"Dewi, keluar!" perintah Raka sekali lagi. "Jangan sampai aku kehilangan kesabaran karena kau tidak menurut."
"Tidak menurut?" tanya Dewi pelan.
Raka mengepalkan tangannya, ia sungguh sedang kesulitan menahan amarahnya kepada Dewi.
"Aku selalu menurut Mas, aku tidak pernah membantah apa yang kau inginkan. Tapi aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya kau sembunyikan."
"Kau tidak perlu tahu karena tidak ada hubungannya denganmu." ucap Raka masih menunjuk keluar.
"Tentu saja ada Mas! Setiap malam kau melihat langit memikirkan sesuatu yang sudah jelas bukan aku. Dan akhirnya aku tahu apa yang sering engkau pikirkan." Dewi mengarahkan telunjuknya pada dinding yang terdapat banyak foto Bunga. "Dia."
Raka tercekat ketika istrinya menunjuk foto-foto Bunga. Meski dalam keadaan marah namun rasa bersalah tetap ada di dalam hatinya.
"Aku juga sudah bertemu dengannya." ucap Dewi kemudian keluar dari kamar tersebut, sesuai dengan permintaan Raka.
Dengan perutnya yang besar ia masuk ke dalam kamar yang merupakan kamar orang tua Raka ketika itu. Dewi tahu persis tentang semua itu, karena masih tersimpan beberapa pakaian milik ibu Raka.
Dewi duduk di atas ranjang dengan air mata berjatuhan. Seorang wanita hanya memiliki air mata untuk meluapkan kesedihan, tapi tak punya tenaga untuk berlari dari kenyataan. Begitu lah Dewi saat ini, hamil besar dan tak akan mampu jika sendiri tanpa Raka bersamanya. Meskipun ia tahu cinta Raka tak sepenuh hati dengan Dewi, tapi perhatian dan tanggung jawabnya tetap selalu ia penuhi.
Wanita mana yang tak teriris hatinya jika mengetahui suaminya mencintai wanita lain.
Wanita mana yang tidak menangis jika tahu suaminya setiap malam memikirkan orang lain.
Di tambah lagi dengan pertemuan tadi pagi dengan Bunga.
"Dia sangat cantik." gumam Dewi sambil menghapus air matanya. Tapi kemudian ia mengingat jika ada pula seorang laki-laki yang setia menemani wanita itu, bahkan memeluk pinggangnya ketika membeli ikan di pasar tadi pagi. Sepertinya pria itu adalah suaminya.
Dewi jadi penasaran dengan wanita itu, ingin tahu bagaimana sebenarnya kisah mereka sehingga Raka belum bisa melupakan wanita itu hingga saat ini. Bahkan setelah Dewi mengandung anak mereka.
Terdengar suara pintu di buka, bisa di tebak jika yang masuk adalah Raka.
Raka mendekati Dewi dan berdiri di hadapan wanita yang menunduk sedih itu. "Tidak perlu dipikirkan tentang apa yang kamu lihat, lebih baik kau fokus saja dengan kehamilan ini." mengulurkan tangannya mengelus perut Dewi. "Ingatlah dia butuh ibu yang kuat, jadi jangan menangis."
Dewi mendongak wajah Raka menatap wajah pria tiga puluhan itu dengan pasrah.
"Aku menyayangi mu Dewi Lestari. Kau sedang mengandung anakku, jadi tidak perlu berprasangka atau membayangkan hal yang hanya menyakiti perasaanmu." sambungnya lagi.
"Aku hanya ingin tahu Mas, sebagai wanita tentu saja hatiku diliput rasa penasaran juga cemburu. Aku ingin tahu siapa dan seperti apa wanita yang membuatmu sulit melupakannya. Dan aku sudah tahu sekarang, juga sudah bertemu dengan wanita itu." jelas Dewi menghembuskan nafas yang sempat menyesak.
"Di mana kau bertemu dengannya?" tanya Raka tak bisa menyembunyikan rasa penasaran di dalam hatinya.
"Di pasar tadi pagi ketika aku membeli ikan, dia memberikan ikan yang besar itu untuk segera ku bawa pulang dan dia menunggu setelah aku. Dia berbelanja bersama suaminya yang tidak pernah melepaskan walaupun sedang belanja, mereka selalu berdua."
Mendengar kalimat terakhir membuat masam wajah Raka laki-laki itu tak pernah bisa menyembunyikan rasa tak suka pada siapapun terlebih lagi sudah menyangkut Bunga. Hatinya masih saja cemburu walau berusaha mati-matian untuk tidak mengakui.
"Aku juga sudah bertemu suaminya. Jadi, tidak perlu kau memikirkan tentang dia." Raka memilih keluar dari kamar itu, meninggalkan Dewi sendiri.
"Aku tahu Mas, kau masih mencintainya. Bahkan kata-kata cinta itu tak pernah kau ucapkan ketika bersamaku."
Dewi hanya bisa menangis. Siang yang harusnya ia habiskan untuk tidur, kini menjadi tangisan yang membasahi bantal miliknya.
Tapi tidak hanya menangis, Dewi berpikir jika sesuatu harus dilakukan untuk mempertahankan Raka bersamanya. "Mbah Diman pasti bisa membantuku."
Sedangkan di luar sana, Raka jadi sibuk memikirkan ucapan-ucapan istrinya tentang Bunga. Jujur saja jika Raka rindu sekali dengan wajah cantik Bunga. bahkan jika ada kesempatan ingin sekali menyapanya dan melihat senyumnya.
Raka jadi memikirkan bagaimana cara untuk melihatnya walau sekilas.
"Oh, iya. Kalau tidak salah di Dudung kemarin bercerita bahwa dia menempati salah satu rumah kontrakan milik Gibran dan tempatnya dekat sekali dengan rumah Gibran ." Raka tersenyum senang, mengusap wajahnya lalu kembali tersenyum penuh arti.
Ia membelokkan mobilnya menuju arah yang berbeda. Tujuan untuk membeli sepeda motor itu berubah menjadi pergi ke rumah teman lama, sekalian ingin melihat mantan kekasihnya walaupun hanya menonton dari rumah tetangga.
Raka tersenyum-senyum sendiri.
Benar saja jika rumah Dudung hanya berjarak satu rumah dari rumah Gibran dan Bunga.
"Akhirnya kau datang juga." Dudung menyambut Raka dengan tawa dan memeluk teman lama tersebut.
"Aku akan menetap di desa ini lagi bersama istriku." jelas Raka sambil duduk di depan rumah Dudung.
"Aku penasaran dengan istrimu, di sosial Media saja aku tidak pernah melihatnya." ucap Dudung kepada Raka.
"Dia ada di rumah, sedang hamil." jelas Raka namun menoleh ke arah rumah di sampingnya.
Dudung terkekeh dengan tingkah Raka, dia paham sekali jika tujuan laki-laki itu bukan untuk berjumpa Dudung sepenuhnya, melainkan melihat Bunga.
Menyadari sikap Dudung yang sedikit tertawa, Raka juga ikut tertawa. "Pingin lihat, bagaimana wajahnya setelah tujuh tahun." jelas Raka tak menutupi maksud kedatangannya.
"Ada kok, biasanya sebentar lagi dia keluar, menjemput Tiara di rumah Bule." Dudung menunjuk rumah bersebrangan yang merupakan rumah orang tua Gibran.
"Oh." jawab Raka tapi semakin memanjangkan lehernya melihat ke rumah Bunga lagi.
Dan tak lama kemudian seorang wanita cantik keluar dengan dress panjang menyentuh kaki, rambutnya di kuncir sederhana berjalan menuju rumah ibu mertuanya.
Raka keluar terburu-buru menuju warung di rumah yang berbeda, berpura-pura membeli sesuatu lalu keluar dan bertemu Bunga seolah tidak sengaja.
"Bunga?" tegur Raka seolah terkejut padahal yang sebenarnya sangat terkejut adalah Bunga.
"Mas." ucapnya seperti berbisik namun masih dapat terdengar oleh Raka.
Raka tersenyum. "Apa kabar Bunga?" tanya Raka tak melepaskan pandangan di wajah Bunga.
"Baik Mas." Jawab Bunga. "Maaf Bunga sedang terburu-buru." Bunga tersenyum kaku, lalu segera meninggalkan Raka yang masih terlihat rindu, tak puas hanya melihat saja.
Raka masih menatap punggung Bunga hingga menghilang masuk di balik pintu rumah mertuanya. Pandangannya jelas sekali masih mengagumi juga rindu ingin memiliki.
Dari kejauhan, tepatnya di samping rumah Bunga, Gibran menyaksikan bagaimana Raka memandangi istrinya. Tatapannya juga sikapnya masih seperti dulu, dapat dipastikan jika Raka belum melupakan Bunga.
"Kau masih saja menginginkan istriku." gumam Gibran menatap Raka yang berjalan menuju rumah Dudung, tapi beberapa kali ia berbalik menoleh rumah ibunya, dimana Bunga berada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Biah Kartika
pernah merasakan seperti mba Dewi, sabar ya mba Dewi tapi jangan main dukun juga untuk mendapatkan cinta suaminya 😊
2023-09-27
1
MasWan
hati² yan
2023-03-20
1
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
tipe2 GALON ni si Arka
2023-03-11
4