga bukan salah Gibran , tapi kesalahan ia sendiri. Namun ada yang janggal ketika mencoba untuk ikhlas, cintanya masih menuntut.

Bulan di atas sana tampak tertutup awan yang gelap, mengingatkan lagi ketika dulu pernah menghabiskan malam panjang bersama gadis itu, pulang menjelang subuh ketika rembulan bersembunyi, enggan menyaksikan perbuatan terlarang yang menyenangkan.

"Apa kabarmu Bungaku?" lirihnya ketika sudah akan menginjak halaman rumahnya. Jalanan yang panjang hingga beberapa tikungan itu tak terasa jauh walaupun Raka berjalan kaki, memikirkan Bunga masih saja menyenangkan hingga saat ini. Menyesal sekali dia selingkuh, sehingga Bunga benar-benar meninggalkannya.

"Dari mana saja Mas?" suara Dewi istrinya membuat Raka terkejut, pukul tiga dini hari istrinya malah duduk di teras.

"Aku ada urusan." tegas Raka dengan suara meninggi, Raka ingin istrinya segera tidur.

Dewi hanya menarik nafas kesal, entah mengapa belakangan ini Dewi menjadi tidak percaya. Selain sering melamun, Raka juga mengunci kamarnya seperti ada yang di rahasiakan dari Dewi.

Namun teringat kembali ketika mereka akan menikah. Seorang dukun keluarga Dewi mengatakan bahwa jangan sekali-kali membantah Raka jika sudah menikah nanti. Tentu Dewi tidak mau kehilangan suami.

Sementara itu, pemuda bernama Gibran masih teringat pertemuan dengan Raka malam ini, pria itu tidak se-seram dulu. Tapi Gibran merasa jika Raka tidak pulang dengan tangan kosong. Gerakan yang gesit menangkap pencuri itu bukanlah kegesitan seperti berilmu karate atau silat biasa, tentu dia memiliki tenaga dalam yang kuat.

Jika boleh curiga, mendadak Raka hadir di dalam kehebohan penuh misteri dikampung ini. Tapi tak mungkin rasanya jika mereka ada hubungannya dengan Raka, Gibran mencoba berpikir positif.

*

*

*

"Mas, Bunga mau pergi ke pasar membeli perlengkapan kamar mandi. Gayungnya pecah, terus shampoo dan pasti gigi pada habis." Bunga bercerita sambil merapikan rambutnya.

di pagi itu.

"Mau Mas antar?" Gibran mendekati Bunga, menatapnya mesra seperti biasa. Tujuh tahun menikah sikapnya tidak berubah.

"Bukannya Mas sibuk?" tanya Bunga mengulurkan tangannya memeluk Gibran .

"Tidak juga. Sesekali pingin pergi berdua sama kamu, mumpung Tiara lagi di rumah Ibu." Gibran terkekeh membalas pelukan Bunga dan mengecup keningnya.

"Kita sedang pacaran." Bunga ikut terkekeh.

"Ya." Gibran meraih kunci mobil di belakangnya, lalu pergi berdua bersama Bunga.

Pasar pagi yang baru saja dibangun beberapa tahun terakhir tampak ramai dikunjungi warga dari berbagai desa tetangga. Semuanya sibuk membeli keperluan masing-masing terutama sayur dan sebagainya.

"Bunga mau beli apa saja." Gibran tak melepaskan tangannya menggandeng istri tercinta.

"Mas mau di masakin apa?" Bunga balik bertanya, melihat banyak pilihan daging juga ikan di depan mereka.

"Apa saja, kalau ayam di rumah kita ada banyak." ucap Gibran memang memiliki banyak ayam kampung di belakang rumah mereka, bahkan sengaja meminta seseorang khusus untuk mengurusnya.

Bunga terkekeh, lalu memilih seekor ikan yang berukuran besar untuk dibawa pulang.

"Di potong Mbak?" tanya penjual itu menanyai Bunga.

"Kecil-kecil pak." jawab Bunga meminta penjual memotong ikannya.

"Saya mau ikan pak, tapi cepat sedikit." seorang wanita juga memilih ikan yang sama, namun menutup hidungnya karena tidak suka dengan bau amis.

"Sabar ya Mbak, ini punya Mbak Bunga." jawab bapak penjual ikan.

Wanita itu gelisah dengan hidungnya di tutup lalu kemudian di buka serba salah. Mungkin dia sedang mengidam sehingga tidak suka dengan bau ikan, tampak dari perutnya yang sudah besar, begitu pikir Bunga.

"Berikan saja Pak, tidak apa-apa." ucap Bunga mengerti wanita itu sedang tak nyaman.

"Iya Mbak." penjual itu memasukkan potongan ikan ke dalam kantong plastik.

Wanita itu menoleh Bunga yang juga sedang tersenyum ke arahnya, namun tak terlihat ia membalas tersenyum, bahkan tatapan matanya tak terlihat senang.

"Ini mbak." penjual itu memberikan kepada wanita tersebut.

Dan wanita itu pergi begitu saja setelah meletakkan uang lima puluh ribu.

"Orang baru sepertinya." ucap jual itu. Tentu Bunga juga berpikiran sama.

Hingga siang hari kemudian di rumah Raka, Dewi sedang bersantai menonton televisi.

"Dewi, Mas Mau pergi sebentar mencari sepeda motor untuk mas pergi-pergi." Raka sudah berganti pakaian.

Raka berlalu meninggalkan Dewi keluar tanpa menunggu jawaban.

Dewi menutup pintu setelah suara mobil Raka menjauh.

Dewi menuju kamar depan itu dengan terburu-buru, memasukkan kunci yang diambilnya ketika Raka tertidur pulas.

Pintunya berhasil di buka.

Dewi tersenyum senang dan sudah tidak sabar masuk ke dalam untuk melihat isinya, mana tahu di dalam sana adalah alasan mengapa Raka sering melamun dan tak sepenuh hati mencintainya.

Pintu sudah terbuka lebar. Bola matanya menangkap banyak sekali foto di dalam sana tertempel di dinding seperti Mading sekolah dasar.

Selangkah ia masuk dan semakin penasaran dengan siapa wanita itu, hingga kakinya merasa menginjak sesuatu.

Dewi meraih foto tersebut dan melihatnya. Matanya tak berkedip memandang siapa yang ada di dalam foto tersebut.

"Dia!" Dewi mengingat wanita yang ada di pasar tadi pagi. Matanya kembali melihat bahkan semakin dekat memastikan wajahnya sama persis.

Dewi semakin berpikir, dadanya naik turun dengan perasaan tak karuan.

"Dewi!" Bentakan Raka terdengar mengerikan, mengejutkan Dewi yang tak menyangka suaminya kembali lagi.

Terpopuler

Comments

MasWan

MasWan

kecurigaan mu tepat nak, hanya saja kau selalu berfikir positif sebelum ada bukti

2023-03-20

1

Lina Zascia Amandia

Lina Zascia Amandia

Kak Dayang punya ongoing berapa?

2023-03-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!