Perkelahian di malam hari

Dalam sepi, seolah bayangmu datang memberi kekuatan untuk jiwaku yang hampa ini, membangkitkan hasrat cinta yang hanya beristirahat, memang tak pernah tidur semenjak mengenal cinta bersamamu. Dunia yang indah itu selalu membayang dan membuat aku berusaha merebut mu kembali.

Aku sudah tak bisa berbohong lagi, tentang perasaan yang membuat bodoh diriku, bertahan dalam kesepian dan keterpaksaan menjalani hidup yang tak juga mendapatkan bahagia walau sudah berusaha sempurna seperti keluarga yang kau miliki.

Raka beranjak dari duduk melamun nya, menutup pintu rumahnya setelah Dewi tertidur pulas dan melangkah pasti.

Percaya akan mengembalikan nama baiknya di kampung tersebut.

Percaya bahwa dia sudah lebih hebat dari siapa saja termasuk Gibran.

Percaya pada diri sendiri bahwa suatu saat akan bisa membuat ia dan Bunga kembali bersama.

Keyakinan terakhir Raka yang perlu diwaspadai, tentu itu tak luput dari kewaspadaan Gibran yang setiap malamnya gelisah setelah kembalinya Raka Wijaya. Mereka memikirkan hal yang sama, dengan tujuan yang berbeda.

Raka baru saja tiba di sekitaran rumah Yanto. Matanya menatap nyalang pada rumah bertembok kokoh berwarna biru muda tersebut, di dalamnya ada Bunga yang sedang meringkuk hangat dalam pelukan suaminya.

"Dada ini selalu mendidih menyaksikan pemandangan itu." tunjuk Raka pada jendela yang tertutup, tapi ilmu yang sudah semakin hebat itu mampu menembus tembok sekalipun, ia bisa melihat ke dalamnya.

"Kita datang terlalu cepat." makhluk mengerikan di samping Raka menjawab, tentu hanya Raka saja yang bisa melihatnya.

"Kau benar, andaikan lebih cepat dari ini maka yang kulihat adalah tubuh polos Bunga yang sedang dinikmati laki-laki itu." kesal Raka.

"Hahahaha... Kau benar Raka." jawab makhluk itu menertawai kekesalan Raka.

Beberapa saat menunggu membuat keduanya hanya berdiri diam di sudut rumah orang.

"Aku merasakan kekuatan seseorang mendekat." ucap Raka menajamkan telinganya.

"Dia datang dari sebelah kanan rumah Yanto." ucap makhluk teman barunya tersebut.

"Dan datang di sebelah kiri sebagai pengintai." jawab Raka memiliki pemikiran dan penglihatan yang sama.

"Dia tidak sendiri, itu sebabnya mereka sulit di tangkap." jelas makhluk tersebut.

"Aku penasaran dengan ilmu yang mereka miliki. Mengapa bisa menghilang seperti angin, juga masuk seperti ular tanpa celah yang besar." Raka menoleh mahkluk yang lebih suka di panggil Joko.

"Aku tidak tahu, aku belum pernah bertemu dengan orangnya." jawab Joko masih menyandar santai, enggan membahas ilmu lawan Raka.

Raka masih mengawasi rumah ibu mertua Bunga tersebut, ia benar-benar ingin tahu bagaimana cara pencuri itu masuk ke rumah orang.

"Dia datang, masuk lewat samping sebelah kiri." ucap Joko kepada Raka.

"Kita di sebelah kanan." kesal Raka tapi tak bisa berbuat apa-apa, terlebih lagi satu orang dari arah yang sama sedang Raka mengintai di dekat rumah Gibran.

"Gimana?" tanya Joko menunggu perintah Raka.

"Kamu Jin, kenapa tanya aku gimana!" kesal Raka kepada teman makhluk halusnya tersebut.

"Ya 'kan kamu pemimpinnya, kalau aku bergerak sendiri nanti kamu marah." Joko menatap kesal kepada Raka.

"Dah, kamu bangunkan si Yanto. Aku akan menunggunya di luar." perintah Raka.

"Lha itu kamu tahu." Joko melangkah meninggalkan Raka.

"Joko." panggil Raka berbisik. "Kalau sudah selesai kau cepat keluar!"

"Yo." Joko melangkah tapi tak berbekas, bagaikan menghilang ia sudah berada di dalam rumah Yanto.

Di dalam sana pencuri tersebut sedang sibuk membuka lemari dan laci. Joko hanya mengamati lalu mulai menjahili Pak Yanto dan istrinya.

"Ini si Emak, habis buang air kecil terus nyiprat di sarung. Di bawa tidur, gampang digoda." ucapnya terkekeh sendiri lalu menarik telinga Ibu mertua Bunga tersebut.

"Bangun Bu." bisik Joko di telinganya, sehingga antara sadar dan tidak ibu itu ingin bangun, berusaha membuka mata, merasa sedang di bangunkan Bunga.

"Bangunkan Bapak Bu, ada maling." bisik Joko lagi diantara kelopak mata yang berat itu, Joko masih memegang dan berbisik ditelinga istri Yanto tersebut.

"Pak, Bangun." ucap ibu dengan satu tangan menggoyang tubuh suaminya.

"Maling Bu, Maling Pak." ucap Joko lagi kali ini sedikit keras sehingga kedua orang tersebut bangun dan melihat pencuri sedang mengobrak-abrik lemarinya.

"Maling Pak!" jerit istri Yanti juga Yanto tak kalah terkejutnya.

"Astaghfirullah." Yanto memegang dadanya saking terkejut.

Bersamaan dengan suara riuh kaleng yang pukul berkali-kali oleh Raka, sehingga membuat banyak orang bangun termasuk Gibran.

Benar saja pencuri tersebut berlalu melalui jendela yang sudah tidak terkunci. Secepat kilat ia menghilang tanpa terlihat bagaimana caranya ia keluar.

Na'as kali ini, pencuri tersebut melompat tapi tersandung sesuatu yang tidak terlihat dan tersungkur di kaki Raka.

"Kita bertemu lagi." ucap Raka tersenyum penuh Arti, terlebih lagi banyak orang yang sudah berdiri mengelilingi mereka, membuat laki-laki itu merasa paling hebat sebelum bertarung.

Pencuri tersebut mendongak wajah Raka, bangun dan berdiri siaga. Matanya melihat kiri dan kanan sudah banyak orang, gelagatnya terlihat bingung dia ingin sekali kabur tapi hampir tak memilikinya celah sedangkan teman pengintainya ada di luar kerumunan orang-orang.

Raka melesatkan pukulan berkali-kali dan pencuri tersebut cukup pandai berkelahi. Berhasil dan berhasil lagi menghindari pukulan Raka,Tapi pada akhirnya dia kalah juga, Raka benar-benar memperlihatkan kepandaiannya malam ini, gerakan yang lincah juga serangan tenaga dalam yang nyaris sempurna membuat semua orang kagum dan ikut berseru ketika Raka berhasil memukul laki-laki pencuri yang sejak beberapa waktu terakhir terkenal licin dan berilmu tinggi.

"Kau tak akan bisa lolos." Raka tersenyum menang dengan satu kakinya menginjak bahu pria yang tidak berdaya itu.

Dan tak ada yang memperhatikan di luar kerumunan orang-orang Gibran sedang berkelahi dengan seorang pengintai yang ingin membantu pencuri yang sedang di hajar Raka.

"Kurang ajar!" ucapnya geram, untuk pertama kali Gibran mendengar suara seorang pencuri bertopeng tersebut.

Tentu Gibran tak peduli dan terus menghalanginya, agar jangan sampai menolong rekannya yang sudah lemas di hajar Raka, Gibran terus saja berduel hingga pencuri tersebut kewalahan.

Dan tanpa di duga pria yang sudah kalah di tangan Raka berdiri cepat dan menyerang kembali dengan senjata tajam yang di simpan di dalam pakaian hitamnya.

Raka berhasil mengelak dan menekuk tangannya, hingga senjata miliknya mengenai tangan sebelah kiri pencuri itu sendiri.

Baju hitamnya tergores menembus kulitnya yang mengucurkan darah. Tapi hal tak terduga lagi, datang seseorang meraih paksa tubuh pencuri dan kemudian hilang di tengah asap yang muncul entah dari mana.

"Tolong..."

Suara teriakan tak asing terdengar membuat semua orang menoleh, berbalik ke arah rumah Bunga.

"Mbak Bunga." Dudung mendekati Bunga yang kebingungan membantu tubuh Gibran berdiri.

"Biar aku yang membantunya." Raka melangkah melewati Dudung dan segera membantu Gibran masuk ke rumahnya.

"Terimakasih." ucap Gibran setelah duduk di ruang tamu, dan Bunga agak menjauh hingga Raka juga duduk di kursi yang berbeda.

"Maaf, aku tidak tahu bahwa kau juga berkelahi." ucap Raka.

"Tidak masalah, kau juga sedang berkelahi." ucap Gibran memegangi pergelangan kakinya.

"Kau hanya terkilir." ucap Raka melihat kaki Gibran.

"Iya, maaf Bunga terlalu khawatir hingga membuat orang ikut khawatir." Gibran tersenyum lalu menoleh istrinya yang hanya menunduk.

"Oh." Raka mengangguk-angguk, dia tidak terlalu suka suasana itu, apalagi teringat bagaimana Bunga tidur dalam pelukan Gibran beberapa saat lalu.

Terpopuler

Comments

MasWan

MasWan

apakah iyan sudah sepenuhnya mampu mengendalikan ilmu nya? masih penasaran thor

2023-03-20

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!