Semakin sering melakukannya maka semakin awet muda, begitulah kata-kata yang terdengar.
'Ilmu yang menyenangkan.' batin Raka.
Tentu saja makhluk yang menyesatkan menyukai dosa yang terasa menyenangkan, semakin sering melakukannya, semakin senang pula makhluk yang mengisi jiwanya. Rasa senangnya pula yang membuat diri menjadi merasa muda, terlihat masih muda, untuk menambah dosa dan dosa lagi yang menjadi makanan mengenyangkan bagi mereka selanjutnya dan ingin selamanya.
Muda, bangga, bahagia, senang dan nikmat. Itu semua adalah makanan enak untuk mereka yang menginginkan hidup yang melampaui manusia biasa. Ingin lebih cantik dari yang lain, ingin lebih tampan dari yang lain, ingin lebih menyita perhatian dibandingkan yang lain. Begitulah bisikan-bisikan syetan yang menyesatkan, menuntut untuk melakukan dosa yang lebih banyak, agar terpuaskan hati dan jiwanya.
Tiga hari tiga malam, Raka tidak pulang, tidak keluar juga tidak makan seperti sedang puasa hanya terus saja bertempur dalam dosa yang nikmat. Hingga akhirnya usai di pukul 02:00 yang dingin.
Raka keluar dari rumah kayu itu dengan rasa puas, ia pulang dengan tubuh lebih segar dan merasa tampan.
Sepanjang jalan yang masih gelap itu, ia mendengar anjing melolong. Dan jelas terlihat ketika memasuki desanya, segerombol Anjing menatap mobilnya dari kejauhan lalu melolong setelah mobil Raka mendekat. Ia bingung dengan anjing-anjing yang kebetulan bertemu dengannya, semuanya melolong keras.
"Apakah ada yang aneh dengan mobilku?"
Raka melihat spion tapi tak terlihat apa-apa.
"Joko!" panggilnya ingin tahu dengan keanehan tersebut. "Joko datanglah sekarang!"
Tak lama kemudian Joko datang, duduk di samping Raka.
"Joko, mengapa anjing-anjing itu melolong saat aku melewati mereka?" tanya Raka bingung.
"Tentu saja mereka melolong Raka, dosamu tercium oleh mereka, kau baru saja tidur dengan wanita iblis selain istrimu, bahkan saat kau melakukannya di dalam rumah yang tertutup, mereka dapat mencium dosamu yang menguar, khas dosa yang tercium wangi, atau busuk di hidung-hidung binatang yang sensitif, salah satunya anjing, ayam dan burung malam pun mengetahuinya. Jadi jika kau mendengar burung berbunyi di malam hari, atau anjing melolong di malam hari, bisa jadi mereka sedang melihat dosamu, mencium dosamu. Atau juga sedang melihat bagaimana catatan dosamu bertambah." jelas Joko.
"Kau sudah menjadi ustadz sekarang?" Raka menatap tajam Joko.
"Itu yang aku lihat, kau bisa percaya atau tidak percaya. Kampung yang jumlah penduduknya hanya ribuan saja, sangat mudah mendeteksi dosa kalian yang baunya amis tak terkira." jawab Joko lagi langsung menghilang, tidak mau berdebat dengan Raka.
"Dasar Makhluk ga jelas! Gara-gara jatuh cinta dia berubah alim." Raka tersenyum sinis.
Tak peduli dengan dosa berbau amis, yang penting ia bisa menarik perhatian Bunga.
Satu jam lebih perjalanan, akhirnya ia tiba di rumahnya.
"Mas Raka." Dewi segera keluar dari pintu setelah mendengar mobil Raka berhenti.
Raka menutup pintu mobilnya, tersenyum sedikit dengan Dewi yang sepertinya sudah sangat rindu.
"Mas Raka dari mana saja?" tanya Dewi memeluk Raka.
"Dari rumah teman lamaku di puncak bukit sana. Kau tidak perlu khawatir." ucap Raka. membujuk Dewi.
Tentu Dewi hanya tersenyum, diam bukan berarti tidak bertindak.
Hari-hari berikutnya.
Sedih bagi Bunga, gembira bagi Raka. Kehidupan penuh air mata itu kini menjadi incaran Raka, menunggu kapan janda muda itu keluar rumah dan menarik perhatiannya.
Tapi bukan hanya Raka,
yang mengincar Bunga, ada banyak pemuda yang menginginkan menjadi suami dari janda cantik tersebut.
Sebagian ingin menjadikannya istri, sebagainnya lagi ingin hanya sekedar dekat, sudah pasti Raka mengetahuinya.
"Mas Raka mau kemana?" tanya Dewi yang akhir-akhir ini melihat perubahan dari Raka dia semakin menempel saja.
"Hanya ingin jalan-jalan sebentar, mencari tempat untuk membuka usaha yang baru." jawab Raka merapikan pakaiannya yang lebih mentereng dari biasanya.
Perut yang semakin besar membuatnya tak bisa banyak bergerak, tapi tak bisa pula menahan Raka tetap di rumah.
Padahal dengan rasa cinta dan cemburu di hatinya ia ingin sekali Raka tidak kemana-mana.
Benar apa yang diucapkan Raka laki-laki itu mencari tempat untuk membuka usaha, lebih tepatnya ingin bersebelahan dengan Bunga.
"Aku akan membayar mahal ruko milikmu." Raka sedang bernegosiasi dengan seorang pemilik lapak bersebelahan dengan Bunga.
Yang pada akhirnya laki-laki tua itu menyerahkan lapak miliknya.
"Ini uangnya dan bawa semua barangmu hari ini." Raka tidak mau membuang waktu.
Dia tersenyum senang dengan posisi bersebelahan dengan Bunga ini, akan mudah mendekatinya dan merayunya. Dia yakin sekali akan bisa menaklukkan janda cantik mantan kekasihnya itu.
"Aku sudah tidak sabar untuk kembali berkelahi di atas ranjang bersamamu Bunga." gumamnya menatap tembok pembatas lapak mereka.
Satu Minggu kemudian, Bunga mulai kembali beraktivitas. Tak bisa hanya berduka dengan kepergian Gibran , tapi ada tiga orang pegawai toko pula yang butuh pekerjaan dan penghasilan, mereka di gaji perhari, jika sudah separuh bulan ia tidak masuk maka mereka juga tidak mendapatkan uang. Sementara di belakang mereka ada ibu yang yang sudah tua harus dihidupi, ada pula saudara yang butuh uang untuk sekolah, dan ada keluarga yang butuh beras dan uang.
Bunga membuka toko bangunan miliknya, dengan hati yang berdenyut ngilu ia berusaha sekuat hati untuk tetap masuk ke dalam toko tersebut.
"Mbak duduk saja, biar kami yang melayani pembeli." ucap salah seorang pegawai tokonya.
"Ya, aku hanya mengandalkan kalian." jawab Bunga lemas dan tak bisa menahan air matanya.
Ramai sekali, lama tidak buka membuta tokonya di datangi banyak pembeli. Ketiga pegawai tokonya kerepotan hingga tengah hari.
"Tutup saja Zak, ini sudah Zuhur. Kalian boleh istirahat dan makan." ucap Bunga meminta mereka menutup setengah pintu tokonya.
"Tapi masih banyak yang datang Mbak." ucapnya melihat masih ada beberapa orang di luar.
"Tapi kalian lelah." ucap Bunga tidak memaksakan mereka.
"Begini saja, kita gantian." ucapnya tidak mau kehilangan pelanggan. Terlebih lagi sering mendapat tips dari Bunga atau Gibran jika toko sedang ramai.
"Baiklah." Bunga ikut membantu Rozak, mengambil beberapa barang belanjaan pelanggan yang ringan-ringan saja. sementara yang berat mereka yang mengambilnya.
Bunga membawa kardus berisi paku dan banyak peralatan lainnya menuju mobil pelanggan, sehingga lumayan berat dan hampir jatuh barang yang di bawanya.
Dua tangan tiba-tiba ikut menahan dan kemudian mengangkatnya ke dalam mobil.
"Mas Raka?" ucapnya tak menduga akan bertemu Raka.
Raka tersenyum manis, menyukai keterkejutan Bunga, membiarkan mata beningnya memandangi dirinya yang mengangkat barang tersebut ke mobil pembeli toko Bunga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
MasWan
yg bucin itu si arka, bukan si joko, tapi 11 12 bucinnya
2023-03-21
2
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
ya daripada loe Arka, jatuh cinta bukannya jd bener, malah nambah sesat 😔😓
2023-03-18
3
⍣⃝ꉣꉣAndini Andana
halaaah... si garangan mulai menebar jaring 😪
2023-03-18
3