Kematian tak biasa

Makhluk bernama Joko itu masih tercengang dengan hembusan nafas terakhir Gibran yang ada di pundaknya. Matanya mendelik ketika melihat tangan Raka menyentuh punggung sebelah kiri Gibran.

"Raka!" bentak Joko kepada laki-laki yang menjadi temannya itu.

"Jantungnya sudah matang, baiknya kau berikan padaku." pinta Raka kepada Joko. Dengan tanpa bersalah ia menyerang jantung Gibran dengan tenaga dalam.

Derap kaki warga yang mendekat membuat Joko hanya pasrah dengan wujudnya yang tak terlihat, membiarkan Raka mengambil tubuh tak bernyawa Gibran dan pasrah dengan sandiwara selanjutnya.

Karena untuk melawan dia tak akan mampu.

Raka melempar tubuh Gibran di tanah yang kering berdebu. "Pergilah dari kampung ini malam ini juga." perintahnya pada pemuda misterius yang juga sedang senang setelah kematian delapan saudaranya.

"Terimakasih Raka Wijaya." ucapnya tersenyum, "Jika kau butuh bantuan kau panggil saja aku."

"Tidak perlu, tumbal persembahan ku sudah selesai. Dan musuhku sudah mati."

Pemuda itu mengangguk, pergi secepat kilat menghilang dalam kegelapan malam.

Bersama dengan warga yang tiba di tempat itu, Raka menghampiri tubuh Gibran dan seolah sedang bingung dengan keadaan.

"Apa yang terjadi?" tanya seorang yang paling tua diantara enam orang warga.

"Tolong Pak, Gibran tidak bergerak." Raka seolah sedang panik.

Mereka mendekati dan memeriksa Gibran, dan tentu saja Tubuh yang masih hangat itu sudah tidak bernyawa.

"Kita bawa pulang, cepat!"

Malam purnama ketika bulan bersinar penuh, Raka berjalan dengan sedikit sempoyongan, memegang dada yang memang sempat kena serangan dari seorang pencuri. Tapi sungguh yang terjadi tidak separah itu.

Membiarkan perkelahian hanya berpusat pada Gibran, menguras tenaganya, menyerang tanpa henti sehingga kalah dan dia ikut menghabisinya.

Licik.

Di rumah Bunga, wanita beranak satu itu tampak gelisah dengan memegangi dadanya, rasa rindu dan khawatir mendadak menyergap hatinya. Seolah sesak di dada dengan jantung tak berdetak tak beraturan.

"Ada apa ini? Mengapa aku khawatir sekali dengan keadaan Mas Gibran." dia bergumam sendiri, duduk di ruang tamu seorang diri, beberapa kali melihat pintu berharap Gibran segera pulang.

Hingga terdengar suara di depan pintu, Bunga beranjak dan segera berlari membuka pintu.

Mata beningnya tak bisa berkedip, lemas dan takut bersamaan ketika melihat Gibran di bawa tiga orang warga, matanya terpejam.

"Mbak Bunga, Mas Gibran butuh tempat istirahat." ucap seorang pemuda dengan wajah gugup.

Di belakangnya juga tampak Raka yang lemas dengan memegang dada.

Melati mundur dan mempersilahkan mereka masuk, hatinya benar-benar sudah merasa bahwa Gibran sudah tak ada.

"Mas." panggilnya meraih tangan Gibran yang baru saja berbaring di kasur tipis di depan televisi.

Tak ada kehangatan, tangan itu terasa hampa.

"Mas." panggilnya lagi meraba wajahnya, namun sama.

"Mas." suaranya semakin meninggi dan takut, ia memeluk Gibran dan mulai menangis.

Meraba dan mendengarkan detak jantungnya.

Bunga sungguh tak kuasa, rumah yang nyaman dan kokoh itu mendadak berputar dan bergoyang kuat dalam pandangan Bunga, tubuhnya lemas tak bisa berpikir apalagi berkata.

"Mas...!" tangisnya terdengar menggema, memilukan, menyiratkan kesakitan hatinya membuat semua orang menunduk tak bisa berbuat apa-apa.

Memejamkan mata di dada suaminya, tubuh yang tergeletak itu terlihat seperti sedang tidur dengan wajah tenang.

Malam yang mencekam berubah duka, Bunga kehilangan belahan jiwa yang selalu menemaninya di separuh usia, delapan tahun mereka bersama, sejak berkenalan hingga menikah dan maut memisahkan.

"Aku sangat mencintaimu Mas." ucapnya lirih, enggan beranjak di sepanjang malam itu ia hanya memeluk tubuh Gibran dan menangis.

*

*

*

Sementara di belahan Nusantara lainnya, seorang laki-laki berusia 36 tahun itu sedang mencari keberadaan adiknya yang memanggil dengan suara kesakitan.

"Mas Angga." ucapnya merintih sesak.

"Gibran! Kamu dimana?" dia mencari dan terus mencari, hingga lelah dan kemudian bertemu dengan seorang laki-laki muda.

Tubuhnya sedang di ikat di pohon besar, dan di keroyok beberapa orang yang menyerang membabi buta hingga tak berdaya.

Lalu seorang datang belakangan, melemparkan bola api tepat di dada sebelah kiri pemuda tersebut.

Dia menjerit kesakitan, hidung dan mulutnya berdarah hingga telinga, dada sebelah kirinya berlubang tembus oleh bola api.

Dia terlihat sangat menyedihkan, menangis mengeluarkan darah dan air mata bersamaan.

"Gibran..!" dia berteriak.

"Ngga, bangun Ngga!" suara orang memintanya bangun.

Dengan linglung ia menolah sekeliling dan sadar jika itu hanya mimpi.

"Ngga!"

"Gibran!" panggilnya lagi berteriak, bangun dengan keringat mengucur di dahinya.

"Ngga, kamu kenapa?" tanya dua orang temannya, mereka melihat Angga dengan heran.

"Di, tadi aku melihat adikku di keroyok, sedang memanggilku meminta tolong." jawabnya mengusap wajah seraya beristighfar.

"Mimpi." ucap seorang teman lainnya.

"Iya, tapi tidak biasanya aku mimpi sampai seperti nyata." ucapnya meraih tisu yang di berikan Didi padanya, mengelap keringat yang membasahi anak rambut Angga.

"Rindu mungkin." sahut Didi temannya lagi.

"Bulan depan kita pulang." ucap teman yang satunya menepuk pundak Angga.

Ia duduk mengatur nafas, memikirkan mimpi yang tak biasa, meraih ponsel ingin mengubungi keluarga di sana.

Mata hitamnya melirik jam dinding masih pukul 1:30 dini hari.

"Tidak diangkat." gumamnya mengusap mata yang masih pedih dan kabur. Ia beranjak keluar kamar, mengambil air minum.

Suasana duka itu masih menyelimuti kediaman Gibran dan Yanto, tak ketinggalan juga Dimas Mahendra datang melihat wajah terakhir sang putra tercinta.

Namun ada yang membuat ayah kandung Gibran tersebut terkejut. Jejak di dada sebelah kiri Gibran yang tak biasa.

Area yang sulit di jangkau jika berkelahi itu terlihat biru sebesar bola pingpong, tembus hingga ke belakang, lurus seperti tusukan.

"Ini bukan kematian biasa, aku sangat tahu putraku tidak selemah itu." gumamnya terdengar oleh Yanto yang juga berdiri di samping Dimas.

"Ya aku juga berpikiran sama." Yanto memegang jejak seperti bekas di bekam tersebut.

"Biasanya ini santet." ucap seorang yang paling tua, tetangga sekaligus saudara Yanto.

"Orang berkelahi tidak memakai ilmu seperti ini. Ini seperti serangan yang sengaja diarahkan ke jantung dan membuat Gibran meninggal." Dimas mengelus dada putranya yang putih bersih, hanya ternoda dengan bulatan biru lebam tersebut.

"Artinya Mas Gibran di bunuh?" tanya Bunga yang baru saja mendekat kedua orang ayah mertuanya.

Mereka menoleh, sedikit terkejut dan sebenarnya mereka tidak ingin Bunga tahu.

"Kita tidak tahu Nak." ucap Dimas kepada Bunga yang sedang bercucuran air mata.

Bunga menoleh pemuda yang menggendong Gibran tadi malam.

Dia bertanya tentang kejadiannya, namun menurut mereka hanya ada Raka di sana, selain empat orang yang sudah meninggal juga.

"Mas Raka." gumam Bunga namun tak terlihat pemuda itu di pagi ini. Semalam ia minta diantar pulang karena terluka parah.

"Apakah ada hubungannya dengan Mas Raka?" tapi kembali ia berpikir jika sebelumnya malah Raka menolong Gibran saat berkelahi.

Terpopuler

Comments

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

waduuh.. Iyan beneran meninggoy itu thor? 🙀🙈

2023-03-17

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!