Khawatir

"Ibu." suara gadis kecil memanggil Bunga, sepertinya dia baru saja terbangun karena rumahnya ramai dengan banyak warga di luar.

"Sayang, kamu bangun Nak." Bunga meraih gadis kecil itu duduk bersamanya.

Bola mata dengan lingkaran putih seram itu menatap putri Gibran. Wajah campuran antara Bunga dan Gibran tampak menggemaskan dimatanya. Raka jadi membayangkan bagaimana wajah anaknya jika sampai menikah dengan Bunga.

Tapi kemudian ingat ketika ia melakukan semua itu dulu, dimana Bunga mengadukan kekhawatirannya jika sampai terjadi mengandung anaknya.

Lagi-lagi hatinya nyeri sendiri mengintip dulu tidak menyukai ucapan dan kekhawatiran Bunga. Dia bahkan mengatakan jangan sampai Bunga mengandung karena akan membuatnya malu. Raka sungguh menyesal.

"Kalau begitu aku pulang dulu." ucap Raka tak mau larut dalam sesal yang mengganggu.

"Ngopi dulu Mas Raka, Bibi sedang membuat kopi untuk kita semua." ucap Bunga tak hanya kepada Raka tapi kepada semua orang.

"Terimakasih, tapi aku harus pulang karena istriku sedang sendirian di rumah." ucap Raka menyombongkan kehidupan barunya di hadapan Bunga.

"Oh, kalau begitu terimakasih." ucap Bunga lagi tapi menghindari tatapan Raka.

Raka mengangguk, melihat Gibran , lalu keluar dari pintu rumah itu.

"Terimakasih Mas Raka, kami rasa pencuri itu akan beristirahat dalam beberapa waktu setelah terluka karena senjatanya sendiri." ucap salah seorang warga di depan rumah Gibran.

"Ku harap juga seperti itu, niat hati ingin meringkus dan membongkar siapa sebenarnya mereka, tapi sayang belum berhasil." jawab Raka kepada banyak warga yang berkumpul.

"Ah, paling tidak malam ini mereka sudah tahu jika di kampung kita juga memiliki orang hebat, salah satunya ya Mas Raka," seorang pemuda berkata sangat kagum kepada Raka.

Raka tertawa senang mendengarnya, namun teringat jika ia harus pulang.

Raka melangkah menjauh dari kerumunan warga itu, tapi sejenak kemudian menyadari sesuatu, jika ada yang ketinggalan di rumah Gibran.

"Joko!" Raka memanggil Jin yang biasanya mengekor itu tiba-tiba tidak ikut pulang setelah masuk ke rumah Gibran.

Raka kembali masuk ke rumah Gibran dan melihat temannya yang kini menyerupai manusia sangat tampan itu sedang menatap lurus dengan mulutnya sedikit terbuka.

"Joko!" panggil Raka tapi sepertinya tak di dengar makhluk itu. Berkali-kali hingga semakin kesal Raka dibuat makhluk tersebut.

Raka masuk diantara warga dan menyeret makhluk tersebut dengan paksa.

"Raka aku masih mau di sini." ucapnya masih tak melepaskan pandangannya menembus jendela Gibran.

"Ini rumah orang." geram Raka setengah berbisik takut orang mengatainya gila berbicara sendiri di tengah malam begini.

"Dia cantik sekali." ucap Joko masih berdiri di depan rumah Gibran. Tak mau di paksa dan tidak bisa di tarik tubuhnya seperti tertanam di depan rumah itu.

"Tentu saja dia cantik, aku pernah tidur dengannya." jawab Raka sombong.

"Tidak, dia masih belum tersentuh." ucap Joko tak juga berkedip.

"Siapa maksudmu?" kesal Raka mengikuti pandangan lurus makhluk tersebut.

Dan tatapan keduanya tertuju kepada gadis kecil bernama Tiara.

"Joko, dia masih bayi." ucap Raka menutup mata Joko dengan telapak tangannya.

"Tidak Raka, kau bilang masih bayi karena kau tidak melihat bagaimana dia setelah dewasa." jawab Joko tak juga menutup matanya meskipun sudah di halangi Raka.

Raka mengernyitkan keningnya, ikut menatap bocah di balik jendela rumah Bunga.

Joko mengulurkan tangannya mengusap mata dan wajah Raka. "Lihat baik-baik."

Seperti melihat tumpukan emas yang menjulang, Raka membuka matanya sangat lebar dan mulutnya terbuka tak bisa bicara.

"Bagaimana?" tanya Joko bertanya tanpa memalingkan wajahnya.

"I...itu bidadari." ucap Raka juga tak bisa berkedip.

Joko tersenyum senang Raka bisa melihatnya. Sungguh Tiara akan tumbuh menjadi gadis paling cantik beberapa tahun lagi.

Raka kemudian menarik nafas setelah penglihatannya kembali normal. "Tetap harus pulang Ko." ia menarik Joko yang sekarang sangat tampan mengalahi Raka ataupun Gibran.

"Besok kita kesini lagi ya." pintanya kepada Raka dengan memohon.

"Buat apa?" tanya Raka menatap tajam makhluk halus yang sekarang lebih menjengkelkan dari anak kecil.

"Aku ingin bertemu dengan-nya, dia adalah kekasihku mulai saat ini." ucapnya menunjuk tempat mereka berpijak.

"Hah!" Raka semakin tak habis pikir dengan makhluk tersebut.

"Kalau kau tidak mau, lebih baik kau pulang saja." Joko mengancam Raka.

"Ya sudah, Iya!"

Raka tak punya pilihan selain mengiyakan permintaan makhluk tersebut, jika tidak maka dia akan menjadi patung di depan rumah orang.

"Ada-ada saja kamu." ucap Raka di tengah jalan.

"Dia benar-benar cantik Raka untuk pertama kalinya aku jatuh cinta kepada anak manusia." ucapnya dengan wajah murung.

"Tapi dia baru tujuh tahun, sedangkan kamu sudah 150 tahun." Raka mengingatkan.

"Itu bukan masalah, aku masih punya banyak umur untuk mendampingi Tiara, dan menjadi apa yang dia inginkan. Aku akan melakukan apa saja agar dia membalas cintaku." jawabnya seperti anak kecil yang mengidam-idamkan mainan mahal.

Raka terkekeh geli melihat makhluk jadi-jadian itu, tak habis pikir dia akan jatuh cinta dengan putri dari Bunga, wanita yang masih mengisi hatinya.

Malam itu Raka pulang dengan perasaan lega, paling tidak ia sudah menarik simpati warga dan juga bertemu Bunga.

Bibirnya tersenyum mengingat malam ini bisa menatap wajah Bunga dari dekat.

"Ingat bojomu." ucap Joko tiba-tiba sudah berada di samping Raka.

"Kamu." kesalnya terkejut dengan kehadiran tiba-tiba.

"Maaf, aku tidak bisa tidur." ucap Joko dengan wajah di tekuk.

Raka menggeleng dengan kelakuan Jin temannya tersebut, bucin dan tidak bisa tidur semalaman.

"Aku Jin, tidak tidur juga tetap ganteng." kesalnya mendengar ucapan hati Raka.

"Terserah." Raka memejamkan matanya tak mau menemani Joko yang terlihat gelisah memikirkan Tiara.

Sementara di rumah Gibran, pak Yanto dan istrinya jadi menginap di rumah Gibran. Kehebohan atas pencurian juga perkelahian seru antara Raka dan pencuri misterius tersebut membuat banyak warga begadang hingga subuh menjelang.

"Gimana Mas, apa kakimu masih sakit?" tanya Melati setelah kakinya di urut oleh salah seorang warga.

"Sudah mendingan, kamu tidak perlu khawatir." jawab Gibran memegang tangan Bunga.

"Tentu saja aku khawatir Mas, Mas berkelahi dengan orang jahat." Bunga memeluk lengan Gibran.

"Mas juga sedang khawatir Mel." jawab Gibran menatap wajah istrinya.

"Khawatir bagaimana Mas?" tanya Bunga pelan, selalu lembut menyenangkan.

"Mas khawatir dengan kehadiran Raka, Mas yakin sekali dia masih mencintaimu." ucap Gibran, menggenggam tangan Bunga semakin erat.

"Tapi dia sudah menikah, Mas dengar sendiri dia datang ke kampung ini bersama istrinya." Bunga tidak ingin Iyan semakin khawatir, walaupun Bunga juga takut bertemu Raka.

Terpopuler

Comments

MasWan

MasWan

idih ni jin aki² gatel juga, gak liat klo anak itu masih kecil, apakah tiara nanti akan bnyk gangguan dari makhluk astral? sepertinya iya, bukan cuma manusia saja yg mengaguminya

2023-03-20

2

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

⍣⃝ꉣꉣAndini Andana

hihihi.. jin jatuh cinta, bucinnya ngalahin manusia 😅😅

2023-03-11

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!